Langsung ke konten utama

Kehamilan dengan Polihidramnion : Apa itu


Polihidramnion (polyhydramnios) adalah keadaan ketika volume cairan amnion melebihi normal untuk usia kehamilan. Secara klinis, diagnosis terutama ditegakkan dengan ultrasonografi (USG) menggunakan amniotic fluid index (AFI) atau single deepest pocket (SDP).

1. Diagnosis

Parameter Kriteria polihidramnion
AFI ≥ 24–25 cm
SDP/MVP ≥ 8 cm

Untuk praktik klinis, SDP ≥8 cm sering lebih disukai karena mengurangi diagnosis berlebihan dan tidak dipengaruhi jumlah kuadran seperti AFI.

Derajat polihidramnion berdasarkan AFI:

Derajat AFI
Ringan 25–29,9 cm
Sedang 30–34,9 cm
Berat ≥35 cm

Berdasarkan SDP, secara praktis:

  • Ringan: 8–11 cm
  • Sedang: 12–15 cm
  • Berat: ≥16 cm

Catatan: batas AFI dapat sedikit berbeda antar guideline; SMFM menggunakan AFI ≥24 cm atau SDP ≥8 cm sebagai definisi sonografik.


2. Fisiologi: mengapa cairan amnion meningkat?

Volume cairan amnion merupakan keseimbangan antara produksi dan eliminasi.

Produksi

Terutama berasal dari:

  • urin fetal;
  • cairan paru fetal;
  • transudasi melalui kulit pada usia gestasi dini.

Eliminasi

Terutama melalui:

  • swallowing fetal (penelanan janin);
  • absorpsi intramembranosa melalui amnion–plasenta;
  • sebagian kecil melalui transfer transmembran.

Sehingga polihidramnion secara sederhana dapat terjadi akibat:

↑ produksi cairan + ↓ swallowing/absorpsi → ↑ volume cairan amnion

Contoh klasik:

Anomali gastrointestinal → obstruksi esofagus/duodenum
→ ↓ fetal swallowing
→ ↓ eliminasi cairan amnion
→ polihidramnion

Sedangkan pada diabetes maternal:

Hiperglikemia maternal
→ hiperglikemia fetal
→ osmotic diuresis fetal
→ ↑ fetal urine output
→ polihidramnion.


3. Etiologi

Hal terpenting secara klinis adalah jangan langsung menganggap polihidramnion sebagai idiopatik sebelum evaluasi penyebab dilakukan.

Penyebab utama

A. Maternal/metabolik

  • Diabetes mellitus pregestasional
  • Diabetes mellitus gestasional

B. Kelainan fetal

  • Kelainan gastrointestinal:
    • esophageal atresia
    • duodenal atresia
  • Kelainan neurologis/neuromuskular → gangguan swallowing
  • Anomali kromosom/genetik
  • Kelainan jantung dengan high-output state
  • Hidrops fetalis
  • Anemia fetal
  • Infeksi kongenital

C. Kehamilan multipel Terutama:

  • monochorionic diamniotic twins
  • twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS), terutama pada recipient twin.

D. Fetal anemia Misalnya:

  • alloimunisasi eritrosit;
  • parvovirus B19;
  • perdarahan fetomaternal.

E. Idiopatik

Sebagian besar kasus, khususnya polihidramnion ringan, akhirnya dikategorikan sebagai idiopatik.


4. Evaluasi pasien

Pada saat menemukan polihidramnion, saya akan berpikir secara sistematis:

Langkah 1 — Konfirmasi diagnosis

USG:

  • AFI atau SDP;
  • pertumbuhan fetal;
  • anatomi fetal;
  • presentasi;
  • plasenta;
  • Doppler bila terdapat indikasi.

Langkah 2 — Cari penyebab

Maternal

  • riwayat diabetes;
  • pemeriksaan glukosa/OGTT sesuai usia gestasi dan status skrining;
  • riwayat infeksi;
  • riwayat obat.

Fetal

  • pemeriksaan anatomi terperinci;
  • lambung fetal: apakah terlihat dan terisi?
  • swallowing;
  • profil biofisik;
  • pertumbuhan;
  • tanda hidrops;
  • pemeriksaan jantung bila ada indikasi.

Pada kasus dengan kecurigaan anemia/hidrops, dapat dilakukan middle cerebral artery peak systolic velocity (MCA-PSV).


