Langsung ke konten utama

Algoritma Tatalaksana Partus Prematurus Imminens (PPI)

Definisi klinis:

PPI adalah kontraksi uterus sebelum 37 minggu tanpa perubahan serviks progresif atau dengan perubahan minimal. Tujuan tatalaksana adalah:

  1. Menunda persalinan (minimal 48 jam)
  2. Memberi waktu pemberian kortikosteroid untuk maturasi paru
  3. Memberi neuroproteksi janin bila perlu
  4. Mengidentifikasi penyebab yang dapat ditangani

Pendekatan mengikuti prinsip dalam Williams Obstetrics dan Oxford Textbook of Obstetrics and Gynaecology.


1. Konfirmasi Diagnosis Awal

Pasien dengan keluhan:

  • Nyeri perut bawah / kontraksi
  • Rasa tertekan di pelvis
  • Nyeri pinggang
  • Keputihan meningkat / bloody show

Evaluasi awal

  1. Usia kehamilan
  2. Frekuensi kontraksi
  3. Pemeriksaan serviks
  4. Status membran
  5. Kondisi ibu dan janin

Kriteria aktivitas uterus signifikan:

  • ≥4 kontraksi / 20 menit
  • ≥8 kontraksi / 60 menit

2. Evaluasi Penyebab yang Dapat Dikoreksi

Penyebab yang sering memicu kontraksi:

  • Infeksi (UTI, vaginitis, chorioamnionitis)
  • Dehidrasi
  • Overdistensi uterus (gemelli, polihidramnion)
  • Abruptio placenta
  • Iritasi uterus

Pemeriksaan:

  • Urinalisis
  • CRP / leukosit
  • Swab vaginal
  • USG obstetri

Jika penyebab ditemukan → tatalaksana kausal.


3. Stratifikasi Risiko Prematuritas

Panjang serviks (TVUS)

  • 30 mm → risiko rendah

  • 20–30 mm → risiko sedang
  • <25 mm → risiko tinggi

Marker tambahan

  • Fetal fibronectin

Negatif → kemungkinan persalinan prematur rendah dalam 7–14 hari.


4. Apakah Ada Kontraindikasi Tokolisis?

Tokolisis tidak boleh diberikan bila terdapat:

  • Chorioamnionitis
  • IUFD
  • Distress janin
  • Perdarahan hebat
  • Preeklampsia berat
  • Solusio plasenta
  • Serviks sudah sangat dilatasi (>4–5 cm)

Jika ada → persalinan dipersiapkan.


5. Tokolisis (Jika Tidak Ada Kontraindikasi)

Tujuan utama: menunda persalinan 48 jam.

First line

Nifedipine

Loading:

  • 20 mg oral

Maintenance:

  • 10–20 mg tiap 6–8 jam

Alternatif

  1. Atosiban (oxytocin receptor antagonist)
  2. Indometasin (<32 minggu)

Indometasin:

  • Loading 50–100 mg
  • Maintenance 25 mg tiap 6 jam

6. Kortikosteroid Antenatal

Diberikan pada 24–34 minggu.

Regimen:

Betamethasone

  • 12 mg IM
  • diulang setelah 24 jam

atau

Dexamethasone

  • 6 mg IM tiap 12 jam × 4 dosis

Manfaat:

  • ↓ RDS
  • ↓ IVH
  • ↓ NEC

7. Neuroproteksi Janin

Jika usia kehamilan <32 minggu

Gunakan MgSO₄

Regimen:

  • Loading 4–6 g IV
  • Maintenance 1–2 g/jam

Tujuan:

  • menurunkan cerebral palsy

8. Antibiotik

Tidak rutin diberikan pada PPI kecuali:

  • PROM
  • Infeksi terbukti

Antibiotik rutin tidak terbukti menurunkan prematuritas.


9. Monitoring

Maternal

  • tekanan darah
  • nadi
  • efek tokolitik

Uterus

  • kontraksi tiap 30–60 menit

Janin

  • CTG
  • USG

10. Evaluasi Respon

Setelah 48 jam:

Jika kontraksi berhenti:

  • observasi
  • rawat jalan

Jika kontraksi menetap:

  • kemungkinan preterm labor

Skema Algoritma Klinis

Pasien kontraksi <37 minggu

Evaluasi:

  • kontraksi
  • serviks
  • membran

Tidak ada perubahan serviks

PPI

Cari penyebab

  • infeksi
  • dehidrasi

Apakah ada kontraindikasi tokolisis?

YA → persalinan

TIDAK → tokolisis

Berikan:

  • tokolitik
  • steroid
  • MgSO₄ (<32 minggu)

Monitoring 48 jam

  • Kontraksi berhenti → observasi
  • Kontraksi berlanjut → preterm labor

Clinical Pearl (yang sering keluar di ujian)

  1. Tujuan tokolisis hanya menunda persalinan ±48 jam.
  2. Steroid antenatal adalah intervensi paling penting menurunkan mortalitas neonatus.
  3. MgSO₄ diberikan untuk neuroproteksi <32 minggu.
  4. Antibiotik tidak rutin pada PPI tanpa PROM.

Referensi (Vancouver)

  1. Cunningham FG, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Arulkumaran S, et al. Oxford Textbook of Obstetrics and Gynaecology. Oxford University Press; 2020.
  3. Hoffman BL, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  4. Romero R, et al. Preterm labor. Am J Obstet Gynecol. 2014.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...

IUGR (Intrauterine Growth Restriction / Fetal Growth Restriction) .

1. Definisi IUGR atau Fetal Growth Restriction (FGR) adalah kondisi di mana janin gagal mencapai potensi pertumbuhan intrauterin yang diharapkan untuk usia gestasinya. Secara praktis sering didefinisikan sebagai estimated fetal weight (EFW) < 10th percentile untuk usia kehamilan; tetapi perlu dibedakan dari small for gestational age (SGA) karena tidak semua SGA adalah patologis (konstitusional). Pedoman internasional juga membedakan IUGR ringan/sedang dan berat (mis. EFW < 3rd centile atau bukti disfungsi hemodinamik/abnormal Doppler). 2. Patofisiologi — ringkasan Patofisiologi IUGR bersifat multifaktorial. Mekanisme utama yang sering hadir: Insufisiensi plasenta (plasental) — kerusakan atau gangguan vascularisasi plasenta → aliran darah uteroplacental menurun → asupan oksigen dan nutrisi terhambat → penurunan pertumbuhan janin. Ini adalah penyebab tersering pada IUGR asimetris. Faktor maternal — hipertensi kronis, preeklampsia, penyakit jantung, malnutrisi kronis, mer...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...