Langsung ke konten utama

PEB post partum

 


PRE-EKLAMPSIA POSTPARTUM (PEB POSTPARTUM)

1. Definisi

Pre-eklampsia postpartum adalah:

  • Hipertensi onset baru setelah persalinan (hingga 6 minggu postpartum)
  • Disertai:
    • Proteinuria ATAU
    • Disfungsi organ target

👉 Mayoritas terjadi dalam 48–72 jam postpartum, tetapi dapat muncul hingga hari ke-7–10 bahkan sampai 6 minggu.


2. Patofisiologi (kunci pemahaman)

Meskipun plasenta sudah lahir, proses penyakit tetap berlangsung:

  • Persistensi disfungsi endotel sistemik
  • Aktivitas faktor antiangiogenik (sFlt-1 masih tinggi)
  • Autotransfusi postpartum → peningkatan preload
  • Mobilisasi cairan interstisial → overload intravaskular

👉 Ini menjelaskan:

  • Lonjakan hipertensi postpartum
  • Risiko tinggi edema paru dan eklampsia

3. Diagnosis

Kriteria

  • TD ≥140/90 mmHg setelah persalinan
    + salah satu:
  • Proteinuria
  • Trombosit <100.000
  • AST/ALT ↑
  • Kreatinin ↑
  • Edema paru
  • Gejala neurologis (headache, visual)

Catatan penting

  • Proteinuria tidak wajib
  • Banyak kasus muncul sebagai: 👉 Eklampsia postpartum tanpa riwayat hipertensi sebelumnya

4. Red Flag (high-yield klinis)

  • Sakit kepala hebat persisten
  • Nyeri epigastrium
  • Gangguan visual
  • Sesak napas (→ edema paru)
  • Kejang (eklamsia postpartum)

👉 Semua ini = indikasi rawat inap segera


5. Tatalaksana

A. Profilaksis dan terapi kejang

MgSO₄ (first line)

  • Loading: 4–6 g IV
  • Maintenance: 1–2 g/jam
  • Durasi:
    • Minimal 24 jam setelah onset gejala / kejang terakhir

👉 Indikasi:

  • PEB dengan fitur berat
  • Semua eklampsia postpartum

B. Antihipertensi

Indikasi

  • TD ≥150/100 mmHg (umumnya postpartum threshold lebih agresif)
  • ≥160/110 → emergensi

Pilihan

Aman untuk menyusui:

  • Nifedipine
  • Labetalol
  • Methyldopa (kurang disukai postpartum)
  • ACE inhibitor (enalapril, captopril) → boleh postpartum

👉 Target:

  • <150/100 mmHg
  • Hindari hipotensi (perfusi organ)

C. Manajemen cairan (krusial)

  • Restriksi cairan
  • Monitor balance ketat
  • Waspadai:
    • Edema paru (komplikasi tersering fatal postpartum)

D. Diuretik

  • Indikasi:
    • Overload cairan
    • Edema paru

Contoh:

  • Furosemide IV

6. Monitoring

Maternal:

  • TD serial
  • Diuresis (>30 ml/jam)
  • Refleks patella (Mg toxicity)
  • Lab:
    • Trombosit
    • AST/ALT
    • Kreatinin

Observasi minimal:

  • 72 jam postpartum (karena peak onset)

7. Komplikasi (lebih sering dibanding antenatal)

  • Eklampsia postpartum
  • Edema paru
  • Stroke (risiko tinggi!)
  • HELLP syndrome
  • Gagal ginjal akut

👉 Notably:

  • Stroke postpartum sering terjadi pada hari 3–7

8. Kriteria Rawat Inap

  • TD ≥160/110
  • Gejala neurologis
  • Gangguan organ
  • Suspisi eklampsia / imminent eclampsia

9. Follow-up

  • Evaluasi TD:
    • Hari ke-3–7 postpartum
    • Minggu ke-6 postpartum
  • Risiko jangka panjang:
    • Hipertensi kronis
    • Penyakit kardiovaskular

👉 PEB = marker future cardiovascular disease


10. Clinical Pearl (high yield)

  • Banyak kematian maternal terjadi postpartum, bukan antenatal
  • MgSO₄ tetap gold standard meskipun sudah postpartum
  • ACE inhibitor → baru boleh postpartum
  • Jangan overhidrasi → risiko edema paru sangat tinggi
  • Headache postpartum ≠ benign → pikirkan PEB sampai terbukti sebaliknya

Algoritma Singkat

  1. TD postpartum ↑ → evaluasi organ
  2. Ada severe features?
    • Ya → MgSO₄ + antihipertensi + rawat
    • Tidak → antihipertensi + monitoring
  3. Waspadai edema paru → restriksi cairan ± diuretik

Referensi (Vancouver style)

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. McGraw-Hill; 2022.
  2. American College of Obstetricians and Gynecologists. ACOG Practice Bulletin No. 222: Gestational Hypertension and Preeclampsia. Obstet Gynecol. 2020.
  3. POGI. PNPK Preeklampsia. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
  4. Magee LA, et al. Hypertensive disorders of pregnancy. BJOG. 2022.
  5. Sibai BM. Etiology and management of postpartum hypertension-preeclampsia. Am J Obstet Gynecol.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...