Langsung ke konten utama

Sifilis dalam Kehamilan

 

1. Definisi

Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Dalam konteks kehamilan, infeksi maternal dapat ditularkan secara vertikal ke janin melalui plasenta (mother-to-child transmission, MTCT), menyebabkan morbiditas dan mortalitas perinatal (abortus, stillbirth, kelahiran prematur, pertumbuhan intrauterin terhambat, serta sifilis kongenital). 

---

2. Patofisiologi (ringkas)

1. Invasif & hemato­gen: T. pallidum menginvasi mukosa/lesi kulit pada ibu, memasuki aliran darah, dan menyebar secara sistemik.

2. Transplasental: Pada kehamilan, organisme dapat melintasi plasenta—risiko penularan meningkat pada stadium sifilis awal/aktif karena titer bakteri lebih tinggi.

3. Kerusakan janin: Infeksi janin menimbulkan peradangan pada jaringan janin (placenta, hati, paru, tulang) → dapat menyebabkan kematian janin intrauterin, kelainan struktural (lesi tulang), dan manifestasi neonatal seperti rhinitis “snuffles” dan hepatitis. 

---

3. Tanda dan gejala

Pada ibu

Primer: chancre (ulkus singkat, tidak nyeri) pada genital/area inokulasi; regional lymphadenopathy.

Sekunder: ruam tubuh (termasuk telapak tangan/soles), lesi mukosa, condyloma lata, demam, malaise, adenopati.

Laten & terlambat: sering asimptomatik; komplikasi kardiovaskular/neurologis muncul pada stadium lanjut (tidak umum selama kehamilan per se).

Catatan: pada kehamilan gejala sering tidak khas atau terabaikan → banyak kasus baru terdeteksi hanya lewat skrining. 

Pada janin/neonatus (sifilis kongenital)

In utero: IUFD (fetal death), IUGR, prematuritas.

Neonatal awal: hidung berair/bersisik (“snuffles”), hepatosplenomegali, ruam, anemia, trombositopenia, hepatitis, lesi tulang (radiologis: “moth-eaten” lytic lesions).

Late congenital (setelah 2 tahun): gigi Hutchinson, gangguan pendengaran, neurosifilis, bone deformities. 

---

4. Kriteria diagnosis (ringkas & praktis)

Diagnosis sifilis pada kehamilan umumnya berdasarkan kombinasi anamnesis, pemeriksaan serologi (skrining + konfirmasi), dan—jika perlu—pemeriksaan tambahan (TP-PA/FTA-ABS atau PCR/toksikologi di kasus tertentu). Kriteria penting:

Tes skrining reaktif (nontreponemal test: VDRL/ RPR) disertai konfirmasi treponemal (TP-PA/FTA-ABS/enzymatic treponemal) → diagnosis serologis sifilis aktif/past infection ditentukan oleh pola kedua tes tersebut.

Klasifikasi stadium (primer/sekon­der/late/latency) menggunakan riwayat klinis, titer nontreponemal (RPR/VDRL), dan pemeriksaan sebelumnya.

Untuk penentuan apakah janin terinfeksi: kombinasi titer ibu (peningkatan 4× pada nontreponemal vs sebelumnya), temuan obstetrik (IUGR, hidramnion), atau pemeriksaan bayi setelah lahir. 

---

5. Cara penegakkan diagnosis (langkah klinis)

1. Skrining awal: semua wanita hamil harus disaring pada kunjungan antenatal pertama (universal screening). Ulang skrining di trimester ketiga dan saat persalinan bagi populasi berisiko tinggi atau di area dengan prevalensi meningkat. 

2. Jika skrining reaktif (VDRL/RPR positif) → lakukan tes treponemal konfirmasi (TP-PA/FTA-ABS atau rapid treponemal test yang tervalidasi).

3. Penentuan stadium & titer: ukur titer nontreponemal (RPR/VDRL) untuk penilaian aktivitas penyakit dan pemantauan respons terapi.

4. Evaluasi partner & lingkungan: pemeriksaan dan terapi pasangan seksual wajib.

5. Jika alergi penisilin: untuk ibu hamil, desensitisasi penisilin dianjurkan jika alternatif tidak dapat menjamin terapi janin—karena hanya benzathine penicillin G telah terbukti efektif mencegah MTCT secara andal. 

