Langsung ke konten utama

Saya mau KB yang apa ya : Metode Kontrasepsi

Kontrasepsi adalah metode untuk mencegah kehamilan dengan cara menghambat ovulasi, fertilisasi, implantasi, atau melalui tindakan permanen pada sistem reproduksi.

Secara klinis, metode kontrasepsi dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Metode kontrasepsi jangka panjang reversibel (Long-Acting Reversible Contraception/LARC)
  2. Kontrasepsi hormonal
  3. Metode barrier
  4. Metode kontrasepsi darurat
  5. Metode amenore laktasi
  6. Kontrasepsi mantap/permanen
  7. Metode berbasis kesuburan/perilaku

1. Metode kontrasepsi jangka panjang reversibel

Long-Acting Reversible Contraception (LARC) merupakan metode yang memberikan efektivitas kontrasepsi sangat tinggi, berlangsung lama, tetapi fertilitas dapat kembali setelah metode dihentikan.

Terdiri atas:

  • Alat kontrasepsi dalam rahim tembaga
  • Alat kontrasepsi dalam rahim levonorgestrel
  • Implan kontrasepsi

A. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim Tembaga

Sering disebut AKDR tembaga atau copper intrauterine device.

Mekanisme

Tembaga menghasilkan respons inflamasi lokal pada kavum uteri yang:

  • mengganggu motilitas dan fungsi sperma,
  • menghambat fertilisasi,
  • mengganggu viabilitas gamet.

Efek kontrasepsi terutama terjadi sebelum fertilisasi, sehingga AKDR tembaga bukan merupakan obat abortus.

Keuntungan

  • Efektivitas sangat tinggi.
  • Tidak mengandung hormon.
  • Dapat digunakan dalam jangka panjang.
  • Fertilitas kembali segera setelah dilepas.
  • Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.

Kekurangan

  • Dapat menyebabkan menstruasi lebih banyak.
  • Dapat meningkatkan dismenore, terutama pada beberapa bulan pertama.

Kontraindikasi penting

  • Kehamilan.
  • Infeksi pelvis aktif.
  • Perdarahan uterus abnormal yang belum dievaluasi.
  • Distorsi kavum uteri yang menghambat pemasangan.
  • Infeksi serviks tertentu yang belum diterapi.

2. Alat kontrasepsi dalam rahim levonorgestrel

Disebut AKDR levonorgestrel atau levonorgestrel-releasing intrauterine system.

Levonorgestrel merupakan progestin, yaitu hormon sintetis yang memiliki efek menyerupai progesteron.

Mekanisme

Terutama melalui:

  1. Penebalan mukus serviks.
  2. Perubahan endometrium menjadi atrofi.
  3. Gangguan migrasi dan fungsi sperma.
  4. Pada sebagian pengguna terjadi supresi ovulasi.

Keuntungan

  • Efektivitas sangat tinggi.
  • Menurunkan jumlah perdarahan menstruasi.
  • Dapat menyebabkan amenore.
  • Dapat bermanfaat pada pasien dengan perdarahan menstruasi berat.
  • Fertilitas kembali setelah pelepasan.

Efek samping

Terutama:

  • perdarahan bercak,
  • perdarahan tidak teratur,
  • amenore,
  • nyeri pelvis pada periode awal setelah pemasangan.

Amenore akibat AKDR levonorgestrel tidak berarti terjadi menopause dan tidak menyebabkan infertilitas permanen.


3. Implan kontrasepsi

Implan merupakan batang kecil yang ditempatkan secara subdermal dan melepaskan progestin secara kontinu.

Mekanisme

  • Menghambat ovulasi.
  • Mengentalkan mukus serviks.
  • Mengubah endometrium.

Keuntungan

  • Efektivitas sangat tinggi.
  • Tidak membutuhkan kepatuhan harian.
  • Dapat digunakan dalam jangka panjang.
  • Fertilitas dapat kembali relatif cepat setelah pelepasan.

Kekurangan utama

Perubahan pola perdarahan merupakan masalah yang paling sering menyebabkan ketidakpuasan pengguna.

Pola perdarahan dapat berupa:

  • amenore,
  • perdarahan bercak,
  • perdarahan tidak teratur,
  • perdarahan lebih sering.

4. Kontrasepsi hormonal

A. Pil kontrasepsi oral kombinasi

Pil kontrasepsi oral kombinasi mengandung:

Estrogen + progestin

Mekanisme utamanya adalah menghambat ovulasi melalui supresi aksis hipotalamus–hipofisis–ovarium.

Mekanisme hormonal

Estrogen terutama menghambat sekresi follicle-stimulating hormone (FSH), yaitu hormon perangsang folikel.

Progestin terutama menghambat luteinizing hormone (LH), yaitu hormon luteinisasi, sehingga mencegah LH surge yang diperlukan untuk ovulasi.

