Kontrasepsi adalah metode untuk mencegah kehamilan dengan cara menghambat ovulasi, fertilisasi, implantasi, atau melalui tindakan permanen pada sistem reproduksi.
Secara klinis, metode kontrasepsi dapat dikelompokkan menjadi:
- Metode kontrasepsi jangka panjang reversibel (Long-Acting Reversible Contraception/LARC)
- Kontrasepsi hormonal
- Metode barrier
- Metode kontrasepsi darurat
- Metode amenore laktasi
- Kontrasepsi mantap/permanen
- Metode berbasis kesuburan/perilaku
1. Metode kontrasepsi jangka panjang reversibel
Long-Acting Reversible Contraception (LARC) merupakan metode yang memberikan efektivitas kontrasepsi sangat tinggi, berlangsung lama, tetapi fertilitas dapat kembali setelah metode dihentikan.
Terdiri atas:
- Alat kontrasepsi dalam rahim tembaga
- Alat kontrasepsi dalam rahim levonorgestrel
- Implan kontrasepsi
A. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim Tembaga
Sering disebut AKDR tembaga atau copper intrauterine device.
Mekanisme
Tembaga menghasilkan respons inflamasi lokal pada kavum uteri yang:
- mengganggu motilitas dan fungsi sperma,
- menghambat fertilisasi,
- mengganggu viabilitas gamet.
Efek kontrasepsi terutama terjadi sebelum fertilisasi, sehingga AKDR tembaga bukan merupakan obat abortus.
Keuntungan
- Efektivitas sangat tinggi.
- Tidak mengandung hormon.
- Dapat digunakan dalam jangka panjang.
- Fertilitas kembali segera setelah dilepas.
- Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.
Kekurangan
- Dapat menyebabkan menstruasi lebih banyak.
- Dapat meningkatkan dismenore, terutama pada beberapa bulan pertama.
Kontraindikasi penting
- Kehamilan.
- Infeksi pelvis aktif.
- Perdarahan uterus abnormal yang belum dievaluasi.
- Distorsi kavum uteri yang menghambat pemasangan.
- Infeksi serviks tertentu yang belum diterapi.
2. Alat kontrasepsi dalam rahim levonorgestrel
Disebut AKDR levonorgestrel atau levonorgestrel-releasing intrauterine system.
Levonorgestrel merupakan progestin, yaitu hormon sintetis yang memiliki efek menyerupai progesteron.
Mekanisme
Terutama melalui:
- Penebalan mukus serviks.
- Perubahan endometrium menjadi atrofi.
- Gangguan migrasi dan fungsi sperma.
- Pada sebagian pengguna terjadi supresi ovulasi.
Keuntungan
- Efektivitas sangat tinggi.
- Menurunkan jumlah perdarahan menstruasi.
- Dapat menyebabkan amenore.
- Dapat bermanfaat pada pasien dengan perdarahan menstruasi berat.
- Fertilitas kembali setelah pelepasan.
Efek samping
Terutama:
- perdarahan bercak,
- perdarahan tidak teratur,
- amenore,
- nyeri pelvis pada periode awal setelah pemasangan.
Amenore akibat AKDR levonorgestrel tidak berarti terjadi menopause dan tidak menyebabkan infertilitas permanen.
3. Implan kontrasepsi
Implan merupakan batang kecil yang ditempatkan secara subdermal dan melepaskan progestin secara kontinu.
Mekanisme
- Menghambat ovulasi.
- Mengentalkan mukus serviks.
- Mengubah endometrium.
Keuntungan
- Efektivitas sangat tinggi.
- Tidak membutuhkan kepatuhan harian.
- Dapat digunakan dalam jangka panjang.
- Fertilitas dapat kembali relatif cepat setelah pelepasan.
Kekurangan utama
Perubahan pola perdarahan merupakan masalah yang paling sering menyebabkan ketidakpuasan pengguna.
Pola perdarahan dapat berupa:
- amenore,
- perdarahan bercak,
- perdarahan tidak teratur,
- perdarahan lebih sering.
4. Kontrasepsi hormonal
A. Pil kontrasepsi oral kombinasi
Pil kontrasepsi oral kombinasi mengandung:
Estrogen + progestin
Mekanisme utamanya adalah menghambat ovulasi melalui supresi aksis hipotalamus–hipofisis–ovarium.
Mekanisme hormonal
Estrogen terutama menghambat sekresi follicle-stimulating hormone (FSH), yaitu hormon perangsang folikel.
Progestin terutama menghambat luteinizing hormone (LH), yaitu hormon luteinisasi, sehingga mencegah LH surge yang diperlukan untuk ovulasi.
Keuntungan nonkontrasepsi
Kontrasepsi kombinasi dapat:
- mengurangi dismenore,
- mengurangi perdarahan menstruasi,
- memperbaiki akne,
- memperbaiki gejala hiperandrogenisme pada sebagian pasien,
- menurunkan risiko kanker endometrium,
- menurunkan risiko kanker ovarium.
