Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

forceps delivery (operatif vaginal dengan forceps)

  Forceps Delivery — Indikasi, Teknik, dan Komplikasi 1. Definisi Forceps delivery adalah prosedur operative vaginal birth menggunakan instrumen logam dua bilah (left & right blade) yang dikaitkan pada kepala janin untuk: memberi traksi terkontrol , membantu rotasi bila diperlukan, mempercepat lahirnya kepala janin pada kala II persalinan ketika persalinan spontan tidak progresif, namun persalinan vaginal masih layak dan aman. Forceps dapat bersifat: traction forceps (mis. Simpson) rotational forceps (mis. Kielland) 2. Klasifikasi Tingkat Forceps (berdasarkan station & posisi kepala) Outlet forceps Kepala terlihat di introitus Scalp tampak tanpa perlu retraksi Station perineal (+4 sampai +5) Low forceps Station ≥ +2 Posisi kepala bisa ROA/LOA/OP/OT Midforceps Station 0 sampai +1 Dilakukan hanya oleh operator sangat berpengalaman High forceps Tidak lagi dianjurkan (harus dilakukan seksio sesarea) Rujukan utama klasifikasi ...

vacuum-assisted (ventouse) delivery

  1. Definisi dan Konsep Vacuum-assisted vaginal delivery (Ventouse) adalah bentuk operatif vaginal delivery (OVD) di mana sebuah cup vakum diaplikasikan pada kepala janin untuk membantu ekspulsinya melalui pelvis ketika persalinan spontan tidak progresif tetapi masih memungkinkan persalinan pervaginam. Secara historis, ventouse adalah alat yang memanfaatkan tekanan negatif untuk mengikat cup ke kulit kepala janin dan menerapkan traksi terkontrol searah dengan kurva pelvis untuk membantu descendens kepala. 2. Indikasi OVD — Bila Ventouse Dipertimbangkan Instrumentasi vaginal hanya dilakukan jika indikasi klinis kuat dan semua syarat sudah terpenuhi. Di antaranya: 2.1 Indikasi Fetal Gawat janin akut atau potensial , misalnya perubahan abnormal pada detak jantung janin yang mengindikasikan kebutuhan persalinan cepat. 2.2 Indikasi Maternal Kegagalan progresi kala II dengan serviks sudah lengkap dilatasi. Kelelahan ibu atau kesulitan mengejan pada fase II. Kondisi ma...

Ruptur Uteri Imminens (impending uterine rupture)

 1. Definisi Ruptur uteri imminens adalah keadaan ancaman ruptur uterus yang ditandai oleh pelemahan ekstrem dinding uterus (terutama segmen bawah) dengan tanda klinis khas, namun belum terjadi robekan dinding uterus . Kondisi ini harus dipandang sebagai kegawatdaruratan intrapartum karena berpotensi berkembang menjadi: ruptur uteri inkomplet/komplet perdarahan masif hipoksia janin morbiditas maternal dan perinatal berat Istilah berbeda: Istilah Makna Ruptur imminens Ancaman ruptur, belum robek Ruptur inkomplet Robekan tidak sampai peritoneum Ruptur komplet Robekan seluruh lapisan uterus sampai peritoneum 2. Patofisiologi Penyebab utama ialah ketidakseimbangan antara kekuatan kontraksi uterus dan daya tahan dinding uterus , terutama pada: segmen bawah uterus yang menipis bekas luka operasi uterus sebelumnya Mekanisme umum: His kuat, frekuensi sering (hiperstimulasi / obstruksi persalinan) Segmen bawah teregang berlebihan Terjadi penipis...

