Langsung ke konten utama

Endometritis Pasca Salin (Postpartum Endometritis)

Definisi

Endometritis pasca salin adalah infeksi pada desidua dan endometrium (lapisan dalam rahim) yang terjadi setelah persalinan. Infeksi dapat meluas ke miometrium (endomyometritis), parametrium, bahkan menyebabkan sepsis bila tidak ditangani.

Kondisi ini merupakan salah satu penyebab utama demam nifas (puerperal fever), terutama setelah persalinan seksio sesarea.


Epidemiologi

Insidensi berbeda menurut cara persalinan:

  • Persalinan pervaginam: sekitar 1–3%
  • Seksio sesarea elektif dengan antibiotik profilaksis: 3–5%
  • Seksio sesarea emergensi: 5–20%

Risiko meningkat 10–20 kali pada seksio sesarea dibandingkan persalinan pervaginam.


Etiologi dan Mikrobiologi

Infeksi bersifat polimikroba, berasal dari flora vagina dan serviks yang naik ke kavum uteri.

Bakteri yang sering ditemukan:

Bakteri aerob:

  • Escherichia coli
  • Klebsiella spp.
  • Enterococcus spp.
  • Streptococcus grup B
  • Staphylococcus aureus

Bakteri anaerob:

  • Bacteroides spp.
  • Peptostreptococcus spp.
  • Prevotella spp.

Pada kasus berat:

  • Streptococcus pyogenes (Grup A)
  • Clostridium spp.

Faktor Risiko

Faktor intrapartum:

  • Seksio sesarea
  • Ketuban pecah lama (>18 jam)
  • Persalinan lama
  • Pemeriksaan vaginal berulang
  • Korioamnionitis
  • Retensio plasenta
  • Manual plasenta
  • Perdarahan postpartum

Faktor maternal:

  • Anemia
  • Diabetes melitus
  • Obesitas
  • Malnutrisi
  • Status imun rendah

Patofisiologi

Setelah persalinan, terdapat permukaan luka luas pada tempat implantasi plasenta. Flora bakteri dari vagina dapat naik ke uterus dan berkembang pada jaringan desidua yang nekrotik.

Proses inflamasi menyebabkan:

  • Edema endometrium
  • Infiltrasi leukosit
  • Produksi sitokin proinflamasi (IL-1, IL-6, TNF-α)
  • Demam dan nyeri uterus

Apabila infeksi meluas dapat terjadi:

  • Parametritis
  • Pelvic abscess (abses pelvis)
  • Septic pelvic thrombophlebitis (tromboflebitis pelvis septik)
  • Sepsis

Gejala dan Tanda Klinis

Biasanya muncul 2–10 hari setelah persalinan.

Gejala:

  • Demam ≥38°C
  • Nyeri perut bawah
  • Lokia berbau busuk
  • Menggigil
  • Malaise

Tanda:

  • Uterus nyeri tekan (uterine tenderness)
  • Subinvolusi uterus
  • Takikardia
  • Leukositosis

Trias klasik:

  1. Demam
  2. Nyeri uterus
  3. Lokia berbau

Diagnosis

Diagnosis terutama bersifat klinis.

Kriteria yang sering digunakan:

  • Demam ≥38°C setelah 24 jam persalinan
  • Tidak ada penyebab lain demam
  • Disertai nyeri uterus atau lokia abnormal

Pemeriksaan penunjang:

  • Darah lengkap: leukositosis
  • CRP, prokalsitonin
  • Kultur darah (pada sepsis)
  • Kultur lokia (terbatas manfaatnya)
  • USG transabdominal/transvaginal:
    • Retensio sisa plasenta
    • Hematometra
    • Koleksi intrauterin

Diagnosis Banding

  • Infeksi saluran kemih
  • Mastitis
  • Infeksi luka operasi
  • Tromboflebitis pelvis septik
  • Pneumonia
  • Retensio jaringan plasenta

Tatalaksana

1. Antibiotik Empiris

Regimen standar (lini pertama):

  • Klindamisin 900 mg IV setiap 8 jam +
  • Gentamisin 5 mg/kg IV per 24 jam

Bila dicurigai infeksi Enterococcus:

  • Tambahkan Ampisilin 2 g IV tiap 6 jam.

Antibiotik dilanjutkan hingga pasien bebas demam selama 24–48 jam.

Tidak diperlukan antibiotik oral lanjutan bila respons baik.


2. Evaluasi Penyebab Lain Bila Tidak Membaik dalam 48–72 Jam

Pikirkan:

  • Retensio plasenta
  • Abses pelvis
  • Tromboflebitis pelvis septik
  • Resistensi antibiotik

Lakukan:

  • USG
  • CT scan bila diperlukan

3. Tata Laksana Supportif

  • Cairan intravena
  • Analgesik
  • Antipiretik
  • Monitoring tanda vital

Pencegahan

  • Antibiotik profilaksis sebelum seksio sesarea
  • Mengurangi pemeriksaan vaginal berulang
  • Menjaga teknik aseptik
  • Penanganan ketuban pecah lama yang adekuat

Prognosis

Dengan terapi antibiotik yang tepat, perbaikan klinis umumnya terjadi dalam 24–48 jam.

Keterlambatan terapi meningkatkan risiko:

  • Sepsis
  • Syok septik
  • Infertilitas (jarang)
  • Adhesi intrauterin
  • Mortalitas maternal

Algoritme Praktis

Demam nifas (>38°C) ↓
Nyeri uterus + lokia berbau ↓
Curiga endometritis ↓
Antibiotik IV (klindamisin + gentamisin) ↓
Evaluasi 48–72 jam ↓
Membaik → hentikan setelah bebas demam 24–48 jam
Tidak membaik → cari retensio plasenta / abses / tromboflebitis septik


Referensi

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 27th ed. New York: McGraw-Hill; 2025.
  2. Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL, et al. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. 9th ed. Philadelphia: Elsevier; 2024.
  3. Berek JS. Berek & Novak's Gynecology. 17th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2024.
  4. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Practice Bulletin: Prevention of Infection After Gynecologic Procedures. Obstet Gynecol. 2024.
  5. Gibbs RS, et al. Clinical risk factors for postpartum endometritis. Obstet Gynecol. 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...