Langsung ke konten utama

Cardiotokografi (CTG) dan Interpretasi

 


1. Definisi dan Tujuan CTG

Cardiotokografi (CTG) adalah metode pemantauan simultan:

  • Denyut jantung janin (Fetal Heart Rate / FHR)
  • Aktivitas uterus (kontraksi)

Tujuan utama:

  • Menilai oksigenasi dan integritas sistem saraf pusat janin
  • Mendeteksi hipoksia dan asidemia janin, terutama intrapartum

2. Komponen Dasar CTG (WAJIB DIINTERPRETASI BERURUTAN)

Interpretasi CTG selalu sistematis, meliputi:

  1. Baseline FHR
  2. Variabilitas
  3. Akselerasi
  4. Deselerasi
  5. Pola kontraksi uterus

3. Baseline Fetal Heart Rate

Definisi

Rata-rata FHR selama ≥10 menit, tidak termasuk akselerasi/deselerasi.

Baseline Interpretasi
110–160 bpm Normal
<110 bpm Bradykardia
>160 bpm Takikardia

Makna klinis:

  • Takikardia → hipoksia, infeksi, anemia, obat
  • Bradikardia → hipoksia berat, kompresi tali pusat

4. Variabilitas (PARAMETER TERPENTING)

Definisi

Fluktuasi FHR di sekitar baseline akibat keseimbangan simpatis–parasimpatis.

Variabilitas Amplitudo Makna
Normal 5–25 bpm Oksigenasi baik
Minimal <5 bpm Hipoksia / obat
Absent 0 bpm Asidemia
Marked >25 bpm Stres akut

➡️ Variabilitas normal = indikator paling kuat kesejahteraan janin.


5. Akselerasi

Definisi

Kenaikan FHR ≥15 bpm selama ≥15 detik (≥32 mg).

Makna:

  • Menunjukkan SSP dan oksigenasi janin baik
  • Tidak wajib ada pada CTG intrapartum

➡️ Kehadiran akselerasi = reassuring.


6. Deselerasi (BAGIAN PALING KRUSIAL)

A. Early Deceleration

  • Sinkron dengan kontraksi
  • Akibat kompresi kepala
  • Fisiologis / tidak berbahaya

B. Variable Deceleration

  • Onset cepat, bentuk V/U/W
  • Akibat kompresi tali pusat
  • Bahaya tergantung:
    • Frekuensi
    • Durasi
    • Kedalaman
    • Recovery

C. Late Deceleration (PALING BERBAHAYA)

  • Onset setelah puncak kontraksi
  • Akibat insufisiensi uteroplasenta
  • Menunjukkan hipoksia

➡️ Late deceleration berulang = indikasi intervensi segera.


D. Prolonged Deceleration

  • Penurunan FHR ≥15 bpm selama 2–10 menit
  • Menunjukkan hipoksia signifikan

7. Aktivitas Uterus

  • Normal: ≤5 kontraksi / 10 menit
  • Tachysystole:
    • 5 kontraksi / 10 menit

    • Risiko hipoksia janin

8. Klasifikasi CTG (FIGO 2015)

A. Normal

  • Baseline 110–160
  • Variabilitas 5–25
  • Tidak ada late/prolonged deceleration

➡️ Lanjutkan observasi rutin


B. Suspicious

  • Satu parameter abnormal
    • Variabilitas minimal
    • Variable deceleration ringan

➡️ Observasi ketat & koreksi penyebab


C. Pathological

  • Variabilitas absent
  • Recurrent late deceleration
  • Prolonged deceleration
  • Sinusoidal pattern

➡️ Resusitasi intrauterin + pertimbangkan terminasi


9. Pola CTG Khusus

A. Sinusoidal Pattern

  • Gelombang reguler, halus
  • Menunjukkan anemia janin berat
  • Prognosis buruk

B. Saltatory Pattern

  • Variabilitas sangat tinggi (>25 bpm)
  • Stres akut / hipoksia awal

10. Langkah Klinis Saat CTG Abnormal

Resusitasi Intrauterin:

  1. Posisi lateral kiri ibu
  2. Hentikan oksitosin
  3. Cairan IV
  4. Oksigen
  5. Tocolitik bila tachysystole

➡️ Bila tidak membaik → terminasi segera.


11. Hubungan CTG dengan Status Asam-Basa Janin

CTG Status Janin
Normal pH normal
Variabilitas ↓ Asidemia berkembang
Variabilitas absent + late decel Asidemia berat

12. Ringkasan High-Yield (OSCE & Ujian)

  1. Interpretasi CTG harus sistematis
  2. Variabilitas adalah parameter terpenting
  3. Late deceleration = insufisiensi plasenta
  4. Sinusoidal = anemia janin
  5. CTG patologis → intervensi segera

13. Klasifikasi CTG Kategori I – II – III

(Interpretasi Klinis & Tatalaksana – berbasis FIGO / NICHD)

Pembahasan berikut merangkum definisi, kriteria, makna fisiologis, dan langkah klinis untuk CTG kategori I, II, dan III, sebagaimana digunakan pada praktik intrapartum dan ujian klinis.


