Langsung ke konten utama

Endometriosis Fertility Index - Adamson & Pasta (2010)

 

Jurnal yang Anda unggah adalah Adamson & Pasta, 2010, yang memperkenalkan dan memvalidasi Endometriosis Fertility Index (EFI). Ini merupakan jurnal yang sangat penting karena menggeser tujuan staging endometriosis dari sekadar “seberapa berat penyakitnya” menjadi “seberapa besar peluang pasien hamil setelah operasi tanpa IVF.”

1. Apa sebenarnya tujuan jurnal ini?

Masalah utama yang ingin diselesaikan peneliti adalah:

rASRM stage I–IV tidak cukup baik untuk memprediksi fertilitas.

Dua pasien sama-sama dapat mempunyai endometriosis stadium IV, tetapi setelah operasi:

  • pasien A mempunyai kedua tuba, fimbria, dan ovarium yang masih berfungsi baik;
  • pasien B mempunyai kerusakan tuba berat, fimbria rusak, dan ovarium dengan kerusakan signifikan.

Secara rASRM, keduanya dapat sama-sama stadium IV. Namun secara potensi reproduksi, prognosisnya jelas berbeda.

Karena itu Adamson dan Pasta mengembangkan EFI, yang memasukkan:

  1. faktor pasien sebelum operasi;
  2. fungsi aktual tuba–fimbria–ovarium setelah operasi;
  3. beban anatomis endometriosis menurut AFS/rASRM.

Penelitian dilakukan pada 801 pasien infertil dengan endometriosis yang telah dikonfirmasi secara bedah: 579 pasien digunakan untuk membuat model dan 222 pasien berikutnya digunakan untuk validasi prospektif.


2. Konsep paling penting: rASRM ≠ EFI

Ini harus benar-benar dipahami.

rASRM menjawab:

“Seberapa luas/berat endometriosis secara anatomis?”

EFI menjawab:

“Setelah lesi endometriosis ditangani secara operatif, seberapa besar kapasitas pelvis untuk menghasilkan kehamilan spontan/non-IVF?”

Jadi keduanya bukan kompetitor, melainkan mempunyai tujuan berbeda.

Jurnal ini menemukan bahwa least function score (LF score) tetap merupakan prediktor fertilitas walaupun sudah dikontrol terhadap AFS total score dan lama infertilitas. Artinya, fungsi organ reproduksi pascaoperasi memberikan informasi yang berbeda dari sekadar jumlah lesi endometriosis.


3. Struktur EFI

EFI mempunyai skor 0–10.

  • 0 = prognosis fertilitas paling buruk
  • 10 = prognosis fertilitas terbaik

Setengah skor berasal dari historical factors, dan setengah lainnya dari surgical factors.

Secara praktis:

Komponen Maksimum
Usia 2
Lama infertilitas 2
Riwayat kehamilan 1
Least Function Score 3
AFS endometriosis lesion score 1
AFS total score 1
Total 10

4. Bagian paling penting: Least Function Score

Ini adalah inti EFI.

Pada saat laparoskopi, Anda menilai tiga struktur di masing-masing sisi:

Kanan

  • tuba
  • fimbria
  • ovarium

Kiri

  • tuba
  • fimbria
  • ovarium

Masing-masing diberi nilai:

Nilai Interpretasi
4 Normal
3 Disfungsi ringan
2 Disfungsi sedang
1 Disfungsi berat
0 Tidak ada/tidak berfungsi

Tetapi ada satu prinsip penting:

Untuk setiap sisi, ambil nilai TERENDAH dari tuba, fimbria, dan ovarium.

Mengapa?

Karena proses reproduksi membutuhkan ketiganya.

Misalnya:

Ovarium = 4
Fimbria = 4
Tuba = 1

Maka fungsi sisi tersebut bukan 4.

Tetapi:

Lowest = 1

Karena tuba yang sangat rusak menjadi rate-limiting factor.

