Langsung ke konten utama

Retensi Urin

Retensi urin (urinary retention) adalah ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih secara adekuat, baik secara akut maupun kronis. Secara klinis, pasien dapat memiliki kandung kemih penuh dengan tidak mampu miksi (retensi komplet) atau masih dapat miksi tetapi menyisakan post-void residual (PVR) yang bermakna.

1. Klasifikasi

Jenis Karakteristik
Akut Timbul mendadak, biasanya nyeri suprapubik, distensi vesika, tidak dapat miksi
Kronik Berkembang perlahan; dapat minimal gejala meskipun PVR tinggi
Akut-on-kronik Pasien dengan retensi kronis mengalami dekompensasi akut

Poin penting: retensi urin ≠ oliguria/anuria.
Pada retensi, produksi urin ginjal dapat tetap berlangsung, tetapi urin tidak dapat keluar dari vesika.


2. Etiologi

Secara praktis, pikirkan 5 kelompok besar:

A. Obstruksi outlet

Pria

  • BPH
  • striktur uretra
  • kanker prostat
  • batu uretra

Wanita

  • prolaps organ pelvis berat
  • massa pelvis
  • hematokolpos/hematometra
  • stenosis uretra
  • komplikasi pascaoperasi

B. Neurogenik

Gangguan kontraksi detrusor atau koordinasi detrusor–sphincter.

Contoh:

  • spinal cord injury
  • multiple sclerosis
  • cauda equina syndrome
  • diabetic neuropathy
  • lesi medula spinalis
  • neuropati pelvis

C. Detrusor underactivity

Kontraksi detrusor tidak cukup kuat untuk mengosongkan vesika.

Dapat terjadi pada:

  • usia lanjut
  • neuropati
  • overdistensi kandung kemih
  • pascaoperasi
  • penggunaan obat tertentu

D. Iatrogenik

Sangat penting pada pasien rawat inap:

  • operasi pelvis
  • anestesi spinal/epidural
  • analgesia opioid
  • antikolinergik
  • prosedur urologi/ginekologi
  • trauma atau edema uretra

E. Faktor fungsional/nyeri

Misalnya:

  • nyeri hebat
  • edema vulva/perineum
  • takut miksi setelah persalinan
  • gangguan psikogenik tertentu

3. Retensi urin pada obstetri dan ginekologi

Ini sangat penting untuk residen Obsgin.

Postpartum urinary retention (PUR)

Secara klinis dibagi menjadi:

Overt PUR

Ketidakmampuan miksi spontan dalam periode tertentu setelah persalinan, meskipun kandung kemih telah terisi.

Covert PUR

Pasien dapat miksi tetapi masih memiliki PVR yang tinggi.

Faktor risiko antara lain:

  • persalinan lama
  • kala II memanjang
  • persalinan operatif/vakum-forsep
  • epidural
  • trauma perineum
  • episiotomi
  • laserasi perineum
  • edema periuretra
  • primiparitas
  • overdistensi kandung kemih

Mekanismenya multifaktorial: neuropraxia nervus pelvis → gangguan sensasi/kontraksi detrusor, edema periuretra → peningkatan resistensi outlet, serta efek anestesi dan nyeri.


4. Manifestasi klinis

Retensi akut

Khas:

  • tidak dapat miksi
  • rasa ingin berkemih sangat kuat
  • nyeri suprapubik
  • distensi abdomen bagian bawah
  • palpable bladder
  • gelisah

Namun tidak semua pasien mengalami nyeri, terutama pada retensi kronis atau neuropati.

Retensi kronis

Dapat berupa:

  • frekuensi miksi
  • hesitancy
  • pancaran urin lemah
  • intermittency
  • overflow incontinence
  • nokturia
  • recurrent UTI
  • rasa tidak lampias

5. Pemeriksaan

A. Anamnesis

Tanyakan:

  1. Kapan terakhir kali miksi?
  2. Apakah sama sekali tidak bisa miksi?
  3. Berapa volume urin terakhir?
  4. Apakah ada rasa ingin miksi?
  5. Nyeri suprapubik?
  6. Riwayat operasi/anestesi?
  7. Persalinan baru-baru ini?
  8. Trauma perineum?
  9. Obat-obatan:
    • opioid
    • antikolinergik
    • antihistamin
    • antidepresan tertentu
  10. Riwayat neurologis?
  11. Riwayat LUTS sebelumnya?

