Langsung ke konten utama

Postingan

Etiologi / Penyebab Fetal Body Wall Complex (FBWC)

FBWC merupakan malformasi embrionik berat yang terjadi sangat dini (minggu ke-3–4 embriogenesis) . Sampai saat ini penyebab pasti belum tunggal , tetapi terdapat beberapa mekanisme patogenetik utama yang didukung literatur embriologi dan obstetri. 1. Defek lipatan embrio (embryonic folding defect) – teori paling diterima Mekanisme Pada minggu ke-4, embrio mengalami lipatan kraniokaudal dan lateral untuk membentuk: dinding torakoabdominal rongga tubuh tali pusat Kegagalan proses folding → defek dinding tubuh luas eviscerasi organ tali pusat sangat pendek/tidak terbentuk skoliosis dan kelainan ekstremitas Alasan teori ini paling kuat Mampu menjelaskan kombinasi kelainan simultan pada FBWC. Sesuai dengan waktu kejadian sangat dini sebelum organogenesis selesai. 2. Disrupsi vaskular embrionik (vascular disruption theory) Mekanisme Gangguan perfusi embrio awal → iskemia jaringan → nekrosis dan kegagalan pembentukan struktur tubuh. Dapat disebabkan: trombos...
Postingan terbaru

Fetal Body Wall Complex (FBWC)

  Definisi Fetal Body Wall Complex (FBWC) adalah kelainan kongenital letal yang ditandai oleh defek besar dinding tubuh anterior disertai eviscerasi organ intraabdominal/toraks , kelainan tali pusat sangat pendek atau tidak terbentuk , serta anomali skeletal berat (misalnya skoliosis berat, limb defects). Kondisi ini termasuk spektrum Limb–Body Wall Complex (LBWC) . FBWC hampir selalu berujung kematian intrauterin atau neonatal dini . Epidemiologi Insidensi sekitar 1 : 10.000 – 1 : 40.000 kehamilan . Tidak ada hubungan jelas dengan faktor genetik herediter; sebagian besar sporadik . Patogenesis (Teori utama) Beberapa mekanisme yang diusulkan: Early amnion rupture sequence Ruptur amnion dini → pita amnion → destruksi dinding tubuh dan ekstremitas. Vascular disruption theory Gangguan perfusi embrionik awal → nekrosis jaringan → kegagalan penutupan dinding tubuh. Embryonic folding defect theory (paling diterima) Gangguan lipatan kranio-kaudal dan lateral...

Kriteria Rotterdam untuk Diagnosis PCOS

  Definisi Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah gangguan endokrin–metabolik kompleks yang ditandai oleh disfungsi ovulasi, hiperandrogenisme, dan morfologi ovarium polikistik , setelah penyebab lain disingkirkan. Konsensus Rotterdam 2003 menetapkan diagnosis bila ≥2 dari 3 kriteria berikut terpenuhi. Tiga Kriteria Utama Rotterdam 1. Oligo-ovulasi atau anovulasi Manifestasi klinis: Siklus haid >35 hari atau <8 kali/tahun Amenore ≥3 bulan Infertilitas anovulatorik 2. Hiperandrogenisme Klinis: Hirsutisme (skor Ferriman-Gallwey meningkat) Akne persisten Alopecia androgenik Biokimia: ↑ testosteron total/ bebas ↑ DHEAS atau androstenedion 3. Morfologi ovarium polikistik pada USG Minimal salah satu: ≥20 folikel berdiameter 2–9 mm pada satu ovarium (teknologi USG modern) Volume ovarium ≥10 mL (Ambang folikel awal Rotterdam: ≥12; kini direvisi karena resolusi USG meningkat.) Syarat Penting Diagnosis hanya ditegakkan setelah eksklusi penyebab ...