Placenta Previa dan Solusio Plasenta (Abruptio Placentae)

  1. Definisi Placenta previa Implantasi plasenta pada segmen bawah uterus sehingga menutupi atau berada dekat ostium uteri internum (OUI). Klasifikasi modern menggunakan istilah: Placenta previa totalis → menutupi seluruh OUI Parsialis → menutupi sebagian OUI Marginalis → tepi plasenta mencapai OUI Low-lying placenta → tepi plasenta < 2 cm dari OUI Solusio plasenta (Abruptio placentae) Terlepasnya plasenta yang implantasinya normal dari dinding uterus sebelum persalinan janin , menyebabkan perdarahan retroplasenta. Diklasifikasikan berdasarkan derajat klinis (Ringkas): Ringan (kelas 1) → perdarahan minimal, tanpa gangguan hemodinamik Sedang (kelas 2) → distress janin, takikardia maternal, nyeri uterus Berat (kelas 3) → perdarahan masif / IUFD / koagulapati 2. Perbedaan Patofisiologi Aspek Placenta previa Solusio plasenta Lokasi implantasi Segmen bawah uterus Lokasi normal, tetapi terjadi pelepasan prematur Mekanisme utama Peregangan...

Morbidly Adherent Placenta Score (MAP score) dan Placenta Accreta Index (PAI) / Placenta Accreta Index Scoring

  1. Konsep Klinis Singkat PAS mencakup: Placenta accreta Increta Percreta Dua skor berikut dikembangkan untuk prediksi prenatal berbasis ultrasonografi pada pasien risiko tinggi: Skor Tujuan Basis Penilaian MAP Score Skrining PAS pada wanita dengan riwayat SC USG grayscale + klinis Placenta Accreta Index (PAI) Prediksi probabilitas PAS dengan nilai numerik Kombinasi klinis + USG Keduanya tidak menggantikan penilaian ahli, tetapi membantu: • seleksi rujukan ke pusat rujukan PAS • perencanaan operasi (tim multidisiplin, kesiapan darah, teknik histerektomi) • pengambilan keputusan timing persalinan 2. Morbidly Adherent Placenta (MAP) Score Awalnya diperkenalkan untuk mendeteksi PAS pada: plasenta anterior / previa dengan riwayat seksio sesarea berulang 🔹 Parameter Penilaian (umumnya 0–2 tiap komponen) Riwayat seksio sesarea Plasenta previa / letak rendah Loss of clear zone Presence of placental lacunae Interruption of bladder line Inc...

Perbandingan FIGO Lama (2009) vs FIGO 2018 – Kanker Serviks

Perubahan FIGO 2018 merupakan revisi besar yang bertujuan meningkatkan akurasi staging, korelasi prognosis, dan pemilihan terapi , dengan memasukkan imaging dan status kelenjar getah bening (KGB) . Ini sangat sering keluar pada ujian, OSCE, dan praktik klinis . 1. Prinsip Dasar: Apa yang Berubah? Aspek FIGO Lama (2009) FIGO 2018 Sifat staging Klinis murni Klinis + imaging + patologi Imaging (MRI/CT/PET) ❌ Tidak dipakai ✔️ Diperbolehkan & dianjurkan Status KGB ❌ Tidak masuk staging ✔️ Masuk staging (IIIC) Ukuran tumor Terbatas ✔️ Lebih detail Relevansi prognosis Kurang presisi ✔️ Lebih akurat 2. Perbandingan Detail per Stadium STADIUM I IA (Mikroinvasif) Aspek FIGO 2009 FIGO 2018 IA1 Invasi ≤3 mm & lebar ≤7 mm Invasi ≤3 mm IA2 >3–5 mm & lebar ≤7 mm Invasi >3–5 mm Lebar horizontal Dipakai ❌ Dihapus 📌 Makna klinis : Lebar horizontal sulit direproduksi → dihapus. IB (Makroinvasif) FIGO 2009 F...