5. Risiko obstetri

Polihidramnion bukan sekadar "cairan ketuban banyak". Peningkatan volume cairan menyebabkan distensi uterus, yang kemudian meningkatkan berbagai komplikasi obstetri.

Risiko maternal dan obstetri

↑ volume uterus → ↑ distensi miometrium
→ ↑ aktivitas kontraktil
→ preterm labor / preterm birth

Selain itu:

  • PPROM (preterm premature rupture of membranes) / ketuban pecah sebelum waktunya
  • malpresentasi
  • prolaps tali pusat
  • abruptio placentae setelah ketuban pecah
  • persalinan disfungsional
  • seksio sesarea
  • uterine atony
  • postpartum hemorrhage (PPH)

Risiko fetal/neonatal

  • prematuritas
  • respiratory morbidity akibat prematuritas
  • fetal malpresentation
  • cord prolapse
  • stillbirth pada kasus yang berkaitan dengan etiologi patologis
  • morbiditas neonatal akibat kelainan kongenital yang mendasari.

6. Mengapa polihidramnion meningkatkan risiko persalinan prematur?

Ini penting untuk pertanyaan klinis/residen.

Polihidramnion → peningkatan volume uterus
→ distensi miometrium
→ aktivasi mechanosensitive pathways
→ peningkatan prostaglandin dan mediator kontraksi
→ peningkatan aktivitas miometrium
→ uterine contractions
→ cervical remodeling
→ preterm labor

Selain mekanisme tersebut, penyebab polihidramnion sendiri dapat meningkatkan risiko prematuritas.

Contohnya:

PPROM + polihidramnion
atau
infeksi kongenital + polihidramnion
atau
kelainan fetal berat + polihidramnion

sehingga hubungan polihidramnion dengan prematuritas tidak selalu bersifat kausal langsung.


7. Hubungan derajat polihidramnion dengan risiko

Secara umum:

Semakin berat polihidramnion → semakin besar kemungkinan terdapat etiologi patologis dan semakin tinggi risiko komplikasi.

Mild polyhydramnios

Sering:

  • idiopatik;
  • prognosis relatif baik;
  • dapat mengalami resolusi spontan.

Moderate–severe polyhydramnios

Lebih mengkhawatirkan terhadap:

  • anomali fetal;
  • diabetes;
  • TTTS pada kehamilan monochorionic;
  • hidrops;
  • fetal anemia;
  • komplikasi persalinan;
  • preterm birth.

Severe polyhydramnios harus mendorong evaluasi etiologi yang lebih agresif.


8. Tata laksana

Prinsipnya:

Treat the cause, monitor the pregnancy, and manage complications.

A. Polihidramnion ringan, idiopatik

Jika:

  • AFI sedikit meningkat;
  • anatomi fetal normal;
  • pertumbuhan normal;
  • tidak ada diabetes/etiologi lain;

maka umumnya:

Expectant management + surveillance sesuai kondisi klinis.

Tidak semua pasien membutuhkan intervensi invasif.


B. Diabetes

→ optimalkan kontrol glikemik.

Karena:

maternal hyperglycemia → fetal hyperglycemia → fetal osmotic diuresis → ↑ urine → polyhydramnios


C. Polihidramnion berat/simptomatik

Jika menyebabkan:

  • sesak berat;
  • nyeri/distensi abdomen berat;
  • gangguan mobilitas;
  • kontraksi;
  • respiratory compromise;

dapat dipertimbangkan:

Amnioreduction

yaitu pengeluaran cairan amnion secara terapeutik menggunakan aspirasi yang dipandu USG.

Indikasi utama adalah maternal symptomatology akibat severe polyhydramnios, bukan sekadar angka AFI yang tinggi.

Risikonya:

  • PPROM;
  • infeksi;
  • abrupsi;
  • persalinan prematur;
  • komplikasi prosedural.

9. Indometasin?

Ini sering menjadi pertanyaan ujian.

Indometasin bukan terapi rutin polihidramnion.

Indometasin merupakan NSAID yang menghambat prostaglandin dan dapat:

↓ fetal renal blood flow
→ ↓ fetal urine output
→ ↓ amniotic fluid

Namun penggunaannya dibatasi karena dapat menyebabkan:

  • premature constriction/closure of ductus arteriosus
  • oligohidramnion
  • gangguan renal fetal.

Karena itu, SMFM tidak merekomendasikan indometasin semata-mata untuk menurunkan volume cairan amnion pada polihidramnion.


10. Persalinan

Pada mild idiopathic polyhydramnios, persalinan biasanya dapat berlangsung pervaginam bila tidak ada indikasi obstetri lain.

