Langsung ke konten utama

Kata dokter plasenta saya lengket ... ("FIGO classification for the clinical diagnosis of placenta accreta spectrum disorders)

 Rangkuman artikel Jauniaux E, et al. "FIGO classification for the clinical diagnosis of placenta accreta spectrum disorders." Int J Gynecol Obstet. 2019;146:20–24.

A. Ringkasan dalam 10 paragraf

1. Artikel ini memperkenalkan klasifikasi klinis terbaru FIGO untuk Placenta Accreta Spectrum (PAS). Tujuannya adalah menyeragamkan definisi, diagnosis, dan pelaporan kasus PAS sehingga data epidemiologi, penelitian, dan tata laksana dapat dibandingkan secara internasional.

2. Penulis menjelaskan bahwa istilah placenta accreta pertama kali dijelaskan secara sistematis oleh Irving dan Hertig pada tahun 1937. Saat itu sebagian besar kasus hanya dianggap sebagai "placenta yang melekat", sebelum diketahui bahwa terdapat spektrum invasi trofoblas dengan derajat yang berbeda.

3. Insidensi PAS meningkat tajam pada era modern terutama akibat meningkatnya angka seksio sesarea. Bekas luka operasi menyebabkan gangguan desidua sehingga vili korion dapat berimplantasi langsung pada miometrium. Karena itu PAS kini dianggap sebagai penyakit yang sebagian besar bersifat iatrogenik.

4. Histopatologi tetap merupakan standar emas diagnosis, tetapi tidak selalu tersedia, terutama pada terapi konservatif. Oleh sebab itu diperlukan klasifikasi klinis yang dapat digunakan saat operasi maupun persalinan.

5. Penulis mengkritik banyaknya definisi PAS yang digunakan sebelumnya. Istilah seperti morbidly adherent placenta, retained placenta, atau abnormal placental adherence sering menyebabkan overdiagnosis dan menyulitkan interpretasi hasil penelitian.

6. FIGO kemudian membagi PAS menjadi tiga kelompok besar yaitu Grade 1 (placenta adherenta/creta), Grade 2 (increta), dan Grade 3 (percreta) yang selanjutnya dibagi menjadi Grade 3a, 3b, dan 3c sesuai luas invasi organ.

7. Semakin dalam invasi trofoblas, semakin besar risiko perdarahan masif, transfusi, histerektomi, cedera organ, dan kematian maternal. Oleh karena itu penentuan derajat invasi sangat penting untuk menentukan strategi operasi.

8. Artikel juga menekankan perlunya membedakan PAS dengan uterine window atau dehisensi bekas seksio sesarea karena keduanya dapat tampak serupa saat operasi tetapi mempunyai penatalaksanaan berbeda.

9. Selain klasifikasi, FIGO mengusulkan standar pelaporan penelitian meliputi karakteristik populasi, metode diagnosis prenatal (USG/MRI), strategi tata laksana, dan konfirmasi histopatologi sehingga penelitian dari berbagai pusat dapat dibandingkan secara valid.

10. Kesimpulan utama artikel adalah bahwa penggunaan klasifikasi FIGO secara konsisten akan meningkatkan kualitas diagnosis, mengurangi overdiagnosis, memperbaiki kualitas penelitian, serta meningkatkan keselamatan ibu melalui pemilihan tata laksana yang sesuai berdasarkan derajat invasi.


B. Sepuluh pertanyaan dari dokumen

  1. Mengapa FIGO mengembangkan klasifikasi baru untuk PAS?
  2. Apa faktor risiko utama meningkatnya insidensi PAS saat ini?
  3. Mengapa histopatologi dianggap sebagai baku emas diagnosis PAS?
  4. Mengapa istilah morbidly adherent placenta tidak lagi dianjurkan?
  5. Apa perbedaan placenta adherenta dan placenta increta?
  6. Bagaimana membedakan increta dan percreta saat laparotomi?
  7. Mengapa klasifikasi PAS lebih tepat disebut klasifikasi daripada staging?
  8. Bagaimana membedakan PAS dengan uterine window?
  9. Mengapa derajat invasi memengaruhi pilihan operasi?
  10. Mengapa diperlukan standar pelaporan penelitian PAS?

C. Sepuluh kritik terhadap artikel

  1. Artikel hanya membahas klasifikasi klinis tanpa algoritme tata laksana yang rinci.
  2. Tidak membahas performa diagnostik USG maupun MRI.
  3. Tidak menyertakan ilustrasi anatomi atau gambar operasi.
  4. Tidak menjelaskan korelasi klasifikasi dengan angka morbiditas maternal.
  5. Tidak membahas variasi klasifikasi berdasarkan lokasi plasenta.
  6. Bukti berasal terutama dari konsensus ahli, bukan uji prospektif besar.
  7. Tidak memberikan sistem skor kuantitatif risiko operasi.
  8. Tidak mengintegrasikan temuan Doppler prenatal dalam klasifikasi.
  9. Tidak membahas implikasi klasifikasi terhadap fertilitas jangka panjang.
  10. Tidak menyertakan algoritme keputusan konservatif vs histerektomi.