14. Prinsip Umum Klasifikasi

Klasifikasi CTG membagi rekaman menjadi:

  • Kategori I (Normal / Reassuring)
  • Kategori II (Indeterminate / Suspicious)
  • Kategori III (Abnormal / Pathological)

Tujuan utama:

Menilai risiko asidemia janin saat ini dan menentukan urgensi intervensi.


15. CTG Kategori I (Normal / Reassuring)

Kriteria

Semua poin harus terpenuhi:

  • Baseline FHR: 110–160 bpm
  • Variabilitas: Moderate (5–25 bpm)
  • Late deceleration: Tidak ada
  • Variable deceleration: Tidak ada (atau sporadik ringan)
  • Akselerasi: Ada atau tidak ada (tidak wajib)

Makna Klinis

  • Oksigenasi janin baik
  • Sistem saraf pusat utuh
  • Risiko asidemia sangat rendah

Tatalaksana

  • Lanjutkan observasi rutin
  • Tidak perlu intervensi khusus

16. CTG Kategori II (Indeterminate / Suspicious)

Kriteria

CTG tidak memenuhi kriteria kategori I maupun kategori III.
Contoh temuan yang termasuk kategori II:

  • Baseline bradikardia ringan tanpa variabilitas absent
  • Takikardia dengan variabilitas masih ada
  • Variabilitas minimal (<5 bpm)
  • Marked variability (>25 bpm)
  • Variable deceleration berulang
  • Late deceleration intermittent dengan variabilitas masih ada
  • Prolonged deceleration (2–10 menit)

Makna Klinis

  • Status janin tidak dapat dipastikan
  • Bisa:
    • Hipoksia ringan / awal
    • Efek obat
    • Kompresi tali pusat sementara

➡️ Kategori II adalah zona abu-abu

Tatalaksana

Resusitasi intrauterin + evaluasi berkelanjutan

  1. Posisi lateral kiri ibu
  2. Hentikan oksitosin
  3. Cairan IV
  4. Oksigen
  5. Tocolitik bila tachysystole

➡️ Re-evaluasi dalam 30–60 menit

  • Membaik → kembali kategori I
  • Memburuk → kategori III → terminasi

17. CTG Kategori III (Abnormal / Pathological)

Kriteria

Salah satu dari berikut:

  1. Variabilitas absent disertai:
    • Recurrent late deceleration atau
    • Recurrent variable deceleration atau
    • Bradikardia persisten

ATAU

  1. Sinusoidal pattern

Makna Klinis

  • Menunjukkan asidemia janin
  • Risiko tinggi:
    • Ensefalopati hipoksik-iskemik
    • IUFD

➡️ Kategori III = kondisi gawat janin

Tatalaksana

  • Resusitasi intrauterin segera
  • Bila tidak cepat membaik:
    • Terminasi segera (SC emergensi / ekstraksi operatif sesuai kondisi)

18. Ringkasan Perbandingan (HIGH-YIELD)

Aspek Kategori I Kategori II Kategori III
Variabilitas Normal Minimal / marked Absent
Late decel Tidak ada Intermittent Recurrent
Sinusoidal Tidak Tidak Ya
Status janin Reassuring Tidak pasti Asidemia
Tindakan Observasi Resusitasi & evaluasi Terminasi

19. Poin Hafalan OSCE / PPDS

  1. Variabilitas adalah kunci utama
  2. Kategori II bukan indikasi langsung SC
  3. Kategori III = gawat janin
  4. Sinusoidal pattern selalu kategori III
  5. CTG dinilai dinamis, bukan satu waktu saja

20. Kesimpulan Klinis

CTG merupakan alat utama pemantauan intrapartum, namun:

  • Sensitif, tidak spesifik
  • Harus diinterpretasi bersama kondisi klinis
  • Keputusan obstetri tidak berdasarkan CTG saja
  • Kategori CTG membantu stratifikasi risiko, bukan diagnosis tunggal
  • Kategori I → aman, Kategori III → emergensi, Kategori II → observasi ketat
  • Keputusan akhir selalu mempertimbangkan:
  • Usia kehamilan
  • Kemajuan persalinan
  • Kondisi maternal & janin

Daftar Pustaka (Vancouver)

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Oxford Handbook of Obstetrics and Gynaecology. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2020.
  3. FIGO. Intrapartum fetal monitoring guidelines. Int J Gynaecol Obstet. 2015;131(1):13–24.
  4. Freeman RK, Garite TJ, Nageotte MP, Miller LA. Fetal Heart Rate Monitoring. 4th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2012.
  5. Macones GA, et al. The 2008 NICHD Workshop Report on FHR monitoring. Obstet Gynecol. 2008;112(3):661–666


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...