Perhatian
Komponen estrogen dapat meningkatkan risiko tromboemboli vena pada pasien dengan faktor risiko tertentu.
Karena itu, sebelum memberikan kontrasepsi kombinasi perlu menilai:
- hipertensi,
- merokok,
- usia,
- riwayat tromboemboli,
- migrain dengan aura,
- penyakit kardiovaskular,
- masa postpartum,
- faktor risiko trombosis lainnya.
5. Kontrasepsi progestin saja
Kontrasepsi progestin saja tidak mengandung estrogen.
Contohnya:
- pil progestin,
- implan,
- suntikan depot medroxyprogesterone acetate (DMPA),
- AKDR levonorgestrel.
Keuntungan
Karena tidak mengandung estrogen, metode ini dapat menjadi pilihan pada pasien yang memiliki kondisi tertentu sehingga estrogen tidak dianjurkan.
A. Suntikan depot medroxyprogesterone acetate
Depot medroxyprogesterone acetate (DMPA) merupakan kontrasepsi suntik yang mengandung progestin.
Mekanisme
- Menghambat ovulasi.
- Mengentalkan mukus serviks.
- Menimbulkan perubahan endometrium.
Efek samping
- Perdarahan tidak teratur.
- Amenore.
- Peningkatan berat badan pada sebagian pengguna.
- Keterlambatan kembalinya ovulasi setelah penghentian.
- Penurunan kepadatan mineral tulang selama penggunaan, yang umumnya membaik setelah penghentian.
6. Metode barrier
Kondom pria
Kondom bekerja dengan menghambat masuknya sperma ke dalam traktus genitalia perempuan.
Keuntungan yang sangat penting:
Kondom merupakan metode kontrasepsi yang juga memberikan perlindungan terhadap sebagian besar infeksi menular seksual.
Namun efektivitas kontrasepsi sangat bergantung pada penggunaan yang benar dan konsisten.
Karena itu, pada pasien dengan risiko infeksi menular seksual, kondom dapat dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.
Contoh:
Kondom + implan
atau
Kondom + pil kontrasepsi oral kombinasi.
Pendekatan ini sering disebut dual protection, yaitu perlindungan terhadap kehamilan sekaligus mengurangi risiko infeksi menular seksual.
7. Kontrasepsi darurat
Kontrasepsi darurat digunakan setelah hubungan seksual tanpa kontrasepsi atau setelah kegagalan kontrasepsi.
Pilihan utama:
A. Alat kontrasepsi dalam rahim tembaga
Merupakan metode kontrasepsi darurat yang sangat efektif dan sekaligus dapat dilanjutkan sebagai kontrasepsi jangka panjang.
B. Levonorgestrel
Levonorgestrel dosis khusus dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.
Mekanisme utama adalah menghambat atau menunda ovulasi.
C. Ulipristal asetat
Ulipristal asetat merupakan modulator reseptor progesteron selektif yang dapat menghambat atau menunda ovulasi.
Prinsip penting
Kontrasepsi darurat:
- bukan obat abortus, dan
- tidak digunakan untuk mengakhiri kehamilan yang sudah berkembang.
8. Metode amenore laktasi
Disebut Metode Amenore Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method.
Metode ini dapat efektif apabila ketiga kriteria terpenuhi:
- Bayi berusia kurang dari 6 bulan.
- Ibu masih mengalami amenore.
- Bayi mendapatkan ASI secara eksklusif atau hampir eksklusif dengan pola menyusui yang memadai.
Jika menstruasi sudah kembali, bayi berusia ≥6 bulan, atau pemberian ASI tidak lagi memenuhi kriteria, maka MAL tidak dapat lagi diandalkan sebagai satu-satunya kontrasepsi.
9. Kontrasepsi mantap
Kontrasepsi mantap adalah metode kontrasepsi permanen.
A. Metode Operasi Wanita
Disebut Metode Operasi Wanita (MOW).
MOW dapat dilakukan melalui:
- oklusi tuba,
- pemotongan sebagian tuba,
- atau salpingektomi bilateral, yaitu pengangkatan kedua tuba falopii.
Salpingektomi bilateral
Selain memberikan kontrasepsi permanen, salpingektomi bilateral menjadi semakin penting dalam konteks pencegahan kanker ovarium epitelial.
Hal ini berkaitan dengan bukti bahwa sebagian kanker ovarium serosa derajat tinggi kemungkinan berasal dari epitel fimbria tuba falopii.
Karena itu, pada pasien yang memang telah memilih kontrasepsi permanen, salpingektomi bilateral dapat menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan sesuai kondisi klinis dan teknik operasi.
B. Metode Operasi Pria
Disebut Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi.
