Langsung ke konten utama

Selective Intrauterine Growth Restriction (sIUGR) pada kehamilan gemelli,

 

🔹 Definisi — sIUGR pada Kehamilan Gemelli

Selective IUGR adalah kondisi pada kehamilan kembar di mana:

  • satu janin mengalami restriksi pertumbuhan
  • janin lainnya memiliki pertumbuhan normal

Umumnya didefinisikan sebagai:

  • EFW (estimated fetal weight) <10th centile pada salah satu janin
    dan
  • discordance berat badan ≥ 20–25%

sIUGR paling sering terjadi pada kembar monokorionik karena gangguan perfusi intertwin melalui anastomosis plasenta.

Pada gemelli dengan anomali kongenital salah satu janin, restriksi pertumbuhan dapat bersifat:

  1. sekunder akibat perfusi plasenta abnormal, atau
  2. bagian dari sindrom atau malformasi struktural janin tersebut.

🟣 Perbedaan Penting: MCDA vs DCDA

1️⃣ Monochorionic Diamniotic (MCDA) — risko tertinggi

Mekanisme utama:

  • distribusi plasenta yang tidak seimbang
  • anastomosis vaskular arteri–arteri / vena–vena
  • dapat berkaitan dengan:
    • sIUGR tipe I–III
    • TTTS / TAPS
    • peningkatan risiko IUFD kembar yang sehat bila janin kecil demise

Pada MCDA, keberadaan kongenital anomali pada janin kecil meningkatkan:

  • risiko fetal demise selektif
  • risiko kerusakan neurologis janin kembar yang sehat akibat hemodynamic shift.

2️⃣ Dichorionic Diamniotic (DCDA)

Pada DCDA, etiologi sIUGR biasanya:

  • insufisiensi plasenta individual
  • abnormalitas kromosom / malformasi struktural pada salah satu janin

Risiko terhadap kembar yang sehat lebih rendah karena tidak ada anastomosis vaskular.


🔵 Klasifikasi sIUGR pada Monokorionik (Berdasarkan Umbilical Artery Doppler)

Tipe Gambaran Doppler UA Prognosis Strategi utama
Tipe I EDF positif, stabil Prognosis baik Expectant + surveillance
Tipe II EDF persisten absent/reversed Risiko kematian janin tinggi Pertimbangkan intervensi
Tipe III EDF intermiten Risiko hipoksia akut, IUFD mendadak Pertimbangkan ablasi laser / septostomy selektif

Keberadaan anomali kongenital signifikan pada janin kecil sering kali memindahkan pendekatan ke arah:

  • manajemen selektif
  • atau feticide selektif pada pusat MFM tersier

terutama pada tipe II–III.


🧠 sIUGR + Kongenital Anomali: Pertimbangan Patofisiologis

Pada janin dengan malformasi:

  • restriksi pertumbuhan dapat mencerminkan gangguan organogenesis
  • dapat berkaitan dengan abnormalitas kromosom (trisomi, microdeletion)
  • perfusi plasenta sering tidak proporsional

Pada MCDA, komplikasi tambahan:

  • risiko acute inter-twin transfusion saat demise janin kecil
  • risiko cerebral palsy atau iskemia serebral pada janin sehat
  • Couvelaire-like hemodynamic shift (post-demise)

🟡 Evaluasi Diagnostik yang Direkomendasikan

1️⃣ Ultrasonografi serial

  • EFW, discordance, AC growth trend
  • amniotic fluid index masing-masing janin
  • placental cord insertion (velamentous common in sIUGR)

2️⃣ Doppler Studies (serial)

  • Umbilical artery
  • Middle cerebral artery
  • Ductus venosus (khusus tipe II–III)
  • A-wave abnormal → prediktor dekompensasi janin

3️⃣ Fetal Anatomy Scan menyeluruh

  • cari malformasi struktural mayor
  • cardiac, CNS, renal, skeletal

4️⃣ Tes genetik (bila terindikasi)

  • CVS / amniocentesis selektif
  • khusus bila:
    • IUGR awal (<24 minggu)
    • multiple anomalies
    • soft markers kromosom

5️⃣ Evaluasi maternal

  • hipertensi / preeklampsia
  • trombofilia (kasus terpilih)

🟠 Prinsip Manajemen Klinis

Pendekatan tergantung:

  • tipe korialitas
  • tipe sIUGR
  • keberadaan kelainan kongenital mayor
  • usia gestasi
  • status janin kembar yang sehat
  • preferensi keluarga (shared decision-making)

🔻 Dichorionic — sIUGR + Anomali Kongenital

Biasanya dikelola konservatif bila:

  • janin sehat stabil
  • doppler normal

Indikasi terminasi janin kecil (atau selective reduction) jarang, kecuali:

  • lethal anomaly
  • risiko maternal meningkat
  • IUFD janin kecil berulang

Persalinan dipertimbangkan:

  • bila doppler memburuk
  • atau usia kehamilan matur

🔻 Monochorionic — sIUGR + Anomali Kongenital

Kasus berisiko tinggi.

Opsi manajemen pada pusat MFM:

  • Expectant + surveillance ketat (Tipe I, tanpa red flags)
  • Fetoscopic laser ablation (tipe II–III + risiko TTTS)
  • Selective cord occlusion / radiofrequency ablation
    • bila janin kecil dengan:
      • anomaly mayor letal
      • doppler berat (UA AR, DV abnormal)
      • usia gestasi < 26–28 minggu
      • dan orang tua menghendaki proteksi janin sehat

Tujuan utama:

melindungi janin kembar yang sehat dari kerusakan neurologis akibat demise mendadak janin kecil.


🟣 Indikasi Hospitalisasi / Delivery Planning

Pertimbangkan hospitalisasi bila:

  • DV abnormal
  • aliran UA reversed persisten
  • oligohidramnion berat
  • penurunan gerak janin
  • CTG non-reassuring

Waktu persalinan (umum pada MCDA):

  • Tipe I: 34–36 minggu (bila stabil)
  • Tipe II–III: individualisasi sesuai doppler & DV

Rute persalinan:

  • tergantung presentasi janin & kondisi fetal
  • banyak pusat memilih sectio caesarea elektif pada risiko kompromi janin

🧾 Ringkasan Klinis Praktis

  • sIUGR pada gemelli monokorionik jauh lebih kompleks dibanding DCDA
  • anomali kongenital memperburuk prognosis janin kecil
  • fokus utama manajemen pada MCDA:
    • proteksi janin sehat
    • mencegah kerusakan neurologis akibat demise mendadak
  • manajemen ideal di pusat fetomaternal dengan kemampuan fetoscopic therapy

📚 Daftar Pustaka (Vancouver Style)

  1. Gratacós E, Lewi L, Munoz B, et al. A classification system for selective intrauterine growth restriction in monochorionic pregnancies. Ultrasound Obstet Gynecol. 2007;30(1):28-34.
  2. Khalil A, Rodgers M, Baschat A, et al. ISUOG Practice Guidelines: Role of ultrasound in twin pregnancy. Ultrasound Obstet Gynecol. 2016;47(2):247-263.
  3. Rossi AC, D’Addario V. Selective fetal growth restriction in monochorionic diamniotic twin pregnancies: A meta-analysis. Ultrasound Obstet Gynecol. 2009;33(6):698-704.
  4. Carvalho NS, Brizot ML. Selective fetal growth restriction in twin pregnancies. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2019;58:71-83.
  5. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  6. Townsend R, Khalil A. Growth disorders in twin pregnancy. BJOG. 2018;125(3):302-308.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...