Langsung ke konten utama

Jangan takut steril kalau belum paham..Penjelasan itu Kontrasepsi mantap (KB Steril wanita)

 

MOW (Metode Operasi Wanita) atau tubektomi adalah metode kontrasepsi mantap pada perempuan dengan melakukan oklusi atau pemutusan tuba Falopii, sehingga sperma dan ovum tidak dapat bertemu. Efek kontrasepsinya bersifat sangat efektif dan pada prinsipnya permanen.

1. Mekanisme kerja

MOW terutama bekerja dengan memutus kontinuitas tuba Falopii atau melakukan oklusi tuba, sehingga:

Ovarium → ovulasi tetap berlangsung → ovum masuk ke tuba → tuba teroklusi → fertilisasi tidak terjadi.

Jadi, penting untuk dipahami:

  • Tidak menghentikan ovulasi.
  • Tidak menyebabkan menopause.
  • Tidak menghilangkan fungsi ovarium.
  • Tidak secara langsung menurunkan libido.
  • Siklus menstruasi pada umumnya tetap berlangsung.

2. Efektivitas

MOW merupakan salah satu metode kontrasepsi paling efektif.

Kegagalan kontrasepsi dapat terjadi karena:

  • kegagalan teknik oklusi,
  • rekanalisasi tuba,
  • terbentuknya fistula,
  • atau, lebih jarang, prosedur dilakukan pada kehamilan yang sudah terjadi tetapi belum terdiagnosis.

Hal yang sangat penting dalam konseling: kehamilan setelah tubektomi jarang, tetapi bila terjadi, proporsi kehamilan ektopik menjadi perhatian penting.

3. Indikasi

MOW terutama dipertimbangkan pada perempuan yang:

  1. Telah yakin tidak menginginkan kehamilan di masa mendatang.
  2. Menginginkan kontrasepsi jangka panjang yang tidak memerlukan kepatuhan harian.
  3. Memiliki kondisi medis tertentu sehingga kehamilan berikutnya memiliki risiko tinggi, setelah dilakukan konseling dan pengambilan keputusan bersama.
  4. Memilih sterilisasi setelah mendapat informasi yang adekuat mengenai alternatif kontrasepsi.

Prinsip terpenting bukan jumlah anak atau usia semata, tetapi keputusan reproduktif yang benar-benar sukarela dan terinformasi.

4. Waktu pelaksanaan

MOW dapat dilakukan pada beberapa keadaan:

Waktu Keterangan
Interval Dilakukan ketika tidak sedang hamil
Pasca-salin Dapat dilakukan segera setelah persalinan
Pasca-seksio sesarea Dapat dilakukan pada operasi yang sama
Pasca-abortus Dapat dilakukan bila tidak terdapat kontraindikasi
Interval postpartum Dilakukan kemudian setelah periode pascapersalinan

Pada pasca-salin pervaginam, tubektomi umumnya lebih mudah dilakukan segera setelah persalinan karena uterus masih membesar dan fundus berada dekat umbilikus sehingga akses ke tuba melalui minilaparotomi lebih mudah.

5. Teknik operasi

Beberapa teknik yang dapat digunakan:

A. Partial salpingectomy

Segmen tuba diangkat kemudian ujung tuba ditutup/diikat.

Salah satu teknik klasik adalah Pomeroy:

Membentuk loop tuba → loop diikat → bagian loop dieksisi.

Teknik ini banyak digunakan pada sterilisasi postpartum.

B. Modified Pomeroy

Modifikasi teknik Pomeroy dengan pemotongan segmen tuba dan ligasi yang sesuai.

C. Fimbriektomi

Pengangkatan bagian distal/fimbria tuba. Saat ini bukan teknik utama yang paling disukai karena terdapat kemungkinan kegagalan.

D. Mechanical occlusion

Misalnya menggunakan klip atau cincin pada kondisi tertentu.

E. Bilateral salpingectomy

Seluruh tuba diangkat secara bilateral.

Ini menjadi semakin menarik secara klinis karena selain memberikan kontrasepsi permanen, salpingektomi bilateral berpotensi mengurangi risiko kanker ovarium epitelial, khususnya kanker yang berasal dari tuba distal/fimbria.

6. MOW ≠ ooforektomi

Ini konsep yang sering ditanyakan saat ujian.

MOW:

Tuba diputus/dioklusi → ovarium tetap ada → fungsi hormonal tetap.

Ooforektomi:

Ovarium diangkat → produksi hormon ovarium berkurang secara drastis.

Jadi, MOW tidak menyebabkan menopause bedah.

7. Apakah menstruasi berubah?

Pada umumnya tidak ada perubahan fisiologis menstruasi yang bermakna akibat tubektomi itu sendiri.

Jika pasien mengalami amenore setelah MOW, jangan langsung menganggap bahwa hal tersebut merupakan efek tubektomi.

Pertimbangkan:

  • kehamilan,
  • laktasi,
  • kontrasepsi hormonal sebelumnya,
  • gangguan hipotalamus-hipofisis,
  • PCOS,
  • kelainan tiroid,
  • hiperprolaktinemia, dan penyebab amenore lainnya.

8. Komplikasi

Komplikasi perioperatif:

  • perdarahan,
  • hematoma,
  • infeksi,
  • cedera usus,
  • cedera kandung kemih,
  • cedera vaskular,
  • komplikasi anestesi.

Komplikasi jangka panjang:

  • kegagalan kontrasepsi,
  • kehamilan,
  • kehamilan ektopik bila terjadi kehamilan,
  • nyeri kronis pelvis pada sebagian kecil pasien.

9. Poin penting untuk konseling

Sebelum MOW, pasien harus memahami:

“Ini dimaksudkan sebagai kontrasepsi permanen.”

Pasien perlu diberi informasi mengenai alternatif:

  • IUD,
  • implan,
  • kontrasepsi hormonal,
  • vasektomi pasangan.

Hal ini penting karena penyesalan pasca-sterilisasi dapat terjadi, terutama bila keputusan dibuat pada usia muda, dalam kondisi tekanan pasangan/keluarga, atau ketika kondisi kehidupan reproduktif sedang berubah.

10. Poin penting level residen Obgyn

Ada satu perkembangan yang sangat penting dalam praktik modern:

Tubektomi parsial → salpingektomi bilateral

Salpingektomi bilateral semakin dipertimbangkan sebagai metode sterilisasi karena memberikan kontrasepsi permanen sekaligus kemungkinan reduksi risiko kanker ovarium epitelial, tanpa mengangkat ovarium.

Namun, saat melakukan salpingektomi, prinsip bedah harus memperhatikan preservasi suplai darah ovarium, terutama anastomosis antara arteri ovarika dan arteri uterina, sehingga fungsi ovarium tetap dipertahankan.


Referensi

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, Spong CY. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Hoffman BL, Schorge JO, Halvorson LM, Hamid CA, Corton MM, Schaffer JI. Williams Gynecology. 5th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  3. World Health Organization. Family Planning: A Global Handbook for Providers. 4th ed. Geneva: WHO; 2022.
  4. American College of Obstetricians and Gynecologists. Committee Opinion No. 774. Opportunistic salpingectomy as a strategy for epithelial ovarian cancer prevention. Obstet Gynecol. 2019;133:e279-e284.
  5. Garcia C, Moskowitz OM, Chisholm CA, et al. Salpingectomy compared with tubal ligation at cesarean delivery: a randomized controlled trial. Obstet Gynecol. 2018;132(1):29-34.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...