Langsung ke konten utama

POSEIDON Criteria


1. Inti artikel dalam satu kalimat


> Jangan lagi menilai pasien IVF hanya dengan label "poor responder"; tentukan terlebih dahulu mengapa jumlah oosit rendah, berapa jumlah oosit yang secara individual dibutuhkan untuk mendapatkan ≥1 blastokista euploid, kemudian sesuaikan strategi stimulasi untuk mencapai target tersebut.




Inilah perubahan paradigma utama POSEIDON:


Poor ovarian response → Low prognosis → Individualized oocyte target → Personalized ovarian stimulation.


Artikel menekankan bahwa keberhasilan IVF tidak cukup dinilai dari clinical pregnancy rate, tetapi harus dilihat dari cumulative live birth rate (CLBR) per started cycle, dengan mempertimbangkan usia dan jumlah oosit yang diperoleh. 



---


2. Mengapa konsep POSEIDON diperlukan?


Sebelum POSEIDON, kita sering menggunakan istilah:


POR = Poor Ovarian Response


Masalahnya, istilah POR terlalu heterogen.


Contohnya:


Pasien A


30 tahun


AMH normal


AFC normal


stimulasi menghasilkan hanya 3 oosit



Pasien B


42 tahun


AMH rendah


AFC rendah


stimulasi menghasilkan 3 oosit



Keduanya sama-sama mendapatkan 3 oosit, tetapi prognosis reproduksinya sangat berbeda.


Mengapa?


Karena:


jumlah oosit menentukan kuantitas embryo


sedangkan


usia terutama menentukan kualitas/kromosom embryo.


Artikel menunjukkan bahwa probabilitas blastokista euploid menurun progresif dengan bertambahnya usia maternal. Pada data yang dibahas, probabilitas euploidi turun tajam setelah sekitar usia 34 tahun dan secara keseluruhan <50% pada usia ≥35 tahun. 


Jadi:


> Oocyte quantity × Oocyte quality = embryo competence → live birth





---


3. POSEIDON sebenarnya menilai apa?


POSEIDON =


Patient-Oriented Strategies Encompassing IndividualizeD Oocyte Number


Ada 4 variabel utama:


1. Usia perempuan



2. Ovarian reserve → AMH/AFC



3. Respons terhadap gonadotropin



4. Jumlah oosit yang berhasil diperoleh pada siklus sebelumnya






Tujuannya bukan sekadar mengatakan:


> "Pasien ini poor responder."




Tetapi:


> "Pasien ini low prognosis karena mekanisme X; target oositnya Y; sehingga strategi stimulasi harus diarahkan untuk mencapai Y."





---


4. Empat kelompok POSEIDON


Secara praktis:


<35 tahun ≥35 tahun


Ovarian reserve normal Group 1 Group 2

Ovarian reserve rendah Group 3 Group 4



Kemudian dibagi berdasarkan respons sebelumnya:


Group 1


<35 tahun

AMH/AFC adekuat

tetapi unexpected low/suboptimal response


Group 2


≥35 tahun

AMH/AFC adekuat

tetapi unexpected low/suboptimal response


Group 3


<35 tahun

AMH/AFC rendah

expected poor response


Group 4


≥35 tahun

AMH/AFC rendah

expected poor response


Pembagian usia dan ovarian reserve tersebut merupakan inti klasifikasi POSEIDON. 



---


5. Yang sangat penting: Group 1/2 ≠ Group 3/4


Ini bagian yang menurut saya paling penting untuk implementasi klinis.


Group 1 dan 2


Pasien sebenarnya mempunyai follicular pool yang cukup, tetapi jumlah oosit yang diperoleh ternyata sedikit.


Artinya masalahnya bisa berupa:


follicle → oocyte conversion yang tidak optimal.