---

6. Pemeriksaan penunjang (dan gambaran hasil yang diharapkan)

1. Nontreponemal tests

VDRL / RPR: kuantitatif; sensitivitas relatif tinggi pada tahap sekunder, lebih rendah di laten awal/terlambat. Hasil positif menunjukkan aktivitas penyakit; titer dipakai untuk memantau terapi (contoh: penurunan 4× titer dalam 6–12 bulan menandakan respons adekuat).

Gambaran: positif dengan titer tertentu (mis. RPR 1:32 pada penyakit aktif); setelah terapi efektif, titer menurun bertahap. 

2. Treponemal tests

TP-PA / FTA-ABS / treponemal EIA/CLIA: lebih spesifik; biasanya tetap positif seumur hidup sehingga tidak cocok untuk memantau terapi.

Gambaran: positif menegakkan paparan/infeksi Treponema sebelumnya atau saat ini. 

3. USG obstetrik (fetal ultrasound)

Indikasi: jika ibu belum diobati atau titer tinggi/penyakit aktif → cari tanda IUGR, hidramnion, efusi pleura/perikardial, perubahan tulang fetal.

Gambaran: IUGR, polisomnia/hidramnion, lesi tulang fetal (pada kasus lanjut). 

4. Pemeriksaan pasca-lahir (neonatal)

Serologi bayi (VDRL/RPR dan treponemal tests), pemeriksaan fisik lengkap, CBC, LFT, radiografi tulang panjang, cairan serebrospinal jika dicurigai neurosifilis.

Gambaran: bayi dengan sifilis kongenital sering memiliki VDRL/RPR positif; perubahan radiologis pada tulang (moth-eaten lesions) khas pada beberapa kasus. 

5. Pemeriksaan tambahan

Jika dicurigai neurosifilis: LP (CSF) — pleocytosis, protein tinggi, dan reaktif VDRL pada CSF kemungkinan besar menunjukkan neurosifilis.

Catatan laboratorium: treponemal tests tetap positif seumur hidup; nontreponemal tests digunakan untuk memantau perbedaan titer dan efektivitas terapi. 

---

7. Terapi singkat (untuk konteks klinis; rujuk panduan resmi untuk dosis lengkap)

Benzathine penicillin G adalah terapi pilihan dan satu-satunya yang telah terbukti mencegah penularan ke janin secara efektif.

Stadium dini/primer/sekunder/latensi awal: 2.4 juta IU IM sekali.

Late latent / durasi tidak diketahui: 2.4 juta IU IM setiap minggu x 3 minggu.

Jika alergi penisilin: pada ibu hamil dianjurkan desensitisasi terhadap penisilin lalu terapi dengan benzathine penicillin; karena alternatif oral/parenteral lain tidak menjamin perlindungan janin. 

---

8. Pencegahan & rekomendasi program

Skrining universal pada kunjungan antenatal pertama; ulang skrining pada trimester III atau saat persalinan pada populasi berisiko tinggi. 

Pengobatan tepat waktu ibu dapat mencegah mayoritas kasus sifilis kongenital; oleh karenanya program triple elimination (HIV–sifilis–HBV) dan upaya peningkatan cakupan skrining/terapi penting untuk menurunkan beban penyakit (catatan: cakupan skrining di beberapa wilayah Indonesia masih rendah). 

---

9. Catatan penting untuk penulisan ilmiah / skripsi

Gunakan definisi diagnosis laboratorium (kombinasi VDRL/RPR + TP-PA/FTA-ABS) sebagaimana dipaparkan panduan WHO/CDC/ACOG.

Saat melaporkan hasil penelitian: laporkan metode skrining (rapid test vs lab-based), titer nontreponemal, dan apakah ada konfirmasi treponemal; jelaskan pula kapan terapi diberikan relatif terhadap usia gestasi (karena waktu pengobatan mempengaruhi outcome janin). 

---

Referensi

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Dashe JS, Hoffman BL, Spong CY, Casey BM, editors. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2022.

2. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan (Sarwono Prawirohardjo). Edisi ke-4. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2016.

3. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Screening for Syphilis in Pregnancy. Practice advisory. 2024 Apr 4. Available from: ACOG clinical guidance (Accessed 2025 Oct). 

