Langsung ke konten utama

Endometriosis

 

Definisi

Endometriosis adalah penyakit ginekologi kronik yang ditandai oleh keberadaan jaringan menyerupai endometrium (kelenjar dan stroma) di luar kavum uteri, yang menimbulkan reaksi inflamasi kronik, fibrosis, adhesi, nyeri pelvis, dan gangguan fertilitas. Endometriosis bersifat estrogen-dependent dan progresif.


Epidemiologi

  • Prevalensi: ±10% wanita usia reproduktif
  • Pada pasien:
    • Nyeri pelvis kronik → hingga 40–60%
    • Infertilitas → ±30–50%
  • Diagnosis sering terlambat 7–10 tahun sejak onset gejala

Teori Patogenesis

Tidak tunggal, bersifat multifaktorial:

1. Teori Menstruasi Retrograd (Sampson)

  • Sel endometrium refluks melalui tuba → implantasi peritoneum

2. Metaplasia Selomik

  • Sel mesotelium berubah menjadi jaringan endometrium

3. Stem Cell Theory

  • Sel punca endometrium / sumsum tulang bermigrasi

4. Disfungsi Imun

  • Penurunan clearance sel endometrium ektopik
  • Aktivasi makrofag peritoneal

5. Faktor Genetik & Epigenetik

  • Risiko meningkat 6–9 kali pada keluarga derajat pertama

Lokasi Endometriosis

  • Ovarium (endometrioma)
  • Ligamentum uterosakral
  • Peritoneum pelvis
  • Septum rektovaginal
  • Kandung kemih & usus (deep infiltrating endometriosis, DIE)

Manifestasi Klinis

  1. Nyeri pelvis siklik
  2. Dismenore progresif
  3. Dispareunia profunda
  4. Dischezia / disuria siklik
  5. Infertilitas
  6. AUB (tidak khas)

Klasifikasi

1. ASRM (rASRM)

  • Stadium I–IV (minimal → berat)
  • Keterbatasan: korelasi buruk dengan nyeri & fertilitas

2. Endometriosis Fertility Index (EFI)

  • Prediktor kehamilan pasca-bedah

3. ENZIAN Classification

  • Untuk deep infiltrating endometriosis

Diagnosis

1. Klinis

  • Berdasarkan gejala dan pemeriksaan pelvis

2. Imaging

  • USG transvaginal:
    • Endometrioma: ground-glass appearance
  • MRI pelvis:
    • Evaluasi DIE

3. Diagnosis Definitif

  • Laparoskopi + histopatologi (gold standard)

Endometriosis dan Infertilitas

Mekanisme

  • Distorsi anatomi pelvis
  • Disfungsi tuba & ovarium
  • Lingkungan peritoneal inflamasi
  • Gangguan implantasi

Dampak Klinis

  • Penurunan fecundity
  • Endometrioma → menurunkan ovarian reserve

Penatalaksanaan

Prinsip Umum

  • Individualized
  • Tujuan: kontrol nyeri, perbaikan fertilitas

Terapi Medika

Tidak meningkatkan fertilitas, untuk nyeri:

  • NSAID
  • Progestin
  • Combined hormonal contraception
  • GnRH agonist/antagonist
  • LNG-IUS

Terapi Bedah

  • Laparoskopi eksisi lesi
  • Indikasi:
    • Nyeri refrakter
    • Distorsi anatomi
  • Pada infertilitas:
    • Stadium I–II → bedah meningkatkan kehamilan spontan
    • Stadium III–IV → IVF lebih direkomendasikan

ART / IVF

  • Indikasi:
    • Endometriosis sedang–berat
    • Endometrioma besar
    • Gagal terapi konservatif
  • Bedah endometrioma >4 cm selektif (risiko penurunan AMH)

Prognosis

  • Penyakit kronik, rekurensi tinggi
  • Remisi gejala pascamenopause
  • Risiko keganasan ovarium sedikit meningkat (clear cell & endometrioid carcinoma)

Endometriosis vs Adenomiosis (Ringkas)

Aspek Endometriosis Adenomiosis
Lokasi Ekstrauterin Intramiometrium
Nyeri Dominan Dominan
Infertilitas Sangat terkait Terkait
USG Lesi fokal Difus
Terapi definitif Sulit Histerektomi

Kesimpulan

Endometriosis adalah penyakit inflamasi kronik estrogen-dependent dengan dampak besar terhadap kualitas hidup dan fertilitas. Pendekatan diagnosis dan tatalaksana harus berbasis gejala, staging, dan keinginan fertilitas, dengan kolaborasi medikamentosa, bedah, dan ART.


Daftar Pustaka (Vancouver Style)

  1. Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  2. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  3. Giudice LC, Kao LC. Endometriosis. Lancet. 2004;364(9447):1789-99.
  4. Vercellini P, et al. Endometriosis and infertility: a review. Hum Reprod Update. 2014;20(1):25-36.
  5. Zondervan KT, et al. Endometriosis. N Engl J Med. 2018;382:1244-56.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...