Langsung ke konten utama

Jika TORCH positif aku harus bagaimana...

 Yang paling penting: IgG positif ≠ infeksi akut dan IgM positif ≠ otomatis infeksi primer. Interpretasi harus berdasarkan kombinasi IgG/IgM, IgG avidity, waktu pemeriksaan, gejala/riwayat pajanan, dan bila perlu pemeriksaan serial.

1. Algoritme umum interpretasi TORCH

IgG IgM Interpretasi umum Tindakan
− − Belum ada bukti infeksi/imunitas Edukasi pencegahan; vaksin bila tersedia dilakukan postpartum
+ − Infeksi lama/imunitas paling mungkin Umumnya tidak perlu terapi
− + Kemungkinan infeksi sangat dini/false positive Ulang + konfirmasi, jangan langsung terapi
+ + Infeksi baru/recent atau IgM persisten IgG avidity ± serologi serial/PCR sesuai organisme

Catatan: algoritme ini paling mudah diterapkan pada Toxoplasma, CMV, dan rubella, tetapi detail interpretasinya berbeda untuk masing-masing organisme.


2. TOXOPLASMA

A. IgG (+), IgM (−)

Paling mungkin infeksi lama.

➡️ Bila pemeriksaan dilakukan pada awal kehamilan dan tidak ada bukti infeksi baru:

Tidak perlu terapi antiparasit.

Namun timing sangat penting. IgG positif saja tidak dapat menentukan kapan infeksi terjadi. CDC juga menekankan bahwa IgM Toxoplasma dapat tetap terdeteksi hingga ±18 bulan, sehingga IgM positif tidak identik dengan infeksi akut.


B. IgG (−), IgM (+)

Kemungkinan:

  1. infeksi sangat dini,
  2. false-positive,
  3. IgM mendahului munculnya IgG.

Jangan langsung menyatakan toxoplasmosis akut.

Tatalaksana:

  1. Ulang IgG + IgM dalam waktu yang sesuai.
  2. Konfirmasi di laboratorium rujukan bila memungkinkan.
  3. Bila IgG kemudian menjadi positif → serokonversi, sangat mendukung infeksi primer baru.
  4. Evaluasi janin dengan USG bila infeksi primer terkonfirmasi.

C. IgG (+), IgM (+)

Ini adalah kondisi yang paling sering menimbulkan masalah.

Kemungkinan:

  • infeksi baru,
  • infeksi beberapa bulan sebelumnya,
  • IgM persisten.

➡️ Periksa IgG avidity.

Secara prinsip:

IgG avidity rendah → mendukung infeksi baru/recent

IgG avidity tinggi → mendukung infeksi lama

Tetapi interpretasi harus memperhatikan usia kehamilan dan assay yang digunakan.

Jika infeksi maternal primer terkonfirmasi

Secara umum:

  • <18 minggu + belum ada bukti infeksi fetus → spiramycin
  • ≥18 minggu atau infeksi fetus terbukti/sangat dicurigai → pyrimethamine + sulfadiazine + folinic acid

CDC menyebut spiramycin digunakan terutama ketika infeksi diperoleh/terdiagnosis sebelum 18 minggu dan infeksi fetal belum terdokumentasi; pyrimethamine–sulfadiazine–leucovorin digunakan bila infeksi diperoleh ≥18 minggu atau infeksi fetus terbukti/dicurigai.

Pyrimethamine harus disertai folinic acid (leucovorin) karena risiko supresi sumsum tulang.


3. CMV

IgG (+), IgM (−)

→ Pernah terinfeksi CMV, tetapi tidak menunjukkan kapan infeksi terjadi.

Tidak perlu terapi hanya berdasarkan hasil ini.

IgG CMV positif berarti pernah terinfeksi pada suatu waktu dalam hidup, bukan bukti infeksi primer selama kehamilan.


IgG (−), IgM (+)

Curiga:

  • infeksi primer sangat dini,
  • atau false positive.

➡️ Ulang serologi dan evaluasi lebih lanjut.

Jika kemudian:

IgG − → IgG + = serokonversi → bukti kuat infeksi primer.


IgG (+), IgM (+)

Tidak cukup untuk menyatakan primary CMV infection.

Karena IgM dapat muncul pada:

  • primary infection,
  • reactivation,
  • reinfection.

➡️ Lakukan:

CMV IgG avidity

Interpretasi:

IgM (+) + IgG avidity rendah → mendukung primary infection

IgM (+) + IgG avidity tinggi → lebih mendukung infeksi lama/non-primary

CDC secara khusus menyatakan bahwa IgM saja tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis primary CMV; kombinasi IgM positif dengan avidity IgG rendah lebih mendukung infeksi primer.

Bila primary CMV terkonfirmasi

Lakukan:

  • detailed fetal ultrasound
  • serial USG
  • evaluasi pertumbuhan
  • neurosonography bila diperlukan
  • pertimbangkan amniocentesis + CMV PCR bila memenuhi timing yang tepat.