Jurnal secara eksplisit menjelaskan bahwa struktur dengan fungsi terendah menentukan kemampuan sisi tersebut untuk berfungsi efektif dalam reproduksi.


5. Contoh menghitung Least Function Score

Misalnya saat laparoskopi setelah adhesiolisis dan eksisi endometriosis:

Sisi kanan

Struktur Nilai
Tuba 3
Fimbria 4
Ovarium 3

Lowest kanan = 3

Sisi kiri

Struktur Nilai
Tuba 4
Fimbria 4
Ovarium 2

Lowest kiri = 2

Maka:

LF score = 3 + 2 = 5

Jadi pasien masuk kategori:

LF 4–6 → surgical LF points = 2

Bukan 5 poin.

Ini salah satu kesalahan yang sering terjadi saat pertama kali menggunakan EFI.


6. Bagaimana menentukan nilai 0–4 secara operatif?

Jurnal memberikan definisi yang cukup konkret.

Tuba

4 – normal

3 – mild dysfunction

  • cedera serosa ringan.

2 – moderate dysfunction

  • cedera serosa/muskularis sedang;
  • mobilitas tuba mulai terbatas.

1 – severe dysfunction

  • fibrosis tuba;
  • salpingitis isthmica nodosa ringan/sedang;
  • mobilitas sangat terbatas.

0 – nonfunctional

  • obstruksi total;
  • fibrosis ekstensif;
  • salpingitis isthmica nodosa berat.


Fimbria

4 = normal.

3 = cedera minimal/scarring minimal.

2 = kerusakan sedang, arsitektur fimbria berkurang.

1 = kerusakan berat, kehilangan arsitektur yang signifikan.

0 = kehilangan fungsi, misalnya:

  • hidrosalping;
  • oklusi tuba;
  • fibrosis berat;
  • kehilangan arsitektur fimbria secara komplet.


Ovarium

4 = normal.

3 – mild = ukuran normal/hampir normal dengan cedera permukaan minimal.

2 – moderate = ukuran ovarium berkurang ≥1/3 atau kerusakan permukaan sedang.

1 – severe = ukuran ovarium berkurang ≥2/3 atau kerusakan permukaan berat.

0 – nonfunctional = ovarium tidak ada atau seluruhnya terbungkus adhesi sehingga oosit praktis tidak dapat masuk ke tuba.


7. Setelah mendapatkan LF score, ubah menjadi poin EFI

Inilah bagian yang sering membingungkan.

LF score 0–8 tidak langsung dimasukkan sebagai 0–8 poin.

Harus dikonversi:

LF score Poin EFI
7–8 3
4–6 2
0–3 0

Jadi:

LF = 5 → 2 poin EFI

bukan 5.


8. Komponen historis

A. Usia

Usia Poin
≤35 tahun 2
36–39 tahun 1
≥40 tahun 0

Ini logis karena usia secara independen berkaitan dengan ovarian reserve, kualitas oosit, dan fecundability.


B. Lama infertilitas

Lama infertilitas Poin
≤3 tahun 2
>3 tahun 0

Menarik bahwa penelitian menemukan cutoff 3 tahun memiliki sebagian besar kekuatan prediktif dari variabel kontinu tersebut.


C. Riwayat kehamilan

Riwayat Poin
Pernah hamil 1
Belum pernah hamil 0

Pada pengembangan model, riwayat kehamilan terbukti merupakan prediktor kuat.


9. AFS Endometriosis Lesion Score

Ini masih menggunakan sistem AFS/rASRM.

AFS lesion score Poin EFI
<16 1
≥16 0

Mengapa cutoff 16?

Penulis mencatat bahwa skor lesi ≥16 biasanya sudah mencerminkan penyakit yang berat, misalnya adanya endometrioma atau obliterasi komplet cul-de-sac.


