I. Kontraindikasi Absolut Menyusui
A. Kondisi pada Ibu
-
Infeksi HIV
- Di negara dengan akses air bersih dan susu formula yang aman (termasuk Indonesia), HIV merupakan kontraindikasi absolut menyusui.
- Risiko transmisi HIV melalui ASI ±15–20%.
- WHO memperbolehkan menyusui dengan ART di negara resource-limited, namun praktik klinis nasional tetap melarang bila alternatif aman tersedia.
-
Infeksi HTLV-1 dan HTLV-2
- Virus ditransmisikan melalui ASI.
- Menyebabkan adult T-cell leukemia dan myelopathy pada anak.
-
Ibu dengan penggunaan obat sitotoksik / kemoterapi
- Contoh: cyclophosphamide, methotrexate, doxorubicin.
- Bersifat mutagenik, sitotoksik, dan imunosupresif bagi bayi.
-
Terapi radioaktif
- Terutama Iodine-131.
- ASI harus dihentikan permanen untuk kehamilan tersebut.
-
Penyalahgunaan narkotika aktif
- Kokain, heroin, amphetamine.
- Risiko depresi napas, toksisitas SSP, dan kematian neonatus.
B. Kondisi pada Bayi
- Galaktosemia klasik
- Defisiensi galactose-1-phosphate uridyltransferase.
- ASI mengandung laktosa → galaktosa → gagal hati, sepsis, kematian bila tetap disusui.
II. Kontraindikasi Relatif / Sementara Menyusui
A. Kondisi Ibu
-
Infeksi Tuberkulosis aktif (belum diterapi)
- Menyusui ditunda sementara sampai ibu mendapat OAT minimal 2 minggu.
- ASI tetap boleh diberikan setelah ibu tidak infeksius.
-
Herpes simpleks virus (HSV)
- Lesi aktif pada payudara → kontraindikasi menyusui dari payudara tersebut.
- Payudara kontralateral tetap boleh.
-
Varicella (cacar air) maternal
- Jika onset 5 hari sebelum sampai 2 hari setelah persalinan, menyusui ditunda sementara.
- ASI perah dapat diberikan bila tidak ada lesi payudara.
-
Penggunaan obat tertentu
- Kontraindikasi atau perlu kehati-hatian:
- Lithium
- Amiodarone
- Clozapine
- Retinoid oral
- Ergot alkaloid
- Prinsip: evaluasi lactation risk category.
- Kontraindikasi atau perlu kehati-hatian:
B. Kondisi Bayi
- Prematuritas ekstrem dengan kondisi klinis tidak stabil
- Bukan kontraindikasi absolut, namun menyusui langsung sering tidak memungkinkan.
- ASI perah tetap dianjurkan.
III. Kondisi yang BUKAN Kontraindikasi Menyusui (Perlu Diluruskan)
| Kondisi | Status |
|---|---|
| Hepatitis B | BOLEH menyusui setelah bayi mendapat HBIG + vaksin |
| Hepatitis C | BOLEH menyusui |
| Mastitis | BOLEH, justru dianjurkan |
| Demam ibu | BOLEH |
| Preeklampsia | BOLEH |
| Diabetes | BOLEH |
| COVID-19 | BOLEH dengan protokol higiene |
IV. Prinsip Klinis Penting
- Keputusan menyusui harus mempertimbangkan:
- Risiko transmisi
- Farmakokinetik obat ke ASI
- Kondisi neonatal
- Bila menyusui dihentikan sementara:
- ASI perah dibuang (discard pumping) untuk mempertahankan laktasi
- ASI tetap merupakan nutrisi terbaik neonatus, kecuali terdapat kontraindikasi jelas.
Daftar Pustaka (Format Vancouver)
- Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
- Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
- American Academy of Pediatrics. Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics. 2022;150(1):e2022057988.
- WHO. Guidelines on HIV and infant feeding. Geneva: World Health Organization; 2016.
- Hale TW, Rowe HE. Medications and Mothers’ Milk. 19th ed. New York: Springer; 2021.
Apabila Anda menghendaki, saya dapat:
- Menyusun tabel cepat kontraindikasi menyusui untuk ujian INACOG / MRCOG
- Membahas obat-obatan postpartum yang kontraindikasi menyusui
- Membuat algoritma klinis keputusan menyusui postpartum
Silakan arahkan kebutuhan lanjutan.
Komentar