Untuk TORCH pada kehamilan, penting untuk membedakan skrining serologi ibu, diagnosis infeksi primer, dan diagnosis infeksi kongenital pada janin/neonatus. Tidak semua komponen TORCH dianjurkan untuk skrining rutin pada ibu tanpa gejala.
1. TORCH: apa yang sebenarnya dicari?
TORCH secara klasik:
- T = Toxoplasma gondii
- O = Other → terutama syphilis, varicella-zoster, parvovirus B19, HIV, dll.
- R = Rubella
- C = Cytomegalovirus (CMV)
- H = Herpes simplex virus (HSV)
Manifestasi kongenitalnya dapat berupa: abortus – IUFD – IUGR – prematuritas – kelainan neurologis – hepatosplenomegali – ikterus – rash – gangguan mata – gangguan pendengaran.
2. Toxoplasmosis
Manifestasi pada ibu
Sebagian besar asimtomatik.
Bila simptomatik:
- demam
- malaise
- limfadenopati, terutama servikal
- myalgia
- sakit kepala
- kadang chorioretinitis.
Manifestasi pada janin/neonatus
Klasik:
“hydrocephalus – intracranial calcification – chorioretinitis”
Dapat ditemukan:
- ventriculomegaly/hydrocephalus
- intracranial calcification
- microcephaly
- hepatosplenomegaly
- ascites
- jaundice
- IUGR
- chorioretinitis
- kejang.
Diagnosis ibu
Serologi:
- Toxo IgG
- Toxo IgM
Interpretasi penting:
| IgG | IgM | Interpretasi |
|---|---|---|
| − | − | susceptible |
| + | − | infeksi lama/imunitas |
| − | + | kemungkinan infeksi baru → konfirmasi |
| + | + | infeksi baru atau IgM persisten → perlu konfirmasi |
IgM positif saja tidak boleh langsung dianggap infeksi akut, karena IgM dapat persisten lama.
Gunakan:
- repeat serology
- IgG avidity
- reference laboratory bila tersedia.
Bila dicurigai infeksi maternal akut
Evaluasi fetus:
- USG serial
- amniocentesis untuk PCR Toxoplasma bila usia kehamilan dan kondisi klinis sesuai.
Tatalaksana
Jika infeksi maternal baru dan belum terbukti infeksi fetus → spiramycin digunakan untuk menurunkan transmisi maternal-fetal.
Jika infeksi fetus terbukti atau sangat dicurigai → kombinasi:
pyrimethamine + sulfadiazine + folinic acid (leucovorin).
CDC mencantumkan penggunaan spiramycin terutama pada infeksi yang diperoleh/terdiagnosis sebelum 18 minggu ketika infeksi fetus belum terdokumentasi, sedangkan pyrimethamine–sulfadiazine–leucovorin digunakan ketika infeksi diperoleh ≥18 minggu atau infeksi fetus terbukti/dicurigai.
Poin ujian: jangan memberikan pyrimethamine tanpa folinic acid karena risiko bone marrow suppression.
3. Rubella
Gejala ibu
Infeksi maternal dapat:
- asimtomatik
- demam ringan
- malaise
- rash
- limfadenopati postaurikular/suboksipital
- arthralgia/arthritis
- conjunctivitis.
Congenital Rubella Syndrome
Trias klasik:
1. Cataract
2. Sensorineural deafness
3. Congenital heart disease
Kelainan jantung terutama:
- PDA
- peripheral pulmonary artery stenosis.
Manifestasi lain:
- IUGR
- microcephaly
- hepatosplenomegaly
- thrombocytopenic purpura → “blueberry muffin”
- meningoencephalitis
- radiolucent bone lesions
- developmental delay.
Diagnosis
Maternal:
- Rubella IgG
- IgM bila dicurigai infeksi akut.
IgG positif + IgM negatif → imunitas sebelumnya.
IgM positif → jangan langsung menyimpulkan infeksi primer, karena false positive dapat terjadi; perlu konfirmasi dan evaluasi serologis lebih lanjut.