B. Pemeriksaan fisik

  • inspeksi abdomen
  • palpasi suprapubik
  • perkusi kandung kemih
  • pemeriksaan neurologis bila dicurigai neurogenik
  • pemeriksaan genital/perineum
  • pelvic examination pada pasien wanita bila dicurigai:
    • prolaps
    • massa pelvis
    • hematoma
    • edema
    • obstruksi

6. Pemeriksaan penunjang utama: PVR

Post-void residual volume (PVR) merupakan pemeriksaan penting.

Dilakukan dengan:

Bladder scan/USG → paling praktis dan noninvasif.

atau

Kateterisasi → dapat memberikan pengukuran langsung tetapi invasif.

Interpretasi harus mempertimbangkan konteks klinis karena tidak ada satu angka PVR yang secara universal mendefinisikan retensi pada semua pasien.

Secara praktis:

  • <50 mL → umumnya adekuat
  • 50–200 mL → borderline/interpretasikan dengan klinis
  • >200 mL → incomplete emptying bermakna
  • >300 mL → sangat mencurigakan retensi
  • >400 mL → umumnya dianggap urinary retention dan perlu evaluasi/dekompresi sesuai konteks

Jangan hanya mengejar angka. Pasien dengan gejala berat dan kandung kemih sangat distensi harus ditangani berdasarkan kondisi klinis.


7. Algoritme sederhana

Pasien tidak dapat miksi

Apakah kandung kemih penuh?

Ya → urinary retention

Dekompresi kandung kemih

→ kateterisasi uretra bila memungkinkan

Cari penyebab:

Obstruksi?
Neurogenik?
Postpartum/postoperatif?
Obat?
Trauma?

Setelah dekompresi:

monitor urine output + PVR + fungsi renal + penyebab dasar


8. Tatalaksana

Retensi akut

Prinsip pertama:

Drain the bladder.

Kateterisasi uretra merupakan terapi awal pada sebagian besar pasien.

Jika kateter uretra tidak dapat dipasang atau terdapat kecurigaan cedera uretra/obstruksi berat:

→ pertimbangkan suprapubic catheterization oleh operator yang kompeten.

Setelah kandung kemih dikosongkan, jangan berhenti pada tindakan kateterisasi. Etiologi harus dicari dan dikoreksi.


9. Khusus postpartum

Pada pasien postpartum yang belum dapat miksi:

1. Evaluasi kandung kemih → bladder scan.

2. Jika kandung kemih penuh → kateterisasi.

3. Evaluasi faktor predisposisi

  • epidural
  • persalinan operatif
  • kala II lama
  • trauma perineum
  • edema
  • nyeri
  • episiotomi

4. Trial of void Dilakukan setelah fungsi sensorik dan motorik kembali serta faktor akut membaik.

Jika gagal:

→ lakukan kateterisasi kembali dan evaluasi PVR secara serial.


10. Komplikasi bila terlambat ditangani

Retensi yang berkepanjangan dapat menyebabkan:

  • overdistensi vesika
  • detrusor dysfunction
  • recurrent UTI
  • vesicoureteral reflux
  • hidronefrosis
  • gangguan fungsi ginjal
  • overflow incontinence
  • kerusakan kontraktilitas detrusor

Pada postpartum, retensi yang tidak dikenali dapat menyebabkan overdistensi kandung kemih dan berpotensi menyebabkan gangguan fungsi detrusor jangka lebih panjang.


Clinical pearl untuk Obsgin

Pada pasien postpartum yang mengatakan:

"Sudah BAK, Dok."

jangan langsung menganggap bladder emptying adekuat.

Yang harus ditanyakan adalah:

Berapa banyak? Apakah terasa lampias?

Karena pasien dapat mengalami covert postpartum urinary retention: masih mampu miksi tetapi PVR tetap tinggi.

Jadi pendekatan yang benar adalah:

Miksi → ukur/estimasi volume → nilai PVR bila berisiko → pastikan emptying adekuat.

Referensi

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Berek JS. Berek & Novak's Gynecology. 16th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2020.
  3. Haylen BT, de Ridder D, Freeman RM, et al. An International Urogynecological Association/International Continence Society joint report on terminology for female pelvic floor dysfunction. Neurourol Urodyn. 2010;29(1):4-20.
  4. Geller EJ. Prevention and management of postoperative urinary retention after urogynecologic surgery. Am J Obstet Gynecol. 2014;210(6):560-6.
  5. Mulder FEM, Hakvoort RA, de Bruin JP, et al. Long-term micturition problems of asymptomatic postpartum urinary retention. Int Urogynecol J. 2018;29:481-8.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...