Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Derajat (Grade) Adhesi Intraabdomen / Pelvis

Adhesi adalah perlekatan abnormal jaringan fibrosa antara dua permukaan serosa akibat proses inflamasi, iskemia, trauma bedah, endometriosis, infeksi, atau keganasan. Dalam praktik obstetri–ginekologi dan onkologi ginekologi, penilaian grade adhesi penting untuk: Prediksi kesulitan operasi Risiko perdarahan & cedera organ Prognosis fertilitas Perencanaan debulking surgery (misalnya Ca ovarium stadium lanjut) Klasifikasi Derajat Adhesi (Paling sering digunakan secara klinis) Grade 0 – Tidak ada adhesi Organ bebas, anatomi normal Mobilitas jaringan baik Grade I – Adhesi ringan Adhesi tipis, filmy, transparan Mudah dilepaskan dengan blunt dissection Minimal vaskularisasi Tidak menyebabkan distorsi anatomi signifikan 📌 Contoh: Adhesi tipis antara uterus–omentum Adhesi minor pasca SC Grade II – Adhesi sedang Adhesi lebih tebal Mulai vaskularisasi Memerlukan sharp dissection Distorsi anatomi ringan–sedang Mobilitas organ berkurang 📌 Contoh: Ovar...

Konsolidasi kemoterapi (consolidation chemotherapy)

Merupakan Fase terapi sistemik yang diberikan setelah tercapai respons awal (complete response atau partial response bermakna) terhadap terapi induksi, dengan tujuan utama mengeliminasi penyakit residual mikroskopik (minimal residual disease, MRD) dan menurunkan risiko relaps , sehingga memperpanjang disease-free survival (DFS) dan overall survival (OS). Tujuan utama Eradikasi sel tumor sisa yang tidak terdeteksi secara klinis/radiologis. Menstabilkan respons yang telah dicapai pada fase induksi. Menurunkan angka kekambuhan lokal maupun sistemik. Perbedaan dengan fase kemoterapi lain Fase Waktu pemberian Tujuan Neoadjuvan / Induksi Sebelum terapi definitif (operasi/radioterapi) Mengecilkan tumor, mengontrol penyakit Konsolidasi Setelah respons awal tercapai Eliminasi residual disease, cegah relaps Adjuvan Setelah terapi lokal definitif Membunuh mikrometastasis Maintenance Jangka panjang, dosis rendah Mempertahankan remisi Dalam banyak liter...

teknik copywriting

  1. AIDA (Attention – Interest – Desire – Action) Model klasik dan paling banyak digunakan. Struktur: Attention → judul yang menghentikan scrolling Interest → relevansi dengan masalah audiens Desire → manfaat + bukti Action → CTA jelas Contoh singkat: Capek jualan tapi tidak closing? Metode copywriting ini dipakai oleh 3.200+ bisnis online. Tingkatkan konversi hingga 2–3x. Daftar sekarang. 2. PAS (Problem – Agitate – Solution) Efektif untuk produk berbasis problem solving. Struktur: Problem → sebutkan masalah Agitate → perdalam dampak emosional Solution → tawarkan solusi Contoh: Omzet stagnan meski iklan mahal? Setiap hari uang terbakar tanpa hasil. Gunakan sistem copywriting berbasis data ini. 3. FAB (Features – Advantages – Benefits) Umum untuk produk teknis. Level Fokus Feature Apa produknya Advantage Kenapa lebih baik Benefit Dampak ke pengguna Contoh: AI auto-reply (feature) merespons dalam 1 detik (advantage) ...