Di sinilah muncul konsep:


FOI — Follicle-to-Oocyte Index


Secara sederhana:


FOI = jumlah oosit yang diperoleh / jumlah folikel antral awal


FOI rendah menunjukkan bahwa banyak folikel yang terlihat pada awal stimulasi tidak berakhir sebagai oosit yang berhasil diperoleh.


Jadi pada Group 1/2:


> masalahnya bukan semata-mata "ovarium miskin folikel", tetapi ovarium mungkin kurang responsif terhadap stimulasi yang diberikan.




Artikel menyarankan evaluasi dan optimasi FOI pada kelompok ini. 



---


6. Group 3 dan 4 berbeda


Pada Group 3/4:


AMH rendah + AFC rendah


Artinya memang terdapat reduced ovarian reserve.


Kita tidak dapat mengubah jumlah primordial follicle secara bermakna hanya dengan menaikkan gonadotropin.


Karena itu, pendekatannya bukan:


> "Naikkan FSH setinggi mungkin."




Tetapi:


> Tentukan berapa oosit yang diperlukan dan bagaimana mencapai target tersebut secara realistis, termasuk kemungkinan akumulasi oosit/embrio.




Artikel secara eksplisit menyebut bahwa pada pasien dengan expected low oocyte number, individualized regimen dapat dikombinasikan dengan oocyte/embryo accumulation. 



---


7. Paradigma terpenting: "How many oocytes do I need?"


Ini inti POSEIDON.


Dulu pertanyaannya:


> "Berapa oosit yang bisa saya dapatkan?"




POSEIDON mengubahnya menjadi:


> "Berapa oosit yang saya perlukan untuk mendapatkan setidaknya satu blastokista euploid?"




Ini merupakan perubahan yang sangat besar.


Karena:


10 oosit pada perempuan 28 tahun ≠ 10 oosit pada perempuan 42 tahun.


Usia menentukan probabilitas euploidi.


Semakin tua pasien:


aneuploidy ↑ → euploid blastocyst probability ↓ → dibutuhkan lebih banyak oosit untuk mendapatkan ≥1 euploid blastocyst.





---


8. ART Calculator


Artikel memperkenalkan konsep ART Calculator.


Model tersebut memperkirakan:


> berapa jumlah oosit MII yang diperlukan untuk mendapatkan ≥1 blastokista euploid.




Prediktor utama model adalah:


usia perempuan


jenis sperma yang digunakan



Model dibuat dari sekitar 350 pasangan IVF/ICSI dengan PGT-A, kemudian menggunakan pemodelan statistik untuk memperkirakan probabilitas oosit MII menghasilkan blastokista euploid. 


Contoh yang diberikan artikel:


Perempuan 36 tahun


dengan pasangan yang menggunakan sperma ejakulat.


Dengan target probabilitas 80%, diperkirakan diperlukan sekitar:


9 oosit MII


dengan CI sekitar 7–10 oosit untuk memperoleh ≥1 blastokista euploid. 


Ini bukan berarti:


> "Pasien pasti harus mendapatkan 9 oosit."




Tetapi:


> 9 oosit memberikan probabilitas yang diperkirakan lebih baik berdasarkan model.





---


9. Contoh implementasi klinis


Misalnya Anda mendapatkan pasien:


Kasus 1


32 tahun

AMH 2,0 ng/mL

AFC 14

siklus sebelumnya:


FSH stimulation → 3 oosit


Ini bukan tipikal Group 3.


Karena ovarian reserve-nya baik.


Lebih cocok:


POSEIDON Group 1a


Masalahnya:


unexpected low response


Maka pertanyaan klinisnya:


> Mengapa AFC 14 tetapi hanya 3 oosit?




Kita evaluasi:


starting FSH dose


jenis gonadotropin


adherence


premature luteinization


follicular synchronization


duration of stimulation


trigger strategy


timing OPU


follicle size saat trigger


follicle-to-oocyte index


kemungkinan hypo-response



Jadi jangan langsung menyimpulkan ovarian reserve buruk.



