Langsung ke konten utama

Simple histerektomi vs radikal histerektomi

 

Perbedaan simple hysterectomy dan radical hysterectomy terutama terletak pada luas jaringan yang direseksi, indikasi onkologis, serta komponen anatomi yang diangkat. Dalam praktik ginekologi, pemilihan prosedur didasarkan pada risiko penyebaran kanker ke parametrium, vagina, dan jaringan sekitarnya.


1. Simple Hysterectomy (Total Hysterectomy)

Definisi

Simple hysterectomy adalah pengangkatan uterus dan serviks tanpa reseksi parametrium atau vagina secara luas.

Struktur yang diangkat

  • Uterus
  • Serviks
  • Kadang disertai:
    • salpingectomy
    • salpingo-oophorectomy

Struktur yang tidak diangkat

  • Parametrium
  • Paracolpos
  • Vagina atas (hanya sangat minimal)
  • Ligamentum uterosakral dan kardinal tidak direseksi secara radikal

Indikasi

Digunakan pada penyakit non-onkologi atau kanker yang sangat awal:

  • Mioma uteri
  • Adenomyosis
  • Abnormal uterine bleeding refrakter
  • Endometrial hyperplasia
  • Kanker endometrium stadium awal
  • Kanker serviks mikroinvasif IA1 tanpa LVSI

Pendekatan operasi

  • Abdominal
  • Vaginal
  • Laparoscopic
  • Robotic

2. Radical Hysterectomy

Definisi

Radical hysterectomy adalah pengangkatan uterus, serviks, parametrium, dan bagian atas vagina secara en bloc untuk terapi kanker ginekologi.

Prosedur ini dirancang untuk mengangkat jaringan tempat penyebaran lokal kanker serviks paling sering terjadi.

Struktur yang diangkat

  • Uterus
  • Serviks
  • Parametrium
  • Paracolpos
  • 1–2 cm vagina bagian atas
  • Ligamentum uterosakral
  • Ligamentum kardinal

Biasanya disertai:

  • Pelvic lymphadenectomy
  • kadang sentinel lymph node mapping

Struktur yang dipertahankan

  • Ovarium dapat dipertahankan pada pasien muda dengan SCC cervix.

Indikasi utama

Terutama untuk:

  • Kanker serviks stadium awal
    • IA2
    • IB1
    • IIA1

Dalam beberapa kasus:

  • kanker vagina awal
  • kanker uterus tertentu dengan invasi serviks

3. Klasifikasi Radical Hysterectomy

Klasifikasi yang paling sering digunakan adalah Querleu–Morrow classification:

Tipe Karakteristik
Type A Simple hysterectomy
Type B Parametrium parsial
Type C1 Radical hysterectomy nerve-sparing
Type C2 Radical hysterectomy klasik

Radical hysterectomy yang paling sering digunakan untuk kanker serviks IB1–IIA1 adalah tipe C1.


4. Perbedaan Anatomi yang Direseksi

Struktur Simple Hysterectomy Radical Hysterectomy
Uterus
Serviks
Parametrium
Paracolpos
Vagina atas Minimal 1–2 cm
Lig kardinal Dipertahankan Direseksi
Lig uterosakral Dipertahankan Direseksi
Pelvic lymph node Tidak rutin Dilakukan

5. Tujuan Onkologis Radical Hysterectomy

Pada kanker serviks, penyebaran lokal terjadi melalui:

  1. Parametrium
  2. Vagina
  3. Lymphatic pelvic

Radical hysterectomy bertujuan untuk:

  • mengangkat mikrometastasis parametrium
  • mencapai margin bebas tumor
  • mengangkat nodus limfe regional

6. Komplikasi Radical Hysterectomy

Karena reseksi jaringan luas dan dekat dengan pleksus saraf pelvis, komplikasi lebih tinggi dibanding simple hysterectomy:

Komplikasi intraoperatif

  • cedera ureter
  • cedera kandung kemih
  • perdarahan pelvis

Komplikasi pasca operasi

  • disfungsi kandung kemih (neurogenic bladder)
  • konstipasi
  • disfungsi seksual
  • fistula vesikovaginal
  • limfedema tungkai

Teknik nerve-sparing radical hysterectomy dikembangkan untuk mengurangi komplikasi tersebut.


7. Ringkasan Klinis Cepat

Aspek Simple Hysterectomy Radical Hysterectomy
Tujuan Non-onkologi / kanker sangat awal Terapi kanker serviks
Radikalitas Minimal Luas
Parametrium Tidak direseksi Direseksi
Vagina atas Minimal 1–2 cm
Lymph node Tidak rutin Ya
Morbiditas Rendah Lebih tinggi

Referensi

  1. Cunningham FG, et al. Williams Gynecology. 4th ed. McGraw-Hill; 2020.
  2. Berek JS, Hacker NF. Berek & Hacker’s Gynecologic Oncology. 7th ed. Wolters Kluwer; 2021.
  3. Querleu D, Morrow CP. Classification of radical hysterectomy. Lancet Oncol. 2008.
  4. FIGO Committee on Gynecologic Oncology. FIGO staging for carcinoma of the cervix uteri. Int J Gynecol Obstet. 2019.
  5. Plante M. Surgical management of early-stage cervical cancer. AJOG. 2018.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...