Amenorea sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama ≥3 bulan pada perempuan yang sebelumnya memiliki menstruasi teratur, atau ≥6 bulan pada perempuan dengan menstruasi sebelumnya tidak teratur.
Secara klinis, amenorea sekunder adalah gejala, bukan diagnosis akhir. Prinsip evaluasinya adalah menentukan apakah masalah berasal dari hipotalamus, hipofisis, ovarium, uterus, atau traktus genitalia.
1. Etiologi utama
A. Kehamilan — selalu disingkirkan terlebih dahulu
Kehamilan → hCG ↑ → mempertahankan korpus luteum → progesteron ↑ → tidak terjadi menstruasi.
Pemeriksaan pertama:
β-hCG urine/serum
Jangan langsung melakukan pemeriksaan hormonal sebelum menyingkirkan kehamilan.
B. Gangguan hipotalamus
↓ GnRH → ↓ LH/FSH → ↓ estradiol → anovulasi → amenorea
Penyebab:
- Functional hypothalamic amenorrhea;
- penurunan berat badan;
- defisit energi;
- olahraga berlebihan;
- stres berat;
- gangguan makan;
- penyakit kronis.
Profil hormonal:
FSH ↓/normal rendah + estradiol ↓
→ hipogonadotropik–hipoestrogenik.
C. Gangguan hipofisis
Penyebab penting:
Hiperprolaktinemia
↑ prolaktin → ↓ kisspeptin/GnRH → ↓ LH/FSH → gangguan folikulogenesis → anovulasi → amenorea.
Dapat disertai:
- galaktorea;
- infertilitas;
- penurunan libido;
- gejala massa hipofisis seperti gangguan lapang pandang pada kasus tertentu.
Profil:
prolaktin ↑
dengan kemungkinan estradiol ↓.
Sindrom Sheehan
Nekrosis hipofisis postpartum akibat perdarahan berat/hipotensi.
Dapat menyebabkan:
- amenorea;
- agalaktia;
- kelelahan;
- hipotiroidisme sentral;
- insufisiensi adrenal.
2. Gangguan ovarium
A. Polycystic ovary syndrome (PCOS)
Salah satu penyebab tersering amenorea/oligomenorea sekunder.
Mekanisme:
hiperandrogenisme + gangguan folikulogenesis → folikel tidak mencapai dominansi → anovulasi kronik → oligomenorea/amenorea.
Profil hormonal tidak selalu spesifik:
- androgen dapat meningkat;
- LH dapat meningkat, tetapi rasio LH/FSH bukan kriteria diagnostik;
- estradiol umumnya tidak mengalami hipoestrogenisme berat.
B. Primary ovarian insufficiency (POI)
Terjadi kehilangan fungsi ovarium sebelum usia 40 tahun.
Profil:
FSH ↑ + estradiol ↓
Mekanisme:
kegagalan ovarium → ↓ estradiol → hilangnya umpan balik negatif → ↑ FSH.
3. Gangguan uterus/outflow tract
Asherman syndrome
Terjadi adhesi intrauterin yang menyebabkan gangguan menstruasi.
Penyebab klasik:
- kuretase uterus, terutama setelah kehamilan;
- tindakan intrauterin;
- infeksi tertentu.
Petunjuk:
Amenorea/hipomenorea setelah prosedur intrauterin.
Diagnosis dapat menggunakan:
- histeroskopi;
- saline infusion sonography;
- histerosalpingografi pada situasi tertentu.
Histeroskopi merupakan metode definitif untuk visualisasi dan sekaligus terapi adhesi intrauterin.
4. Gangguan tiroid
Hipotiroidisme
Dapat menyebabkan:
TRH ↑ → prolaktin ↑ → gangguan GnRH → anovulasi → amenorea.
Karena itu TSH merupakan pemeriksaan penting pada evaluasi amenorea sekunder.
5. Algoritme pemeriksaan
Langkah 1 — Singkirkan kehamilan
β-hCG
↓
Langkah 2 — Pemeriksaan awal
- TSH
- prolaktin
- FSH
- estradiol
Tambahkan pemeriksaan androgen jika terdapat:
- hirsutisme;
- akne;
- virilisasi;
- kecurigaan PCOS.