Derajat (Grade) Adhesi Intraabdomen / Pelvis

Adhesi adalah perlekatan abnormal jaringan fibrosa antara dua permukaan serosa akibat proses inflamasi, iskemia, trauma bedah, endometriosis, infeksi, atau keganasan. Dalam praktik obstetri–ginekologi dan onkologi ginekologi, penilaian grade adhesi penting untuk: Prediksi kesulitan operasi Risiko perdarahan & cedera organ Prognosis fertilitas Perencanaan debulking surgery (misalnya Ca ovarium stadium lanjut) Klasifikasi Derajat Adhesi (Paling sering digunakan secara klinis) Grade 0 – Tidak ada adhesi Organ bebas, anatomi normal Mobilitas jaringan baik Grade I – Adhesi ringan Adhesi tipis, filmy, transparan Mudah dilepaskan dengan blunt dissection Minimal vaskularisasi Tidak menyebabkan distorsi anatomi signifikan 📌 Contoh: Adhesi tipis antara uterus–omentum Adhesi minor pasca SC Grade II – Adhesi sedang Adhesi lebih tebal Mulai vaskularisasi Memerlukan sharp dissection Distorsi anatomi ringan–sedang Mobilitas organ berkurang 📌 Contoh: Ovar...

Konsolidasi kemoterapi (consolidation chemotherapy)

Merupakan Fase terapi sistemik yang diberikan setelah tercapai respons awal (complete response atau partial response bermakna) terhadap terapi induksi, dengan tujuan utama mengeliminasi penyakit residual mikroskopik (minimal residual disease, MRD) dan menurunkan risiko relaps , sehingga memperpanjang disease-free survival (DFS) dan overall survival (OS). Tujuan utama Eradikasi sel tumor sisa yang tidak terdeteksi secara klinis/radiologis. Menstabilkan respons yang telah dicapai pada fase induksi. Menurunkan angka kekambuhan lokal maupun sistemik. Perbedaan dengan fase kemoterapi lain Fase Waktu pemberian Tujuan Neoadjuvan / Induksi Sebelum terapi definitif (operasi/radioterapi) Mengecilkan tumor, mengontrol penyakit Konsolidasi Setelah respons awal tercapai Eliminasi residual disease, cegah relaps Adjuvan Setelah terapi lokal definitif Membunuh mikrometastasis Maintenance Jangka panjang, dosis rendah Mempertahankan remisi Dalam banyak liter...

teknik copywriting

  1. AIDA (Attention – Interest – Desire – Action) Model klasik dan paling banyak digunakan. Struktur: Attention → judul yang menghentikan scrolling Interest → relevansi dengan masalah audiens Desire → manfaat + bukti Action → CTA jelas Contoh singkat: Capek jualan tapi tidak closing? Metode copywriting ini dipakai oleh 3.200+ bisnis online. Tingkatkan konversi hingga 2–3x. Daftar sekarang. 2. PAS (Problem – Agitate – Solution) Efektif untuk produk berbasis problem solving. Struktur: Problem → sebutkan masalah Agitate → perdalam dampak emosional Solution → tawarkan solusi Contoh: Omzet stagnan meski iklan mahal? Setiap hari uang terbakar tanpa hasil. Gunakan sistem copywriting berbasis data ini. 3. FAB (Features – Advantages – Benefits) Umum untuk produk teknis. Level Fokus Feature Apa produknya Advantage Kenapa lebih baik Benefit Dampak ke pengguna Contoh: AI auto-reply (feature) merespons dalam 1 detik (advantage) ...

mekanisme patofisiologi Postpartum Urinary Retention (PUR) tipe overt vs covert

  Mekanisme PUR Overt vs Covert Definisi singkat Overt PUR : tidak dapat berkemih spontan ≥ 6 jam postpartum. Covert PUR : dapat berkemih spontan, tetapi PVR ≥ 150–200 mL. Keduanya berada pada satu spektrum patofisiologi, dengan perbedaan derajat gangguan neuromuskular vesika dan obstruksi outlet . 1. Mekanisme Utama Overt PUR Karakteristik patofisiologi Gangguan berat pada: kontraksi detrusor refleks miksi atau obstruksi fungsional outlet a. Atonia detrusor berat (dominant mechanism) Proses: Neuropati pelvis (n. pudendus, S2–S4) akibat: kala II lama persalinan operatif Overdistensi vesika intrapartum Anestesi regional Efek: refleks miksi tidak teraktivasi kontraksi detrusor minimal atau tidak ada → pasien tidak mampu memulai miksi b. Obstruksi fungsional berat Edema uretra masif Hematoma perineum/vagina Nyeri perineum berat → kontraksi sfingter eksternal → aliran urin tidak dapat dimulai c. Blok sensorik Tidak ada sensasi penuh vesik...