---


10. Contoh kedua


Perempuan 38 tahun


AMH 1,8

AFC 12

Siklus sebelumnya 4 oosit.


Ini lebih sesuai:


POSEIDON Group 2a/2b


Karena:


usia ≥35


ovarian reserve relatif adekuat


respons oosit rendah/suboptimal



Di sini ada dua masalah sekaligus:


Quantity


Oosit sedikit.


Quality


Usia 38 → probabilitas aneuploidi lebih tinggi.


Sehingga strategi harus berusaha:


meningkatkan oocyte yield + mengurangi waktu menuju live birth.



---


11. Contoh ketiga


Perempuan 31 tahun


AMH 0,4

AFC 3


Kemungkinan:


POSEIDON Group 3


Di sini masalah utamanya memang:


low ovarian reserve.


Tujuannya bukan mengejar 15 oosit dengan stimulasi agresif.


Lebih realistis:


> maksimalkan setiap kesempatan memperoleh oosit yang kompeten.




Jika setiap siklus hanya mendapatkan 2–3 oosit, dapat dipertimbangkan strategi akumulasi oosit/embrio, tergantung usia, prognosis, fasilitas, biaya, dan preferensi pasien. Artikel secara khusus membahas pendekatan ini pada kelompok expected poor responders. 



---


12. Contoh keempat — yang paling sulit


Perempuan 41 tahun


AMH 0,3

AFC 2

setelah stimulasi:


2 oosit MII


Ini:


POSEIDON Group 4


Problem:


quantity ↓↓↓ + quality ↓↓↓


Ini adalah kelompok dengan prognosis paling buruk.


Karena itu komunikasi kepada pasien harus sangat berbeda.


Bukan:


> "Kita coba IVF lagi."




Tetapi:


> "Mari kita hitung secara kuantitatif peluang bahwa dua oosit ini menghasilkan blastokista euploid, kemudian menentukan apakah lebih rasional melanjutkan satu siklus, melakukan akumulasi oosit/embrio, atau mendiskusikan alternatif reproduksi."




Inilah filosofi patient-oriented strategy.



---


13. Temuan menarik dari data klinis


Artikel membahas data OPTIMIST.


CLBR per started cycle berbeda nyata antara kelompok.


Yang menarik:


<35 tahun


Group 1a:


21%


Group 1b:


43%


≥35 tahun


Group 2a:


10%


Group 2b:


25%


Sedangkan:


Group 3:


29%


Group 4:


17%


Non-POSEIDON:


52%




Artinya:


> Mendapatkan 4–9 oosit lebih baik daripada <4 oosit, bahkan dalam kelompok dengan prognosis rendah.




Ini memberikan dasar biologis bahwa jumlah oosit tetap merupakan target penting.



---


14. Tetapi ada kritik penting terhadap POSEIDON


Ini penting untuk membaca artikel secara kritis.


POSEIDON sangat menarik, tetapi artikel ini sendiri adalah Perspective, bukan RCT yang membuktikan bahwa menerapkan POSEIDON secara langsung meningkatkan live birth.


Bahkan penulis membahas kritik dari Leijdekkers et al.


Dalam studi OPTIMIST, penulis tersebut menyimpulkan bahwa perbedaan CLBR terutama dipengaruhi oleh usia maternal, sehingga nilai POSEIDON untuk menentukan manajemen klinis masih terbatas dan lebih jelas sebagai alat konseling. 


Selain itu, artikel menyatakan bahwa:


> randomized trials masih diperlukan




untuk membuktikan bahwa intervensi yang diarahkan berdasarkan POSEIDON benar-benar memperbaiki outcome reproduksi. 


Ini harus menjadi caveat penting.



---


15. Jangan salah memahami "lebih banyak oosit"


POSEIDON bukan berarti:


> "Semakin tinggi dosis FSH → semakin banyak oosit → semakin baik."




Tidak sesederhana itu.


