Langsung ke konten utama

Selective Intrauterine Growth Restriction (sIUGR / sFGR) dan Twin-to-Twin Transfusion Syndrome (TTTS).

 

1. Selective Intrauterine Growth Restriction (sIUGR / sFGR)

1.1 Definisi

Selective fetal growth restriction (sFGR atau sIUGR) adalah kondisi pada kehamilan kembar monokorionik (biasanya MCDA) di mana salah satu janin tumbuh signifikan lebih kecil dibandingkan janin kembar lain, biasanya didefinisikan sebagai EFW (estimated fetal weight) janin kecil < 10th percentile atau abdominal circumference (AC) <10th percentile pada usia gestasi yang sama, sering disertai perbedaan berat janin (discordance) yang klinis bermakna. sFGR terjadi pada ~10–15% kehamilan MCDA. 


1.2 Patofisiologi

Penyebab utama sFGR adalah pembagian plasenta yang tidak merata (unequal placental sharing) dan hubungan anastomosis vaskuler antar janin. Tergantung konfigurasi anastomosis (arterio-arterial, veno-venous, arterio-venous) dan luas daerah yang dimiliki tiap janin, sFGR dapat menunjukkan pola hemodinamik yang berbeda. Gratacós dan kolega mengelompokkan sFGR menjadi tipe berdasarkan pola Doppler umbilical artery (UA):

Tipe I: Doppler UA normal — prognosis umumnya baik.

Tipe II: Absent/Reversed end-diastolic flow (AEDF/REDF) persistenn — risiko kematian intrauterin tinggi.

Tipe III: Fluktuatif (intermittent) AEDF/REDF karena adanya arterio-arterial anastomosis — perilaku klinis tidak dapat diprediksi. 

1.3 Tanda dan gejala (klinis)

Tidak spesifik secara maternal — sering terdeteksi melalui USG rutin: perbedaan ukuran/biometri antar janin.

Janin donor/lebih kecil: oligohidramnion relatif (kurang cairan), gerak janin mungkin menurun jika berat badan sangat rendah atau ada kompromi sirkulasi. 

1.4 Kriteria diagnosis

Kriteria yang umum dipakai (variasi menurut guideline/penelitian):

EFW atau AC salah satu janin <10th centile dan/atau perbedaan berat janin (discordance) ≥25–30%.

Pendukung: Doppler abnormal (UA AEDF/REDF) pada janin kecil, atau klasifikasi Gratacós (Tipe I–III). 

1.5 Cara penegakkan diagnosis (algoritma singkat)

1. Konfirmasi khorionisitas (MC vs DC) pada trimester I.

2. Serial USG biometri (EFW, AC) dan penghitungan discordance.

3. Pemeriksaan Doppler: UA, middle cerebral artery (MCA), ductus venosus (DV) pada kedua janin.

4. Klasifikasi tipe sFGR (Gratacós) berdasarkan pola UA.

5. Rujuk ke pusat fetomaternal jika ada UA AEDF/REDF, disritmia perkembangan, atau penurunan cepat. 


1.6 Pemeriksaan penunjang (dan gambaran hasil)

USG 2D / biometri: EFW janin kecil <10th centile; discordance berat (mis. >25–30%).

Doppler UA: normal (tipe I) / AEDF atau REDF (tipe II) / fluktuatif (tipe III).

Doppler MCA: dapat menunjukkan perubahan komponen cerebral redistribution pada janin yang terhambat.

Doppler DV: gangguan DV = risiko kematian atau asfiksia lebih tinggi.

Fetal echocardiography: dilakukan jika ada tanda hidrops atau disfungsi kardiak.

Pemantauan serial setiap 1–2 minggu tergantung tipe; pengambilan keputusan terapi (konservatif, iatrogenic delivery, atau intervensi seperti laser/sepasi) berdasarkan perkembangan. 

---

2. Twin-to-Twin Transfusion Syndrome (TTTS)


2.1 Definisi

TTTS adalah komplikasi khas kehamilan monokorionik yang disebabkan oleh pertukaran darah kronis yang tidak seimbang melalui anastomosis vaskular plasenta, sehingga satu janin menjadi donor (hipovolemia, oligohidramnion) dan satu menjadi recipient (hipervolemia, polyhydramnios). Terjadi paling sering pada usia gestasi 16–26 minggu. Prevalensi sekitar 8–15% dari kehamilan MCDA menurut studi/guideline. 


2.2 Patofisiologi

Vaskular anastomosis pada plasenta monokorionik (AV, AA, VV) menyebabkan aliran darah antar sirkulasi janin. Bila pertukaran bersifat unbalanced (lebih dari kompensasi), donor kehilangan volume → oliguria → oligohydramnios; recipient menerima kelebihan volume → polyuria → polyhydramnios, dan dapat berkembang menjadi kardiomegali, hidrops, atau edema paru. Long-term, TTTS dapat menyebabkan morbiditas neurologik. 


2.3 Tanda dan gejala (klinis)

Perubahan signifikan pada USG: satu kantung amniotik sangat kecil (DVP/Dmax <2 cm) dan yang lain berlebihan (DVP >8 cm sebelum 20 minggu atau >10 cm setelah 20 minggu — kriteria DVP sedikit bervariasi antar guideline).

