Langsung ke konten utama

Trisomi pada Janin: Patau syndrome (trisomi 13), Edward syndrome (trisomi 18), dan Down syndrome (trisomi 21).

  

1. PATAU SYNDROME (Trisomi 13)


Definisi


Kelainan genetik autosomal yang disebabkan oleh keberadaan 1 salinan tambahan seluruh kromosom 13 (trisomi lengkap), fragmen tambahan (translokasi), atau mosaicism. Menyebabkan malformasi multisistem berat dan mortalitas neonatal sangat tinggi. 


Patofisiologi


Ekspresi berlebih gen pada kromosom 13 mengganggu perkembangan embrio dan organogenesis (otak, muka, jantung, ginjal, ekstremitas). Pada trisomi lengkap, hampir semua sel tubuh membawa 3 salinan kromosom 13; pada mosaicism hanya sebagian sel. Malformasi terjadi dini pada organogenesis sehingga gambaran klinisnya berat. 


Tanda dan gejala (klinis khas)


Cacat wajah: bibir sumbing/lepatan palatum, anophthalmia/hipoplasi mata.


Kelainan otak: holoprosensefali, mikrosefali, retardasi berat.


Malformasi jantung kongenital (VSD, PDA, ASD).


Ekstremitas: polidaktili (jari tambahan), jari yang pendek atau kelainan kuku.


Kelainan lain: hemangioma kapiler, skrotum/kelamin abnormal, keterlambatan pertumbuhan intrauterin.

Bayi banyak yang lahir mati atau meninggal dalam minggu pertama; sebagian kecil dapat hidup lebih lama tetapi umumnya dengan kecacatan berat. 



Kriteria diagnosis / penegakkan diagnosis


Screening prenatal: Nuchal translucency ↑ (trimester I) dan/atau abnormalitas serum ibu; NIPT (cell-free fetal DNA) mendeteksi risiko tinggi untuk T13.


Diagnosis definitif: Karyotype dari CVS (chorionic villus sampling) atau amniosentesis menunjukkan 47,XX,+13 / 47,XY,+13 atau translokasi/ mosaicism. Jika postnatal: karyotype darah perifer. 



Pemeriksaan penunjang — gambaran hasil yang biasa ditemui


USG antenatal: IUGR, polidaktili, kelainan otak (holoprosencephaly), kelainan jantung, bibir sumbing/palatum.


NIPT (cfDNA): peningkatan fraksi menunjukkan kemungkinan trisomi 13 (screening, bukan diagnostik).


Karyotype/G-banding (CVS/amniosentesis/perifer): 47,+13 (konfirmasi).


Microarray/FGS hanya jika perlu mendeteksi delesi/duplikasi tambahan. 




---


2. EDWARD SYNDROME (Trisomi 18)


Definisi


Kelainan kromosom autosomal karena tambahan kromosom 18 (trisomi 18). Termasuk salah satu trisomi autosomal yang paling sering (sekitar urutan kedua setelah trisomi 21 pada kasus kelahiran hidup) dengan prognosis buruk. 


Patofisiologi


Tambahan materi genetik dari kromosom 18 mengganggu perkembangan organ dan jaringan terutama sistem saraf pusat, jantung, dan saluran cerna. Banyak kasus karena nondisjunction meiosis maternal; sebagian kecil akibat translokasi. Kerusakan organogenesis menjelaskan banyak malformasi kongenital yang khas. 


Tanda dan gejala (klinis khas)


Berat lahir rendah, IUGR.


Ciri wajah khas: rahang kecil (micrognathia), telinga rendah, mulut kecil, hidung kecil.


Kelainan tangan/ekstremitas: jari salip (overlapping fingers), kaki berbentuk clubfoot.


Cacat jantung kongenital (VSD, PDA).


Gangguan pernapasan, hipotonia, keterbelakangan perkembangan sangat berat.

Mortalitas neonatal dan pada tahun pertama sangat tinggi; beberapa kasus hidup lebih lama dengan perawatan suportif. 



Kriteria diagnosis / penegakkan diagnosis


Screening: USG (IUGR, malformasi) dan NIPT dapat menunjukkan risiko tinggi.


