I. MODE OF DELIVERY PADA IBU HAMIL DENGAN SIFILIS
Prinsip Umum
Sifilis maternal bukan indikasi absolut untuk seksio sesarea. Penentuan cara persalinan berdasarkan indikasi obstetri, bukan status sifilis semata. Risiko penularan sifilis tidak berkurang secara bermakna dengan seksio sesarea karena transmisi utama terjadi transplasenta, bukan intrapartum.
A. Persalinan Pervaginam
Dapat dilakukan bila memenuhi syarat berikut:
- Tidak ada indikasi obstetri untuk SC, seperti:
- Disproporsi sefalopelvik
- Gawat janin
- Plasenta previa
- Presentasi janin abnormal yang tidak dapat dikoreksi
- Tidak terdapat lesi sifilis aktif pada genitalia (chancre, kondiloma lata)
- Lesi aktif meningkatkan risiko kontak langsung darah/sekret
- Ibu telah mendapat terapi penisilin adekuat
- Sesuai stadium penyakit
- Diberikan ≥30 hari sebelum persalinan
- Tidak terdapat tanda infeksi maternal sistemik berat
- Ketuban utuh atau ketuban pecah tanpa tanda infeksi
Catatan Klinis:
- Episiotomi tidak dikontraindikasikan, namun dilakukan selektif
- Hindari tindakan invasif janin:
- Scalp electrode
- Fetal blood sampling
- Ekstraksi vakum/forsep bila tidak indikasi kuat
B. Seksio Sesarea (SC)
Indikasi:
Bukan karena sifilis, tetapi karena:
- Indikasi obstetri murni
- Lesi sifilis aktif pada genitalia yang luas dan berisiko perdarahan/kontak langsung
- Ko-infeksi berat (misalnya HIV dengan viral load tinggi) → pertimbangan individual
Penegasan:
- SC tidak mencegah sifilis kongenital
- Tidak direkomendasikan sebagai upaya profilaksis transmisi sifilis
Ringkasan Mode of Delivery
| Kondisi | Mode Persalinan |
|---|---|
| Sifilis terobati, tanpa lesi aktif | Pervaginam |
| Sifilis tidak terobati + lesi genital aktif | Pertimbangkan SC |
| Ada indikasi obstetri | SC |
| IUFD akibat sifilis | Induksi pervaginam (kecuali kontraindikasi) |
II. MENYUSUI PADA IBU DENGAN SIFILIS
Prinsip Umum
ASI tidak menularkan sifilis, sehingga menyusui diperbolehkan dengan syarat tertentu.
A. Menyusui DIPERBOLEHKAN bila:
- Tidak terdapat lesi sifilis pada payudara
- Tidak ada chancre, ulkus, atau fissura berdarah
- Ibu telah atau sedang dalam terapi penisilin
- Bayi sudah dievaluasi dan ditangani sesuai protokol sifilis kongenital
- Kondisi umum ibu stabil
B. Menyusui DIKONTRAINDIKASIKAN sementara bila:
- Terdapat lesi sifilis aktif pada puting atau areola
- Risiko transmisi melalui kontak langsung darah/sekret
- Puting lecet dan berdarah pada ibu sifilis aktif
➡️ Menyusui dapat dilanjutkan kembali setelah lesi sembuh sempurna
C. ASI Perah
- ASI tetap aman bila:
- Diperah dengan teknik higienis
- Tidak terdapat darah pada ASI
- ASI dari payudara dengan lesi aktif tidak diberikan
III. PENGELOLAAN NEONATUS (SINGKAT)
- Semua bayi dari ibu sifilis:
- Evaluasi klinis
- Pemeriksaan VDRL/RPR kuantitatif
- Terapi penisilin sesuai klasifikasi sifilis kongenital
- Menyusui tidak menunda atau menggantikan terapi neonatus
IV. KESIMPULAN KLINIS
- Sifilis bukan indikasi seksio sesarea
- Persalinan pervaginam aman bila tidak ada lesi genital aktif dan terapi adekuat
- ASI aman, kecuali ada lesi sifilis pada payudara
- Fokus utama pencegahan sifilis kongenital adalah:
- Skrining dini
- Terapi penisilin tepat waktu
- Evaluasi neonatus menyeluruh
DAFTAR PUSTAKA (Vancouver)
- Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
- Cunningham FG, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
- Hollier LM, Cox SM. Syphilis in pregnancy. Clin Obstet Gynecol. 2021;64(2):331–341.
- World Health Organization. WHO Guidelines for the Treatment of Treponema pallidum (Syphilis). Geneva: WHO; 2016.
- Centers for Disease Control and Prevention. Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines. MMWR Recomm Rep. 2021;70(4):1–187.
Komentar