Keuntungan nonkontrasepsi

Kontrasepsi kombinasi dapat:

  • mengurangi dismenore,
  • mengurangi perdarahan menstruasi,
  • memperbaiki akne,
  • memperbaiki gejala hiperandrogenisme pada sebagian pasien,
  • menurunkan risiko kanker endometrium,
  • menurunkan risiko kanker ovarium.

Perhatian

Komponen estrogen dapat meningkatkan risiko tromboemboli vena pada pasien dengan faktor risiko tertentu.

Karena itu, sebelum memberikan kontrasepsi kombinasi perlu menilai:

  • hipertensi,
  • merokok,
  • usia,
  • riwayat tromboemboli,
  • migrain dengan aura,
  • penyakit kardiovaskular,
  • masa postpartum,
  • faktor risiko trombosis lainnya.

5. Kontrasepsi progestin saja

Kontrasepsi progestin saja tidak mengandung estrogen.

Contohnya:

  • pil progestin,
  • implan,
  • suntikan depot medroxyprogesterone acetate (DMPA),
  • AKDR levonorgestrel.

Keuntungan

Karena tidak mengandung estrogen, metode ini dapat menjadi pilihan pada pasien yang memiliki kondisi tertentu sehingga estrogen tidak dianjurkan.


A. Suntikan depot medroxyprogesterone acetate

Depot medroxyprogesterone acetate (DMPA) merupakan kontrasepsi suntik yang mengandung progestin.

Mekanisme

  • Menghambat ovulasi.
  • Mengentalkan mukus serviks.
  • Menimbulkan perubahan endometrium.

Efek samping

  • Perdarahan tidak teratur.
  • Amenore.
  • Peningkatan berat badan pada sebagian pengguna.
  • Keterlambatan kembalinya ovulasi setelah penghentian.
  • Penurunan kepadatan mineral tulang selama penggunaan, yang umumnya membaik setelah penghentian.

6. Metode barrier

Kondom pria

Kondom bekerja dengan menghambat masuknya sperma ke dalam traktus genitalia perempuan.

Keuntungan yang sangat penting:

Kondom merupakan metode kontrasepsi yang juga memberikan perlindungan terhadap sebagian besar infeksi menular seksual.

Namun efektivitas kontrasepsi sangat bergantung pada penggunaan yang benar dan konsisten.

Karena itu, pada pasien dengan risiko infeksi menular seksual, kondom dapat dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.

Contoh:

Kondom + implan

atau

Kondom + pil kontrasepsi oral kombinasi.

Pendekatan ini sering disebut dual protection, yaitu perlindungan terhadap kehamilan sekaligus mengurangi risiko infeksi menular seksual.


7. Kontrasepsi darurat

Kontrasepsi darurat digunakan setelah hubungan seksual tanpa kontrasepsi atau setelah kegagalan kontrasepsi.

Pilihan utama:

A. Alat kontrasepsi dalam rahim tembaga

Merupakan metode kontrasepsi darurat yang sangat efektif dan sekaligus dapat dilanjutkan sebagai kontrasepsi jangka panjang.

B. Levonorgestrel

Levonorgestrel dosis khusus dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.

Mekanisme utama adalah menghambat atau menunda ovulasi.

C. Ulipristal asetat

Ulipristal asetat merupakan modulator reseptor progesteron selektif yang dapat menghambat atau menunda ovulasi.

Prinsip penting

Kontrasepsi darurat:

  • bukan obat abortus, dan
  • tidak digunakan untuk mengakhiri kehamilan yang sudah berkembang.

8. Metode amenore laktasi

Disebut Metode Amenore Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method.

Metode ini dapat efektif apabila ketiga kriteria terpenuhi:

  1. Bayi berusia kurang dari 6 bulan.
  2. Ibu masih mengalami amenore.
  3. Bayi mendapatkan ASI secara eksklusif atau hampir eksklusif dengan pola menyusui yang memadai.

Jika menstruasi sudah kembali, bayi berusia ≥6 bulan, atau pemberian ASI tidak lagi memenuhi kriteria, maka MAL tidak dapat lagi diandalkan sebagai satu-satunya kontrasepsi.


9. Kontrasepsi mantap

Kontrasepsi mantap adalah metode kontrasepsi permanen.

A. Metode Operasi Wanita

Disebut Metode Operasi Wanita (MOW).

MOW dapat dilakukan melalui:

  • oklusi tuba,
  • pemotongan sebagian tuba,
  • atau salpingektomi bilateral, yaitu pengangkatan kedua tuba falopii.

Salpingektomi bilateral

Selain memberikan kontrasepsi permanen, salpingektomi bilateral menjadi semakin penting dalam konteks pencegahan kanker ovarium epitelial.

Hal ini berkaitan dengan bukti bahwa sebagian kanker ovarium serosa derajat tinggi kemungkinan berasal dari epitel fimbria tuba falopii.

