Langsung ke konten utama

Persiapan IVF

 

Untuk persiapan IVF (in vitro fertilization), fisiologi menstruasi perlu dipahami sedikit berbeda dari induksi ovulasi. Pada IVF, tujuan kita bukan menghasilkan satu folikel dominan dan satu ovulasi, tetapi mengambil alih kontrol fisiologis folikulogenesis sehingga beberapa folikel dapat berkembang secara sinkron, mencegah premature LH surge, kemudian memicu final oocyte maturation dan mengambil oosit sebelum ovulasi spontan.

1. Konsep utama fisiologi IVF

Secara fisiologis:

FSH → rekrutmen folikel → folikel dominan → estradiol ↑ → LH surge → ovulasi

Pada IVF, proses ini dimodifikasi menjadi:

FSH eksogen → multiple follicular development → kontrol LH surge → trigger final oocyte maturation → oocyte retrieval → fertilisasi → embryo transfer/cryopreservation.

Jadi, tiga sasaran fisiologis utama IVF adalah:

  1. merekrut dan mempertahankan beberapa folikel,
  2. mencegah ovulasi prematur,
  3. mengatur waktu maturasi oosit dan pengambilan oosit.

2. Siklus menstruasi normal sebagai dasar IVF

Pada akhir siklus:

Corpus luteum regresi

↓ progesteron
↓ estradiol
↓ inhibin A

↓

FSH meningkat

↓

rekrutmen folikel antral.

Dalam siklus alami, hanya satu folikel yang biasanya menjadi dominan.

Dalam IVF, kita memberikan FSH eksogen untuk mempertahankan stimulasi beberapa folikel sehingga beberapa folikel dapat berkembang sampai tahap preovulatorik.


3. Fase folikular: bagian terpenting untuk IVF

Awal fase folikular

Pada awal menstruasi:

FSH ↑

→ rekrutmen kohort folikel antral.

Folikel menghasilkan:

  • estradiol
  • inhibin B
  • AMH

Seiring pertumbuhan folikel:

estradiol ↑ + inhibin B ↑

→ FSH endogen ↓.

Dalam siklus alami, penurunan FSH ini menyebabkan hanya folikel paling sensitif yang bertahan sebagai folikel dominan.

Pada IVF

Kita "mengalahkan" fenomena ini dengan memberikan:

exogenous FSH (FSH eksogen)

sehingga kadar stimulasi gonadotropin tetap cukup untuk mempertahankan multiple follicles.


4. Mengapa IVF membutuhkan banyak folikel?

Pada fertilisasi in vitro, tidak semua folikel menghasilkan:

  • oosit,
  • oosit matur,
  • fertilisasi normal,
  • embrio berkualitas baik,
  • atau blastokista euploid.

Karena itu, secara biologis kita menginginkan kohort oosit, bukan satu oosit saja.

Secara konseptual:

Multiple follicles

→ multiple oocytes

→ multiple embryos

→ seleksi embryo terbaik

→ peluang mendapatkan implantasi meningkat.

Tetapi semakin banyak folikel tidak selalu semakin baik, karena risiko:

  • OHSS (ovarian hyperstimulation syndrome)
  • multiple pregnancy bila transfer multiple embryo
  • respons ovarium yang tidak terkendali.

Karena itu prinsip modern adalah:

controlled ovarian stimulation, bukan ovarian overstimulation.


5. Two-cell, two-gonadotropin theory dalam IVF

Sel teka

LH → LH receptor → androgen

Sel granulosa

FSH → FSH receptor → aromatase

Androgen kemudian dikonversi:

androgen → estradiol

Sehingga:

LH → theca → androgen

FSH → granulosa → aromatase → estradiol

→ follicular estradiol production


6. Peran estradiol selama stimulasi IVF

Setiap folikel yang berkembang menghasilkan estradiol.

Dengan semakin banyak folikel:

follicular mass ↑

→ estradiol serum ↑

Kadar estradiol memberikan informasi tidak langsung mengenai:

  • jumlah folikel aktif,
  • aktivitas granulosa,
  • respons ovarium terhadap gonadotropin.

Namun pada praktik modern, USG transvaginal serial dan jumlah folikel merupakan komponen utama monitoring; estradiol digunakan sebagai informasi tambahan sesuai protokol dan konteks klinis.


7. Masalah utama: LH surge prematur

Ini adalah perbedaan fundamental antara siklus alami dan IVF.

Pada siklus fisiologis:

E2 tinggi dan persisten

→ positive feedback

→ LH surge

→ ovulasi.

Dalam IVF, jika terjadi:

premature LH surge

→ premature luteinization

→ ovulasi terjadi sebelum oocyte retrieval

→ oosit dapat terlepas ke rongga peritoneum

→ siklus dapat gagal mendapatkan oosit secara optimal.

Karena itu:

Premature LH surge harus dicegah.