10. AFS Total Score

AFS total score Poin EFI
≤70 1
≥71 0

Angka 71 merupakan cutoff yang digunakan dalam pengembangan EFI. Tabel/formulir pada artikel memperlihatkan batas tersebut, sedangkan pembahasan menyebut skor 71 atau lebih sebagai penyakit ekstensif.


11. Jadi algoritme praktisnya bagaimana?

Saya sarankan ketika melakukan laparoskopi pasien infertil dengan endometriosis, pikirkan EFI dalam urutan berikut:

STEP 1 — Catat faktor pasien

Usia

↓

Lama infertilitas

↓

Pernah hamil atau belum


STEP 2 — Lakukan staging rASRM

Catat:

  • endometriotic implants;
  • adhesions;
  • endometrioma;
  • cul-de-sac obliteration;
  • total AFS/rASRM score;
  • lesion score.

STEP 3 — Lakukan terapi bedah sesuai indikasi

Misalnya:

  • adhesiolisis;
  • eksisi/ablasi lesi;
  • eksisi endometrioma sesuai indikasi;
  • restorasi anatomi pelvis;
  • koreksi distorsi tuba/fimbria bila memungkinkan.

Yang penting: EFI menilai fungsi setelah tindakan, bukan sekadar anatomi sebelum operasi.


STEP 4 — Setelah selesai operasi, nilai LF

Contoh:

Kanan

  • Tuba = 4
  • Fimbria = 3
  • Ovarium = 3

→ lowest = 3

Kiri

  • Tuba = 2
  • Fimbria = 2
  • Ovarium = 3

→ lowest = 2

Maka:

LF = 3 + 2 = 5

Kemudian:

LF 5 → 2 poin EFI


12. Contoh kasus klinis lengkap

Misalnya:

Perempuan 32 tahun, infertilitas primer 2 tahun.

Laparoskopi:

  • endometriosis rASRM stage III;
  • AFS lesion score = 12;
  • AFS total score = 45.

Setelah eksisi dan adhesiolisis:

Adneksa kanan

  • tuba = 4
  • fimbria = 4
  • ovarium = 3

Lowest = 3

Adneksa kiri

  • tuba = 3
  • fimbria = 3
  • ovarium = 3

Lowest = 3

LF:

3 + 3 = 6

LF 6 → 2 poin

Sekarang kita hitung:

Komponen Kondisi Poin
Usia 32 tahun 2
Infertilitas 2 tahun 2
Riwayat hamil Tidak 0
LF 6 2
AFS lesion 12 1
AFS total 45 1
EFI 8

Jadi:

EFI = 8


13. Apa arti EFI 8 secara klinis?

Dalam kohort 801 pasien:

EFI Hamil 1 tahun Hamil 2 tahun Hamil 3 tahun
0–3 9,9% 9,9% 9,9%
4 15,2% 23,2% 27,7%
5 22,8% 38,8% 42,2%
6 29,5% 48,0% 54,5%
7 37,4% 57,8% 69,4%
8 41,0% 57,1% 62,9%
9–10 56,4% 71,9% 74,9%

Jadi pasien dengan EFI 8 pada studi ini mempunyai estimasi kumulatif kehamilan sekitar:

41% pada 1 tahun
57% pada 2 tahun
63% pada 3 tahun

Tetapi ini harus dibaca sebagai probabilitas kumulatif pada populasi penelitian, bukan berarti setiap pasien EFI 8 pasti mempunyai peluang persis 41% dalam 1 tahun.


14. Bagaimana EFI digunakan untuk menentukan terapi?

Ini sebenarnya nilai klinis utama jurnal.

Bayangkan dua pasien:

Pasien A

EFI = 9–10

→ kapasitas reproduksi pascaoperasi relatif baik.

Pada pasien yang juga memiliki:

  • semen pasangan adekuat;
  • ovulasi adekuat;
  • ovarian reserve memadai;
  • tidak ada faktor uterus signifikan;
  • tuba masih fungsional,

maka usaha konsepsi non-IVF dapat diberikan kesempatan, sesuai usia dan faktor infertilitas lainnya.