mekanisme patofisiologi Postpartum Urinary Retention (PUR) tipe overt vs covert

  Mekanisme PUR Overt vs Covert Definisi singkat Overt PUR : tidak dapat berkemih spontan ≥ 6 jam postpartum. Covert PUR : dapat berkemih spontan, tetapi PVR ≥ 150–200 mL. Keduanya berada pada satu spektrum patofisiologi, dengan perbedaan derajat gangguan neuromuskular vesika dan obstruksi outlet . 1. Mekanisme Utama Overt PUR Karakteristik patofisiologi Gangguan berat pada: kontraksi detrusor refleks miksi atau obstruksi fungsional outlet a. Atonia detrusor berat (dominant mechanism) Proses: Neuropati pelvis (n. pudendus, S2–S4) akibat: kala II lama persalinan operatif Overdistensi vesika intrapartum Anestesi regional Efek: refleks miksi tidak teraktivasi kontraksi detrusor minimal atau tidak ada → pasien tidak mampu memulai miksi b. Obstruksi fungsional berat Edema uretra masif Hematoma perineum/vagina Nyeri perineum berat → kontraksi sfingter eksternal → aliran urin tidak dapat dimulai c. Blok sensorik Tidak ada sensasi penuh vesik...

Patofisiologi Retensi Urin Postpartum (postpartum urinary retention, PUR)

 Patofisiologi Retensi Urin Postpartum Retensi urin postpartum terjadi akibat gangguan koordinasi antara kontraksi detrusor, relaksasi sfingter uretra, dan sensasi vesika , yang dipicu oleh perubahan neurogenik, mekanik, miogenik, dan farmakologis selama persalinan dan segera setelahnya. Secara konseptual, mekanisme utama dapat dibagi menjadi: 1. Gangguan Neurogenik (Neuropati Persalinan) Mekanisme Peregangan dan kompresi: Nervus pudendus Plexus pelvicus (S2–S4) selama kala II persalinan dan persalinan operatif. Dampak fisiologis ↓ aferen vesika → penurunan sensasi penuh kandung kemih ↓ eferen parasimpatis → kontraksi detrusor melemah Refleks miksi terhambat Konsekuensi → Atonia vesika sementara Bukti EMG dan studi urodinamik menunjukkan penurunan aktivitas detrusor dan peningkatan kapasitas vesika pasca persalinan traumatik. 2. Disfungsi Miogenik (Kerusakan Otot Detrusor) Mekanisme Overdistensi vesika intrapartum (kandung kemih tidak dikosongkan lama) ...

Retensi Urin Postpartum (postpartum urinary retention, PUR)

  1. Definisi Retensi urin postpartum adalah ketidakmampuan berkemih spontan atau pengosongan kandung kemih tidak adekuat setelah persalinan. Klasifikasi yang lazim dipakai: Overt PUR Tidak dapat BAK spontan ≥ 6 jam setelah persalinan pervaginam atau ≥ 6 jam setelah kateter dilepas pasca seksio sesarea. Covert PUR Dapat BAK spontan tetapi post-void residual (PVR) ≥ 150–200 mL (diukur dengan USG bladder scan atau kateterisasi). 2. Epidemiologi Insidens bervariasi 0,7–14% , meningkat pada persalinan operatif dan persalinan lama. 3. Patofisiologi Retensi urin postpartum bersifat multifaktorial , melibatkan mekanisme neurogenik, mekanik, dan miogenik: a. Cedera saraf (neuropati sementara) Kompresi atau peregangan nervus pudendus & plexus pelvicus saat kala II lama → ↓ sensasi kandung kemih ↓ refleks detrusor → atonia vesika sementara. b. Overdistensi kandung kemih Kandung kemih penuh lama saat persalinan → kerusakan serabut otot detrusor → kon...

klasifikasi derajat solusio plasenta dan hubungannya dengan risiko gagal ginjal (renal failure)

