Langsung ke konten utama

Retensi Urin Postpartum (postpartum urinary retention, PUR)

 


1. Definisi

Retensi urin postpartum adalah ketidakmampuan berkemih spontan atau pengosongan kandung kemih tidak adekuat setelah persalinan.

Klasifikasi yang lazim dipakai:

  1. Overt PUR

    • Tidak dapat BAK spontan ≥ 6 jam setelah persalinan pervaginam atau ≥ 6 jam setelah kateter dilepas pasca seksio sesarea.
  2. Covert PUR

    • Dapat BAK spontan tetapi post-void residual (PVR) ≥ 150–200 mL (diukur dengan USG bladder scan atau kateterisasi).

2. Epidemiologi

Insidens bervariasi 0,7–14%, meningkat pada persalinan operatif dan persalinan lama.


3. Patofisiologi

Retensi urin postpartum bersifat multifaktorial, melibatkan mekanisme neurogenik, mekanik, dan miogenik:

a. Cedera saraf (neuropati sementara)

  • Kompresi atau peregangan nervus pudendus & plexus pelvicus saat kala II lama →
    ↓ sensasi kandung kemih
    ↓ refleks detrusor
    → atonia vesika sementara.

b. Overdistensi kandung kemih

  • Kandung kemih penuh lama saat persalinan →
    kerusakan serabut otot detrusor → kontraktilitas menurun.

c. Edema dan trauma jaringan

  • Edema perineum, hematoma, laserasi jalan lahir → obstruksi fungsional uretra.

d. Efek anestesi/analgesia

  • Epidural/spinal → blok refleks miksi + penurunan tonus detrusor.

e. Faktor hormonal

  • Progesteron postpartum → relaksasi otot polos saluran kemih.

f. Nyeri dan inhibisi refleks

  • Nyeri luka episiotomi/ruptur → refleks miksi terhambat.

4. Faktor Risiko

Maternal & obstetrik:

  • Primiparitas
  • Kala II lama
  • Persalinan operatif (vakum/forceps)
  • Bayi besar (>4000 g)
  • Episiotomi luas
  • Robekan perineum derajat tinggi
  • Analgesia epidural/spinal
  • Seksio sesarea
  • Overdistensi vesika intrapartum
  • Hematoma perineum/vagina

5. Manifestasi Klinis

  • Tidak bisa BAK ≥ 6 jam postpartum
  • Rasa penuh suprapubik
  • Nyeri perut bawah
  • Aliran urin lemah / terputus
  • Inkontinensia overflow (tetes-tetes)
  • Uterus sulit berkontraksi → risiko atonia uteri & PPH

6. Diagnosis

a. Klinis

  • Anamnesis waktu BAK terakhir
  • Palpasi suprapubik

b. Objektif

  • Bladder scan USG → volume residu
  • Kateterisasi diagnostik

Cut-off PVR patologis: ≥ 150–200 mL.


7. Komplikasi

  • Infeksi saluran kemih
  • Overdistensi vesika kronik
  • Disfungsi detrusor persisten
  • Atonia uteri & perdarahan postpartum
  • Rehospitalisasi

8. Tata Laksana

A. Profilaksis

  • Kosongkan kandung kemih tiap 2–3 jam intrapartum
  • Kateterisasi intermittent saat persalinan lama
  • Monitoring BAK postpartum

B. Terapi

1. Overt PUR

  • Kateterisasi segera
    • Single catheterization jika volume < 500–700 mL
    • Indwelling catheter 24–48 jam bila > 700–1000 mL atau retensi berulang

2. Covert PUR

  • Kateterisasi intermittent
  • Re-evaluasi PVR tiap 24 jam

C. Terapi tambahan

  • Mobilisasi dini
  • Analgesia adekuat
  • Kompres hangat suprapubik
  • Posisi duduk saat BAK
  • Hidrasi cukup

Obat kolinergik (bethanechol) tidak direkomendasikan rutin karena bukti terbatas.


9. Prognosis

  • >90% pulih spontan dalam 3–7 hari
  • Jarang menjadi kronik bila ditangani cepat
  • Follow-up diperlukan bila > 1 minggu

10. Algoritma Praktis Singkat

  1. Tidak BAK > 6 jam → bladder scan
  2. PVR ≥ 150–200 mL → kateterisasi
  3. Evaluasi volume
  4. Tentukan intermittent vs indwelling
  5. Re-evaluasi 24–48 jam

11. Poin Klinis Penting

  • Selalu evaluasi kandung kemih pada ibu dengan perdarahan postpartum tidak jelas.
  • Retensi urin dapat menyebabkan uterus terdorong ke atas → kontraksi tidak efektif.
  • Bladder scan bedside sangat membantu diagnosis dini.

Referensi (Vancouver)

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Berek JS. Berek & Novak’s Gynecology. 16th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2020.
  3. Mulder FEM, Schoffelmeer MA, Hakvoort RA, et al. Postpartum urinary retention: a systematic review. Int Urogynecol J. 2014;25(12):1605–12.
  4. Yip SK, Sahota D, Pang MW, Chang A. Postpartum urinary retention. Acta Obstet Gynecol Scand. 2004;83(10):881–91.
  5. Carley ME, Carley JM, Vasdev G, et al. Factors that are associated with clinically overt postpartum urinary retention after vaginal delivery. Am J Obstet Gynecol. 2002;187(2):430–3.
  6. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Postpartum bladder care. Green-top guideline; 2019.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...