Tatalaksana
Tidak ada antiviral spesifik yang terbukti mengeradikasi rubella maternal.
Jika infeksi terjadi pada kehamilan:
- konseling mengenai risiko congenital rubella syndrome
- evaluasi fetal dengan USG serial
- fetal assessment sesuai usia gestasi.
Vaksin MMR kontraindikasi selama kehamilan karena merupakan live attenuated vaccine.
Tetapi bila wanita ternyata mendapatkan vaksin MMR secara tidak sengaja saat hamil, itu bukan indikasi terminasi kehamilan.
4. CMV
Ini sangat penting karena sebagian besar infeksi CMV maternal tidak bergejala.
Gejala ibu
Bila simptomatik:
- demam
- fatigue
- malaise
- myalgia
- lymphadenopathy
- hepatitis
- mononucleosis-like syndrome.
Temuan USG fetus
Curiga congenital CMV bila ditemukan:
- ventriculomegaly
- intracranial calcification, terutama periventricular
- microcephaly
- echogenic bowel
- IUGR/FGR
- hepatosplenomegaly
- ascites
- hydrops
- abnormal placenta
- oligohydramnios/polyhydramnios.
Neonatus
Manifestasi:
- petechiae/purpura
- jaundice
- hepatosplenomegaly
- microcephaly
- seizures
- chorioretinitis
- sensorineural hearing loss.
Sebagian besar bayi dengan congenital CMV tidak menunjukkan gejala saat lahir, tetapi sebagian dapat mengalami gangguan pendengaran atau perkembangan kemudian.
Diagnosis
Pada ibu:
- CMV IgG
- CMV IgM
- IgG avidity bila dicurigai infeksi primer.
CMV IgG/IgM tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis congenital CMV pada bayi.
Pada neonatus:
- CMV PCR saliva/urine
- dilakukan dalam ≤21 hari kehidupan agar dapat membedakan congenital dari postnatal infection.
Tatalaksana
Ini bagian yang sering salah:
Tidak diberikan antiviral rutin kepada semua ibu hamil dengan CMV.
Untuk fetus yang dicurigai/terdiagnosis:
- detailed ultrasound
- serial fetal surveillance
- pertimbangkan amniocentesis + CMV PCR sesuai timing.
Pada neonatus dengan congenital CMV simptomatik, antiviral seperti valganciclovir dapat dipertimbangkan dengan monitoring ketat.
5. Herpes Simplex Virus
Maternal infection
Gejala:
- painful grouped vesicles
- genital ulcer
- dysuria
- fever
- malaise
- lymphadenopathy.
Tetapi infeksi dapat asimtomatik.
Risiko terbesar
Bukan terutama malformasi kongenital, tetapi:
Neonatal herpes akibat transmisi terutama saat persalinan melalui kontak dengan lesi genital/viral shedding.
Risiko transmisi paling tinggi pada primary maternal infection yang terjadi dekat waktu persalinan.
Fetal/neonatal manifestation
Congenital HSV yang jarang:
- skin lesions
- microcephaly
- chorioretinitis
- intracranial calcification
- limb abnormalities.
Neonatal HSV dapat berupa:
- SEM disease → skin/eye/mouth
- encephalitis
- disseminated disease.
Tatalaksana
Maternal genital herpes:
- acyclovir atau valacyclovir.
Pada recurrent genital herpes:
- suppressive therapy menjelang persalinan dapat digunakan untuk menurunkan recurrence/lesions.
Jika terdapat active genital lesions atau prodromal symptoms saat onset persalinan → cesarean delivery untuk mengurangi risiko neonatal HSV.
6. “O” — Syphilis
Untuk obstetri, ini justru salah satu infeksi paling penting untuk benar-benar diskrining pada setiap kehamilan.
Maternal
Primary:
- chancre tidak nyeri.
Secondary:
- generalized rash
- termasuk palms & soles
- lymphadenopathy
- mucous patches
- condyloma lata.
Tetapi maternal syphilis juga dapat asimtomatik.