Diagnosis congenital CMV pada neonatus tidak menggunakan IgG/IgM; standar diagnosis adalah PCR, terutama saliva dengan konfirmasi urine.

Tidak ada terapi antiviral rutin untuk semua ibu hamil dengan CMV. CDC juga tidak merekomendasikan skrining CMV primer secara rutin pada seluruh ibu hamil karena keterbatasan interpretasi dan kemampuan prediksi terhadap outcome fetus.


4. RUBELLA

Rubella sedikit berbeda.

IgG (+), IgM (−)

→ Imun/imunitas sebelumnya.

Ini adalah hasil yang baik.

Tidak perlu terapi.

Rubella IgG digunakan untuk menentukan status imunitas.


IgG (−), IgM (−)

→ Susceptible/nonimmune.

Tidak ada bukti infeksi saat ini.

Tatalaksana:

  • edukasi menghindari pajanan,
  • observasi bila ada exposure,
  • MMR diberikan postpartum, bukan selama kehamilan.

IgG (+), IgM (+)

Kemungkinan:

  • infeksi baru,
  • reinfeksi,
  • IgM persisten,
  • false-positive,
  • respons vaksinasi baru-baru ini.

➡️ Jangan langsung mendiagnosis rubella akut.

Lakukan:

  • ulang/konfirmasi IgM dengan metode berbeda,
  • IgG avidity,
  • evaluasi riwayat vaksinasi,
  • evaluasi klinis dan epidemiologis.

Low-avidity IgG → mendukung infeksi recent.

High-avidity IgG → mendukung infeksi lama/imunitas sebelumnya.

CDC secara eksplisit tidak merekomendasikan IgM sebagai skrining rutin pada ibu hamil asimtomatik karena false-positive dapat terjadi.

Bila infeksi rubella primer terkonfirmasi

Tidak ada terapi antiviral yang dapat mengeradikasi infeksi.

→ Konseling mengenai risiko congenital rubella syndrome (CRS) berdasarkan usia kehamilan.

→ USG fetal surveillance.

→ MMR postpartum bila ibu nonimmune.


5. HSV

Untuk HSV, interpretasi IgG/IgM berbeda dan HSV IgM tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan untuk menentukan infeksi genital baru.

Yang lebih penting secara obstetri adalah:

Apakah terdapat genital herpes aktif/prodromal menjelang persalinan?

Jika:

  • lesi genital aktif, atau
  • prodromal symptoms saat persalinan

→ SC untuk mengurangi risiko neonatal HSV.

Jika recurrent genital herpes: → suppressive acyclovir/valacyclovir menjelang persalinan dapat dipertimbangkan.


6. Jadi kalau pasien datang membawa hasil “TORCH positif”

Misalnya:

Kasus 1

Toxo IgG + / IgM −

➡️ kemungkinan infeksi lama
➡️ tidak perlu terapi


Kasus 2

Toxo IgG + / IgM +

➡️ belum boleh disebut infeksi akut
➡️ periksa IgG avidity + konfirmasi
➡️ jika primary infection terkonfirmasi → evaluasi fetus + terapi sesuai usia kehamilan.


Kasus 3

CMV IgG + / IgM +

➡️ belum membuktikan primary CMV
➡️ periksa IgG avidity
➡️ low avidity → primary infection lebih mungkin
➡️ lanjutkan detailed USG ± amniotic-fluid PCR sesuai timing.


Kasus 4

Rubella IgG + / IgM −

➡️ immune
➡️ tidak perlu terapi.


Kasus 5

Rubella IgG − / IgM −

➡️ susceptible
➡️ bukan infeksi
➡️ MMR postpartum.


🔑 “Cheat sheet” untuk residensi

IGG = “pernah kontak”

IGM = “mungkin baru”

AVIDITY = “kapan kontaknya?”

Sehingga:

IgG (+) + IgM (+) → jangan langsung terapi → cari avidity/konfirmasi.

Dan:

IgM positif tanpa konfirmasi ≠ diagnosis infeksi primer.

Khusus Toxoplasma, bila primary infection maternal terkonfirmasi:

<18 minggu → spiramycin

≥18 minggu / fetal infection → pyrimethamine + sulfadiazine + folinic acid

Sedangkan rubella dan CMV tidak boleh diperlakukan seperti toxoplasmosis hanya karena sama-sama masuk “TORCH”.

Referensi Vancouver

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical care of toxoplasmosis [Internet]. Atlanta: CDC; 2026.
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Toxoplasmosis: DPDx [Internet]. Atlanta: CDC; 2025.
  4. Centers for Disease Control and Prevention. Laboratory testing for CMV and congenital CMV [Internet]. Atlanta: CDC; 2024.
  5. Centers for Disease Control and Prevention. Serology testing for rubella [Internet]. Atlanta: CDC; 2024.
  6. American College of Obstetricians and Gynecologists. Cytomegalovirus, parvovirus B19, varicella zoster, and toxoplasmosis in pregnancy. Washington, DC: ACOG.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...