Langsung ke konten utama

Sampai Jumpa Lagi, Mbah Darmo (part 2)

Tiba tiba saat membuka buka dokumen lama terbuka sebuah ketikan lama tentang betapa kami menyayangi Mbah buyut yg telah pergi lalu. Bagaimana kami merasa sedih tetapi harus tegar ditinggal Simbah yang mungkin bukan tiba tiba tapi tetap ada ruang kosong yg beliau tinggalkan. Saat itu masih teringat jelas ketika Kisah kisah lalu yang tak lepas lepasnya diceritakan oleh Bapakku, oleh Om dan tanteku. Menceritakan kebaikan kebaikan Simbah. Kenangan ataukah proses mengenang dan bisa jadi mereka masih sedih, tidak percaya atau memang koping karena merasa kehilangan simbah. Ya begitu tercintanya simbah. 

Saya sebagai cucunya sendiri, amat sangat sedih dan selalu berkata simbah itu adalah orang yang baik dan selalu jadi salah satu panutan dan pantas menjadi panutan bagi kami cucu cucunya, generasi penerusnya. 

Bukannya saya meriya'kan kebaikan simbah, tetapi saya tulis di blog saya ini dengan harapan saya dapat jadikan kenangan ataupun pelajaran bagi saya ataupun anak anak saya kelak jika membacanya. 

Simbah memberikan contoh tentang kesederhanaan bagi saya. Pada masa tuanya ini khususnya, simbah yang dikaruniai putra putri yang amat sangat mampu beliau tetap memilih gaya hidup sederhana. Menikmati usia senja dengan banyak dirumah, beribadah, pakaian secukupnya. Makan pun tidak perlu makan yang mewah. 

Ingatan saya, jika mengingat simbah bagaimana simbah adalah seorang lansia yang bugar. Saya pernah dibuat takjub oleh simbah karena saya yang masih ngos ngosan bahkan kesusahan melakukan pull up tapi simbah dapat melakukannya bahkan dengan mudah. Wow. Saya langsung merasa tertampar. Simbah yang saat itu masih berusia 70 tahun, dengan saya yg saat itu masih muda berumur belasan tahun. Wow. 

Masih (dan selalu) bermurah hati. Contoh untuk bermurah hati selalu dicontohkan oleh simbah. Bagaimana tidak. Saya hingga punya anak ini kalau pulang Bantul atau setiap Idul Fitri selalu diberikan uang oleh simbah. "Le nggo tuku melek(buat tambah beli susu)" Atau kalau lebaran "Ki, nggo Gunung. Putuku e.. " Saya selalu mengenang tawa kekeh simbah ketika membagikan fitrah uang saku lebaran bagi kami cucu cucunya. 

Kenangan lain bagi kami, keluarga yang ditinggalkan Simbah adalah kemandirian dan keistiqomahan dalam beribadah yang dilakukan beliau. Simbah selama masa senja nya adalah seorang yang rajin dan taat beribadah. Kisah dari bestie beliau Wo Iro. Simbah masih sempat sholat dhuhur sebelum dipanggil menghadap. Simbah juga selalu taat menjalankan sholat 5 waktu. Simbah pun mandiri ingin mencoba melakukan semuanya sendiri, hingga pada akhir usianya kemarin. Simbah mengalami Lemah Jantung. Simbah mungkin mulai payah, berat untuk aktivitas akhirnya harus dibantu untuk daily activity nya seperti mandi. Makan mulai malas karena ya, saya tahu, simbah mulai melemah diakhir hayatnya. 

Simbah akhirnya berpulang, dengan in syaa Alloh tenang di Rumah. Simbah berpulang tidur di dipan tempat simbah putri meninggal dulu. Simbah mengalami perburukan tapi sudah dalam kondisi sakaratul maut. Kalimat La ilaaha ilallah tak putus putus dilantunkan om saya pada saat itu. Berselang beberapa saat ketika putra putrinya datang menemui simbah, akhirnya simbah harus berpulang dan menghembuskan nafas terakhir nya. 

Simbah. Terima kasih atas gen, keturunan Darmo yang sudah diberikan kepada Ayah - Ibu kami, yang terwariskan kepada kami. Terima kasih atas didikan kepada Bapak - Ibu kami, sehingga bisa diturunkan diajarkan kepada kami. Saya mungkin hanyalah cucumu, tapi saya tahu dan in syaa Alloh paham atas apa yang simbah ajarkan kepada kami. Pesan terakhir simbah kepada kami : "Kudu Ngati ati (harus berhati - hati)" In syaa Alloh Akan kami patri dalam hati kami dan ingat. Ya tansah ngati ati ing tumindak. 

Semoga beristirahat dengan tenang, amal kebaikan simbah diterima Alloh, dan semoga kami anak cucu simbah dapat menjadi pewaris kebaikan dan kesholih-sholihahan agar menjadi pahala jariyah simbah dan bisa mendoakan simbah sebagai keturunan yang sholeh. Amiiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...