Langsung ke konten utama

Mioma Uteri (Leiomioma Uteri)

 

Definisi

Mioma uteri, atau leiomioma, adalah tumor jinak yang berasal dari otot polos miometrium dan jaringan ikat uterus. Mioma merupakan tumor pelvis jinak tersering pada wanita usia reproduktif dan bersifat estrogen–progesterone dependent. Secara histopatologi, mioma tersusun atas berkas otot polos yang teratur, tanpa atypia sel dan tanpa invasi jaringan sekitar.


Epidemiologi

  • Prevalensi meningkat seiring usia reproduktif, puncak usia 35–45 tahun
  • Lebih sering pada wanita:
    • Nullipara
    • Ras Afrika
    • Obesitas
    • Riwayat keluarga mioma
  • Mengecil pasca-menopause karena penurunan estrogen

Patogenesis (Berbasis Ilmiah)

Menurut Williams Gynecology, mioma berasal dari klon tunggal sel miometrium dengan perubahan genetik (mutasi somatik), terutama:

  • MED12 mutation (±70% mioma)
  • Rearrangement kromosom 6, 7, 12, 14

Pengaruh hormonal:

  • Estrogen → meningkatkan proliferasi sel mioma
  • Progesteron → menstimulasi ekspresi growth factor (TGF-β, IGF)

Mioma memiliki:

  • Kepadatan reseptor estrogen & progesteron lebih tinggi dibanding miometrium normal
  • Aktivitas angiogenesis lokal meningkat

Klasifikasi

1. Berdasarkan Lokasi Anatomi

  1. Submukosa
    • Tumbuh ke kavum uteri
    • Paling sering menyebabkan perdarahan abnormal dan infertilitas
  2. Intramural
    • Paling sering ditemukan
    • Membesar di dalam dinding uterus
  3. Subserosa
    • Tumbuh ke arah serosa
    • Gejala dominan: tekanan organ sekitar
  4. Servikal
    • Jarang, dapat menyebabkan distosia persalinan

2. Klasifikasi FIGO (0–8)

Digunakan terutama untuk perencanaan terapi bedah (histeroskopi vs laparoskopi vs laparotomi).


Manifestasi Klinis

Sebagian besar asimtomatik, bila simptomatik:

  1. Perdarahan uterus abnormal
    • Menorrhagia
    • Metrorrhagia
  2. Nyeri pelvis
    • Dismenore
    • Nyeri tekan
  3. Gejala penekanan
    • Kandung kemih → frekuensi miksi, retensi urin
    • Rektum → konstipasi
  4. Gangguan reproduksi
    • Infertilitas
    • Abortus berulang
    • Komplikasi kehamilan (malpresentasi, PPH)

Diagnosis

1. Klinis

  • Uterus membesar, ireguler, kenyal, mobile

2. Imaging

  • USG transvaginal → gold standard awal
  • USG saline infusion sonography (SIS) → mioma submukosa
  • MRI pelvis → pemetaan mioma sebelum intervensi

3. Diagnosis Banding

  • Adenomiosis
  • Kehamilan
  • Kanker endometrium (jika perdarahan usia >40 th)
  • Sarkoma uteri (jarang, pertumbuhan cepat pascamenopause)

Penatalaksanaan

Pendekatan individualized, mempertimbangkan:

  • Usia
  • Gejala
  • Ukuran & lokasi mioma
  • Keinginan fertilitas

1. Expectant Management

  • Asimtomatik
  • Follow-up berkala

2. Terapi Medika

Bersifat simptomatik, bukan kuratif:

  • NSAID → nyeri
  • Traneksamat → menorrhagia
  • Progestin / LNG-IUS
  • GnRH agonist → mengecilkan mioma sementara (pre-operatif)
  • Selective progesterone receptor modulator (SPRM) (mis. ulipristal – penggunaan kini terbatas karena hepatotoksisitas)

3. Tindakan Operatif

  • Miomektomi
    • Pilihan utama pada wanita ingin fertilitas
    • Histeroskopi (submukosa)
    • Laparoskopi / laparotomi
  • Histerektomi
    • Terapi definitif
    • Indikasi: gejala berat, tidak ingin hamil, usia >40 th
  • Uterine artery embolization (UAE)
    • Alternatif non-bedah
    • Efek jangka panjang fertilitas masih kontroversial

Mioma dan Kehamilan

  • Mayoritas tetap stabil
  • Risiko:
    • Abortus
    • Malpresentasi
    • Persalinan preterm
    • PPH
  • Miomektomi tidak rutin dilakukan saat hamil kecuali komplikasi berat (torsio, degenerasi merah)

Prognosis

  • Jinak
  • Risiko keganasan (leiomiosarkoma) <1%
  • Rekurensi pasca-miomektomi ±30–50% dalam 5 tahun

Daftar Pustaka (Vancouver Style)

  1. Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  2. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  3. Stewart EA. Uterine fibroids. Lancet. 2015;381(9862):293–300.
  4. Bulun SE. Uterine fibroids. N Engl J Med. 2013;369(14):1344–55.
  5. Vilos GA, Allaire C, Laberge PY, et al. The management of uterine leiomyomas. J Obstet Gynaecol Can. 2015;37(2):157–78.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...

IUGR (Intrauterine Growth Restriction / Fetal Growth Restriction) .

1. Definisi IUGR atau Fetal Growth Restriction (FGR) adalah kondisi di mana janin gagal mencapai potensi pertumbuhan intrauterin yang diharapkan untuk usia gestasinya. Secara praktis sering didefinisikan sebagai estimated fetal weight (EFW) < 10th percentile untuk usia kehamilan; tetapi perlu dibedakan dari small for gestational age (SGA) karena tidak semua SGA adalah patologis (konstitusional). Pedoman internasional juga membedakan IUGR ringan/sedang dan berat (mis. EFW < 3rd centile atau bukti disfungsi hemodinamik/abnormal Doppler). 2. Patofisiologi — ringkasan Patofisiologi IUGR bersifat multifaktorial. Mekanisme utama yang sering hadir: Insufisiensi plasenta (plasental) — kerusakan atau gangguan vascularisasi plasenta → aliran darah uteroplacental menurun → asupan oksigen dan nutrisi terhambat → penurunan pertumbuhan janin. Ini adalah penyebab tersering pada IUGR asimetris. Faktor maternal — hipertensi kronis, preeklampsia, penyakit jantung, malnutrisi kronis, mer...

Dexamethasone untuk Maturasi Paru Janin

Definisi Dexamethasone adalah glukokortikoid sintetik yang digunakan untuk mempercepat proses maturasi paru janin pada kehamilan prematur. Pemberian dexamethasone bertujuan untuk meningkatkan produksi surfaktan dalam paru janin, sehingga mengurangi risiko Sindrom Distres Pernapasan Neonatal (SDPN) yang terjadi pada bayi prematur. Penggunaan dexamethasone terutama dilakukan pada ibu hamil yang berisiko melahirkan sebelum usia kehamilan 34 minggu, dengan tujuan mengurangi morbiditas dan mortalitas neonatal terkait dengan masalah pernapasan. Farmakokonetik 1. Absorpsi: Dexamethasone diberikan melalui rute intravena (IV) atau intramuskular (IM). Setelah pemberian IM, obat ini dengan cepat diserap dan didistribusikan ke seluruh tubuh. 2. Distribusi: Dexamethasone memiliki distribusi yang luas ke dalam cairan ekstraseluler dan sistem saraf pusat. Obat ini dapat melintasi sawar plasenta dengan mudah dan mempengaruhi janin. 3. Metabolisme: Dexamethasone dimetabolisme di hati melalui enzim P450...