Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Jika TORCH positif aku harus bagaimana...

 Yang paling penting: IgG positif ≠ infeksi akut dan IgM positif ≠ otomatis infeksi primer . Interpretasi harus berdasarkan kombinasi IgG/IgM, IgG avidity , waktu pemeriksaan, gejala/riwayat pajanan, dan bila perlu pemeriksaan serial. 1. Algoritme umum interpretasi TORCH IgG IgM Interpretasi umum Tindakan − − Belum ada bukti infeksi/imunitas Edukasi pencegahan; vaksin bila tersedia dilakukan postpartum + − Infeksi lama/imunitas paling mungkin Umumnya tidak perlu terapi − + Kemungkinan infeksi sangat dini/false positive Ulang + konfirmasi , jangan langsung terapi + + Infeksi baru/recent atau IgM persisten IgG avidity ± serologi serial/PCR sesuai organisme Catatan: algoritme ini paling mudah diterapkan pada Toxoplasma, CMV, dan rubella, tetapi detail interpretasinya berbeda untuk masing-masing organisme. 2. TOXOPLASMA A. IgG (+), IgM (−) Paling mungkin infeksi lama . ➡️ Bila pemeriksaan dilakukan pada awal kehamilan dan tidak ada bukti ...

Kata dokter disebabkan TORCH. TORCH itu apa...

Untuk TORCH pada kehamilan , penting untuk membedakan skrining serologi ibu , diagnosis infeksi primer , dan diagnosis infeksi kongenital pada janin/neonatus . Tidak semua komponen TORCH dianjurkan untuk skrining rutin pada ibu tanpa gejala. 1. TORCH: apa yang sebenarnya dicari? TORCH secara klasik: T = Toxoplasma gondii O = Other → terutama syphilis , varicella-zoster, parvovirus B19, HIV, dll. R = Rubella C = Cytomegalovirus (CMV) H = Herpes simplex virus (HSV) Manifestasi kongenitalnya dapat berupa: abortus – IUFD – IUGR – prematuritas – kelainan neurologis – hepatosplenomegali – ikterus – rash – gangguan mata – gangguan pendengaran. 2. Toxoplasmosis Manifestasi pada ibu Sebagian besar asimtomatik. Bila simptomatik: demam malaise limfadenopati, terutama servikal myalgia sakit kepala kadang chorioretinitis. Manifestasi pada janin/neonatus Klasik: “hydrocephalus – intracranial calcification – chorioretinitis” Dapat ditemukan: ventriculomegaly/hydroce...

USG skrining fetomaternal itu ...

 Jika yang dimaksud USG skrining fetomaternal adalah pemeriksaan USG antenatal oleh Subspesialis Kedokteran Fetomaternal untuk skrining kondisi ibu–janin. Tindakan ini dapat dilakukan untuk konfirmasi apabila ada temuan abnormalitas pada saat ANC di faskes primer atau di SpOG umum. Secara garis besar, kurang lebih dibagi ke dalam 3 periode skrining,  skrining trimester I, trimester II (anomaly scan), dan trimester III .  1. Trimester I — 11+0 sampai 13+6 minggu Tujuan utama: Dating kehamilan → CRL merupakan parameter terbaik. Menentukan viabilitas dan jumlah janin . Menentukan chorionicity dan amnionicity pada kehamilan multipel. Skrining aneuploidi : NT nasal bone ductus venosus tricuspid regurgitation dikombinasikan dengan usia maternal ± pemeriksaan biokimia. Skrining anatomi awal: skull, brain, face, spine, thorax, heart, abdomen, limbs. Penilaian uterus dan adneksa. Skrining risiko preeklampsia dengan kombinasi: maternal characteristics/history ...

Roadmap Menjadi Ahli Systematic Review & Meta-analysis

Jika belajar 2–3 jam/hari, 6 hari/minggu , target realistis: 90 hari: mampu melakukan systematic review sederhana secara mandiri. 6 bulan: mampu menghasilkan SRMA yang layak untuk publikasi. 12–18 bulan: mampu mengerjakan review kompleks dan mengkritisi metodologi penelitian orang lain pada level advanced. Prinsip utamanya: 30% membaca teori + 70% praktik. Jangan menghabiskan 3 bulan hanya menonton tutorial. Setiap konsep yang dipelajari harus langsung dipraktikkan. I. Apa yang sebenarnya harus dikuasai? Seorang ahli systematic review bukan hanya orang yang bisa menggunakan RevMan. Ada 8 kompetensi utama : Kompetensi Pemula Advanced Clinical question Membuat PICO Menentukan pertanyaan klinis yang benar-benar answerable Literature search Menggunakan PubMed Membuat pencarian sensitif & reproducible Screening Membaca abstrak Seleksi konsisten berdasarkan protokol Risk of bias Mengisi checklist Memahami bagaimana bias memengaruhi estimand ...

Menjadi Ahli Critical Appraisal Jurnal Medis

Anda tidak cukup mampu menjawab “apa hasil penelitian ini?” . Level expert adalah mampu menjawab: “Apakah hasil penelitian ini valid, seberapa besar efeknya, apa sumber biasnya, apakah hasilnya applicable pada pasien saya, dan seberapa yakin saya boleh menggunakannya untuk clinical decision-making?” Di bawah ini saya susun program 90 hari intensif , dari dasar sampai level advanced, dengan orientasi dokter/residen Obsgin dan evidence-based medicine . 1. Reverse engineering: bagaimana seorang expert critical appraisal berpikir? Saya akan memecah kemampuan expert menjadi 7 lapisan . Level 1 — Membaca Anda mampu memahami: research question population intervention/exposure comparator outcome results Level 2 — Memahami desain Anda langsung mengenali: RCT cohort case-control cross-sectional diagnostic accuracy prognostic study systematic review meta-analysis clinical prediction model Level 3 — Menilai validitas internal Anda bertanya: Apakah penelitian ini d...