✅ Klasifikasi Derajat Solusio Plasenta (Klasik – Page / Williams Obstetrics) Klasifikasi didasarkan pada: gambaran klinis ibu perdarahan terbuka / tersembunyi status hemodinamik kondisi janin derajat koagulopati 🔹 Grade 0 — Asimtomatik (Occult Abruption) Karakteristik: tidak ada tanda klinis diagnosis retrospektif pasca persalinan hematoma retroplasenta kecil Kondisi ibu dan janin: hemodinamik stabil janin normal Risiko gagal ginjal: tidak ada — tidak terdapat gangguan perfusi sistemik. 🔹 Grade 1 — Ringan (Mild Abruption) Temuan klinis: perdarahan per vaginam ringan uterus sedikit nyeri / tegang tanpa nyeri hebat TD stabil tidak ada tanda syok FHR normal Laboratorium: fibrinogen normal tanpa DIC Risiko gagal ginjal: sangat rendah → perfusi ginjal tidak terganggu, tidak terjadi vasospasme sistemik bermakna. 🔹 Grade 2 — Sedang (Moderate Abruption) Temuan: nyeri uterus + uterus tegang / hipertonia perdarahan dapat sedikit tetapi sering t...

gemelli monozygotik vs dizigotik,

  🔹 Definisi Dasar 1) Gemelli Monozygotik (Identik) Terjadi dari: satu ovum yang dibuahi satu spermatozoa kemudian mengalami pembelahan zigot pada tahap awal perkembangan embrio. Karakteristik utama: materi genetik hampir identik jenis kelamin sama fenotipe mirip Distribusi populasi ± 3–4 per 1000 kehamilan (relatif konstan, tidak dipengaruhi usia atau fertilitas). 2) Gemelli Dizygotik (Fraternal / Non-identik) Terjadi dari: dua ovum berbeda dibuahi oleh dua spermatozoa berbeda dalam satu siklus. Karakteristik: genetik setara saudara kandung biasa dapat berbeda jenis kelamin fenotipe dapat berbeda Insidensi meningkat pada: usia ibu lanjut multiparitas ras Afrika penggunaan ovulasi inducer / ART. 🟣 Perbedaan Fundamental Aspek Monozygotik Dizygotik Asal konsepsi 1 zigot membelah 2 ovum + 2 sperma Genetik hampir identik berbeda Jenis kelamin selalu sama bisa berbeda Korialitas bervariasi (tergantung waktu pembelahan)...

kelainan kongenital pada kehamilan gemelli monozygotik vs dizigotik

🔹 Gambaran Umum Kelainan kongenital pada kehamilan kembar tidak terdistribusi merata antara: kembar monozygotik (MZ) — terutama monokorionik kembar dizigotik (DZ) — selalu dikorionik Monozygotik memiliki risiko kelainan kongenital lebih tinggi dan lebih spesifik , terkait proses pembelahan zigot dan gangguan vaskular plasenta inter-twin. Dizigotik memiliki risiko kelainan kongenital mirip atau sedikit lebih tinggi dibandingkan singleton, tetapi tidak memiliki pola khas monokorionik. 🟣 Perbandingan Epidemiologi & Risiko Parameter Monozygotik Dizigotik Asal 1 zigot membelah 2 ovum + 2 sperma Korialitas bisa DCDA / MCDA / MCMA selalu DCDA Risiko kelainan kongenital mayor 2–3× lebih tinggi dari DZ & singleton sedikit ↑ vs singleton Pola anomali lebih sering discordant , asimetris, spesifik MC menyerupai populasi umum Mekanisme utama pembelahan zigot terlambat + anomali vaskular plasenta faktor genetik / lingkungan ibu Peningkat...

Selective Intrauterine Growth Restriction (sIUGR) pada kehamilan gemelli,

  🔹 Definisi — sIUGR pada Kehamilan Gemelli Selective IUGR adalah kondisi pada kehamilan kembar di mana: satu janin mengalami restriksi pertumbuhan janin lainnya memiliki pertumbuhan normal Umumnya didefinisikan sebagai: EFW (estimated fetal weight) <10th centile pada salah satu janin dan discordance berat badan ≥ 20–25% sIUGR paling sering terjadi pada kembar monokorionik karena gangguan perfusi intertwin melalui anastomosis plasenta. Pada gemelli dengan anomali kongenital salah satu janin , restriksi pertumbuhan dapat bersifat: sekunder akibat perfusi plasenta abnormal, atau bagian dari sindrom atau malformasi struktural janin tersebut. 🟣 Perbedaan Penting: MCDA vs DCDA 1️⃣ Monochorionic Diamniotic (MCDA) — risko tertinggi Mekanisme utama: distribusi plasenta yang tidak seimbang anastomosis vaskular arteri–arteri / vena–vena dapat berkaitan dengan: sIUGR tipe I–III TTTS / TAPS peningkatan risiko IUFD kembar yang sehat bila janin kecil demise ...