Staging Kanker Serviks (FIGO 2018)

  Berbeda dengan kanker ginekologi lain, staging kanker serviks bersifat klinis , namun sejak FIGO 2018 diperbolehkan dan dianjurkan menggunakan imaging (MRI, CT, PET-CT) serta temuan patologi kelenjar getah bening untuk meningkatkan akurasi. Rujukan utama: Williams Gynecology , Berek & Novak , dan konsensus FIGO 2018 . Prinsip Dasar FIGO 2018 Staging dapat ditentukan oleh: Pemeriksaan klinis Imaging Temuan histopatologi (khusus KGB) Keterlibatan kelenjar getah bening → stadium IIIC Stadium ditentukan oleh penyebaran anatomis , bukan ukuran tumor saja FIGO STAGING KANKER SERVIKS STADIUM I – Terbatas pada Serviks IA – Mikroinvasif (hanya mikroskopik) Tidak tampak secara klinis IA1 : Invasi stroma ≤3 mm kedalaman IA2 : Invasi stroma >3–5 mm Lebar horizontal tidak lagi digunakan dalam FIGO 2018 IB – Lesi Makroskopik / >IA IB1 : Tumor ≤2 cm IB2 : Tumor >2 cm – ≤4 cm IB3 : Tumor >4 cm STADIUM II – Meluas ke luar serviks, belum k...

Kanker Serviks (Carcinoma Cervicis Uteri)

  Definisi Kanker serviks adalah keganasan yang berasal dari epitel serviks uteri , terutama pada zona transformasi , dan hampir seluruh kasus berhubungan dengan infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi . Kanker ini berkembang perlahan melalui lesi prekursor (CIN/AIS) sebelum menjadi invasif. Epidemiologi Salah satu keganasan tersering pada wanita di negara berkembang Puncak usia: 45–55 tahun Tipe histologi: Karsinoma sel skuamosa (±70–80%) Adenokarsinoma (±20–25%) Etiologi & Faktor Risiko Etiologi Utama HPV risiko tinggi : HPV 16 (paling sering, skuamosa) HPV 18 (dominan pada adenokarsinoma) Faktor Risiko Hubungan seksual dini Multipartner seksual Paritas tinggi Merokok Imunosupresi (HIV) Tidak pernah skrining Patogenesis (Ringkas & Ilmiah) Infeksi HPV persisten Integrasi DNA HPV ke genom sel host Onkoprotein: E6 → inaktivasi p53 E7 → inaktivasi Rb Gangguan kontrol siklus sel Progresi: CIN → kanker serviks i...

Mengaitkan Hasil Kolposkopi dengan Keputusan ASCCP (Risk-Based Management)

  Pendekatan ASCCP 2019 (updated) tidak lagi berbasis “satu hasil → satu tindakan”, melainkan berbasis estimasi risiko CIN3+ dengan mengintegrasikan: Hasil skrining (sitologi & HPV) Hasil kolposkopi Histopatologi (bila ada) Riwayat sebelumnya Kolposkopi berperan sebagai penentu risiko aktual dan penentu langkah selanjutnya (observasi vs eksisi). 1. Prinsip Kunci ASCCP (WAJIB DIPAHAMI) Cut-off Risiko CIN3+ ≥4% → Kolposkopi ≥25% → Eksisional treatment acceptable ≥60% → Eksisional treatment preferred (tanpa biopsi dulu) ➡️ Hasil kolposkopi memodifikasi risiko awal 2. Langkah Sistematis Mengaitkan Kolposkopi ke Keputusan ASCCP STEP 1 – Tentukan Risiko Awal Berdasarkan: Sitologi (ASC-US, LSIL, HSIL, AGC) HPV (positif/negatif, HPV 16/18) STEP 2 – Interpretasi Hasil Kolposkopi (IFCPC) Hasil Kolposkopi Makna Biologis Normal / jinak Risiko turun Minor changes Risiko rendah Major changes Risiko tinggi Curiga invasif Risiko sangat ...

Interpretasi Hasil Kolposkopi (Pendekatan Sistematis & Klinis)