Pasien B

EFI = 0–3

Estimasi kehamilan sangat rendah.

Dalam penelitian:

sekitar 9,9% cumulative pregnancy rate pada 1, 2, maupun 3 tahun.

Pada pasien seperti ini, secara klinis tidak rasional menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan expectant management atau berulang kali melakukan terapi non-IVF jika terdapat indikasi ART.

Di sinilah EFI menjadi alat pengambilan keputusan.


15. EFI bukan alat untuk mengatakan “IVF atau tidak IVF” secara otomatis

Ini penting.

EFI bukan:

EFI 8 → pasti tidak perlu IVF.

Dan bukan:

EFI 4 → pasti harus IVF.

EFI adalah prognostic tool, bukan treatment algorithm tunggal.

Keputusan tetap harus mengintegrasikan:

  • usia;
  • ovarian reserve;
  • ovulatory status;
  • semen analysis;
  • tubal patency;
  • duration of infertility;
  • previous pregnancy;
  • severity of endometriosis;
  • postoperative anatomy;
  • unilateral/bilateral ovarian surgery;
  • ovarian reserve;
  • prior ART;
  • patient preference;
  • waktu reproduktif yang tersedia.

Penulis sendiri menegaskan bahwa fungsi gamet dan uterus harus dinilai terpisah karena faktor tersebut dapat mengubah prognosis.


16. Apa yang TIDAK boleh dilakukan dengan EFI?

Ini sangat penting untuk praktik klinis.

❌ EFI bukan prediktor nyeri

Jurnal secara eksplisit mengatakan EFI:

tidak ditujukan untuk memprediksi nyeri akibat endometriosis.

Jadi:

EFI 9 tidak berarti nyerinya ringan.


❌ EFI bukan prediktor keberhasilan IVF

EFI dikembangkan untuk:

non-IVF conception after surgical staging.

Jadi jangan mengatakan:

“EFI 4 → IVF success rate 15%.”

Itu salah interpretasi.

Angka 15,2% adalah cumulative pregnancy rate pada 1 tahun untuk kelompok EFI 4 dalam konteks konsepsi non-IVF pada populasi penelitian.


❌ EFI tidak dapat dihitung hanya dari USG

Ini juga fundamental.

EFI memerlukan informasi intraoperatif karena salah satu komponen utamanya adalah:

postoperative least function score

yang menilai tuba, fimbria, dan ovarium secara langsung.


17. Mengapa EFI lebih berguna daripada hanya mengatakan “rASRM stage IV”?

Ini menurut saya adalah take-home message terpenting jurnal.

Misalnya:

Pasien A

rASRM IV
tetapi setelah operasi:

  • tuba kanan paten;
  • fimbria kanan baik;
  • ovarium kanan baik;
  • tuba kiri cukup baik;
  • ovarium kiri masih baik.

LF mungkin tinggi.

→ prognosis fertilitas masih relatif baik.

Pasien B

rASRM IV
setelah operasi:

  • hidrosalping;
  • fimbria rusak;
  • adhesi padat;
  • ovarian tissue minimal.

LF sangat rendah.

→ prognosis konsepsi non-IVF buruk.

Keduanya sama-sama stage IV, tetapi EFI dapat membedakan kapasitas reproduksinya.

Itulah mengapa peneliti menemukan bahwa LF tetap memberikan informasi prediktif setelah memperhitungkan AFS score.


18. Bagaimana menerapkan EFI saat membuat laporan operasi?

Saya justru menyarankan format operatif seperti ini.

Contoh dokumentasi

Endometriosis: rASRM stage III
AFS lesion score: 12
AFS total score: 48

Postoperative least function score:

Tube Fimbria Ovary Lowest
Right 4 3 3 3
Left 3 2 3 2

LF score = 3 + 2 = 5

EFI:

  • Age 32 → 2
  • Infertility 2 years → 2
  • Prior pregnancy → 0
  • LF 5 → 2
  • AFS lesion <16 → 1
  • AFS total <71 → 1

Total EFI = 8/10

Dengan demikian, pada saat pasien keluar dari kamar operasi, kita sudah mempunyai prognostic reproductive assessment, bukan sekadar diagnosis “endometriosis stage III”.