Karena itu, pada pasien yang memang telah memilih kontrasepsi permanen, salpingektomi bilateral dapat menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan sesuai kondisi klinis dan teknik operasi.


B. Metode Operasi Pria

Disebut Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi.

Vasektomi dilakukan dengan memutus dan/atau mengoklusi vas deferens, yaitu saluran yang membawa sperma dari epididimis.

Prinsip penting

Vasektomi tidak langsung efektif setelah operasi.

Pasien tetap memerlukan kontrasepsi lain sampai pemeriksaan semen menunjukkan keberhasilan oklusi sesuai protokol.


10. Metode berbasis kesuburan

Metode ini memanfaatkan identifikasi periode subur untuk menghindari hubungan seksual atau menggunakan kontrasepsi barrier selama periode tersebut.

Contohnya:

  • metode kalender,
  • metode lendir serviks,
  • metode suhu basal tubuh,
  • symptothermal method.

Efektivitas sangat bergantung pada:

  • pemahaman siklus menstruasi,
  • keteraturan siklus,
  • kemampuan mengidentifikasi masa subur,
  • kepatuhan pasangan.

11. Perbandingan praktis

Metode Hormon Reversibel Jangka panjang Catatan utama
AKDR tembaga Tidak Ya Ya Menstruasi dapat lebih banyak
AKDR levonorgestrel Progestin Ya Ya Menurunkan perdarahan menstruasi
Implan Progestin Ya Ya Perdarahan tidak teratur
Pil kombinasi Estrogen + progestin Ya Tidak Perlu kepatuhan harian
Pil progestin Progestin Ya Tidak Perlu kepatuhan
DMPA Progestin Ya Tidak Amenore dan keterlambatan kembalinya ovulasi
Kondom Tidak Ya Tidak Perlindungan terhadap infeksi menular seksual
MOW Tidak Tidak Permanen Kontrasepsi permanen
MOP Tidak Tidak Permanen Kontrasepsi permanen
MAL Tidak Ya Tidak Hanya efektif bila 3 kriteria terpenuhi

12. Prinsip pemilihan kontrasepsi pada pasien

Dalam praktik klinis, pemilihan kontrasepsi sebaiknya melalui konseling kontrasepsi yang berpusat pada pasien.

Pertimbangkan:

1. Tujuan reproduksi

Apakah pasien:

  • ingin menunda kehamilan?
  • ingin spacing kehamilan?
  • tidak ingin hamil lagi?
  • sudah menginginkan kontrasepsi permanen?

2. Kondisi medis

Misalnya:

  • hipertensi,
  • diabetes melitus,
  • migrain dengan aura,
  • riwayat tromboemboli,
  • penyakit hati,
  • kanker payudara,
  • postpartum,
  • menyusui.

3. Karakteristik menstruasi

Pasien dengan menstruasi banyak dapat memiliki pertimbangan berbeda dibandingkan pasien dengan menstruasi sedikit.

4. Risiko infeksi menular seksual

Jika terdapat risiko infeksi menular seksual, kontrasepsi yang efektif terhadap kehamilan tidak menggantikan kebutuhan penggunaan kondom.

5. Preferensi pasien

Pasien harus memahami:

  • efektivitas,
  • efek samping,
  • risiko,
  • lama penggunaan,
  • reversibilitas,
  • kemungkinan perubahan pola menstruasi.

Prinsip yang perlu diingat untuk residen Obgyn

LARC → efektivitas sangat tinggi + tidak membutuhkan kepatuhan harian.

AKDR tembaga → nonhormonal + dapat menjadi kontrasepsi darurat.

AKDR levonorgestrel → progestin + menurunkan perdarahan menstruasi.

Implan → progestin + sangat efektif + gangguan pola perdarahan merupakan masalah utama.

Kontrasepsi kombinasi → estrogen + progestin + harus memperhatikan risiko tromboemboli.

Kondom → kontrasepsi + perlindungan terhadap infeksi menular seksual.

MOW/MOP → permanen.

MAL → efektif hanya jika tiga kriteria terpenuhi.

Kontrasepsi darurat → mencegah kehamilan, bukan mengakhiri kehamilan yang sudah terjadi.

Referensi

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, Spong CY. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, Halvorson LM, Schaffer JI, Corton MM. Williams Gynecology. 5th ed. New York: McGraw-Hill; 2024.
  3. World Health Organization. Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use. 6th ed. Geneva: World Health Organization; 2025.
  4. World Health Organization. Family Planning: A Global Handbook for Providers. 4th ed. Baltimore: Johns Hopkins Center for Communication Programs; 2022.
  5. Winner B, Peipert JF, Zhao Q, Buckel C, Madden T, Allsworth JE, et al. Effectiveness of long-acting reversible contraception. N Engl J Med. 2012;366(21):1998-2007.
  6. American College of Obstetricians and Gynecologists. Long-acting reversible contraception: implants and intrauterine devices. Obstet Gynecol. 2017;130(5):e251-e269.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...