4. Stafford IA, Workowski KA, Bachmann LH. Syphilis Complicating Pregnancy and Congenital Syphilis. N Engl J Med. 2024;390(3):242–253. doi:10.1056/NEJMra2202762. 

5. World Health Organization. WHO guidelines on syphilis screening and treatment for maternal and congenital syphilis. 2017. Geneva: WHO. Available from: WHO publications. 

6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Syphilis During Pregnancy — STI Treatment Guidelines. 2021 Jul 22. Available from: CDC website. 

7. Silverstein M, et al. Screening for Syphilis Infection During Pregnancy: US Preventive Services Task Force Review. JAMA. 2025; (screening evidence review). 

8. Gilmour L, et al. Congenital Syphilis: a Review of Global Epidemiology. Lancet Infect Dis / Public Health Review / PMC 2023. (review on global status of MTCT of syphilis). 

9. Wulandari LPL, et al. Experiences from Indonesia: Coverage & challenges of antenatal testing for HIV, syphilis, hepatitis B. BMC/PMC article. 2024. (Paparan tentang rendahnya cakupan skrining di Indonesia dan implikasi program). 

10. Iskandar I, et al. Sifilis pada Kehamilan. Galenical: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. 2023; (artikel tinjauan/ilmiah lokal). Available: Unimal OJS. 

11. Armini LN, et al. Evaluation of Process Indicators and Challenges of the Triple Elimination Programme for Mother-to-Child Transmission in Denpasar. Infect Dis (MDPI). 2023;8(11):492. 

12. British Association for Sexual Health and HIV (BASHH). Guidelines for the management of syphilis in pregnancy and children. 2024. (UK guidance / BASHH). 

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Perlu

Suatu hari nak.. Jika kamu menyalahkan orang lain atas keadaanmu.. Jika kamu menyalahkan situasi atas kejadian yang terjadi pada dirimu... Ingatlah selalu... Dunia ini tidak hanya berpusat kepada dirimu... Kehidupanmu lah yang membuat dunia terasa bergerak pada dirimu.. Bukan Bapak memintamu untuk menyalahkan hidupmu, tetapi Bapak minta kamu berjalan bergeraklah dengan kehidupanmu itu untuk mengubah apa yang terjadi kepadamu... Mungkin ada hal yang bisa bapak ajarkan kepadamu.. Mungkin ada hal yang sempat bisa bapak contohkan kepadamu.. Tetapi masih ada banyak hal... Ada banyak ilmu.. Ada banyak pelajaran yang selalu bisa kamu pahami dan pelajari sendiri kelak.. Ingatlah selalu.. Kita bertanggungjawab atas hidup kita sendiri.. atas apa yang kita pilih.. kita lakukan.. Kita bisa sedih karena orang lain.. Kita bisa kecewa karena perbuatan orang lain.. Bahkan kita pun bisa ikut bahagia hanya karena orang lain bahagia... Lalu, kenapa bisa begitu? Itulah tadi.. Pilihanmu untuk b...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...

IUGR (Intrauterine Growth Restriction / Fetal Growth Restriction) .

1. Definisi IUGR atau Fetal Growth Restriction (FGR) adalah kondisi di mana janin gagal mencapai potensi pertumbuhan intrauterin yang diharapkan untuk usia gestasinya. Secara praktis sering didefinisikan sebagai estimated fetal weight (EFW) < 10th percentile untuk usia kehamilan; tetapi perlu dibedakan dari small for gestational age (SGA) karena tidak semua SGA adalah patologis (konstitusional). Pedoman internasional juga membedakan IUGR ringan/sedang dan berat (mis. EFW < 3rd centile atau bukti disfungsi hemodinamik/abnormal Doppler). 2. Patofisiologi — ringkasan Patofisiologi IUGR bersifat multifaktorial. Mekanisme utama yang sering hadir: Insufisiensi plasenta (plasental) — kerusakan atau gangguan vascularisasi plasenta → aliran darah uteroplacental menurun → asupan oksigen dan nutrisi terhambat → penurunan pertumbuhan janin. Ini adalah penyebab tersering pada IUGR asimetris. Faktor maternal — hipertensi kronis, preeklampsia, penyakit jantung, malnutrisi kronis, mer...