Langsung ke konten utama

Adenomiosis dan Infertilitas

 

Pendahuluan

Adenomiosis semakin diakui sebagai penyebab infertilitas dan subfertilitas pada wanita usia reproduktif, terutama setelah berkembangnya USG transvaginal resolusi tinggi dan MRI. Dahulu dianggap penyakit multipara usia lanjut, kini adenomiosis terbukti juga ditemukan pada wanita usia lebih muda dan pasien infertil.


Hubungan Adenomiosis dengan Infertilitas

Bukti ilmiah menunjukkan adenomiosis berhubungan dengan:

  • Penurunan angka kehamilan spontan
  • Penurunan keberhasilan ART/IVF
  • Peningkatan risiko kegagalan implantasi dan abortus

Meta-analisis menunjukkan penurunan pregnancy rate hingga ±30–40% pada pasien dengan adenomiosis dibandingkan uterus normal.


Patofisiologi Infertilitas pada Adenomiosis

1. Disfungsi Junctional Zone (JZ)

  • Adenomiosis adalah penyakit junctional zone
  • Penebalan JZ → gangguan peristaltik uterus
  • Transport sperma dan embrio terganggu

Normal JZ berperan dalam kontraksi terkoordinasi menuju fundus pada fase periovulasi.


2. Gangguan Implantasi Endometrium

  • Penurunan ekspresi HOXA10 & HOXA11
  • Gangguan window of implantation
  • Resistensi progesteron endometrium
  • Peningkatan estrogen lokal (aromatase ↑)

Akibatnya terjadi implantation failure.


3. Lingkungan Inflamasi Kronik

  • Peningkatan sitokin proinflamasi:
    • IL-1β
    • IL-6
    • TNF-α
  • Aktivasi makrofag dan angiogenesis abnormal
  • Stres oksidatif pada kavum uterus

4. Abnormalitas Vaskularisasi

  • Remodeling pembuluh darah endometrium tidak optimal
  • Perfusi endometrium terganggu → implantasi suboptimal

5. Peningkatan Abortus Dini

  • Gangguan desidualisasi
  • Kontraktilitas uterus berlebihan
  • Kegagalan mempertahankan implantasi

Bukti Klinis (Evidence-Based)

Kehamilan Spontan

  • Wanita dengan adenomiosis memiliki time to pregnancy lebih panjang
  • Risiko infertilitas meningkat signifikan terutama pada adenomiosis difus

ART / IVF

  • ↓ implantation rate
  • ↓ clinical pregnancy rate
  • ↑ miscarriage rate

Meta-analisis (Fertil Steril, Hum Reprod) menunjukkan:

  • OR kehamilan klinis: 0,66
  • OR abortus: 1,8–2,1

Diagnosis Adenomiosis pada Pasien Infertil

  • USG transvaginal: skrining awal
  • MRI: konfirmasi, terutama adenomiosis difus
  • Kriteria penting:
    • JZ >12 mm
    • Adenomiosis difus lebih berpengaruh dibanding fokal

Pendekatan Tatalaksana pada Pasien Infertil

1. Prinsip Umum

  • Terapi ditujukan untuk:
    • Menekan aktivitas adenomiosis
    • Memperbaiki lingkungan endometrium
  • Terapi definitif (histerektomi) kontraindikasi

2. Terapi Medika Pra-Konsepsi

GnRH Agonist (3–6 bulan)

  • Menurunkan ukuran lesi
  • Menekan inflamasi
  • Memperbaiki ekspresi gen implantasi
  • Evidence terbaik untuk pra-IVF

Long GnRH protocol meningkatkan implantation & live birth rate.