8. GnRH antagonist protocol

Salah satu protokol yang banyak digunakan adalah GnRH antagonist protocol.

Selama stimulasi:

FSH eksogen → follicular development

Ketika folikel berkembang dan risiko LH surge meningkat:

GnRH antagonist

→ blokade kompetitif reseptor GnRH di hipofisis

→ LH ↓

→ mencegah premature LH surge.

Keuntungan fisiologisnya:

  • onset cepat
  • reversibel
  • tidak memerlukan fase downregulation hipofisis yang panjang.

9. GnRH agonist long protocol

Alternatifnya adalah GnRH agonist protocol.

GnRH agonis awalnya menyebabkan:

flare effect

→ peningkatan FSH/LH sementara.

Kemudian stimulasi kontinu menyebabkan:

desensitisasi/downregulation GnRH receptor hipofisis

→ FSH ↓

→ LH ↓.

Setelah hipofisis tertekan, diberikan gonadotropin eksogen untuk mengontrol perkembangan folikel.

Secara konseptual:

GnRH agonist → pituitary suppression → exogenous FSH → controlled follicular development.


10. Final Oocyte Maturation

Setelah sejumlah folikel mencapai maturitas yang sesuai, kita tidak menunggu LH surge fisiologis.

Kita memberikan:

trigger final oocyte maturation.

Trigger dapat berupa:

hCG

Meniru aktivitas LH.

hCG → LH receptor → final oocyte maturation + luteinization

atau

GnRH agonist trigger

Terutama pada siklus dengan GnRH antagonist:

GnRH agonist → endogenous LH/FSH surge

→ final oocyte maturation.

GnRH agonist trigger dapat membantu menurunkan risiko OHSS, khususnya pada pasien dengan respons ovarium tinggi.


11. Apa yang sebenarnya terjadi pada oosit?

Sebelum ovulasi, oosit berada dalam keadaan:

prophase I arrest

LH surge fisiologis atau trigger farmakologis menyebabkan:

germinal vesicle breakdown (GVBD)

→ penyelesaian meiosis I

→ terbentuk:

secondary oocyte + first polar body

Oosit kemudian berhenti pada:

metaphase II (MII)

Oosit MII inilah yang secara fisiologis siap untuk fertilisasi.


12. Mengapa oosit diambil sebelum ovulasi?

Dalam IVF:

trigger

↓

final oocyte maturation

↓

oocyte retrieval ±34–36 jam kemudian

↓

oosit diambil dari folikel sebelum ruptur folikel/ovulasi penuh.

Dengan demikian kita memperoleh oosit secara transvaginal menggunakan aspirasi folikel.


13. Setelah Oocyte Retrieval

Setelah oosit diambil:

oocyte

↓

fertilisasi:

  • IVF konvensional, atau
  • ICSI (intracytoplasmic sperm injection)

↓

zygote

↓

cleavage embryo

↓

blastocyst

↓

embryo transfer atau cryopreservation.

Pada banyak praktik modern, freeze-all strategy dapat digunakan pada kondisi tertentu sehingga transfer embrio dilakukan pada siklus berikutnya.


14. Endometrium: jangan lupa bahwa IVF bukan hanya ovarium

Pada siklus alami:

Folikel → estradiol ↑

→ endometrium proliferatif.

Setelah ovulasi:

Corpus luteum → progesteron ↑

→ endometrium sekretorik.

Dalam IVF, stimulasi ovarium menghasilkan kadar steroid yang dapat berbeda dari siklus alami. Setelah retrieval, dukungan luteal diperlukan untuk mempertahankan lingkungan endometrium yang sesuai.

Karena itu:

IVF = ovarian stimulation + oocyte maturation + fertilization + embryo development + endometrial synchronization.


15. Luteal phase support

Setelah oocyte retrieval, fungsi luteal dapat terganggu akibat:

  • aspirasi folikel,
  • efek obat/protokol,
  • perubahan steroid ovarium,
  • terutama pada penggunaan trigger tertentu.

Karena itu diberikan:

progesterone luteal phase support

Progesteron mengubah endometrium:

proliferatif → sekretorik

dan mempertahankan endometrial receptivity untuk implantasi.


