Langsung ke konten utama

Kehamilan dengan Sifilis

 


1. Definisi dan Signifikansi Klinis

Sifilis pada kehamilan adalah infeksi Treponema pallidum yang terjadi pada ibu hamil dan memiliki implikasi serius terhadap ibu maupun janin. Penularan vertikal dapat terjadi secara transplasenta pada setiap trimester atau saat persalinan, dengan risiko tertinggi pada sifilis primer dan sekunder. Tanpa terapi adekuat, sifilis merupakan salah satu penyebab penting abortus spontan, IUFD, prematuritas, dan sifilis kongenital.


2. Epidemiologi dan Dampak Obstetri

Sifilis maternal masih menjadi masalah kesehatan global dan regional. Dampak kehamilan meliputi:

  • Abortus spontan dan IUFD
  • Prematuritas dan BBLR
  • Hidrops fetalis non-imun
  • Neonatal death
  • Sifilis kongenital (dini dan lanjut)

Risiko transmisi vertikal berkisar 60–90% pada sifilis primer–sekunder dan menurun pada sifilis laten, namun tidak pernah nol.


3. Patofisiologi Transmisi Vertikal

Treponema pallidum mampu menembus plasenta mulai usia kehamilan ±14–16 minggu. Infeksi janin menyebabkan:

  • Vaskulitis plasenta → insufisiensi plasenta
  • Anemia hemolitik janin
  • Hepatosplenomegali
  • Hipoalbuminemia → hidrops fetalis
  • Keterlibatan multiorgan (hati, tulang, SSP)

Derajat kerusakan ditentukan oleh stadium sifilis maternal dan waktu terapi.


4. Manifestasi Klinis pada Ibu

Sering kali asimtomatik, terutama pada sifilis laten. Bila bergejala:

  • Primer: ulkus genital (chancre), tidak nyeri
  • Sekunder: ruam makulopapular (termasuk telapak tangan/kaki), kondiloma lata, limfadenopati
  • Laten: tanpa gejala
  • Tersier (jarang pada kehamilan): guma, kardiovaskular, neurosifilis

5. Diagnosis pada Kehamilan

a. Skrining

Wajib dilakukan pada:

  • Kunjungan antenatal pertama
  • Trimester III (daerah prevalensi tinggi / faktor risiko)
  • Saat persalinan bila status tidak jelas

b. Pemeriksaan Serologis

  1. Non-treponemal: VDRL, RPR (kuantitatif; untuk monitoring terapi)
  2. Treponemal: TPHA, TPPA, FTA-ABS (konfirmasi)

Diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi hasil non-treponemal reaktif dan tes treponemal positif.


6. Tatalaksana Sifilis pada Kehamilan

Penisilin adalah satu-satunya terapi yang terbukti efektif mencegah sifilis kongenital.

Regimen (berdasarkan stadium):

  • Sifilis primer, sekunder, laten dini (<1 tahun)
    Benzathine penicillin G 2,4 juta unit IM dosis tunggal
  • Sifilis laten lanjut / durasi tidak diketahui
    Benzathine penicillin G 2,4 juta unit IM 1×/minggu selama 3 minggu
  • Neurosifilis
    Aqueous crystalline penicillin G IV sesuai protokol

Alergi penisilin pada ibu hamil harus dilakukan desensitisasi, karena tidak ada alternatif yang setara.

Reaksi Jarisch–Herxheimer

  • Dapat terjadi dalam 24 jam pascaterapi
  • Gejala: demam, nyeri, kontraksi uterus, penurunan gerak janin
  • Bukan alasan menghentikan terapi, namun perlu observasi ketat

7. Evaluasi dan Monitoring Janin

  • USG serial: IUGR, hepatosplenomegali, hidrops fetalis, polihidramnion
  • CTG bila usia kehamilan viabel
  • Penilaian respons terapi maternal melalui penurunan titer VDRL (≥4 kali lipat dalam 6–12 bulan)

8. Sifilis Kongenital

Dini (≤2 tahun):

  • Snuffles (rinitis sifilitika)
  • Hepatosplenomegali
  • Ruam, anemia, trombositopenia

Lanjut (>2 tahun):

  • Gigi Hutchinson
  • Saddle nose
  • Saber shin
  • Ketulian sensorineural

9. Prognosis

Prognosis sangat baik bila:

  • Diagnosis ditegakkan dini
  • Terapi penisilin adekuat diberikan ≥30 hari sebelum persalinan

Sebaliknya, keterlambatan diagnosis dan terapi meningkatkan risiko IUFD dan sifilis kongenital secara signifikan.


Kesimpulan

Sifilis pada kehamilan adalah kondisi yang dapat dicegah dan diobati, namun memerlukan skrining universal, diagnosis akurat, dan terapi penisilin yang tepat waktu. Pendekatan obstetri harus komprehensif, mencakup ibu, janin, dan pasangan seksual.


Daftar Pustaka (Vancouver)

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Gibbs RS, Karlan BY, Haney AF, Nygaard IE. Danforth’s Obstetrics and Gynecology. 11th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2021.
  3. Unemo M, Bradshaw CS, Hocking JS, et al. Sexually transmitted infections: challenges ahead. Lancet Infect Dis. 2017;17(8):e235–79.
  4. World Health Organization. WHO Guidelines for the Treatment of Treponema pallidum (Syphilis). Geneva: WHO; 2016.
  5. Hollier LM, Cox SM. Syphilis in pregnancy. Clin Obstet Gynecol. 2021;64(2):331–41.

Apabila diinginkan, saya dapat melanjutkan dengan algoritme klinis, ringkasan tabel regimen terapi, atau diferensial diagnosis hidrops fetalis terkait sifilis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...