Langsung ke konten utama

Progestin untuk tatalaksana Endometriosis

 Untuk endometriosis, progestin/progestogen merupakan salah satu terapi hormonal utama untuk menekan aktivitas endometrium ektopik, mengurangi perdarahan siklik, desidualisasi kemudian atrofi lesi endometriosis, serta menurunkan nyeri. European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) merekomendasikan progestogen untuk mengurangi nyeri terkait endometriosis dengan memperhatikan profil efek samping masing-masing obat.

1. Macam-macam progestin yang digunakan

Progestin/progestogen Contoh regimen yang lazim Catatan pada endometriosis
Dienogest 2 mg oral/hari kontinu Sangat sering digunakan khusus untuk endometriosis; efektif untuk dismenore, nyeri pelvis, dan dapat digunakan jangka panjang
Norethisterone acetate (NETA) 5–15 mg/hari kontinu Efektif untuk supresi menstruasi dan nyeri; sebagian kecil dikonversi menjadi etinil estradiol
Medroxyprogesterone acetate (MPA) Oral 10–20 mg/hari; depot dapat digunakan Efektif menekan menstruasi; depot mempunyai keuntungan kepatuhan tetapi perlu perhatian terhadap kepadatan mineral tulang
Levonorgestrel-releasing intrauterine system (LNG-IUS) 52 mg, pelepasan levonorgestrel intrauterin Sangat baik untuk nyeri dan perdarahan; terutama bermanfaat bila terdapat adenomiosis atau kebutuhan kontrasepsi
Etonogestrel implant Implan subdermal 68 mg Dapat menurunkan nyeri endometriosis dan sekaligus memberikan kontrasepsi
Norethisterone 0,35 mg/hari sebagai pil progestin saja Lebih digunakan sebagai kontrasepsi; efek supresi endometriosis tidak sebaik regimen NETA dosis terapeutik
Drospirenone 4 mg/hari Progestin-only pill; dapat digunakan untuk kontrasepsi dan supresi menstruasi, tetapi bukti spesifik untuk endometriosis lebih terbatas

ESHRE secara khusus menyebut progestogen oral, levonorgestrel-releasing intrauterine system (LNG-IUS), dan implan etonogestrel sebagai pilihan terapi hormonal untuk nyeri endometriosis.

2. Yang paling penting untuk dipahami: dienogest

Dalam praktik klinis, dienogest 2 mg/hari kontinu merupakan salah satu pilihan yang sangat relevan untuk terapi medikamentosa endometriosis.

Mekanismenya:

Dienogest → efek progestasional pada endometrium → desidualisasi → atrofi jaringan endometriotik → ↓ produksi prostaglandin dan mediator inflamasi → ↓ nyeri.

Keuntungan klinis:

  • dapat diberikan jangka panjang;
  • tidak membutuhkan add-back therapy seperti agonis gonadotropin-releasing hormone (gonadotropin-releasing hormone/GnRH agonist);
  • tidak menyebabkan keadaan hipoestrogenik seberat terapi GnRH;
  • dapat digunakan setelah operasi untuk menekan kekambuhan gejala.

Efek samping yang perlu dijelaskan terutama perdarahan bercak (spotting) atau perdarahan tidak teratur, sakit kepala, perubahan suasana hati, jerawat, dan keluhan gastrointestinal.

3. Norethisterone acetate

Norethisterone acetate (NETA) juga merupakan pilihan penting.

Regimen yang sering digunakan:

NETA 5 mg/hari kontinu, dapat ditingkatkan sesuai respons klinis.

ACOG mencantumkan norethindrone acetate 5–15 mg/hari sebagai pilihan terapi progestin oral untuk supresi menstruasi.

Hal yang menarik secara farmakologi: sebagian NETA mengalami konversi menjadi etinil estradiol, sehingga pada dosis yang lebih tinggi efek samping yang berkaitan dengan estrogen dapat muncul.


4. Medroxyprogesterone acetate

Medroxyprogesterone acetate (MPA) dapat diberikan secara oral maupun depot.

Contoh:

  • MPA oral: 10–20 mg/hari
  • Depot medroxyprogesterone acetate (DMPA): 150 mg intramuskular setiap ±12 minggu

DMPA dapat menghasilkan amenore yang semakin tinggi dengan bertambahnya lama penggunaan, tetapi perlu memperhatikan perdarahan tidak teratur, peningkatan berat badan, dan penurunan kepadatan mineral tulang.


5. LNG-IUS

Levonorgestrel-releasing intrauterine system (LNG-IUS) memberikan efek progestogen terutama secara lokal pada uterus.

Keunggulan klinisnya terutama bila endometriosis disertai:

  • menoragia/perdarahan uterus abnormal;
  • dismenore;
  • adenomiosis;
  • kebutuhan kontrasepsi.

ESHRE memberikan rekomendasi kuat untuk LNG-IUS atau implan etonogestrel dalam mengurangi nyeri terkait endometriosis.


Bagaimana memilihnya secara praktis?

Saya biasanya membuat kerangka seperti ini:

Endometriosis + nyeri → terapi hormonal

↓

Jika membutuhkan terapi sistemik jangka panjang → Dienogest 2 mg/hari

Jika membutuhkan kontrasepsi + terapi → LNG-IUS / implan etonogestrel

Jika membutuhkan supresi menstruasi dan terapi oral → Dienogest / NETA / MPA

Jika membutuhkan kontrasepsi suntik → DMPA

Jika terdapat adenomiosis + perdarahan banyak → LNG-IUS sangat rasional

Yang penting, tidak ada satu progestin yang secara universal "paling baik" untuk semua pasien. ESHRE menekankan shared decision-making berdasarkan efektivitas, efek samping, biaya, ketersediaan, kebutuhan kontrasepsi, dan preferensi pasien.

Poin penting untuk residen Obsgin

Progestin yang paling perlu dikuasai untuk endometriosis:

Dienogest → NETA → MPA/DMPA → LNG-IUS → etonogestrel implant

Sedangkan cyproterone acetate, megestrol acetate, medroxyprogesterone acetate, norethisterone acetate, dan danazol juga tercantum dalam literatur/guideline sebagai progestagen atau terapi terkait, tetapi penggunaannya saat ini tidak semuanya sama umum dengan dienogest atau LNG-IUS.

Catatan terminologi: progestin umumnya merujuk pada progesteron sintetis, sedangkan progestogen merupakan istilah yang lebih luas untuk seluruh zat yang memiliki aktivitas seperti progesteron.

Referensi

  1. Becker CM, Bokor A, Heikinheimo O, et al. ESHRE guideline: endometriosis. Hum Reprod Open. 2022;2022(2):hoac009.
  2. European Society of Human Reproduction and Embryology. ESHRE Guideline: Endometriosis. 2022.
  3. American College of Obstetricians and Gynecologists. General Approaches to Medical Management of Menstrual Suppression. ACOG Clinical Consensus. 2022.
  4. American College of Obstetricians and Gynecologists. Options for Prevention and Management of Menstrual Bleeding in Adolescent Patients Undergoing Cancer Treatment. ACOG Committee Opinion.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...