Fetal/neonatal
Dapat menyebabkan:
- miscarriage
- stillbirth
- hydrops
- hepatomegaly
- placentomegaly
- fetal anemia
- IUGR
- preterm birth.
Congenital syphilis:
- snuffles/rhinitis
- rash
- hepatosplenomegaly
- jaundice
- anemia
- osteochondritis
- pseudoparalysis.
Diagnosis
Screening:
- RPR/VDRL → nontreponemal
- TPHA/TPPA/EIA → treponemal.
Jika skrining positif, lakukan algoritme konfirmasi sesuai metode laboratorium.
Tatalaksana
Penicillin G adalah satu-satunya terapi yang terbukti efektif untuk mengobati infeksi fetus dan mencegah congenital syphilis.
Regimen disesuaikan dengan:
- primary
- secondary
- early latent
- late latent/unknown duration.
Jika alergi penicillin:
desensitisasi → kemudian penicillin.
Jangan mengganti penicillin dengan antibiotik lain pada ibu hamil untuk tujuan pencegahan congenital syphilis.
7. Ringkasan high-yield untuk ujian
| Infeksi | Gejala maternal | Temuan fetus/neonatus | Diagnosis utama | Tatalaksana penting |
|---|---|---|---|---|
| Toxo | Flu-like, lymphadenopathy | Hydrocephalus + intracranial calcification + chorioretinitis | IgG/IgM ± avidity, amnio PCR | Spiramycin; bila fetal infection → pyrimethamine + sulfadiazine + folinic acid |
| Rubella | Rash + postauricular LN | Cataract + deafness + PDA | IgG/IgM | Supportive; MMR postpartum |
| CMV | Sering asimtomatik | Periventricular calcification + ventriculomegaly + microcephaly + SNHL | Maternal IgG/IgM ± avidity; fetal/neonatal PCR | Surveillance; valganciclovir untuk congenital CMV simptomatik |
| HSV | Vesicular painful genital lesions | Skin/eye/brain disease | PCR/swab lesi | Acyclovir; SC bila lesi aktif saat persalinan |
| Syphilis | Chancre/rash atau asimtomatik | Hydrops, HSM, IUGR, stillbirth | RPR/VDRL + treponemal test | Penicillin G |
8. Prinsip skrining yang sangat penting
Jangan menggunakan istilah “TORCH panel” secara terlalu sederhana.
Dalam praktik evidence-based, tidak semua wanita hamil asimtomatik perlu diperiksa TORCH IgM lengkap. Contohnya, CDC menyatakan routine CMV screening pada ibu hamil tidak direkomendasikan karena hasil serologi tidak dapat memprediksi dengan baik fetus mana yang akan terinfeksi atau mengalami sequelae.
Sebaliknya, syphilis memang harus menjadi bagian dari skrining antenatal rutin; CDC merekomendasikan skrining serologis pada kunjungan prenatal pertama, dengan pemeriksaan tambahan pada trimester III/persalinan pada kelompok berisiko tinggi.
Cara berpikir klinis
Ibu dengan demam/rash/limfadenopati atau USG menunjukkan FGR + intracranial calcification/ventriculomegaly/hepatosplenomegaly → jangan langsung meminta “TORCH panel”.
Lebih baik:
Clinical suspicion → targeted serology/PCR → confirm primary infection → fetal assessment → serial USG ± invasive diagnosis → terapi spesifik bila tersedia.
Ini jauh lebih tepat daripada menginterpretasikan IgM positif = infeksi akut.
Referensi Vancouver
- Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Cytomegalovirus in pregnancy. ACOG Practice Bulletin. Washington, DC: ACOG.
- Centers for Disease Control and Prevention. Clinical care of toxoplasmosis [Internet]. Atlanta: CDC; 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention. Clinical overview of CMV and congenital CMV infection [Internet]. Atlanta: CDC; 2025.
- Centers for Disease Control and Prevention. Syphilis during pregnancy [Internet]. Atlanta: CDC; 2025.
- Centers for Disease Control and Prevention. Congenital syphilis – STI treatment guidelines [Internet]. Atlanta: CDC; 2025.
Komentar