Kauterisasi pada cervicitis kronik merupakan terapi ablasi lokal yang bertujuan menghancurkan epitel serviks yang mengalami inflamasi kronik dan memfasilitasi regenerasi epitel skuamosa normal. Tindakan ini bersifat adjunctive, bukan terapi lini pertama, dan hanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu setelah evaluasi etiologi dilakukan secara adekuat.
1. Rasional Ilmiah
Pada cervicitis kronik terjadi:
- Persistensi inflamasi + disrupsi epitel kolumnar
- Ektopi serviks → epitel kolumnar terekspos lingkungan vagina
- Hipersekresi mukus dan kolonisasi bakteri berulang
Kauterisasi:
- Mengeliminasi jaringan inflamasi kronik
- Menginduksi nekrosis koagulatif → regenerasi epitel skuamosa (re-epitelisasi)
- Mengurangi area ektopi → menurunkan reservoir infeksi
2. Indikasi
Tidak semua cervicitis kronik memerlukan kauterisasi. Indikasi selektif:
Indikasi utama:
- Gejala persisten:
- Keputihan mukopurulen kronik
- Postcoital bleeding
- Ektopi serviks luas yang simptomatik
- Tidak respons terhadap terapi medikamentosa adekuat (antibiotik sesuai etiologi)
- Tidak ditemukan keganasan (WAJIB eksklusi)
3. Kontraindikasi
Absolut:
- Kecurigaan atau konfirmasi neoplasia serviks (CIN/karsinoma)
- Infeksi akut aktif:
- Chlamydia trachomatis
- Neisseria gonorrhoeae
Relatif:
- Kehamilan
- Servisitis dengan etiologi belum jelas
- Gangguan koagulasi
4. Teknik Kauterisasi
Beberapa metode yang digunakan:
a. Elektrokauter (diathermy cauterization)
- Arus listrik → koagulasi jaringan
- Paling umum di fasilitas klinik
b. Cryotherapy
- Menggunakan N₂O atau CO₂
- Menyebabkan nekrosis melalui pembekuan
c. Laser ablasi
- Lebih presisi, jarang digunakan karena biaya
5. Prosedur Klinis (Elektrokauter sebagai contoh)
- Posisi litotomi
- Inspeksi serviks dengan spekulum
- Pastikan:
- Pap smear normal / tidak ada lesi mencurigakan
- Aplikasi kauter pada area ektopi/inflamasi
- Durasi singkat (beberapa detik per area)
6. Komplikasi
Umumnya ringan:
Jangka pendek:
- Nyeri ringan
- Keputihan serosanguinous
- Infeksi sekunder
Jangka panjang (jarang):
- Stenosis serviks
- Fibrosis serviks
- Gangguan fertilitas (jarang, kontroversial)
7. Outcome dan Evidence
- Efektif pada:
- Ektopi simptomatik
- Cervicitis kronik refrakter
- Tidak direkomendasikan rutin pada:
- Kasus asimtomatik
- Tanpa evaluasi etiologi
Evidence modern menunjukkan:
- Banyak kasus cervicitis kronik lebih baik ditangani dengan pendekatan etiologis (NAAT-based therapy) dibanding ablasi langsung
- Kauterisasi hanya untuk selected cases
8. Prinsip Klinis Penting (Level Konsultan)
Pendekatan yang benar:
Stepwise management:
- Identifikasi etiologi (NAAT untuk IMS)
- Terapi antibiotik sesuai guideline
- Evaluasi ulang
- Baru pertimbangkan kauterisasi jika:
- Persisten
- Simptomatik
- Non-neoplastik
Kesalahan yang sering:
- Kauterisasi tanpa skrining keganasan
- Kauterisasi pada infeksi aktif → memperburuk inflamasi
- Overuse pada ektopi fisiologis
9. Follow-up
- Evaluasi 2–4 minggu
- Edukasi:
- Hindari hubungan seksual sementara
- Waspada tanda infeksi
- Ulang Pap smear sesuai jadwal skrining
Kesimpulan Klinis
Kauterisasi pada cervicitis kronik:
- Bukan terapi lini pertama
- Indikasi selektif
- Harus didahului eksklusi infeksi aktif dan keganasan
- Berfungsi sebagai terapi ablasi untuk kasus refrakter dengan ektopi simptomatik
Referensi (Vancouver)
- Berek JS. Berek & Novak’s Gynecology. 16th ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2020.
- Cunningham FG, et al. Williams Gynecology. 4th ed. McGraw-Hill; 2020.
- WHO. Guidelines for the management of sexually transmitted infections. 2021.
- Workowski KA, et al. Sexually transmitted infections treatment guidelines. MMWR Recomm Rep. 2021.
- Prendiville W. Large loop excision of the transformation zone. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2005.
Komentar