19. Satu detail penting: ovarium unilateral tidak ada

Jurnal juga memberikan aturan khusus.

Misalnya:

Ovarium kanan tidak ada.

Ovarium kiri:

  • ovary = 3
  • fimbria = 3
  • tube = 3

Lowest kiri = 3.

Maka LF:

3 × 2 = 6

bukan:

0 + 3 = 3.

Karena seluruh ovulasi akan berasal dari ovarium yang tersisa, sehingga penulis menggandakan fungsi sisi tersebut.


20. Bagaimana dengan endometrioma?

Endometrioma sangat penting karena dapat memengaruhi:

  1. AFS lesion score;
  2. AFS total score;
  3. fungsi ovarium;
  4. postoperative LF score.

Jurnal bahkan menunjukkan contoh visual bagaimana ovarium setelah eksisi endometrioma dapat diberi LF 2, tergantung volume ovarium yang tersisa dan derajat kerusakan permukaan.

Jadi:

“Endometrioma sudah diangkat” ≠ ovarium otomatis LF 4.

Yang dinilai adalah fungsi reproduksi ovarium setelah tindakan, bukan sekadar apakah lesinya sudah dieksisi.


21. Keterbatasan EFI

Penulis sendiri mengakui beberapa keterbatasan.

1. LF bersifat subjektif

Penilaian dokter bedah terhadap apakah suatu struktur bernilai 2 atau 3 dapat berbeda.

Namun sensitivity analysis menunjukkan EFI relatif robust: perubahan LF terjadi lebih sering, tetapi EFI hanya berubah sekitar 15%, dan perubahan >1 poin hanya sekitar 5,4%.

2. Uterine abnormality tidak dimasukkan

Kelainan uterus ditemukan sebagai prediktor, tetapi tidak dimasukkan ke EFI karena relatif jarang dalam populasi tersebut.

3. Male factor tidak menjadi komponen EFI

Padahal faktor semen jelas dapat mengubah fecundability.

4. Ovarian reserve modern belum menjadi bagian EFI

AMH/AFC belum menjadi komponen model ini.

5. Data berasal dari paradigma terapi tahun tersebut

Pada kohort penelitian, pasien umumnya mencoba konsepsi sendiri selama 3–9 bulan kemudian dapat menjalani clomiphene + IUI.

Karena itu angka prognosis EFI dari jurnal tidak boleh diterapkan secara mekanis sebagai angka prognosis universal pada praktik tahun 2026.


22. Jadi bagaimana saya akan menggunakan EFI di klinik sekarang?

Saya akan menggunakan pendekatan:

Endometriosis → infertilitas → operasi bila ada indikasi → rASRM + EFI → integrasikan faktor infertilitas lain → pilih expectant/IUI/IVF.

Secara konseptual:

ENDOMETRIOSIS + INFERTILITAS
          │
          ▼
     LAPAROSKOPI
          │
          ├── rASRM → SEVERITY ANATOMIS
          │
          └── POSTOPERATIVE FUNCTION
                    │
                    ▼
          LEAST FUNCTION SCORE
                    │
                    ▼
              EFI 0–10
                    │
          ┌─────────┴─────────┐
          ▼                   ▼
      EFI rendah          EFI tinggi
          │                   │
 Prognosis non-IVF       Prognosis non-IVF
    kurang baik             lebih baik
          │                   │
          ▼                   ▼
Pertimbangkan ART       Beri kesempatan
lebih awal sesuai      konsepsi non-IVF
faktor klinis

Tetapi EFI selalu harus ditempatkan di dalam kerangka infertilitas secara keseluruhan, bukan digunakan sendirian.