  Kolposkopi bertujuan untuk mengidentifikasi lesi pra-invasif dan invasif serviks , menentukan lokasi, derajat kecurigaan , serta menentukan titik biopsi . Interpretasi harus mengikuti terminologi standar IFCPC (International Federation for Cervical Pathology and Colposcopy) 2011 , yang juga dirujuk dalam Williams Gynecology dan guideline modern. 1. Langkah Awal Interpretasi Kolposkopi A. Adekuasi Kolposkopi Pertanyaan pertama (wajib): Apakah kolposkopi adekuat ? Kolposkopi adekuat bila: Zona transformasi (TZ) terlihat seluruhnya Squamocolumnar junction (SCJ) terlihat jelas Jika tidak adekuat → risiko lesi tersembunyi meningkat → ECC / konisasi diagnostik dipertimbangkan. 2. Tipe Zona Transformasi (TZ) Tipe TZ Deskripsi Implikasi TZ 1 SCJ seluruhnya ektoserviks Mudah dinilai TZ 2 Sebagian masuk kanalis Masih dapat dinilai TZ 3 SCJ tidak terlihat Risiko lesi tersembunyi ↑ ➡️ TZ 3 + sitologi abnormal → ECC wajib 3. Temuan Kolposkopi No...

Perbedaan CIN vs AIS (Cervical Precancer Lesions)

  CIN dan AIS sama-sama merupakan lesi prakanker serviks , namun berbeda asal epitel, biologi, risiko progresi, serta pendekatan klinis . Pembedaan ini sangat penting karena AIS jauh lebih berisiko dan memerlukan manajemen lebih agresif . 1. Definisi & Asal Epitel Aspek CIN (Cervical Intraepithelial Neoplasia) AIS (Adenocarcinoma in situ) Definisi Displasia epitel skuamosa serviks Lesi prakanker kelenjar endoserviks Asal epitel Epitel skuamosa Epitel glandular Lokasi utama Zona transformasi Kanal endoserviks Invasi stroma Tidak ada Tidak ada 2. Hubungan dengan HPV Aspek CIN AIS HPV risiko tinggi Ya Ya HPV tersering HPV 16, 18 HPV 18 (dominant) Pola infeksi Lokal, terdeteksi dini Sering skip lesion 3. Klasifikasi CIN CIN 1 → LSIL CIN 2–3 → HSIL AIS Tidak memiliki derajat bertingkat Satu kategori (lesi pra-invasif glandular) 4. Histopatologi (Perbedaan Kunci) Aspek CIN AIS Arsitektur Stra...

Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN)

  Definisi Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN) adalah lesi prekursor kanker serviks yang ditandai oleh perubahan displastik sel epitel skuamosa serviks , terbatas pada epitel , tanpa menembus membran basalis . CIN merupakan manifestasi infeksi Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi , terutama HPV 16 dan 18. Patogenesis (Berbasis Ilmiah) Infeksi HPV risiko tinggi pada zona transformasi Integrasi DNA HPV ke genom sel host Ekspresi onkoprotein: E6 → inaktivasi p53 E7 → inaktivasi Rb Gangguan kontrol siklus sel → displasia epitel Progresi bertahap dari CIN ringan ke berat Mayoritas CIN regresi spontan , terutama derajat rendah. Klasifikasi CIN (Histopatologi Klasik) CIN 1 (Displasia Ringan) Perubahan terbatas pada ⅓ basal epitel Koilositosis khas HPV ➡️ Setara dengan LSIL CIN 2 (Displasia Sedang) Perubahan hingga ⅔ ketebalan epitel Aktivitas mitosis meningkat ➡️ Termasuk HSIL CIN 3 (Displasia Berat / Karsinoma in situ) Kelainan mencakup ...

Staging Kanker Ovarium (FIGO Surgical Staging)

  Kanker ovarium menggunakan FIGO surgical staging , artinya stadium ditentukan berdasarkan temuan intraoperatif dan histopatologi , bukan klinis semata. Staging yang akurat sangat menentukan prognosis dan terapi adjuvan . Rujukan utama: Williams Gynecology , Berek & Novak , dan konsensus FIGO. Prinsip Dasar Staging Kanker Ovarium Dilakukan saat laparotomi/laparoskopi staging Meliputi: Evaluasi kedua ovarium Sitologi cairan peritoneum Biopsi peritoneum multipel Omentektomi Evaluasi KGB pelvis & paraaorta FIGO Staging Kanker Ovarium STADIUM I – Terbatas pada Ovarium/Tuba IA Satu ovarium/tuba Kapsul utuh Tidak ada tumor di permukaan Sitologi peritoneum negatif IB Kedua ovarium/tuba Kapsul utuh Sitologi negatif IC – Terbatas ovarium tetapi dengan risiko tambahan IC1 : Ruptur kapsul intraoperatif IC2 : Ruptur kapsul praoperatif atau tumor di permukaan ovarium IC3 : Sitologi peritoneum positif STADIUM II – Penyebaran ke Pelvis IIA Pen...

