Langsung ke konten utama

Macam Macam Histerektomi

 

Perbedaan simple hysterectomy, modified radical hysterectomy (Type II), dan radical hysterectomy (Type III) terutama ditentukan oleh luas reseksi parametrium, ligamentum uterosakral–kardinal, serta panjang vagina yang diangkat. Klasifikasi ini berasal dari klasifikasi Piver–Rutledge–Smith, yang masih banyak digunakan dalam pendidikan onkologi ginekologi, walaupun sistem modern seperti Querleu–Morrow classification juga sering dipakai.


1. Simple Hysterectomy (Type I)

Definisi

Pengangkatan uterus dan serviks tanpa reseksi parametrium secara signifikan.

Struktur yang direseksi

  • Uterus
  • Serviks

Struktur yang dipertahankan

  • Parametrium
  • Ligamentum kardinal
  • Ligamentum uterosakral
  • Sebagian besar vagina

Panjang vagina yang diangkat

± <1 cm

Pelvic lymph node

Tidak selalu dilakukan kecuali dalam prosedur staging tertentu.

Indikasi

  • Penyakit jinak (mioma, adenomyosis, AUB)
  • Kanker serviks IA1 tanpa LVSI
  • beberapa kasus kanker endometrium awal

2. Modified Radical Hysterectomy (Type II)

Definisi

Pengangkatan uterus dengan reseksi parametrium parsial dan sebagian vagina.

Prosedur ini berada di antara simple hysterectomy dan radical hysterectomy.

Struktur yang direseksi

  • Uterus
  • Serviks
  • Parametrium medial
  • Ligamentum kardinal sebagian
  • Ligamentum uterosakral sebagian
  • 1–2 cm vagina atas

Struktur yang dipertahankan

  • Parametrium lateral
  • sebagian pleksus saraf pelvis

Pelvic lymphadenectomy

Biasanya dilakukan.

Indikasi

  • Kanker serviks stadium IA2
  • kanker serviks IB1 kecil (<2 cm)
  • kadang pada kanker endometrium dengan invasi serviks

Tujuannya adalah mengurangi morbiditas dibanding radical hysterectomy namun tetap memberikan margin onkologis yang cukup.


3. Radical Hysterectomy (Type III)

Definisi

Pengangkatan uterus bersama parametrium luas, ligamentum uterosakral, ligamentum kardinal, dan vagina atas.

Ini adalah prosedur klasik untuk kanker serviks invasif stadium awal.

Struktur yang direseksi

  • Uterus
  • Serviks
  • Parametrium sampai dinding pelvis
  • Ligamentum kardinal seluruhnya
  • Ligamentum uterosakral seluruhnya
  • Paracolpos
  • 2–3 cm vagina atas

Pelvic lymphadenectomy

Wajib dilakukan

Kadang juga dilakukan:

  • paraaortic node sampling.

Indikasi

  • kanker serviks stadium IB1
  • IB2 (dalam beberapa protokol)
  • IIA1

Konsekuensi anatomi

Karena reseksi dekat dengan plexus hypogastricus inferior, sering menyebabkan:

  • disfungsi kandung kemih
  • gangguan fungsi seksual
  • konstipasi.

Teknik nerve-sparing radical hysterectomy dikembangkan untuk mengurangi komplikasi ini.


4. Perbandingan Anatomi Reseksi

Struktur Simple (Type I) Modified Radical (Type II) Radical (Type III)
Uterus
Serviks
Parametrium Tidak Parsial Luas
Lig kardinal Tidak direseksi Parsial Total
Lig uterosakral Tidak direseksi Parsial Total
Vagina atas <1 cm 1–2 cm 2–3 cm
Pelvic lymph node Tidak rutin Ya Ya
Morbiditas Rendah Sedang Tinggi

5. Hubungan dengan Staging Kanker Serviks

Stadium kanker serviks Prosedur
IA1 tanpa LVSI Simple hysterectomy
IA1 dengan LVSI Modified radical hysterectomy
IA2 Modified radical / radical hysterectomy
IB1 Radical hysterectomy
IIA1 Radical hysterectomy

6. Klasifikasi Modern (Querleu–Morrow)

Sistem ini menggantikan Piver di banyak pusat onkologi.

Piver Querleu–Morrow
Type I Type A
Type II Type B
Type III Type C

Type C kemudian dibagi menjadi:

  • C1 (nerve-sparing)
  • C2 (klasik)

7. Inti Perbedaan Klinis

Semakin radikal operasi, maka:

  • reseksi parametrium semakin luas
  • margin onkologis lebih besar
  • tetapi morbiditas neurologis dan urologis meningkat.

Karena itu tren modern adalah individualisasi operasi berdasarkan ukuran tumor dan risiko parametrium.


Referensi

  1. Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. 4th ed. McGraw-Hill; 2020.
  2. Berek JS, Hacker NF. Berek & Hacker’s Gynecologic Oncology. 7th ed. Wolters Kluwer; 2021.
  3. Querleu D, Morrow CP. Classification of radical hysterectomy. Lancet Oncol. 2008.
  4. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology. Cervical Cancer. 2024.
  5. Plante M. Surgical management of early-stage cervical cancer. Am J Obstet Gynecol. 2018.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...