unconcealed (revealed) vs concealed placental abruption / solutio placenta

 ðŸ”¹ Definisi Umum Solutio Plasenta Solutio plasenta adalah pelepasan prematur plasenta yang berimplantasi normal dari dinding uterus sebelum kelahiran janin. Insiden ±0,5–1% kehamilan, namun merupakan salah satu penyebab utama: perdarahan antepartum, gawat janin, prematuritas, disseminated intravascular coagulation (DIC), dan kematian maternal–perinatal. Patogenesis utama: ruptur arteri spiral desidua → hematoma retroplasenta → diseksi lempeng plasenta dari uterus . 🟣 Klasifikasi Klinis Berdasarkan Tipe Perdarahan 1️⃣ Unconcealed / Revealed Abruption Perdarahan retroplasenta mengalir keluar melalui serviks , sehingga tampak sebagai perdarahan vagina. Ciri Klinis perdarahan pervaginam tampak jelas, nyeri abdomen / uterus tegang dapat ada atau tidak, fundus tidak selalu membesar, hipertonus uterus bervariasi. Implikasi Klinis kehilangan darah lebih mudah diperkirakan , hemodinamik maternal biasanya lebih sesuai dengan tampilan perdarahan , derajat abruptio...

optimal debulking vs sub-optimal debulking

1. Konsep Dasar Debulking / Cytoreductive Surgery Debulking adalah prosedur pembedahan sitoreduktif yang bertujuan: mengangkat sebanyak mungkin massa tumor makroskopik menurunkan beban tumor sehingga kemoterapi lebih efektif memperbaiki survival dan respons terapi Keberhasilan operasi dinilai berdasarkan sisa tumor pasca-operasi (residual disease) . Istilah yang digunakan mengikuti terminologi Gynecologic Oncology Group (GOG) dan guideline NCCN–ESGO–ESMO . 2. Definisi Operasional Residual Tumor Istilah Definisi No gross residual disease (NGR) Tidak ada tumor makroskopik tersisa Optimal debulking Sisa tumor ≤ 1 cm Sub-optimal debulking Sisa tumor > 1 cm Unresectable / inoperable Lesi tidak dapat direseksi secara aman Catatan penting klinis (sesuai perkembangan data survival modern): Target terbaik saat ini adalah complete cytoreduction / NGR karena memberikan survival paling tinggi. Istilah “optimal” (≤1 cm) masih digunakan secara historis,...

complete surgical staging, incomplete surgical staging, dan conservative surgical staging

  1. Konsep Dasar “Surgical Staging” Surgical staging adalah prosedur pembedahan terstandar untuk: menentukan stadium anatomik penyakit memperoleh diagnosis histopatologik yang akurat menentukan prognosis merencanakan terapi adjuvan yang tepat Prinsip staging bedah modern mengikuti standar: FIGO NCCN ESGO–ESMO GOG / Gynecologic Oncology Group Williams Gynecology dan Williams Obstetrics (untuk kondisi obstetri-onkologi) Derajat kelengkapan staging memengaruhi: akurasi stadium risiko under-staging / over-treatment luaran survival pilihan kemoterapi / radiasi 2. Complete Surgical Staging (Staging Bedah Komprehensif) Definisi Staging dianggap complete / optimal bila seluruh komponen prosedur staging standar sesuai organ dan jenis kanker dilakukan secara menyeluruh. Diterima sebagai gold standard terutama pada: kanker ovarium epitelial stadium awal kanker endometrium beberapa kasus tumor borderline ovarium Komponen umum (disesuaikan tumor primer) A...