Vasektomi dilakukan dengan memutus dan/atau mengoklusi vas deferens, yaitu saluran yang membawa sperma dari epididimis.
Prinsip penting
Vasektomi tidak langsung efektif setelah operasi.
Pasien tetap memerlukan kontrasepsi lain sampai pemeriksaan semen menunjukkan keberhasilan oklusi sesuai protokol.
10. Metode berbasis kesuburan
Metode ini memanfaatkan identifikasi periode subur untuk menghindari hubungan seksual atau menggunakan kontrasepsi barrier selama periode tersebut.
Contohnya:
- metode kalender,
- metode lendir serviks,
- metode suhu basal tubuh,
- symptothermal method.
Efektivitas sangat bergantung pada:
- pemahaman siklus menstruasi,
- keteraturan siklus,
- kemampuan mengidentifikasi masa subur,
- kepatuhan pasangan.
11. Perbandingan praktis
| Metode | Hormon | Reversibel | Jangka panjang | Catatan utama |
|---|---|---|---|---|
| AKDR tembaga | Tidak | Ya | Ya | Menstruasi dapat lebih banyak |
| AKDR levonorgestrel | Progestin | Ya | Ya | Menurunkan perdarahan menstruasi |
| Implan | Progestin | Ya | Ya | Perdarahan tidak teratur |
| Pil kombinasi | Estrogen + progestin | Ya | Tidak | Perlu kepatuhan harian |
| Pil progestin | Progestin | Ya | Tidak | Perlu kepatuhan |
| DMPA | Progestin | Ya | Tidak | Amenore dan keterlambatan kembalinya ovulasi |
| Kondom | Tidak | Ya | Tidak | Perlindungan terhadap infeksi menular seksual |
| MOW | Tidak | Tidak | Permanen | Kontrasepsi permanen |
| MOP | Tidak | Tidak | Permanen | Kontrasepsi permanen |
| MAL | Tidak | Ya | Tidak | Hanya efektif bila 3 kriteria terpenuhi |
12. Prinsip pemilihan kontrasepsi pada pasien
Dalam praktik klinis, pemilihan kontrasepsi sebaiknya melalui konseling kontrasepsi yang berpusat pada pasien.
Pertimbangkan:
1. Tujuan reproduksi
Apakah pasien:
- ingin menunda kehamilan?
- ingin spacing kehamilan?
- tidak ingin hamil lagi?
- sudah menginginkan kontrasepsi permanen?
2. Kondisi medis
Misalnya:
- hipertensi,
- diabetes melitus,
- migrain dengan aura,
- riwayat tromboemboli,
- penyakit hati,
- kanker payudara,
- postpartum,
- menyusui.
3. Karakteristik menstruasi
Pasien dengan menstruasi banyak dapat memiliki pertimbangan berbeda dibandingkan pasien dengan menstruasi sedikit.
4. Risiko infeksi menular seksual
Jika terdapat risiko infeksi menular seksual, kontrasepsi yang efektif terhadap kehamilan tidak menggantikan kebutuhan penggunaan kondom.
5. Preferensi pasien
Pasien harus memahami:
- efektivitas,
- efek samping,
- risiko,
- lama penggunaan,
- reversibilitas,
- kemungkinan perubahan pola menstruasi.
Prinsip yang perlu diingat untuk residen Obgyn
LARC → efektivitas sangat tinggi + tidak membutuhkan kepatuhan harian.
AKDR tembaga → nonhormonal + dapat menjadi kontrasepsi darurat.
AKDR levonorgestrel → progestin + menurunkan perdarahan menstruasi.
Implan → progestin + sangat efektif + gangguan pola perdarahan merupakan masalah utama.
Kontrasepsi kombinasi → estrogen + progestin + harus memperhatikan risiko tromboemboli.
Kondom → kontrasepsi + perlindungan terhadap infeksi menular seksual.
MOW/MOP → permanen.
MAL → efektif hanya jika tiga kriteria terpenuhi.
Kontrasepsi darurat → mencegah kehamilan, bukan mengakhiri kehamilan yang sudah terjadi.
Referensi
- Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, Spong CY. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
- Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, Halvorson LM, Schaffer JI, Corton MM. Williams Gynecology. 5th ed. New York: McGraw-Hill; 2024.
- World Health Organization. Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use. 6th ed. Geneva: World Health Organization; 2025.
- World Health Organization. Family Planning: A Global Handbook for Providers. 4th ed. Baltimore: Johns Hopkins Center for Communication Programs; 2022.
- Winner B, Peipert JF, Zhao Q, Buckel C, Madden T, Allsworth JE, et al. Effectiveness of long-acting reversible contraception. N Engl J Med. 2012;366(21):1998-2007.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Long-acting reversible contraception: implants and intrauterine devices. Obstet Gynecol. 2017;130(5):e251-e269.
Komentar