Perhatian khusus:

Sebelum amniotomi

Pastikan:

  • presentasi fetal;
  • posisi kepala;
  • bagian terendah janin;
  • kemungkinan prolaps tali pusat.

Karena:

polyhydramnios → kepala/bagian terendah kurang engaged → setelah ketuban pecah → aliran cairan deras → cord prolapse

Setelah persalinan

Risiko PPH meningkat karena:

overdistended uterus → impaired myometrial contraction → uterine atony → PPH

Oleh karena itu, kesiapan uterotonik dan penanganan PPH harus lebih diperhatikan.


11. Algoritme praktis

POLIHIDRAMNION PADA USG
          │
          ↓
Konfirmasi AFI ≥24–25 cm
atau SDP ≥8 cm
          │
          ↓
Tentukan derajat
Mild / Moderate / Severe
          │
          ↓
Evaluasi etiologi
          │
 ┌────────┼─────────┐
 ↓        ↓         ↓
Diabetes  Fetal     Multiple
          anomaly   pregnancy
          │
          ↓
     USG anatomi
     + growth
     + fetal assessment
          │
          ↓
┌─────────────────────────┐
│ Ada penyebab spesifik?  │
└─────────────────────────┘
       ↓             ↓
      Ya             Tidak
       ↓              ↓
Terapi etiologi    Idiopathic
       │              │
       └──────┬───────┘
              ↓
       Surveillance
              │
              ↓
   Severe / symptomatic?
         ↓           ↓
        Ya          Tidak
         ↓           ↓
Amnioreduction   Expectant
 bila indikasi   management
         │
         ↓
Rencanakan persalinan
berdasarkan etiologi,
usia gestasi, kondisi
maternal-fetal

Poin yang harus diingat untuk ujian

  1. SDP ≥8 cm atau AFI ≥24–25 cm → polihidramnion.
  2. Penyebab utama yang harus dicari: diabetes, fetal anomaly, fetal anemia/hidrops, infeksi, multiple pregnancy/TTTS.
  3. Mild idiopathic polyhydramnios sering mempunyai prognosis baik.
  4. Polihidramnion meningkatkan risiko preterm birth, malpresentation, cord prolapse, uterine atony, dan PPH.
  5. Severe symptomatic polyhydramnios → pertimbangkan amnioreduction.
  6. Indometasin tidak digunakan rutin hanya untuk mengurangi cairan amnion.
  7. Saat amniotomi, waspadai prolaps tali pusat.
  8. Setelah persalinan, waspadai atonia uteri dan PPH.

Referensi — Vancouver

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw Hill; 2022.
  2. Society for Maternal-Fetal Medicine (SMFM), Dashe JS, Pressman EK, Hibbard JU. SMFM Consult Series #46: Evaluation and management of polyhydramnios. Am J Obstet Gynecol. 2018;219(4):B2-B8.
  3. American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 230: Fetal Growth Restriction. Obstet Gynecol. 2021;137(2):e16-e28.
  4. Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL, et al. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. 8th ed. Philadelphia: Elsevier; 2021.
  5. Prawirohardjo S, editor. Ilmu Kebidanan. 5th ed. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Sahabat, Teman, Kolega

Nak, Suatu saat nanti. Kamu akan menemukan titik jenuh berhubungan dengan orang yang diluar keluargamu.  Nanti akan kamu sadari bahwa akan ada sahabat, ada teman, dan ada kolega saja. Rekan kerjamu, orang yang tersenyum manis di depanmu, orang yang mengiyakanmu karena gelarmu, jabatanmu, labelmu. Mereka lah kolegamu. Don't bring them home, don't bring them privately. Mereka adalah orang orang yang memakai topeng di depanmu. Mereka menjawab iyamu karena tahu, ketika harus menolakmu menyanggahmu, mereka takut. mereka tak punya pilihan lain bagimu. Kamu cukup memberikan porsi hidupmu kepada mereka saat di lingkungan kerja saja, dan bukan hakmu untuk tahu kehidupan mereka di luar sana. Temanmu, adalah orang yang kenal kamu dan mereka yang memang mencoba memahamimu, ingin kebaikan juga tercurah kepadamu. Temanmu adalah mereka yang membersamaimu didalam senangmu, di dalam sedihmu mereka mencoba untuk terlihat peduli kepadamu. Temanmu adalah bentuk setingkat diatas kolega. Jika kamu m...