23. Hubungan dengan jurnal Anda sebelumnya tentang rASRM–Enzian

Ini juga sangat relevan dengan pembahasan kita sebelumnya.

Anda sekarang dapat melihat bahwa terdapat tiga pertanyaan yang berbeda:

Sistem Pertanyaan yang dijawab
rASRM Seberapa berat endometriosis secara anatomis?
#Enzian Di mana dan seberapa luas keterlibatan endometriosis, terutama DIE?
EFI Setelah operasi, seberapa besar potensi fertilitas non-IVF?

Jadi jangan mencoba membuat rASRM = EFI.

rASRM/#Enzian lebih bersifat disease mapping/staging, sedangkan EFI bersifat fertility prognostication.


24. Inti jurnal dalam satu kalimat

EFI mengubah hasil laparoskopi dari sekadar “stage endometriosis” menjadi estimasi kapasitas reproduksi dengan menggabungkan usia, lama infertilitas, riwayat kehamilan, fungsi pascaoperasi tuba–fimbria–ovarium, dan skor AFS/rASRM.

Dan menurut saya, komponen yang paling penting untuk Anda kuasai sebagai residen Obgin adalah Least Function Score, karena di situlah nilai klinis EFI paling kuat:

Pada masing-masing sisi, ambil fungsi TERENDAH dari tube–fimbria–ovary → jumlahkan kanan + kiri → dapatkan LF 0–8 → konversi menjadi 0/2/3 poin EFI.

Jurnal menunjukkan bahwa pendekatan ini tetap memprediksi fertilitas bahkan setelah mempertimbangkan skor AFS dan lama infertilitas.

Referensi utama

  1. Adamson GD, Pasta DJ. Endometriosis fertility index: the new, validated endometriosis staging system. Fertil Steril. 2010;94(5):1609-15. doi:10.1016/j.fertnstert.2009.09.035.
  2. American Society for Reproductive Medicine. Revised American Society for Reproductive Medicine classification of endometriosis: 1996. Fertil Steril. 1997;67:817-21.
  3. Becker CM, Bokor A, Heikinheimo O, et al. ESHRE guideline: endometriosis. Hum Reprod Open. 2022;2022(2):hoac009.

Kalau Anda ingin mengimplementasikannya untuk kasus nyata, langkah berikutnya yang paling berguna adalah saya buatkan “lembar hitung EFI saat laparoskopi” lengkap—mulai dari temuan operasi → pemberian skor tube/fimbria/ovary → LF score → rASRM → total EFI → interpretasi prognosis dan pilihan expectant/IUI/IVF—disertai 5 contoh kasus endometriosis stage I–IV.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Sahabat, Teman, Kolega

Nak, Suatu saat nanti. Kamu akan menemukan titik jenuh berhubungan dengan orang yang diluar keluargamu.  Nanti akan kamu sadari bahwa akan ada sahabat, ada teman, dan ada kolega saja. Rekan kerjamu, orang yang tersenyum manis di depanmu, orang yang mengiyakanmu karena gelarmu, jabatanmu, labelmu. Mereka lah kolegamu. Don't bring them home, don't bring them privately. Mereka adalah orang orang yang memakai topeng di depanmu. Mereka menjawab iyamu karena tahu, ketika harus menolakmu menyanggahmu, mereka takut. mereka tak punya pilihan lain bagimu. Kamu cukup memberikan porsi hidupmu kepada mereka saat di lingkungan kerja saja, dan bukan hakmu untuk tahu kehidupan mereka di luar sana. Temanmu, adalah orang yang kenal kamu dan mereka yang memang mencoba memahamimu, ingin kebaikan juga tercurah kepadamu. Temanmu adalah mereka yang membersamaimu didalam senangmu, di dalam sedihmu mereka mencoba untuk terlihat peduli kepadamu. Temanmu adalah bentuk setingkat diatas kolega. Jika kamu m...