Langsung ke konten utama

POI — Primary Ovarian Insufficiency

 Primary ovarian insufficiency (POI) atau insufisiensi ovarium primer adalah kondisi ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun, ditandai oleh gangguan fungsi ovarium yang menyebabkan hipoestrogenisme dan peningkatan gonadotropin, tetapi fungsi ovarium dapat berfluktuasi sehingga berbeda dengan menopause yang bersifat permanen.

1. Patofisiologi

Normal:

Hipotalamus
→ GnRH (gonadotropin-releasing hormone)
→ Hipofisis
→ FSH + LH
→ Ovarium
→ estradiol + inhibin B
→ umpan balik negatif

Pada POI:

↓ jumlah/kerusakan folikel ovarium
↓
↓ inhibin B + ↓ estradiol
↓
hilangnya umpan balik negatif
↓
↑ FSH dan LH
↓
gangguan folikulogenesis
↓
anovulasi + hipoestrogenisme
↓
oligomenorea/amenorea + infertilitas.

Karena aktivitas ovarium intermiten, pasien POI masih dapat mengalami menstruasi spontan dan bahkan ovulasi sesekali.


2. Diagnosis

Menurut pedoman European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) terbaru, POI pada perempuan <40 tahun ditegakkan berdasarkan:

  1. Gangguan siklus menstruasi berupa amenorea atau oligomenorea selama ≥4 bulan, dan
  2. FSH >25 IU/L.

Jika terdapat ketidakpastian diagnostik, FSH dapat diulang setelah 4–6 minggu. Pemeriksaan estradiol dapat membantu menunjukkan hipoestrogenisme, tetapi bukan pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis.

Poin penting: POI ≠ menopause dini secara sederhana. Pada POI, fungsi ovarium dapat intermiten/fluktuatif, sedangkan menopause merupakan keadaan berhentinya fungsi ovarium secara permanen.


3. Etiologi

A. Genetik

Contoh:

  • 45,X — Turner syndrome
  • mosaik Turner
  • kelainan kromosom X
  • FMR1 premutation

Pada POI non-iatrogenik, pemeriksaan genetik dapat dipertimbangkan sesuai konteks klinis.

B. Iatrogenik

  • kemoterapi;
  • radioterapi pelvis;
  • operasi ovarium;
  • ooforektomi.

C. Autoimun

Dapat berhubungan dengan penyakit autoimun, terutama:

  • tiroiditis autoimun;
  • penyakit Addison;
  • penyakit autoimun lainnya.

D. Idiopatik

Sebagian besar kasus tetap tidak memiliki penyebab definitif meskipun telah dilakukan evaluasi.


4. Manifestasi klinis

Manifestasi utama:

Gangguan menstruasi

  • oligomenorea;
  • amenorea sekunder;
  • menstruasi tidak teratur.

Gejala hipoestrogenisme

  • hot flushes atau rasa panas mendadak;
  • keringat malam;
  • kekeringan vagina;
  • dispareunia;
  • gangguan tidur;
  • penurunan libido;
  • perubahan suasana hati.

Dampak reproduksi

  • infertilitas;
  • penurunan fertilitas.

Namun: POI tidak sama dengan infertilitas absolut, karena aktivitas ovarium spontan dapat terjadi.


5. Pemeriksaan

Pemeriksaan utama

FSH

→ meningkat.

Estradiol

→ umumnya rendah.

Pemeriksaan etiologi

Pada POI non-iatrogenik dapat dipertimbangkan:

  • kariotipe;
  • pemeriksaan FMR1 premutation;
  • antibodi 21-hidroksilase bila dicurigai etiologi autoimun adrenal;
  • evaluasi fungsi tiroid.

USG

Dapat menilai:

  • volume ovarium;
  • jumlah folikel antral;
  • gambaran ovarium.

AMH (anti-Müllerian hormone) dapat memberikan informasi mengenai cadangan ovarium, tetapi bukan pemeriksaan utama untuk diagnosis POI.


6. POI dan amenorea menurut WHO

POI termasuk:

WHO Group III — hipergonadotropik–hipoestrogenik.

Artinya:

ovarium gagal
→ estradiol ↓
→ feedback negatif ↓
→ FSH ↑ + LH ↑
→ anovulasi/amenorea.

Ini berbeda dengan:

WHO I: FSH ↓/normal rendah + estradiol ↓ → hipotalamus/hipofisis

dan

WHO II: FSH relatif normal + estrogen masih ada → gangguan ovulasi, terutama PCOS.


7. Dampak jangka panjang

POI bukan hanya masalah menstruasi dan fertilitas.

A. Tulang

Hipoestrogenisme kronik
→ ↑ bone turnover
→ penurunan bone mineral density (BMD)
→ osteopenia/osteoporosis
→ peningkatan risiko fraktur.

B. Kardiovaskular

Estrogen yang rendah dalam jangka panjang berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

C. Psikoseksual

Dapat terjadi:

  • disfungsi seksual;
  • kekeringan vagina;
  • gangguan kualitas hidup;
  • masalah psikologis akibat kehilangan fungsi reproduksi.

8. Tatalaksana

A. Hormone replacement therapy (HRT)

Pada pasien tanpa kontraindikasi, terapi hormon dianjurkan sampai sekitar usia menopause alami, yaitu sekitar 50–51 tahun, untuk mengurangi konsekuensi jangka panjang hipoestrogenisme.

Jika uterus masih ada:

estrogen harus dikombinasikan dengan progestogen

untuk mencegah hiperplasia dan kanker endometrium.

Jika uterus tidak ada:

estrogen saja dapat digunakan.


B. Fertilitas

POI menyebabkan cadangan ovarium sangat rendah dan peluang konsepsi spontan menurun, tetapi ovulasi spontan masih mungkin terjadi.

Untuk kehamilan:

donor oosit merupakan pilihan dengan keberhasilan paling konsisten pada POI.

Kriopreservasi oosit/embrio terutama bermanfaat sebelum terjadi kehilangan fungsi ovarium, misalnya pada pasien yang akan menjalani terapi gonadotoksik.


C. Konseling

Pasien perlu memahami:

POI ≠ menopause absolut

karena fungsi ovarium dapat berfluktuasi.

Oleh karena itu:

kehamilan spontan masih dapat terjadi → kontrasepsi tetap diperlukan jika kehamilan tidak diinginkan.


Ringkasan cepat

Parameter POI
Usia <40 tahun
Menstruasi Oligomenorea/amenorea
FSH ↑
Estradiol ↓
LH ↑
Ovarium Fungsi menurun, tetapi dapat intermiten
Ovulasi Dapat terjadi sporadis
Kesuburan Sangat menurun, tetapi tidak selalu nol
Klasifikasi WHO Group III
HRT Umumnya dianjurkan sampai usia menopause alami
Jika ingin hamil Pertimbangkan donor oosit

Kalimat hafalan:

POI = <40 tahun + gangguan menstruasi ≥4 bulan + FSH >25 IU/L → hipergonadotropik–hipoestrogenik → WHO III.

Referensi

  1. European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE). Evidence-based guideline: premature ovarian insufficiency. 2024.
  2. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  3. Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  4. Webber L, Davies M, Anderson R, et al. ESHRE guideline: management of women with premature ovarian insufficiency. Hum Reprod. 2016;31(5):926-937.
  5. Nelson LM. Clinical practice. Primary ovarian insufficiency. N Engl J Med. 2009;360(6):606-614.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...