Tengah malam ini saya sedang terduduk, sesekali menenggak kopi dan berpikir, Ndoroisme itu nyata dan ada disekitar kita. Apa itu ndoroisme. Saya saja awalnya cuma berpikir pikir dan bergumam dalam hati opo kuwi ndoroisme..opo enek istilah ngonoan..(apa itu ndoroisme. Apa ada istilah seperti itu. Ya memang sih tidak ada istilah seperti itu, tapi setidaknya ada orang yang pernah menulis tentang hal ini, yaitu Pak Ahmad Syafii Maarif dalam artikel
"Ndoroisme" Part I beliau tulis di republika online. Kurang lebih begini yang beliau tulis."Sikap hidup pejabat atau majikan yang serba-ndoro (tuan, majikan), ingin selalu diperlakukan sebagai tuan, laki-laki atau perempuan (kakung utawi putri)."
Bahkan beliau juga memaparkan dalam artikel tsb perwujudan atau contoh contoh sikap ndoroisme bersama dengan couple-ndoroisme alias babuisme ;))
"Perwujudan 'ndoroisme' ini bisa terlihat dalam berbagai bentuk: bersikap ABS-AIS (asal bapak senang-asal ibu senang), memuji pemimpin partai dengan cara bertopeng, memberikan makan pembantu dengan makanan berbeda dengan jenis makanan induk semang, duduk bersimpuh sambil tertunduk di depan ndoro kakung dan ndoro putri, menjilat atasan yang membuat dia kehilangan keseimbangan, dan jenis sikap lain dengan muatan yang mirip."
Jika disinggungkan dengan sifat dasar manusia yang hakikatnya setiap manusia suka dipuji, setiap manusia suka diberi hadiah, dalam konteks lain hal hal yang gratis ataupun pada era modern ini diskon dalam belanja. Hal ini yang dimanfaatkan atau dilakukan orang-orang terdahulu untuk membangun relasi, networking, kepada orang-orang berjabatan atau sebagai pemulus jalan untuk menaikkan jenjang karir. Halal kah proses tersebut? Menurut hemat saya, dalam rangka membangun atau menjalin silaturahmi dengan orang lain akan sah-sah saja. Akan tetapi kembali kepada niat kita dalam melakukan hal tersebut. Jikalau kondisi tersebut hanyalah berguna atau kita niatkan untuk mempermulus jalan atau dalam bahasanya memberikan upeti, saya rasa akan berbeda nilainya. Lalu bagaimana kita bisa menilainya? Kembalikan kepada hati nurani mu.
Lalu sikap ndoroisme yang lain yang mungkin akan sering ditemukan adalah sikap berlomba-lomba menduduki jabatan lalu bersikap seolah lebih powerfull didepan orang lain, and giving command as you like to. Ya, pejabat selalu benar, saya minta harus kamu turuti, saya yang berkuasa saat ini, kamu harus mengikuti saya, berbuat sesuai yang aku suruh dan bagaimanapun caranya harus bisa. Saya rasa itu yang ekstrim sih. Paling yang sering kita temui, saya disini duluan, aturan kami kayak gini. Kurang lebih seperti itu sih.
Lalu apakah ini baik?
Saya rasa baik atau buruk tergantung dalam konteks dan penggunaan hal ini. Kondisi ini saya rasa terbudayakan dalam beberapa kelompok yang ketat dalam aturan dan nyatanya bisa bagus dan tertata. Ingat. Hal ini juga memiliki kelebihan dalam membantu dalam memuluskan proses yang diperlukan. Selain itu, sebenarnya ada batas tipis antara proses pembentukan karakter yang berbakti kepada seseorang yang lebih tua atau dituakan.
Hal negatifnya? Jika budaya seperti ini mengakar, tentu akan ada beban berat dan cap jelek kepada institusi yang melakukan ini karena :
Menjadi beban yang berat bagi individu yang dengan hati yang tulus ingin bergabung karena beban semakin tahun akan semakin meningkat.
Adanya label jelek yang melekat pada institusi atau kelompok ya g secara umum diketahui.
Lalu apa yang dilakukan. Tentu yang pertama ada batas dan kesepakatan bersama. Pemahaman dan kesepakatan batas batas akan menjadi salah satu solusi yang dapat diambil untuk individu yang mungkin mengalami hal yang terkait dengan kondisi ini.
Lalu saya harus menyikapi seperti apa? Saya sih kembalikan kepada Anda pembaca untuk memiliki dasar dalam bertindak dan mengambil keputusan. Lalu saya juga mempersilakan Anda, pembaca budiman, untuk berkenan meninggalkan komentar, menurut pendapat Anda penting ga "survival mode" di lingkungan kerja?
1.https://news.republika.co.id/berita/qzrakt9625000/ndoroisme-i?
Komentar