Artikel menyatakan bahwa peningkatan gonadotropin bertujuan mengoptimalkan jumlah oosit, tetapi tidak terbukti bahwa stimulasi lebih intens meningkatkan euploidi embryo. Yang paling menentukan euploidi adalah usia maternal, bukan intensitas stimulasi. 


Jadi:


Yang ingin kita optimalkan:


oocyte yield


bukan:


FSH dose setinggi mungkin.



---


16. Hubungan dengan embryo euploidy


Secara konseptual:


AGE

 ↓

Oocyte chromosomal competence

 ↓

Embryo euploidy

 ↓

Chance of euploid blastocyst

 ↓

Chance of implantation/live birth


Sedangkan:


OVARIAN RESERVE

 ↓

Number of recruitable follicles

 ↓

Number of oocytes

 ↓

Number of embryos

 ↓

Probability ≥1 euploid embryo


Maka dua sumbu prognosisnya:


Sumbu 1 — Quantity


How many oocytes?


Sumbu 2 — Quality


How likely is each oocyte to produce a euploid embryo?


POSEIDON mencoba mengintegrasikan keduanya.



---


17. Apa implikasinya untuk praktik IVF?


Saya akan menerapkannya sebagai 5-step clinical workflow:


STEP 1 — Tentukan ovarian reserve


Periksa:


AMH + AFC


Bukan untuk mengatakan:


> "Apakah pasien bisa hamil?"




Tetapi terutama:


> "Bagaimana kemungkinan respons ovarium terhadap stimulasi?"




Karena AMH/AFC mempunyai nilai lebih kuat untuk memprediksi ovarian response daripada secara langsung memprediksi live birth. 



---


STEP 2 — Tentukan usia


Ini adalah variabel kualitas oosit.


Jangan memperlakukan:


30 tahun + AMH rendah


sama dengan


40 tahun + AMH rendah.


Keduanya mungkin Group 3 vs Group 4, tetapi prognosis biologisnya sangat berbeda.



---


STEP 3 — Evaluasi respons sebelumnya


Jika pernah IVF:


AFC → jumlah follicle saat trigger → jumlah oosit retrieved


Hitung/pertimbangkan:


FOI


Jika ovarian reserve baik tetapi oosit sedikit:


curiga hypo-response / low FOI.



---


18. STEP 4 — Tentukan target oosit


Bukan:


> "Kita lihat nanti dapat berapa."




Tetapi:


> "Berapa MII oocyte yang secara realistis diperlukan untuk mencapai probabilitas ≥1 euploid blastocyst?"




Gunakan:


data klinik sendiri


model prediktif


ART Calculator sebagai alat bantu



Namun jangan menjadikan calculator sebagai "vonis".


Model artikel hanya memiliki kemampuan diskriminatif sekitar AUC 72%, yang berarti masih ada faktor biologis lain yang belum ditangkap model. 



---


19. STEP 5 — Sesuaikan strategi


Group 1–2


Fokus:


Optimizing ovarian response


→ evaluasi stimulation protocol

→ gonadotropin dose

→ follicular recruitment

→ synchronization

→ trigger

→ OPU

→ FOI


Group 3–4


Fokus:


Maximize cumulative opportunity


→ individualized stimulation

→ pertimbangkan accumulation

→ oocyte/embryo banking pada kasus terpilih

→ pertimbangkan DuoStim dalam konteks yang tepat

→ counseling prognosis secara realistis.


Artikel menyebut DuoStim dan akumulasi oosit/embrio sebagai salah satu strategi yang sedang dieksplorasi untuk mempercepat pencapaian target oosit pada pasien prognosis rendah. 



---


20. Yang paling penting untuk residen: POSEIDON ≠ Bologna


Ini sering menjadi sumber kebingungan.


Bologna criteria


Berusaha mendefinisikan:


Poor Ovarian Response (POR)


Sedangkan:


POSEIDON


berusaha mendefinisikan:


Low Prognosis ART patient


dan kemudian mengelompokkan pasien berdasarkan:


Age + ovarian reserve + ovarian response + previous oocyte yield.


