Langsung ke konten utama

Paracentesis: Mengeluarkan cairan ascites (dalam kasus keganasan)

Paracentesis pada ascites keganasan (malignant ascites) dilakukan baik untuk tujuan diagnostik (sitologi, analisis cairan) maupun terapeutik (mengurangi tekanan intraabdomen/simptomatik). Pendekatan harus sistematis, berbasis prinsip asepsis, anatomi dinding abdomen, dan hemodinamika pasien.


1. Indikasi

a. Diagnostik

  • Ascites baru tanpa etiologi jelas
  • Kecurigaan keganasan (ovarium, GI, peritoneal carcinomatosis)
  • Evaluasi infeksi sekunder (SBP pada pasien kanker)

b. Terapeutik

  • Ascites tegang → nyeri, sesak, early satiety
  • Refrakter terhadap diuretik
  • Sebelum tindakan (misalnya laparotomi)

2. Kontraindikasi

Absolut (jarang)

  • Acute abdomen bedah tanpa diagnosis jelas

Relatif

  • Koagulopati berat (INR >2, trombosit <20–30 ribu)
  • Distensi usus berat
  • Adhesi intraabdomen luas (post operasi)
  • Infeksi kulit di lokasi tusukan
  • Kehamilan (butuh modifikasi lokasi)

Pada ascites keganasan, paracentesis relatif aman, bahkan pada koagulopati ringan–sedang (evidence dari AJOG/BJOG: risiko perdarahan rendah).


3. Anatomi & Lokasi Penusukan

Lokasi ideal:

  1. Left lower quadrant (LLQ) → 2–3 cm medial dan superior dari spina iliaca anterior superior (SIAS)
  2. Midline infraumbilikal (hindari jika ada scar operasi)

Alasan LLQ lebih disukai:

  • Dinding lebih tipis
  • Lebih sedikit pembuluh darah (hindari epigastric inferior)
  • Risiko perforasi usus lebih rendah

Gunakan USG guidance → meningkatkan safety & success rate.


4. Persiapan

Klinis

  • Informed consent
  • Evaluasi hemodinamik
  • Kosongkan kandung kemih (catheter jika perlu)

Alat

  • Jarum paracentesis / kateter (16–18G atau pigtail catheter)
  • Spuit 10–50 mL
  • Selang drainage + vacuum bottle
  • Antiseptik, duk steril
  • Lidokain 1–2%

5. Teknik Paracentesis

Step-by-step (high-yield klinis)

  1. Posisi pasien

    • Supine dengan kepala elevasi 30–45°
  2. Identifikasi titik

    • Dengan landmark atau USG
  3. Asepsis & antisepsis

    • Draping steril
  4. Anestesi lokal

    • Infiltrasi lidokain hingga peritoneum
  5. Teknik Z-track (penting)

    • Geser kulit sebelum tusukan → mencegah kebocoran pasca prosedur
  6. Masukkan jarum/kateter

    • Tegak lurus/perlahan hingga cairan keluar
  7. Aspirasi awal

    • Ambil sampel untuk:
      • Sitologi (penting pada keganasan)
      • Albumin (SAAG)
      • Protein total
      • LDH
      • Sel & kultur
  8. Drainase terapeutik

    • Hubungkan ke sistem drainase
    • Pada malignant ascites → bisa drainase besar (large-volume paracentesis)
  9. Monitoring

    • Tekanan darah, nadi
    • Hentikan jika:
      • Hipotensi
      • Nyeri hebat
      • Tidak ada aliran
  10. Terminasi

  • Lepas kateter
  • Tekan area → balut

6. Jumlah Cairan yang Dikeluarkan

  • Tidak ada batas absolut pada ascites keganasan
  • Umumnya 2–5 liter, bisa >5 L jika toleransi baik

Albumin replacement

  • Pada sirosis: wajib jika >5 L
  • Pada ascites keganasan: tidak rutin diperlukan, kecuali:
    • Hipoalbuminemia berat
    • Instabilitas hemodinamik

7. Komplikasi

Umum

  • Nyeri lokal
  • Kebocoran cairan

Serius (jarang)

  • Perdarahan (arteri epigastrika inferior)
  • Perforasi usus
  • Infeksi
  • Hipotensi post-paracentesis

Khusus malignant ascites

  • Re-akumulasi cepat (butuh repeated tapping atau indwelling catheter)

8. Interpretasi Cairan Ascites pada Keganasan

  • SAAG <1.1 g/dL → non-portal hypertension (keganasan)
  • Protein tinggi (>2.5 g/dL)
  • Sitologi positif (sensitivitas ±60–90%)

9. Pendekatan Lanjutan pada Ascites Keganasan

  • Repeated paracentesis
  • Indwelling peritoneal catheter
  • Kemoterapi sistemik / intraperitoneal
  • Targeted therapy (misalnya anti-VEGF pada ovarian cancer)

Clinical Pearls (high-yield ujian subspecialty)

  • LLQ + USG guidance = safest approach
  • Teknik Z-track → mencegah leakage
  • Tidak perlu koreksi INR ringan sebelum tindakan
  • Sitologi adalah kunci diagnosis malignant ascites
  • Albumin tidak rutin seperti pada sirosis

Referensi (Vancouver)

  1. Cunningham FG, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. McGraw-Hill; 2022.
  2. Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. 4th ed. McGraw-Hill; 2020.
  3. Berek JS. Berek & Novak’s Gynecology. 16th ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2020.
  4. Runyon BA. Management of adult patients with ascites. Hepatology. 2013.
  5. Ayantunde AA, Parsons SL. Pattern and prognostic factors in malignant ascites. Ann Oncol. 2007.
  6. AJOG Practice Review: Management of malignant ascites. Am J Obstet Gynecol.
  7. BJOG Guidelines: Ovarian cancer-associated ascites management.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...