Ibu: pembesaran uterus cepat jika polyhydramnios.

Janin recipient: cardiomegaly, trikuspid regurgitation, hidrops.

Janin donor: kecil, tampak ‘stuck’ pada dinding uterus (stuck twin) karena oligohidramnion. 


2.4 Kriteria diagnosis & staging

Diagnosis TTTS klasik berdasarkan kriteria Quintero:

Stage I: oligohydramnios pada donor (DVP ≤2 cm) dan polyhydramnios pada recipient (DVP ≥8 cm) dengan visualisasi kandung kemih donor.

Stage II: kandung kemih donor tidak terlihat.

Stage III: abnormal Doppler (AEDF/REDF, abnormal MCA/MV/DV).

Stage IV: hidrops pada salah satu atau kedua janin.

Stage V: kematian janin satu atau kedua.

(Staging membantu keputusan terapi; beberapa guideline modern merekomendasikan penanganan lebih individual.) 

2.5 Cara penegakkan diagnosis (algoritma singkat)

1. Konfirmasi chorionicity (harus MC).

2. USG lengkap: biometri, DVP/AFI tiap kantung, visualisasi kandung kemih kedua janin.

3. Doppler (UA, MCA, DV) dan fetal echocardiography pada recipient.

4. Staging Quintero.

5. Rujukan cepat ke pusat fetomaternal jika TTTS terdiagnosis — pertimbangkan fetoscopic laser photocoagulation (FLP) untuk stage ≥II (terutama <26–28 minggu). Alternatif sementara: amnioreduction untuk gejala ibu atau untuk menunda sampai dapat menjalani FLP. 

2.6 Pemeriksaan penunjang (dan gambaran hasil)

USG 2D / AFI/DVP: donor DVP ≤2 cm; recipient DVP ≥8–10 cm tergantung usia gestasi.

Doppler: dapat menunjukkan abnormalitas pada UA/MCA/DV pada stage lebih lanjut (mis. AEDF/REDF, penurunan MCA-PSV pada recipient atau peningkatan pada donor jika anemia/TAPS).

Fetal echocardiography: cardiomegaly, regurgitasi valvular pada recipient.

MCA-PSV: terutama dipakai untuk screening TAPS (twin anemia-polycythaemia sequence).

MRI: kadang digunakan untuk evaluasi otak bila dicurigai cedera neurologis. 

---

3. Perbedaan klinis penting (ringkasan cepat)

Etiologi utama:

sFGR = unequal placental sharing → pertumbuhan satu janin terhambat.

TTTS = unbalanced transfusi melalui anastomosis → donor/recipient dengan perubahan volume. 


Temuan cairan amnion:

sFGR: bisa ada oligohidramnion pada janin kecil, namun tidak selalu disertai polyhydramnios pada kembar lainnya.

TTTS: klasik oligohydramnion + polyhydramnios pada pasangan janin. 


Doppler & prognosa:

sFGR tipe II/III dapat menunjukkan UA AEDF/REDF dan berisiko tinggi → perlu tindakan atau rujukan.

TTTS: Doppler abnormal sering berkaitan dengan stadium lanjut dan keputusan intervensi (FLP). 

---

4. Catatan manajemen singkat

Kedua kondisi memerlukan pemantauan serial oleh tim fetomaternal.

TTTS stage II–IV pada usia pranatal yang dapat diselamatkan: fetoscopic laser photocoagulation (FLP) pada anastomosis adalah terapi pilihan pertama di pusat rujukan; amnioreduction bersifat sementara/penunjang. 

---

Referensi

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, Sheffield JS. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.

2. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; (edisi sesuai cetakan tersedia).

3. American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 231: Multifetal Gestations: Twin, Triplet, and Higher-Order Multifetal Pregnancies. Obstet Gynecol. 2021 Jun;137(6):e1–39.

4. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Management of Monochorionic Twin Pregnancy (Green-top Guideline No. 51). London: RCOG; partial update 2024.

5. ISUOG Practice Guidelines: The role of ultrasound in twin pregnancy. Ultrasound Obstet Gynecol. 2024; (updated guideline).

6. Gratacós E, et al. Selective intrauterine growth restriction in monochorionic twin pregnancies: classification and management (key reviews). AJOG. (see: Selective IUGR type descriptions).

7. Lopriore E, et al. Selective fetal growth restriction in monochorionic diamniotic twins. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2013–2024 (review articles summarizing incidence, Doppler types).

8. Society for Maternal-Fetal Medicine (SMFM). Consult Series / Special Statement: Management of monochorionic twin pregnancy and TTTS; 2023–2024 updates.

9. Khalil A, Figueras F, Hecher K, et al. Diagnosis and management of selective fetal growth restriction in monochorionic twins. BJOG/Ultrasound Obstet Gynecol. 2024; (recent review).

10. Fetal Medicine Foundation / Guideline on TTTS and FLP (Barcelona/Euro fetal guidelines). Guidelines for diagnosis and management of TTTS. 2023–2024.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...