Artikel secara eksplisit menyebut bahwa POSEIDON merupakan pergeseran dari terminologi poor ovarian response menuju low prognosis. 



---


21. POSEIDON dalam satu algoritme


Saya menyarankan Anda mengingatnya seperti ini:


IVF PATIENT

                     │

                     ▼

          AGE + AMH/AFC + HISTORY

                     │

          ┌──────────┴──────────┐

          │                     │

        <35                   ≥35

          │                     │

     ┌────┴────┐           ┌────┴────┐

     │         │           │         │

   Normal     Low        Normal      Low

   reserve   reserve     reserve    reserve

     │         │           │         │

   G1        G3          G2         G4

     │         │           │         │

Unexpected  Expected   Unexpected  Expected

 low        low        low         low

 response   response   response    response

     │         │           │         │

     └─────────┴───────────┴─────────┘

                     │

                     ▼

               TARGET OOCYTE

                     │

                     ▼

        ≥1 EUploID BLASTOCYST

                     │

                     ▼

               EMBRYO TRANSFER

                     │

                     ▼

                LIVE BIRTH



---


22. Implikasi terbesar secara klinis


Menurut saya, ada 3 perubahan cara berpikir yang harus Anda ambil dari artikel ini.


① Jangan menyamakan ovarian reserve dengan fertility potential


AMH rendah terutama berbicara mengenai:


quantity of recruitable follicles


bukan otomatis:


quality of oocytes.


Usia tetap sangat dominan terhadap kualitas kromosom oosit/embrio. 



---


② Jangan menggunakan "poor responder" sebagai diagnosis akhir


Tanyakan:


> Mengapa responsnya rendah?




Jika:


AFC baik + oosit sedikit


→ pikirkan hypo-response/low FOI.


Jika:


AFC rendah + oosit sedikit


→ expected poor response.


Manajemennya berbeda.



---


③ Target IVF bukan "banyak telur"


Target akhirnya:


≥1 embryo yang memiliki kapasitas reproduktif tinggi → live birth.


POSEIDON menggunakan number of MII oocytes required to obtain ≥1 euploid blastocyst sebagai intermediate treatment-planning endpoint, bukan menggantikan live birth sebagai outcome utama. 



---


23. Tetapi ada satu koreksi penting terhadap penerapan artikel tahun 2019


Artikel ini sangat berguna untuk memahami kerangka POSEIDON, tetapi jangan memperlakukannya sebagai bukti bahwa:


> "POSEIDON-guided stimulation pasti meningkatkan live birth."




Penulis sendiri mengakui bahwa pada saat artikel diterbitkan, bukti RCT untuk membuktikan bahwa strategi yang dipandu POSEIDON meningkatkan outcome reproduksi masih diperlukan. 


Jadi level interpretasinya:


POSEIDON = framework untuk stratifikasi + personalized treatment planning


bukan:


POSEIDON = proven therapeutic protocol.



---


24. Kalau diterapkan pada pasien IVF nyata


Saya akan membuat POSEIDON worksheet seperti ini:


Parameter Data pasien


Usia ___ tahun

AMH ___ ng/mL

AFC ___

BMI ___

Etiologi infertilitas ___

Previous IVF Ya/Tidak

Gonadotropin dose ___ IU

Protocol Antagonist/long/PPOS/dll

Follicle number trigger ___

Oocyte retrieved ___

MII ___

FOI ___

Fertilization rate ___%

Blastulation rate ___%

Euploid rate ___%

POSEIDON group ___

Target MII oocyte ___

Strategy ___

Expected CLBR ___



Dengan demikian, konsultasi IVF berubah dari:


> "Kita stimulasi lalu lihat hasilnya."




menjadi:


> "Kita tahu prognosis pasien, kita tahu limiting factor-nya, kita menentukan target oosit, lalu kita merancang strategi untuk mencapai target tersebut dengan aman."