↓
Langkah 3 — Interpretasi
| FSH | Estradiol | Kemungkinan |
|---|---|---|
| ↓/N rendah | ↓ | Gangguan hipotalamus/hipofisis |
| N | relatif N | PCOS/gangguan ovulasi |
| ↑ | ↓ | POI |
| — | — | Pertimbangkan hiperprolaktinemia, penyakit tiroid, Asherman, dll. |
6. Pemeriksaan berdasarkan klinis
Bila prolaktin meningkat
Pertimbangkan:
- kehamilan;
- obat;
- hipotiroidisme;
- stimulasi puting;
- hiperprolaktinemia patologis.
Jika prolaktin persisten tinggi tanpa penyebab sekunder yang jelas → pertimbangkan MRI hipofisis sesuai konteks klinis.
Bila terdapat hiperandrogenisme
Periksa:
- testosteron;
- DHEAS;
- 17-hydroxyprogesterone bila dicurigai non-classic congenital adrenal hyperplasia.
Bila FSH tinggi
Pertimbangkan:
- POI;
- kelainan kromosom pada pasien tertentu;
- penyakit autoimun;
- riwayat kemoterapi/radioterapi;
- operasi ovarium.
Bila amenorea terjadi setelah tindakan intrauterin
→ Asherman syndrome harus dipikirkan.
7. Progesterone withdrawal test
Secara klasik dapat digunakan untuk menilai apakah terdapat estrogenisasi endometrium dan patensi traktus genitalia.
Setelah pemberian progestogen:
Terjadi withdrawal bleeding
Menunjukkan:
endometrium telah mendapatkan estrogen + traktus genitalia terbuka
→ kemungkinan besar masalah adalah anovulasi.
Tidak terjadi withdrawal bleeding
Dapat disebabkan:
- estrogen tidak cukup;
- endometrium rusak, misalnya Asherman syndrome;
- gangguan outflow tract.
Catatan: progesterone withdrawal test saat ini tidak lagi dianggap sebagai pemeriksaan tunggal yang dapat menentukan etiologi amenorea. Evaluasi hormonal dan pencitraan harus disesuaikan dengan klinis.
8. Hubungan dengan klasifikasi WHO
Amenorea sekunder dapat dipahami melalui tiga kelompok klasik:
WHO I — hipogonadotropik–hipoestrogenik
→ hipotalamus/hipofisis.
WHO II — normogonadotropik–normoestrogenik
→ gangguan ovulasi, terutama PCOS.
WHO III — hipergonadotropik–hipoestrogenik
→ kegagalan ovarium/POI.
Algoritme hafalan
AMENOREA SEKUNDER
↓
β-hCG
↓
┌────┴────┐
positif negatif
↓ ↓
kehamilan TSH + PRL + FSH/E2
↓
┌─────────┼─────────┐
FSH ↓ PRL ↑ FSH ↑
E2 ↓ E2 ↓
↓ ↓ ↓
Hipotalamus/ HiperPRL POI
hipofisis
Jika FSH/E2 relatif normal
↓
anovulasi
↓
PCOS
Jika amenorea setelah tindakan
intrauterin → pikirkan Asherman
Inti klinis
Pada setiap pasien amenorea sekunder, urutan berpikir yang aman adalah:
Kehamilan → prolaktin/tiroid → fungsi ovarium → hiperandrogenisme/PCOS → kelainan uterus/outflow tract.
Dan jangan lupa: amenorea sekunder + FSH tinggi bukan PCOS; pikirkan POI. Amenorea + prolaktin tinggi bukan otomatis prolaktinoma; cari penyebab hiperprolaktinemia terlebih dahulu.
Referensi
- Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
- Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, Halvorson LM, Schaffer JI, Corton MM. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
- American Society for Reproductive Medicine. Current evaluation of amenorrhea: a committee opinion. Fertil Steril. 2024.
- Melmed S, Casanueva FF, Hoffman AR, et al. Diagnosis and treatment of hyperprolactinemia: an Endocrine Society clinical practice guideline. J Clin Endocrinol Metab. 2011;96(2):273-288.
- Teede HJ, Tay CT, Laven JJE, et al. Recommendations from the 2023 International Evidence-based Guideline for the Assessment and Management of Polycystic Ovary Syndrome. Fertil Steril. 2023;120(4):767-793.
Komentar