Konfirmasi: Karyotype (CVS/amniosentesis atau darah bayi) menunjukkan 47,+18 atau mosaicism.


Penilaian tambahan: ekokardiografi prenatal/postnatal untuk kelainan jantung; pemeriksaan neurologis/USG kepala. 



Pemeriksaan penunjang — gambaran hasil


USG antenatal: IUGR, kelainan jantung, kelainan ekstremitas (overlapping fingers), kelainan GI.


NIPT: meningkatkan kecurigaan untuk trisomi 18.


Karyotype: 47,XX,+18 atau 47,XY,+18 (konfirmasi).

Literatur juga menyorot kebutuhan pendekatan perawatan yang dipersonalisasi untuk bayi hidup (scoping reviews & outcome studies baru-baru ini). 




---


3. DOWN SYNDROME (Trisomi 21)


Definisi


Gangguan genetik akibat keberadaan salinan ketiga kromosom 21 (trisomi 21), yang paling umum pada autosomal trisomi di bayi yang lahir hidup; berkaitan dengan spektrum fenotipik mulai dari ringan hingga berat pada perkembangan kognitif dan fisik. 


Patofisiologi


Ekspresi berlebih gen di kromosom 21 mengubah perkembangan neurokognitif, perkembangan jantung, sistem imun, serta metabolisme. Mayoritas kasus karena nondisjunction maternal sehingga risiko meningkat dengan usia ibu. Selain trisomi lengkap ada bentuk translokasi dan mosaicism yang mempengaruhi fenotipe. 


Tanda dan gejala (klinis khas)


Ciri wajah: wajah datar, epikanthus, hidung pesek, mulut kecil, lidah cenderung besar.


Hipotonia, keterlambatan tumbuh-kembang / intelektual, tonus otot rendah.


Kelainan jantung kongenital (AV septal defect, VSD), kelainan GI (duodenal atresia), kelainan endokrin (hipotiroidisme), gangguan penglihatan & pendengaran, risiko infeksi lebih tinggi, dan predisposisi ke penyakit Alzheimer pada usia dewasa. 



Kriteria diagnosis / penegakkan diagnosis


Screening antenatal: kombinasi USG (nuchal translucency), pemeriksaan serum ibu (free β-hCG, PAPP-A) di trimester I; kuadruple test di trimester II; NIPT (cfDNA) sekarang direkomendasikan sebagai pilihan skrining yang sensitif untuk trisomi 21 untuk semua ibu hamil (ACOG PB-226).


Konfirmasi diagnostik: karyotype dari CVS atau amniosentesis; alternatif: FISH cepat atau chromosomal microarray bila dicurigai kelainan tambahan. 



Pemeriksaan penunjang — gambaran hasil


USG antenatal: nuchal translucency ↑, IUGR kadang, kelainan jantung.


NIPT (cfDNA): sensitivitas & spesifisitas sangat tinggi untuk T21 dibandingkan skrining tradisional — namun positif membutuhkan konfirmasi diagnostik invasif.


Karyotype: 47,XX,+21 atau 47,XY,+21; translokasi (mis. Robertsonian) tercatat bila ada riwayat keluarga.


Penilaian postnatal: ekokardiografi, pemeriksaan TSH, pendengaran, oftalmologi, dan rujukan perkembangan/didaktik. Recent studies continue to report system-specific complications (mis. pulmonal pada anak trisomi 21) dan manajemen jangka panjang. 




---


Catatan praktis untuk klinisi (singkat)


Skrining & konseling: Semua pasien hamil harus ditawarkan opsi skrining dan mendapat konseling (ACOG PB-226). NIPT telah menjadi pilihan skrining utama untuk trisomi 21/18/13 karena akurasi yang lebih tinggi dibandingkan tes serum tradisional. Konfirmasi definitif hanya dengan sampel invasif (CVS/amniosentesis). 


Jika terdiagnosis antenatal: diskusikan prognosis (tinggi kematian perinatal untuk T13/T18), pilihan perawatan (suportif vs intervensi bedah), serta rujukan ke genetika dan tim multidisipliner. 