Itulah implikasi praktis terbesar artikel ini.



---


Referensi utama — Vancouver


1. Esteves SC, Alviggi C, Humaidan P, Fischer R, Andersen CY, Conforti A, et al. The POSEIDON Criteria and Its Measure of Success Through the Eyes of Clinicians and Embryologists. Front Endocrinol (Lausanne). 2019;10:814. doi:10.3389/fendo.2019.00814. 



2. Sunkara SK, Rittenberg V, Raine-Fenning N, Bhattacharya S, Zamora J, Coomarasamy A. Association between the number of eggs and live birth in IVF treatment: an analysis of 400,135 treatment cycles. Hum Reprod. 2011;26:1768-1774. 



3. Polyzos NP, Drakopoulos P, Parra J, Pellicer A, Santos-Ribeiro S, Tournaye H, et al. Cumulative live birth rates according to the number of oocytes retrieved after the first ovarian stimulation for IVF/ICSI: a multicenter multinational analysis including ~15,000 women. Fertil Steril. 2018;110:661-670.e1. 



4. Esteves SC, Carvalho JF, Bento FC, Santos J. A novel predictive model to estimate the number of mature oocytes required for obtaining at least one euploid blastocyst for transfer in couples undergoing IVF/ICSI: the ART Calculator. Front Endocrinol (Lausanne). 2019;10:99. 



5. Leijdekkers JA, Eijkemans MJC, van Tilborg TC, Oudshoorn SC, van Golde RJT, Hoek A, et al. Cumulative live birth rates in low-prognosis women. Hum Reprod. 2019;34:1030-1041. 



6. Poseidon Group, Alviggi C, Andersen CY, Bühler K, Conforti A, De Placido G, et al. A new more detailed stratification of low responders to ovarian stimulation: from a poor ovarian response to a low prognosis concept. Fertil Steril. 2016;105:1452-1453. 




Kesimpulan profesor-level: POSEIDON pada dasarnya adalah framework precision medicine dalam IVF. Ia memisahkan quantity problem dari quality problem: AMH/AFC dan respons stimulasi menjelaskan berapa banyak oosit yang dapat kita peroleh, sedangkan usia terutama menentukan probabilitas bahwa oosit tersebut menghasilkan embryo euploid. Karena itu, intervensi harus diarahkan pada individualized oocyte target, bukan sekadar mengejar label "poor responder". Namun, framework ini harus digunakan sebagai alat stratifikasi dan perencanaan, bukan dianggap sebagai protokol yang sudah terbukti secara definitif meningkatkan live birth. 


Sumber :

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6880663/pdf/fendo-10-00814.pdf


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Sahabat, Teman, Kolega

Nak, Suatu saat nanti. Kamu akan menemukan titik jenuh berhubungan dengan orang yang diluar keluargamu.  Nanti akan kamu sadari bahwa akan ada sahabat, ada teman, dan ada kolega saja. Rekan kerjamu, orang yang tersenyum manis di depanmu, orang yang mengiyakanmu karena gelarmu, jabatanmu, labelmu. Mereka lah kolegamu. Don't bring them home, don't bring them privately. Mereka adalah orang orang yang memakai topeng di depanmu. Mereka menjawab iyamu karena tahu, ketika harus menolakmu menyanggahmu, mereka takut. mereka tak punya pilihan lain bagimu. Kamu cukup memberikan porsi hidupmu kepada mereka saat di lingkungan kerja saja, dan bukan hakmu untuk tahu kehidupan mereka di luar sana. Temanmu, adalah orang yang kenal kamu dan mereka yang memang mencoba memahamimu, ingin kebaikan juga tercurah kepadamu. Temanmu adalah mereka yang membersamaimu didalam senangmu, di dalam sedihmu mereka mencoba untuk terlihat peduli kepadamu. Temanmu adalah bentuk setingkat diatas kolega. Jika kamu m...