3. ART / IVF Strategy

  • Freeze-all strategy
  • Transfer embrio setelah supresi GnRH
  • Endometrial preparation ketat

4. Bedah Konservatif

  • Adenomiomektomi
    • Kasus terpilih
    • Adenomiosis fokal
    • Risiko rupture uteri pada kehamilan selanjutnya

5. Modalitas Lain

  • UAE & HIFU → tidak direkomendasikan rutin pada pasien infertil
  • Data fertilitas masih terbatas

Algoritme Klinis (Ringkas)

  1. Pasien infertil + dismenore/AUB
  2. USG TV → curiga adenomiosis
  3. MRI konfirmasi
  4. Supresi GnRH 3–6 bulan
  5. Evaluasi ulang
  6. IVF dengan freeze-all (bila indikasi)

Prognosis Reproduksi

  • Kehamilan tetap memungkinkan
  • Prognosis lebih buruk pada:
    • Adenomiosis difus
    • Penebalan JZ berat
    • Koeksistensi endometriosis

Kesimpulan

Adenomiosis merupakan penyebab signifikan infertilitas, terutama melalui disfungsi junctional zone, gangguan implantasi, dan inflamasi kronik. Pendekatan multimodal dan evidence-based, khususnya supresi hormonal pra-IVF, dapat memperbaiki outcome reproduksi.


Daftar Pustaka (Vancouver Style)

  1. Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  2. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  3. Dueholm M. Uterine adenomyosis and infertility. Fertil Steril. 2017;108(3):483–94.
  4. Vercellini P, Consonni D, Dridi D, et al. Uterine adenomyosis and in vitro fertilization outcome: a systematic review and meta-analysis. Hum Reprod. 2014;29(5):964–77.
  5. Younes G, Tulandi T. Effects of adenomyosis on in vitro fertilization treatment outcomes: a meta-analysis. Fertil Steril. 2017;108(3):483–90.
  6. Benagiano G, Brosens I. Pathogenesis of uterine adenomyosis: an update. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2018;51:3–17.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Perlu

Suatu hari nak.. Jika kamu menyalahkan orang lain atas keadaanmu.. Jika kamu menyalahkan situasi atas kejadian yang terjadi pada dirimu... Ingatlah selalu... Dunia ini tidak hanya berpusat kepada dirimu... Kehidupanmu lah yang membuat dunia terasa bergerak pada dirimu.. Bukan Bapak memintamu untuk menyalahkan hidupmu, tetapi Bapak minta kamu berjalan bergeraklah dengan kehidupanmu itu untuk mengubah apa yang terjadi kepadamu... Mungkin ada hal yang bisa bapak ajarkan kepadamu.. Mungkin ada hal yang sempat bisa bapak contohkan kepadamu.. Tetapi masih ada banyak hal... Ada banyak ilmu.. Ada banyak pelajaran yang selalu bisa kamu pahami dan pelajari sendiri kelak.. Ingatlah selalu.. Kita bertanggungjawab atas hidup kita sendiri.. atas apa yang kita pilih.. kita lakukan.. Kita bisa sedih karena orang lain.. Kita bisa kecewa karena perbuatan orang lain.. Bahkan kita pun bisa ikut bahagia hanya karena orang lain bahagia... Lalu, kenapa bisa begitu? Itulah tadi.. Pilihanmu untuk b...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...

IUGR (Intrauterine Growth Restriction / Fetal Growth Restriction) .

1. Definisi IUGR atau Fetal Growth Restriction (FGR) adalah kondisi di mana janin gagal mencapai potensi pertumbuhan intrauterin yang diharapkan untuk usia gestasinya. Secara praktis sering didefinisikan sebagai estimated fetal weight (EFW) < 10th percentile untuk usia kehamilan; tetapi perlu dibedakan dari small for gestational age (SGA) karena tidak semua SGA adalah patologis (konstitusional). Pedoman internasional juga membedakan IUGR ringan/sedang dan berat (mis. EFW < 3rd centile atau bukti disfungsi hemodinamik/abnormal Doppler). 2. Patofisiologi — ringkasan Patofisiologi IUGR bersifat multifaktorial. Mekanisme utama yang sering hadir: Insufisiensi plasenta (plasental) — kerusakan atau gangguan vascularisasi plasenta → aliran darah uteroplacental menurun → asupan oksigen dan nutrisi terhambat → penurunan pertumbuhan janin. Ini adalah penyebab tersering pada IUGR asimetris. Faktor maternal — hipertensi kronis, preeklampsia, penyakit jantung, malnutrisi kronis, mer...