16. Hubungan fisiologi dengan tahapan IVF

Fisiologi normal IVF
FSH endogen meningkat FSH eksogen diberikan
Rekrutmen beberapa folikel Multiple follicular development dipertahankan
Satu folikel dominan Banyak folikel berkembang
Estradiol meningkat Estradiol meningkat dari multiple follicles
LH surge spontan LH surge ditekan
Ovulasi spontan Ovulasi dicegah sampai trigger
LH surge hCG/GnRH agonist trigger
Ovulasi Oocyte retrieval
Oosit dilepaskan ke tuba Oosit diaspirasi dari folikel
Fertilisasi in vivo Fertilisasi in vitro/ICSI
Corpus luteum Luteal support
Implantasi Embryo transfer

17. Skema IVF yang harus dihafalkan

HARI 1 MENSTRUASI
       ↓
Baseline USG
       ↓
FSH ± hMG
       ↓
MULTIPLE FOLLICULAR DEVELOPMENT
       ↓
E2 ↑ + follicle size ↑
       ↓
GnRH antagonist
       ↓
PREVENT PREMATURE LH SURGE
       ↓
Folikel mencapai maturitas
       ↓
TRIGGER
(hCG / GnRH agonist sesuai protokol)
       ↓
FINAL OOCYTE MATURATION
       ↓
±34–36 JAM
       ↓
OOCYTE RETRIEVAL
       ↓
IVF / ICSI
       ↓
EMBRYO CULTURE
       ↓
BLASTOCYST
       ↓
EMBRYO TRANSFER
atau
CRYOPRESERVATION
       ↓
IMPLANTATION

18. Perbedaan paling penting: Induksi ovulasi vs IVF

Aspek Induksi ovulasi IVF
Target Biasanya 1 folikel dominan Multiple folikel
Tujuan Ovulasi Mendapatkan multiple oocytes
Fertilisasi In vivo In vitro
LH surge Dapat dibiarkan/trigger Harus dikontrol
Retrieval Tidak Ya
Laboratorium embriologi Tidak Ya
Risiko OHSS Lebih rendah Lebih penting diperhatikan
Embryo selection Tidak Ya

Kalimat kunci untuk ujian:

Pada induksi ovulasi kita membantu ovarium menghasilkan satu folikel dominan dan ovulasi; pada IVF kita mempertahankan perkembangan multiple folikel dengan gonadotropin eksogen, mencegah premature LH surge, kemudian menginduksi final oocyte maturation dan mengambil oosit sebelum ovulasi untuk fertilisasi in vitro.


19. Konsep fisiologi yang wajib dikuasai sebelum masuk protokol IVF

Saya sarankan urutan belajar berikut:

① Folikulogenesis

↓

② FSH threshold & FSH window

↓

③ Two-cell, two-gonadotropin theory

↓

④ Estradiol–FSH negative feedback

↓

⑤ Estradiol positive feedback → LH surge

↓

⑥ Final oocyte maturation

↓

⑦ GnRH antagonist vs agonist

↓

⑧ hCG vs GnRH agonist trigger

↓

⑨ Luteal phase defect/support

↓

⑩ Endometrial receptivity & implantation

Ini akan menjadi fondasi untuk memahami protokol IVF, poor responder, high responder/PCOS, OHSS, antagonist protocol, long agonist protocol, trigger selection, freeze-all, dan luteal support.

Referensi

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, Spong CY. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, Halvorson LM, Schaffer JI, Corton MM. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  3. Gardner DK, Schoolcraft WB. In vitro culture of human blastocysts. In: Jansen R, Mortimer D, editors. Towards Reproductive Certainty. Carnforth: Parthenon; 1999.
  4. Bosch E, Broer S, Griesinger G, Grynberg M, Humaidan P, Kolibianakis E, et al. ESHRE guideline: ovarian stimulation for IVF/ICSI. Hum Reprod Open. 2020;2020(2):hoaa009.
  5. Humaidan P, Polyzos NP, Alsbjerg B, Erb K, Mikkelsen AL, Elbaek HO, et al. GnRHa trigger and luteal phase support. Fertil Steril. 2012;97(1):84-91.
  6. Practice Committee of the American Society for Reproductive Medicine. Prevention and treatment of moderate and severe ovarian hyperstimulation syndrome: a guideline. Fertil Steril. 2016;106(7):1634-1647.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Sahabat, Teman, Kolega

Nak, Suatu saat nanti. Kamu akan menemukan titik jenuh berhubungan dengan orang yang diluar keluargamu.  Nanti akan kamu sadari bahwa akan ada sahabat, ada teman, dan ada kolega saja. Rekan kerjamu, orang yang tersenyum manis di depanmu, orang yang mengiyakanmu karena gelarmu, jabatanmu, labelmu. Mereka lah kolegamu. Don't bring them home, don't bring them privately. Mereka adalah orang orang yang memakai topeng di depanmu. Mereka menjawab iyamu karena tahu, ketika harus menolakmu menyanggahmu, mereka takut. mereka tak punya pilihan lain bagimu. Kamu cukup memberikan porsi hidupmu kepada mereka saat di lingkungan kerja saja, dan bukan hakmu untuk tahu kehidupan mereka di luar sana. Temanmu, adalah orang yang kenal kamu dan mereka yang memang mencoba memahamimu, ingin kebaikan juga tercurah kepadamu. Temanmu adalah mereka yang membersamaimu didalam senangmu, di dalam sedihmu mereka mencoba untuk terlihat peduli kepadamu. Temanmu adalah bentuk setingkat diatas kolega. Jika kamu m...