Langsung ke konten utama

Cervisitis kronik: Peradangan kronik pada Mulut Rahim

 Cervicitis kronik adalah inflamasi serviks yang berlangsung persisten atau berulang, umumnya dengan derajat inflamasi ringan–sedang namun berlangsung lama, seringkali tanpa gejala akut yang mencolok. Secara klinis, kondisi ini sering ditemukan pada praktik ginekologi sehari-hari dan berkaitan erat dengan infeksi persisten, iritasi kronik, atau perubahan mikrobioma servikovaginal.


1. Etiologi dan Faktor Risiko

Secara patofisiologi, cervicitis kronik merupakan hasil interaksi antara agen infeksius, faktor mekanik, dan respons imun lokal:

a. Infeksi persisten

  • Chlamydia trachomatis (paling sering, sering subklinis)
  • Neisseria gonorrhoeae
  • Mycoplasma genitalium
  • Ureaplasma urealyticum
  • Infeksi virus seperti Human papillomavirus (berkaitan dengan perubahan epitel kronik)

b. Non-infeksi

  • Iritasi kronik: IUD, tampon, bahan kimia (douching)
  • Trauma serviks (persalinan, prosedur)
  • Ektopi serviks (ectropion) → paparan epitel kolumnar
  • Gangguan mikrobiota vagina (bacterial vaginosis)

2. Patofisiologi

  • Paparan antigen kronik → aktivasi imun lokal
  • Infiltrasi sel inflamasi (limfosit, plasma cell)
  • Produksi sitokin proinflamasi (IL-1, IL-6, TNF-α)
  • Remodeling jaringan → hipertrofi, fibrosis ringan
  • Metaplasia skuamosa sebagai respons protektif

Pada kondisi persisten, terjadi:

  • Disrupsi barrier mukosa serviks
  • Peningkatan kerentanan terhadap ascending infection → risiko Pelvic Inflammatory Disease

3. Gambaran Klinis

Sering asimtomatik, atau gejala ringan kronik:

  • Keputihan mukopurulen
  • Postcoital bleeding
  • Dispareunia ringan
  • Spotting intermenstrual

Temuan pemeriksaan:

  • Serviks tampak eritem, edema ringan
  • Ektopi serviks
  • Sekret mukopurulen dari ostium
  • Friability (mudah berdarah)

4. Diagnosis

Pendekatan berbasis klinis + etiologis:

a. Pemeriksaan fisik

  • Inspeksi serviks dengan spekulum

b. Pemeriksaan penunjang

  • NAAT (Nucleic Acid Amplification Test) → gold standard untuk:
    • Chlamydia trachomatis
    • Neisseria gonorrhoeae
  • Pap smear:
    • Menunjukkan inflamasi kronik (tidak spesifik)
  • Kultur bila tersedia
  • Tes tambahan:
    • HIV, sifilis (screening IMS)

5. Diagnosis Banding

  • Vaginitis (Candida, BV, Trichomonas)
  • Lesi pra-maligna serviks (CIN)
  • Karsinoma serviks awal
  • Polip serviks

6. Tatalaksana

Pendekatan etiologis + empiris:

a. Terapi empiris (bila etiologi belum pasti)

  • Antibiotik spektrum IMS:
    • Azitromisin atau doksisiklin
    • +/− ceftriaxone jika curiga gonore

b. Terapi spesifik

  • Berdasarkan hasil NAAT/kultur
  • Terapi pasangan seksual

c. Non-farmakologis

  • Edukasi seksual aman
  • Hindari iritan lokal
  • Follow-up untuk memastikan resolusi

7. Komplikasi

Jika tidak ditangani:

  • Pelvic Inflammatory Disease
  • Infertilitas (akibat kerusakan tuba)
  • Kehamilan ektopik
  • Persistent HPV infection → risiko neoplasia serviks

8. Prognosis

  • Baik jika etiologi teridentifikasi dan diterapi adekuat
  • Rekurensi mungkin terjadi bila faktor risiko tidak dieliminasi

Perspektif Klinis (Level Konsultan)

Dalam praktik, cervicitis kronik sering merupakan:

  • Manifestasi low-grade persistent infection
  • Marker disbiosis genital tract
  • “Entry point” untuk ascending infection

Pendekatan modern menekankan:

  • NAAT-based diagnosis
  • Partner management
  • Integrasi dengan skrining kanker serviks (Pap + HPV testing)

Referensi (Vancouver)

  1. Cunningham FG, et al. Williams Gynecology. 4th ed. McGraw-Hill; 2020.
  2. Brunham RC, Gottlieb SL, Paavonen J. Pelvic inflammatory disease. N Engl J Med. 2015;372:2039–48.
  3. Workowski KA, Bachmann LH. Sexually transmitted infections treatment guidelines. MMWR Recomm Rep. 2021.
  4. Berek JS. Berek & Novak’s Gynecology. 16th ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2020.
  5. Sweet RL. Pelvic inflammatory disease: current concepts. Infect Dis Obstet Gynecol. 2012.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Sahabat, Teman, Kolega

Nak, Suatu saat nanti. Kamu akan menemukan titik jenuh berhubungan dengan orang yang diluar keluargamu.  Nanti akan kamu sadari bahwa akan ada sahabat, ada teman, dan ada kolega saja. Rekan kerjamu, orang yang tersenyum manis di depanmu, orang yang mengiyakanmu karena gelarmu, jabatanmu, labelmu. Mereka lah kolegamu. Don't bring them home, don't bring them privately. Mereka adalah orang orang yang memakai topeng di depanmu. Mereka menjawab iyamu karena tahu, ketika harus menolakmu menyanggahmu, mereka takut. mereka tak punya pilihan lain bagimu. Kamu cukup memberikan porsi hidupmu kepada mereka saat di lingkungan kerja saja, dan bukan hakmu untuk tahu kehidupan mereka di luar sana. Temanmu, adalah orang yang kenal kamu dan mereka yang memang mencoba memahamimu, ingin kebaikan juga tercurah kepadamu. Temanmu adalah mereka yang membersamaimu didalam senangmu, di dalam sedihmu mereka mencoba untuk terlihat peduli kepadamu. Temanmu adalah bentuk setingkat diatas kolega. Jika kamu m...