IETA (International Endometrial Tumor Analysis)

  Definisi IETA adalah sistem standarisasi terminologi dan interpretasi USG transvaginal untuk menilai endometrium dan kavum uteri , khususnya pada pasien dengan Abnormal Uterine Bleeding (AUB) dan Postmenopausal Bleeding (PMB) . IETA dikembangkan untuk meningkatkan akurasi deteksi keganasan endometrium dan membedakan lesi jinak vs ganas secara reproducible . IETA memiliki peran penting dalam: Skrining awal kanker endometrium Penentuan indikasi biopsi/histeroskopi Stratifikasi risiko pada PMB dan AUB perimenopause Prinsip Dasar IETA Evaluasi dilakukan dengan USG transvaginal (± Doppler) dan mencakup: Ketebalan endometrium Ekoktstur endometrium Batas endometrium–miometrium Kavum uteri Vaskularisasi (color Doppler) Parameter IETA Secara Sistematis 1. Endometrial Thickness (ET) Diukur pada potongan sagital tertebal. Kondisi Interpretasi PMB + ET ≤4 mm Risiko kanker sangat rendah PMB + ET >4 mm Indikasi biopsi Premenopause Tidak ada cu...

Endometrial Intraepithelial Neoplasia (EIN)

  Definisi Endometrial Intraepithelial Neoplasia (EIN) adalah lesi prekursor kanker endometrium tipe endometrioid yang ditandai oleh proliferasi klonal kelenjar endometrium dengan atipia sitologis dan arsitektural , tanpa invasi miometrium . EIN bukan sekadar hiperplasia , melainkan neoplasia pra-invasif . Konsep EIN menggantikan klasifikasi hiperplasia lama WHO 1994 karena lebih akurat memprediksi risiko kanker endometrium . Dasar Konseptual EIN Menurut Williams Gynecology dan WHO 2014: EIN adalah lesi monoklonal Merupakan stadium awal karsinogenesis endometrioid Berbeda secara biologis dari hiperplasia non-atipia Epidemiologi & Signifikansi Klinis Usia tipikal: perimenopause–awal pascamenopause Risiko: Ko-eksistensi kanker endometrium saat diagnosis EIN: 30–50% Progresi menjadi kanker dalam 1–5 tahun bila tidak ditatalaksana ➡️ Oleh karena itu, EIN diperlakukan secara klinis hampir setara dengan kanker stadium sangat dini . Patogenesis (Molekuler ...

Perbandingan Hiperplasia Endometrium vs Kanker Endometrium

  Perbedaan antara hiperplasia endometrium dan kanker endometrium sangat krusial karena menyangkut potensi progresi keganasan, pilihan terapi, serta implikasi fertilitas . Keduanya berada pada spektrum penyakit estrogen-dependent , terutama tipe endometrioid. 1. Definisi Aspek Hiperplasia Endometrium Kanker Endometrium Definisi Proliferasi kelenjar endometrium berlebihan tanpa invasi Proliferasi ganas dengan invasi stroma/miometrium Sifat Prekanker Keganasan 2. Patogenesis Aspek Hiperplasia Ca Endometrium Mekanisme Estrogen tanpa oposisi Transformasi maligna Progresi Dapat regresi / progresi Progresif Mutasi Awal (PTEN) PTEN, PIK3CA, KRAS, p53 3. Klasifikasi Histopatologi WHO 2014 Kategori Deskripsi Non-atipia Risiko kanker rendah Atipia / EIN Risiko tinggi Endometrial Intraepithelial Neoplasia (EIN) = lesi prekursor kanker endometrium 4. Risiko Progresi ke Kanker Jenis Hiperplasia Risiko Progresi...