D. Sepuluh saran

  1. Tambahkan algoritme diagnosis prenatal.
  2. Sertakan ilustrasi anatomi tiap grade PAS.
  3. Hubungkan setiap grade dengan komplikasi maternal.
  4. Tambahkan rekomendasi teknik operasi untuk tiap grade.
  5. Integrasikan temuan USG dan MRI.
  6. Sertakan validasi prospektif multicenter.
  7. Tambahkan sistem skor risiko perdarahan.
  8. Berikan contoh kasus klinis tiap grade.
  9. Sertakan luaran neonatal pada tiap grade.
  10. Perbarui klasifikasi sesuai perkembangan teknologi pencitraan.

E. Penjelasan detail klasifikasi Placenta Accreta Spectrum (FIGO)

Grade Nama Kedalaman invasi Temuan utama Organ lain
Grade 1 Placenta adherenta/creta Vili menempel pada permukaan miometrium Tidak ada invasi Tidak
Grade 2 Placenta increta Vili masuk ke dalam miometrium Bulge uterus, hipervaskularisasi Tidak
Grade 3a Percreta sampai serosa Menembus seluruh miometrium hingga serosa Plasenta tampak di permukaan uterus Tidak
Grade 3b Percreta kandung kemih Menembus serosa dan menginvasi buli-buli Tidak ada bidang diseksi kandung kemih Ya (vesika urinaria)
Grade 3c Percreta organ pelvis Menembus organ pelvis lain Invasi ligamentum latum, vagina, dinding pelvis, dll. Ya (organ pelvis lain)

Titik perbedaan utama

Grade 1 (Accreta/Creta)

  • Vili hanya melekat langsung pada miometrium superfisial.
  • Tidak terdapat penetrasi miometrium.
  • Tidak ada placental bulge.
  • Tidak ada hipervaskularisasi bermakna.
  • Risiko perdarahan paling rendah di antara PAS.

Grade 2 (Increta)

  • Vili telah menginvasi serabut miometrium.
  • Saat laparotomi tampak placental bulge, uterus berwarna kebiruan, hipervaskularisasi, dan dimple sign positif.
  • Belum menembus serosa uterus.

Grade 3a

  • Invasi sudah menembus seluruh ketebalan miometrium hingga serosa.
  • Plasenta terlihat pada permukaan uterus.
  • Kandung kemih belum terlibat dan masih ada bidang diseksi.

Grade 3b

  • Plasenta menginvasi dinding kandung kemih.
  • Bidang diseksi antara uterus dan kandung kemih menghilang.
  • Risiko perdarahan dan cedera urologi meningkat tajam.

Grade 3c

  • Invasi meluas ke organ pelvis lain seperti ligamentum latum, vagina, dinding panggul, atau organ pelvis lainnya (dengan atau tanpa keterlibatan kandung kemih).
  • Merupakan derajat paling berat dengan risiko tertinggi untuk perdarahan masif, cedera multiorgan, dan kebutuhan histerektomi kompleks.

Inti pembeda antar grade

  • Grade 1 → hanya menempel pada miometrium.
  • Grade 2 → menginvasi miometrium, tetapi belum menembus serosa.
  • Grade 3a → menembus serosa uterus.
  • Grade 3b → menembus kandung kemih.
  • Grade 3c → menembus organ pelvis lain di luar kandung kemih.

Referensi (Vancouver)

  1. Jauniaux E, Ayres-de-Campos D, Langhoff-Roos J, Fox KA, Collins SL, FIGO Placenta Accreta Diagnosis and Management Expert Consensus Panel. FIGO classification for the clinical diagnosis of placenta accreta spectrum disorders. Int J Gynecol Obstet. 2019;146(1):20-24.
  2. Jauniaux E, Chantraine F, Silver RM, Langhoff-Roos J. FIGO consensus guidelines on placenta accreta spectrum disorders: Epidemiology. Int J Gynecol Obstet. 2018;140:265-273.
  3. Williams Obstetrics. 26th ed. McGraw-Hill Education.
  4. Creasy RK, Resnik R. Creasy and Resnik's Maternal-Fetal Medicine. 8th ed.
  5. Cunningham FG, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. McGraw-Hill.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...

IUGR (Intrauterine Growth Restriction / Fetal Growth Restriction) .

1. Definisi IUGR atau Fetal Growth Restriction (FGR) adalah kondisi di mana janin gagal mencapai potensi pertumbuhan intrauterin yang diharapkan untuk usia gestasinya. Secara praktis sering didefinisikan sebagai estimated fetal weight (EFW) < 10th percentile untuk usia kehamilan; tetapi perlu dibedakan dari small for gestational age (SGA) karena tidak semua SGA adalah patologis (konstitusional). Pedoman internasional juga membedakan IUGR ringan/sedang dan berat (mis. EFW < 3rd centile atau bukti disfungsi hemodinamik/abnormal Doppler). 2. Patofisiologi — ringkasan Patofisiologi IUGR bersifat multifaktorial. Mekanisme utama yang sering hadir: Insufisiensi plasenta (plasental) — kerusakan atau gangguan vascularisasi plasenta → aliran darah uteroplacental menurun → asupan oksigen dan nutrisi terhambat → penurunan pertumbuhan janin. Ini adalah penyebab tersering pada IUGR asimetris. Faktor maternal — hipertensi kronis, preeklampsia, penyakit jantung, malnutrisi kronis, mer...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...