Langsung ke konten utama

mekanisme patofisiologi Postpartum Urinary Retention (PUR) tipe overt vs covert

 



Mekanisme PUR Overt vs Covert

Definisi singkat

  • Overt PUR: tidak dapat berkemih spontan ≥ 6 jam postpartum.
  • Covert PUR: dapat berkemih spontan, tetapi PVR ≥ 150–200 mL.

Keduanya berada pada satu spektrum patofisiologi, dengan perbedaan derajat gangguan neuromuskular vesika dan obstruksi outlet.


1. Mekanisme Utama Overt PUR

Karakteristik patofisiologi

Gangguan berat pada:

  • kontraksi detrusor
  • refleks miksi
  • atau obstruksi fungsional outlet

a. Atonia detrusor berat (dominant mechanism)

Proses:

  • Neuropati pelvis (n. pudendus, S2–S4) akibat:
    • kala II lama
    • persalinan operatif
  • Overdistensi vesika intrapartum
  • Anestesi regional

Efek:

  • refleks miksi tidak teraktivasi
  • kontraksi detrusor minimal atau tidak ada

→ pasien tidak mampu memulai miksi


b. Obstruksi fungsional berat

  • Edema uretra masif
  • Hematoma perineum/vagina
  • Nyeri perineum berat → kontraksi sfingter eksternal

→ aliran urin tidak dapat dimulai


c. Blok sensorik

  • Tidak ada sensasi penuh vesika
  • Pasien tidak menyadari distensi kandung kemih

Hasil akhir

→ Vesika terdistensi progresif
→ Tidak ada miksi sama sekali


2. Mekanisme Utama Covert PUR

Karakteristik patofisiologi

Gangguan parsial pada:

  • kontraktilitas detrusor
  • koordinasi detrusor–sfingter

a. Hipokontraktilitas detrusor ringan–sedang

  • Neuropati ringan
  • Overdistensi singkat
  • Efek residual anestesi

→ kontraksi terjadi tetapi tidak cukup kuat untuk pengosongan total


b. Increased urethral resistance ringan

  • Edema periuretra ringan
  • Spasme sfingter ringan

c. Sensasi vesika masih ada

→ pasien dapat mulai berkemih


Hasil akhir

→ aliran urin terjadi
→ volume residu besar tertinggal (≥150–200 mL)


3. Perbandingan Skematik

Aspek Overt PUR Covert PUR
Kontraksi detrusor Absen / sangat lemah Ada, tapi lemah
Sensasi vesika Hilang / sangat menurun Relatif masih ada
Obstruksi outlet Sering signifikan Minimal–sedang
Kemampuan mulai miksi Tidak bisa Bisa
PVR Sangat tinggi (>500 mL) 150–500 mL
Overdistensi vesika Berat Ringan–sedang
Risiko disfungsi kronik Lebih tinggi Lebih rendah

4. Model Patofisiologi Terintegrasi

Overt PUR

Trauma persalinan berat
→ neuropati pelvis + anestesi + overdistensi
→ atonia detrusor total ± obstruksi uretra
→ tidak bisa miksi


Covert PUR

Trauma persalinan ringan–sedang
→ hipokontraktilitas detrusor parsial ± resistensi uretra ringan
→ miksi terjadi tapi tidak tuntas


5. Implikasi Klinis

  • Overt PUR → kateterisasi segera & indwelling lebih sering diperlukan.
  • Covert PUR → sering tidak terdeteksi tanpa bladder scan → berisiko progresi menjadi overt bila tidak ditangani.
  • Deteksi PVR postpartum krusial pada pasien berisiko tinggi.

Referensi (Vancouver)

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Berek JS. Berek & Novak’s Gynecology. 16th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2020.
  3. Yip SK, Sahota D, Pang MW, Chang A. Postpartum urinary retention. Acta Obstet Gynecol Scand. 2004;83(10):881–91.
  4. Mulder FEM, Schoffelmeer MA, Hakvoort RA, et al. Postpartum urinary retention: a systematic review. Int Urogynecol J. 2014;25(12):1605–12.
  5. Carley ME, Carley JM, Vasdev G, et al. Factors associated with clinically overt postpartum urinary retention after vaginal delivery. Am J Obstet Gynecol. 2002;187(2):430–3.
  6. Wein AJ, Kavoussi LR, Partin AW, Peters CA. Campbell-Walsh Urology. 12th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...

IUGR (Intrauterine Growth Restriction / Fetal Growth Restriction) .

1. Definisi IUGR atau Fetal Growth Restriction (FGR) adalah kondisi di mana janin gagal mencapai potensi pertumbuhan intrauterin yang diharapkan untuk usia gestasinya. Secara praktis sering didefinisikan sebagai estimated fetal weight (EFW) < 10th percentile untuk usia kehamilan; tetapi perlu dibedakan dari small for gestational age (SGA) karena tidak semua SGA adalah patologis (konstitusional). Pedoman internasional juga membedakan IUGR ringan/sedang dan berat (mis. EFW < 3rd centile atau bukti disfungsi hemodinamik/abnormal Doppler). 2. Patofisiologi — ringkasan Patofisiologi IUGR bersifat multifaktorial. Mekanisme utama yang sering hadir: Insufisiensi plasenta (plasental) — kerusakan atau gangguan vascularisasi plasenta → aliran darah uteroplacental menurun → asupan oksigen dan nutrisi terhambat → penurunan pertumbuhan janin. Ini adalah penyebab tersering pada IUGR asimetris. Faktor maternal — hipertensi kronis, preeklampsia, penyakit jantung, malnutrisi kronis, mer...

Dexamethasone untuk Maturasi Paru Janin

Definisi Dexamethasone adalah glukokortikoid sintetik yang digunakan untuk mempercepat proses maturasi paru janin pada kehamilan prematur. Pemberian dexamethasone bertujuan untuk meningkatkan produksi surfaktan dalam paru janin, sehingga mengurangi risiko Sindrom Distres Pernapasan Neonatal (SDPN) yang terjadi pada bayi prematur. Penggunaan dexamethasone terutama dilakukan pada ibu hamil yang berisiko melahirkan sebelum usia kehamilan 34 minggu, dengan tujuan mengurangi morbiditas dan mortalitas neonatal terkait dengan masalah pernapasan. Farmakokonetik 1. Absorpsi: Dexamethasone diberikan melalui rute intravena (IV) atau intramuskular (IM). Setelah pemberian IM, obat ini dengan cepat diserap dan didistribusikan ke seluruh tubuh. 2. Distribusi: Dexamethasone memiliki distribusi yang luas ke dalam cairan ekstraseluler dan sistem saraf pusat. Obat ini dapat melintasi sawar plasenta dengan mudah dan mempengaruhi janin. 3. Metabolisme: Dexamethasone dimetabolisme di hati melalui enzim P450...