Langsung ke konten utama

Perdarahan setelah menopause : Postmenopausal Bleeding (PMB)


1. Definisi

Postmenopausal bleeding (PMB) adalah:

  • Perdarahan uterus yang terjadi ≥12 bulan setelah amenore permanen (menopause)

👉 Secara klinis:
Setiap perdarahan pada wanita menopause = patologis sampai terbukti sebaliknya


2. Signifikansi Klinis (high-yield)

  • ± 5–10% PMB → kanker endometrium
  • ± 90% pasien kanker endometrium datang dengan PMB

👉 Prinsip:
“PMB = endometrial carcinoma until proven otherwise”


3. Etiologi (urut frekuensi)

A. Paling sering (benign)

1. Atrofi endometrium & vagina (±70%)

  • Estrogen ↓ → endometrium tipis
  • Fragilitas vaskular → mudah berdarah

B. Lesi struktural

  • Polip endometrium
  • Submucous leiomyoma (jarang pada menopause)

C. Premalignant & malignant

  • Endometrial hyperplasia
  • Karsinoma endometrium (terpenting)
    • Tipe I (endometrioid, estrogen-dependent)
    • Tipe II (serous/clear cell, agresif)

D. Iatrogenik

  • Hormone replacement therapy (HRT)
  • Tamoxifen (efek agonis estrogen di endometrium)

E. Lain-lain

  • Endometritis
  • Kanker serviks (harus dieksklusi)

4. Patofisiologi kunci

1. Atrofi endometrium

  • Penurunan estrogen → epitel menipis
  • Pembuluh darah superfisial rapuh → perdarahan ringan

2. Estrogen excess (pada sebagian kasus)

  • Obesitas → aromatisasi androgen → estrogen
  • unopposed estrogen → hiperplasia → kanker

5. Pendekatan Diagnostik (core algorithm)

STEP 1 — Transvaginal Ultrasound (TVUS)

Parameter utama: Endometrial thickness (ET)

👉 Cut-off penting:

  • ≤4 mm → risiko kanker sangat rendah (<1%)
  • >4 mm → perlu evaluasi lanjutan (biopsi)

STEP 2 — Endometrial Biopsy (gold standard awal)

Indikasi:

  • ET >4 mm
  • Perdarahan persisten/rekuren
  • Faktor risiko kanker

Metode:

  • Pipelle biopsy
  • Dilatasi & kuretase (jika perlu)

STEP 3 — Histeroskopi

Indikasi:

  • Biopsi negatif tapi perdarahan berlanjut
  • Curiga lesi fokal (polip)

6. Faktor Risiko Kanker Endometrium (harus selalu dinilai)

  • Obesitas
  • Diabetes mellitus
  • Hipertensi
  • Nulliparitas
  • PCOS / anovulasi kronik
  • Terapi estrogen tanpa progesteron
  • Tamoxifen

7. Red Flags (indikasi evaluasi agresif)

  • Perdarahan berulang
  • Endometrium menebal/heterogen
  • Usia lanjut
  • Anemia
  • Cairan intrauterin pada USG

8. Diagnosis Banding Penting

  • Atrophic vaginitis (sering)
  • Endometrial polyp
  • Endometrial hyperplasia
  • Endometrial carcinoma
  • Cervical cancer
  • Trauma / infeksi

9. Tatalaksana (berdasarkan etiologi)

A. Atrofi

  • Estrogen topikal vaginal
  • Lubrikan

B. Polip

  • Histeroskopi + polipektomi

C. Hiperplasia

  • Tanpa atypia → progestin
  • Dengan atypia → histerektomi

D. Karsinoma endometrium

  • Histerektomi total + BSO ± staging

10. Clinical Algorithm (ringkas – high yield)

  1. PMB → TVUS
  2. ET ≤4 mm → observasi (jika tidak berulang)
  3. ET >4 mm → biopsi
  4. Biopsi negatif + perdarahan → histeroskopi
  5. Biopsi positif → tata laksana sesuai histopatologi

11. Clinical Pearls (level subspesialis)

  • TVUS adalah first-line, bukan biopsi langsung
  • Cut-off 4 mm adalah kunci dalam ujian dan praktik
  • Perdarahan berulang → tetap biopsi walau ET tipis
  • Tamoxifen → endometrium bisa tampak tebal tanpa kanker → perlu interpretasi hati-hati

Kesimpulan

  • PMB adalah red flag onkologi
  • Mayoritas penyebab benign (atrofi), tetapi harus selalu mengeksklusi kanker
  • TVUS + endometrial biopsy adalah pilar diagnosis

Referensi (Vancouver style)

  1. Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. 4th ed. McGraw-Hill; 2020.
  2. Goldstein SR. Modern evaluation of the endometrium. Obstet Gynecol.
  3. ACOG Practice Bulletin: Endometrial cancer and PMB.
  4. Munro MG, et al. FIGO classification of AUB. Int J Gynecol Obstet. 2018.
  5. AJOG Committee Opinion on evaluation of postmenopausal bleeding.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...

IUGR (Intrauterine Growth Restriction / Fetal Growth Restriction) .

1. Definisi IUGR atau Fetal Growth Restriction (FGR) adalah kondisi di mana janin gagal mencapai potensi pertumbuhan intrauterin yang diharapkan untuk usia gestasinya. Secara praktis sering didefinisikan sebagai estimated fetal weight (EFW) < 10th percentile untuk usia kehamilan; tetapi perlu dibedakan dari small for gestational age (SGA) karena tidak semua SGA adalah patologis (konstitusional). Pedoman internasional juga membedakan IUGR ringan/sedang dan berat (mis. EFW < 3rd centile atau bukti disfungsi hemodinamik/abnormal Doppler). 2. Patofisiologi — ringkasan Patofisiologi IUGR bersifat multifaktorial. Mekanisme utama yang sering hadir: Insufisiensi plasenta (plasental) — kerusakan atau gangguan vascularisasi plasenta → aliran darah uteroplacental menurun → asupan oksigen dan nutrisi terhambat → penurunan pertumbuhan janin. Ini adalah penyebab tersering pada IUGR asimetris. Faktor maternal — hipertensi kronis, preeklampsia, penyakit jantung, malnutrisi kronis, mer...

Dexamethasone untuk Maturasi Paru Janin

Definisi Dexamethasone adalah glukokortikoid sintetik yang digunakan untuk mempercepat proses maturasi paru janin pada kehamilan prematur. Pemberian dexamethasone bertujuan untuk meningkatkan produksi surfaktan dalam paru janin, sehingga mengurangi risiko Sindrom Distres Pernapasan Neonatal (SDPN) yang terjadi pada bayi prematur. Penggunaan dexamethasone terutama dilakukan pada ibu hamil yang berisiko melahirkan sebelum usia kehamilan 34 minggu, dengan tujuan mengurangi morbiditas dan mortalitas neonatal terkait dengan masalah pernapasan. Farmakokonetik 1. Absorpsi: Dexamethasone diberikan melalui rute intravena (IV) atau intramuskular (IM). Setelah pemberian IM, obat ini dengan cepat diserap dan didistribusikan ke seluruh tubuh. 2. Distribusi: Dexamethasone memiliki distribusi yang luas ke dalam cairan ekstraseluler dan sistem saraf pusat. Obat ini dapat melintasi sawar plasenta dengan mudah dan mempengaruhi janin. 3. Metabolisme: Dexamethasone dimetabolisme di hati melalui enzim P450...