Langsung ke konten utama

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dan infertilitas



1. Hubungan PCOS dan Infertilitas

PCOS merupakan penyebab tersering infertilitas anovulatorik pada wanita usia reproduktif. Sekitar 70–80% pasien PCOS mengalami gangguan ovulasi, sehingga infertilitas terutama bersifat infertilitas anovulatorik primer.

Mekanisme utama:

  • Gangguan pematangan folikel
  • Tidak terbentuk folikel dominan
  • Ovulasi tidak terjadi atau tidak teratur

2. Patofisiologi Infertilitas pada PCOS

A. Gangguan Folikulogenesis

  • Arrest folikel pada fase antral kecil (2–9 mm)
  • Ketidakseimbangan FSH–LH
  • Kegagalan seleksi folikel dominan

B. Hiperandrogenisme

  • Androgen tinggi menghambat maturasi folikel
  • Lingkungan ovarium tidak kondusif untuk ovulasi

C. Resistensi Insulin

  • Insulin meningkatkan androgen ovarium
  • Menurunkan SHBG → androgen bebas meningkat
  • Memperberat anovulasi

D. Gangguan Endometrium

  • Paparan estrogen tanpa progesteron
  • Receptivity endometrium menurun

3. Evaluasi Infertilitas pada Pasien PCOS

Evaluasi harus komprehensif, tidak hanya fokus pada ovulasi.

A. Konfirmasi Anovulasi

  • Riwayat siklus haid
  • Progesteron fase luteal
  • USG serial

B. Evaluasi Faktor Lain

  • Analisis sperma
  • Patensi tuba (HSG/HyCoSy)
  • Faktor endometrium

📌 PCOS ≠ satu-satunya penyebab infertilitas hingga terbukti sebaliknya.


4. Prinsip Tatalaksana Infertilitas pada PCOS

Pendekatan stepwise dan individualisasi.


5. Lini Pertama: Modifikasi Gaya Hidup

  • Penurunan BB 5–10% → dapat memulihkan ovulasi
  • Aktivitas fisik teratur
  • Diet rendah indeks glikemik

📌 Intervensi ini wajib, bahkan sebelum terapi farmakologis.


6. Lini Pertama Farmakologis: Induksi Ovulasi

A. Letrozole (Gold Standard)

  • Aromatase inhibitor
  • Dosis: 2,5–5 mg/hari × 5 hari (hari 3–7)
  • Keunggulan:
    • Ovulasi lebih fisiologis
    • Risiko kehamilan multipel lebih rendah
    • Live birth rate lebih tinggi dibanding clomiphene

📌 Direkomendasikan sebagai first-line therapy oleh ESHRE & ASRM.


B. Clomiphene Citrate (Alternatif)

  • Estrogen receptor modulator
  • Risiko antiestrogenik endometrium
  • Risiko kehamilan multipel lebih tinggi

C. Metformin (Adjunct)

  • Bukan induktor ovulasi utama
  • Indikasi:
    • Insulin resistance
    • BMI tinggi
    • Clomiphene/letrozole resistance

7. Lini Kedua: Gonadotropin

  • Low-dose step-up protocol
  • Risiko OHSS dan multipel
  • Perlu monitoring ketat

📌 Digunakan bila gagal induksi oral.


8. Lini Ketiga: Assisted Reproductive Technology (IVF)

Indikasi IVF pada PCOS:

  • Gagal terapi konvensional
  • Faktor infertilitas tambahan
  • Usia lanjut

Strategi aman:

  • GnRH antagonist protocol
  • GnRH agonist trigger
  • Freeze-all
  • Single embryo transfer

📌 Tujuan utama IVF pada PCOS adalah kehamilan aman tanpa OHSS.


9. Kehamilan pada Pasien PCOS

Risiko meningkat:

  • Abortus
  • GDM
  • Preeklampsia
  • Preterm birth

➡️ Perlu konseling prekonsepsi dan monitoring ketat.


10. Algoritma Ringkas (Klinis & Ujian)

  1. Konfirmasi PCOS + infertilitas anovulatorik
  2. Modifikasi gaya hidup
  3. Letrozole → ovulasi?
    • Ya → timed intercourse / IUI
    • Tidak → tambah metformin / dosis titrasi
  4. Gagal → gonadotropin low-dose
  5. Gagal → IVF protokol aman

11. Poin Klinis Penting (High-Yield)

  • PCOS = penyebab tersering infertilitas anovulatorik
  • Letrozole > clomiphene
  • Metformin bukan monoterapi utama
  • Risiko OHSS tinggi pada IVF
  • Individualisasi terapi adalah kunci

12. Daftar Pustaka (Vancouver)

  1. Hoffman BL, Schorge JO, Schaffer JI, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  2. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  3. Teede HJ, Misso ML, Costello MF, et al. International evidence-based guideline for the assessment and management of PCOS. Hum Reprod. 2018;33(9):1602–18.
  4. Legro RS, Brzyski RG, Diamond MP, et al. Letrozole vs clomiphene for infertility in PCOS. N Engl J Med. 2014;371:119–29.
  5. Fauser BCJM, Tarlatzis BC, Rebar RW, et al. Consensus on women’s health aspects of PCOS. Hum Reprod. 2012;27(1):14–24.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...