Langsung ke konten utama

Mengenal Tatalaksana Lesi Prakanker : LEEP vs LEETZ

 Secara praktis, LEEP dan LEETZ merujuk pada prosedur yang sama—eksisi jaringan zona transformasi serviks menggunakan loop kawat dengan arus listrik frekuensi tinggi. Perbedaannya terutama pada terminologi dan penekanan konseptual.


1. Definisi dan Terminologi

LEEP (Loop Electrosurgical Excision Procedure)

  • Istilah yang lebih umum digunakan di Amerika (ACOG, ASCCP)
  • Menekankan prosedur eksisi menggunakan loop elektrosurgikal

LEETZ (Large Loop Excision of the Transformation Zone)

  • Istilah yang lebih sering digunakan di Eropa/UK
  • Menekankan bahwa yang diangkat adalah zona transformasi serviks (transformation zone/TZ)

➡️ Secara teknis: identik (sinonim klinis)


2. Prinsip Teknik

  • Menggunakan loop kawat tipis
  • Arus listrik (cutting + coagulation mode)
  • Eksisi jaringan serviks (biasanya TZ)
  • Dapat memberikan spesimen untuk histopatologi (ini keunggulan utama dibanding ablasi)

3. Indikasi

Indikasi sama untuk LEEP/LEETZ:

  • Lesi pra-kanker serviks:
    • CIN 2–3 (HSIL)
  • Kecurigaan lesi invasif mikro
  • Hasil sitologi abnormal persisten
  • Diskrepansi sitologi–kolposkopi

Terkait infeksi kronik seperti:

  • Cervicitis kronik
    ➡️ bukan indikasi utama, kecuali ada lesi displastik

4. Perbandingan dengan Modalitas Lain

Modalitas Sifat Spesimen Indikasi utama
LEEP/LEETZ Eksisi ✔ ada CIN 2–3
Kauterisasi Ablasi ✘ tidak ada Cervicitis, ektopi
Cryotherapy Ablasi Lesi kecil, LSIL
Konisasi pisau dingin Eksisi ✔ lebih luas Curiga invasi

5. Keunggulan LEEP/LEETZ

  • Diagnosis + terapi sekaligus
  • Spesimen histopatologi utuh
  • Dapat menilai margin
  • Prosedur relatif cepat, bisa rawat jalan

6. Risiko dan Komplikasi

Jangka pendek:

  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Nyeri ringan

Jangka panjang:

  • Stenosis serviks
  • Insufisiensi serviks (kontroversial, tergantung kedalaman eksisi)
  • Risiko prematuritas meningkat ringan

7. Perspektif Klinis (Critical Insight)

Perbedaan LEEP vs LEETZ bukan pada teknik, tetapi:

  • LEEP → procedural term
  • LEETZ → anatomical target term

Dalam praktik modern:

  • Digunakan interchangeable
  • Yang lebih penting adalah:
    • Kedalaman eksisi
    • Keterlibatan endoserviks
    • Status margin

8. Clinical Pitfall

Kesalahan yang sering:

  • Menggunakan LEEP untuk kondisi non-neoplastik seperti cervicitis kronik
  • Tidak melakukan kolposkopi sebelum tindakan
  • Eksisi terlalu dalam → risiko obstetrik

9. Kesimpulan

  • LEEP = LEETZ secara teknis
  • Perbedaan hanya pada terminologi regional dan penekanan konsep
  • Digunakan untuk lesi pra-kanker serviks, bukan untuk inflamasi kronik

Referensi (Vancouver)

  1. Berek JS. Berek & Novak’s Gynecology. 16th ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2020.
  2. Cunningham FG, et al. Williams Gynecology. 4th ed. McGraw-Hill; 2020.
  3. Perkins RB, et al. 2019 ASCCP Risk-Based Management Guidelines. J Low Genit Tract Dis. 2020.
  4. Prendiville W. Large loop excision of the transformation zone. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2005.
  5. Kyrgiou M, et al. Obstetric outcomes after conservative treatment for CIN. BMJ. 2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...

IUGR (Intrauterine Growth Restriction / Fetal Growth Restriction) .

1. Definisi IUGR atau Fetal Growth Restriction (FGR) adalah kondisi di mana janin gagal mencapai potensi pertumbuhan intrauterin yang diharapkan untuk usia gestasinya. Secara praktis sering didefinisikan sebagai estimated fetal weight (EFW) < 10th percentile untuk usia kehamilan; tetapi perlu dibedakan dari small for gestational age (SGA) karena tidak semua SGA adalah patologis (konstitusional). Pedoman internasional juga membedakan IUGR ringan/sedang dan berat (mis. EFW < 3rd centile atau bukti disfungsi hemodinamik/abnormal Doppler). 2. Patofisiologi — ringkasan Patofisiologi IUGR bersifat multifaktorial. Mekanisme utama yang sering hadir: Insufisiensi plasenta (plasental) — kerusakan atau gangguan vascularisasi plasenta → aliran darah uteroplacental menurun → asupan oksigen dan nutrisi terhambat → penurunan pertumbuhan janin. Ini adalah penyebab tersering pada IUGR asimetris. Faktor maternal — hipertensi kronis, preeklampsia, penyakit jantung, malnutrisi kronis, mer...

Dexamethasone untuk Maturasi Paru Janin

Definisi Dexamethasone adalah glukokortikoid sintetik yang digunakan untuk mempercepat proses maturasi paru janin pada kehamilan prematur. Pemberian dexamethasone bertujuan untuk meningkatkan produksi surfaktan dalam paru janin, sehingga mengurangi risiko Sindrom Distres Pernapasan Neonatal (SDPN) yang terjadi pada bayi prematur. Penggunaan dexamethasone terutama dilakukan pada ibu hamil yang berisiko melahirkan sebelum usia kehamilan 34 minggu, dengan tujuan mengurangi morbiditas dan mortalitas neonatal terkait dengan masalah pernapasan. Farmakokonetik 1. Absorpsi: Dexamethasone diberikan melalui rute intravena (IV) atau intramuskular (IM). Setelah pemberian IM, obat ini dengan cepat diserap dan didistribusikan ke seluruh tubuh. 2. Distribusi: Dexamethasone memiliki distribusi yang luas ke dalam cairan ekstraseluler dan sistem saraf pusat. Obat ini dapat melintasi sawar plasenta dengan mudah dan mempengaruhi janin. 3. Metabolisme: Dexamethasone dimetabolisme di hati melalui enzim P450...