Langsung ke konten utama

Adenomiosis

 

Definisi

Adenomiosis adalah kondisi jinak uterus yang ditandai oleh invaginasi jaringan endometrium (kelenjar dan stroma) ke dalam miometrium, disertai hipertrofi dan hiperplasia otot polos miometrium di sekitarnya. Kondisi ini menyebabkan uterus membesar difus dan nyeri, serta merupakan penyebab penting perdarahan uterus abnormal (AUB) dan dismenore sekunder.


Epidemiologi

  • Umumnya terjadi pada wanita usia 35–50 tahun
  • Lebih sering pada:
    • Multiparitas
    • Riwayat seksio sesarea / kuretase
    • Riwayat operasi uterus
  • Sering berasosiasi dengan:
    • Mioma uteri
    • Endometriosis
    • Hiperplasia endometrium

Patogenesis (Berbasis Ilmiah)

Menurut Williams Gynecology dan literatur histopatologi modern, patogenesis adenomiosis melibatkan beberapa mekanisme:

  1. Invaginasi lapisan basalis endometrium ke dalam miometrium melalui zona peralihan (junctional zone, JZ)
  2. Kerusakan JZ akibat trauma mekanik (persalinan, seksio, kuretase)
  3. Hipertrofi miometrium reaktif akibat respon inflamasi kronik
  4. Ketergantungan estrogen lokal
    • Peningkatan aromatase
    • Resistensi progesteron
  5. Aktivasi mediator inflamasi dan angiogenesis

Adenomiosis saat ini dipandang sebagai penyakit junctional zone.


Klasifikasi

1. Berdasarkan Pola

  • Adenomiosis difus → paling sering
  • Adenomiosis fokal (adenomioma) → menyerupai mioma intramural

2. Berdasarkan Kedalaman Infiltrasi

  • Superfisial
  • Dalam (>50% ketebalan miometrium)

Manifestasi Klinis

Sekitar 1/3 pasien asimtomatik. Bila simptomatik:

  1. Dismenore progresif (khas)
  2. Menorrhagia / AUB
  3. Nyeri pelvis kronik
  4. Dispareunia
  5. Infertilitas (mekanisme: gangguan kontraktilitas JZ & implantasi)

Pemeriksaan fisik:

  • Uterus membesar simetris, lunak, nyeri tekan (“boggy uterus”)

Diagnosis

1. Klinis

  • Usia >35 th + dismenore progresif + AUB

2. Imaging

USG transvaginal (TVUS) – modalitas awal
Tanda khas:

  • Miometrium heterogen
  • Myometrial cysts
  • Asimetri dinding anterior–posterior
  • Fan-shaped shadowing
  • Poorly defined endometrial–myometrial junction

MRI pelvis – gold standard non-invasif

  • Penebalan junctional zone >12 mm
  • Foci hiperintens T1 (perdarahan)
  • T2 shading

3. Diagnosis Definitif

  • Histopatologi pasca-histerektomi:
    • Kelenjar endometrium ≥2,5 mm dari basal endometrium

Diagnosis Banding

  • Mioma uteri intramural
  • Endometriosis
  • Hiperplasia / keganasan endometrium
  • Pelvic inflammatory disease kronik

Penatalaksanaan

Bersifat stepwise dan individualized.

1. Terapi Medika (Lini Pertama)

Tujuan: kontrol gejala

  • NSAID → dismenore
  • LNG-IUS (levonorgestrel IUD) → terapi pilihan AUB
  • Progestin oral
  • Kombinasi estrogen–progestin
  • GnRH agonist → temporer, bridge therapy

2. Tindakan Non-Bedah

  • Uterine artery embolization (UAE) → efektif pada gejala, fertilitas masih kontroversial
  • High-intensity focused ultrasound (HIFU) (pusat terbatas)

3. Tindakan Bedah

  • Histerektomi total → terapi definitif
    • Indikasi: gejala berat, refrakter, tidak ingin fertilitas
  • Adenomiomektomi → kasus terpilih (fokal, ingin fertilitas)

Adenomiosis dan Fertilitas

  • Menurunkan angka implantasi dan kehamilan
  • Peningkatan risiko:
    • Abortus
    • Preterm
  • Terapi GnRH agonist pra-IVF dapat meningkatkan outcome (evidence moderat)

Prognosis

  • Jinak
  • Gejala membaik pascamenopause
  • Rekurensi gejala mungkin bila terapi konservatif dihentikan

Perbandingan Singkat: Adenomiosis vs Mioma Uteri

Karakteristik Adenomiosis Mioma
Batas lesi Difus, tidak jelas Jelas
Konsistensi uterus Lunak, nyeri Keras
USG Heterogen Massa solid
Respons GnRH Sementara Lebih nyata

Daftar Pustaka (Vancouver Style)

  1. Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  2. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  3. Benagiano G, Brosens I. The history of adenomyosis. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2011;25(6):665–75.
  4. Dueholm M. Uterine adenomyosis and infertility. Fertil Steril. 2017;108(3):483–94.
  5. Bird CC, McElin TW, Manalo-Estrella P. The elusive adenomyosis of the uterus. Am J Obstet Gynecol. 1972;112(5):583–93.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...