---


Referensi (Vancouver — siap pakai untuk skripsi)


1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, Spong CY (editors). Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw Hill; 2022. 



2. American College of Obstetricians and Gynecologists’ Committee on Practice Bulletins—Obstetrics; Committee on Genetics; Society for Maternal-Fetal Medicine. Screening for fetal chromosomal abnormalities. Obstet Gynecol. 2020 Oct;136(4):e48–e69. (Practice Bulletin No. 226). doi:10.1097/AOG.0000000000004084. 



3. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Supporting women and their partners through prenatal screening for Down’s syndrome, Edwards’ syndrome and Patau’s syndrome. London: RCOG; 2020 Dec. (Guidance). 



4. Williams GM. Patau syndrome. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Available from: NCBI Bookshelf. 



5. Balasundaram P. Edwards syndrome. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Available from: NCBI Bookshelf. 



6. Gordon S. Prenatal genetic screening. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025. (overview of screening modalities incl. NIPT). 



7. Schlosser MP. Liveborn children with trisomy 18: A scoping review. [Internet] 2024. doi:10.1177/19345798241302276. (Scoping review—outcomes dan manajemen bayi yang lahir hidup dengan trisomi 18). 



8. McDonnell C, et al. Pulmonary disease in paediatric patients with trisomy 21. [Journal]. 2025. (Recent study on respiratory complications in trisomy 21 patients). 



9. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan (Buku Sarwono Prawirohardjo). Edisi 4. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2018/2020. (Buku kebidanan nasional — referensi lokal bahasa Indonesia). 





---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Perlu

Suatu hari nak.. Jika kamu menyalahkan orang lain atas keadaanmu.. Jika kamu menyalahkan situasi atas kejadian yang terjadi pada dirimu... Ingatlah selalu... Dunia ini tidak hanya berpusat kepada dirimu... Kehidupanmu lah yang membuat dunia terasa bergerak pada dirimu.. Bukan Bapak memintamu untuk menyalahkan hidupmu, tetapi Bapak minta kamu berjalan bergeraklah dengan kehidupanmu itu untuk mengubah apa yang terjadi kepadamu... Mungkin ada hal yang bisa bapak ajarkan kepadamu.. Mungkin ada hal yang sempat bisa bapak contohkan kepadamu.. Tetapi masih ada banyak hal... Ada banyak ilmu.. Ada banyak pelajaran yang selalu bisa kamu pahami dan pelajari sendiri kelak.. Ingatlah selalu.. Kita bertanggungjawab atas hidup kita sendiri.. atas apa yang kita pilih.. kita lakukan.. Kita bisa sedih karena orang lain.. Kita bisa kecewa karena perbuatan orang lain.. Bahkan kita pun bisa ikut bahagia hanya karena orang lain bahagia... Lalu, kenapa bisa begitu? Itulah tadi.. Pilihanmu untuk b...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...

IUGR (Intrauterine Growth Restriction / Fetal Growth Restriction) .

1. Definisi IUGR atau Fetal Growth Restriction (FGR) adalah kondisi di mana janin gagal mencapai potensi pertumbuhan intrauterin yang diharapkan untuk usia gestasinya. Secara praktis sering didefinisikan sebagai estimated fetal weight (EFW) < 10th percentile untuk usia kehamilan; tetapi perlu dibedakan dari small for gestational age (SGA) karena tidak semua SGA adalah patologis (konstitusional). Pedoman internasional juga membedakan IUGR ringan/sedang dan berat (mis. EFW < 3rd centile atau bukti disfungsi hemodinamik/abnormal Doppler). 2. Patofisiologi — ringkasan Patofisiologi IUGR bersifat multifaktorial. Mekanisme utama yang sering hadir: Insufisiensi plasenta (plasental) — kerusakan atau gangguan vascularisasi plasenta → aliran darah uteroplacental menurun → asupan oksigen dan nutrisi terhambat → penurunan pertumbuhan janin. Ini adalah penyebab tersering pada IUGR asimetris. Faktor maternal — hipertensi kronis, preeklampsia, penyakit jantung, malnutrisi kronis, mer...