1. Definisi
Kehamilan multifetus adalah kehamilan dengan ≥2 janin dalam satu uterus, paling sering berupa:
- Kehamilan kembar (twin)
- Lebih jarang: triplet atau lebih
Secara klinis, kehamilan multifetus selalu dikategorikan sebagai kehamilan risiko tinggi karena peningkatan signifikan morbiditas dan mortalitas maternal maupun perinatal.
2. Klasifikasi Kehamilan Multifetus
A. Berdasarkan Zigot
- Dizigotik (DZ)
- Dua ovum, dua sperma
- Selalu dikorial–diamniotik (DCDA)
- Monozigotik (MZ)
- Satu ovum membelah
- Tipe korion–amnion tergantung waktu pembelahan
B. Berdasarkan Korionisitas & Amnionisitas (paling penting klinis)
| Tipe | Korion | Amnion | Risiko |
|---|---|---|---|
| DCDA | 2 | 2 | Risiko terendah |
| MCDA | 1 | 2 | TTTS, sIUGR |
| MCMA | 1 | 1 | Lilitan tali pusat, mortalitas tinggi |
| Conjoined twins | 1 | 1 | Sangat tinggi |
➡️ Korionisitas harus ditentukan dini (USG trimester I) karena menentukan prognosis dan follow-up.
3. Perubahan Fisiologis dan Dampak Maternal
Kehamilan multifetus meningkatkan beban fisiologis secara signifikan:
Risiko Maternal:
- Hiperemesis gravidarum
- Anemia
- Preeklamsia (2–3 kali lipat)
- Diabetes gestasional
- Atonia uteri & perdarahan postpartum
- Seksio sesarea
4. Dampak terhadap Janin
Risiko Janin:
- Prematuritas (paling sering)
- BBLR
- IUGR / sIUGR
- IUFD salah satu janin
- Komplikasi spesifik monokorionik:
- TTTS (Twin-to-Twin Transfusion Syndrome)
- TAPS
- TRAP sequence
5. Diagnosis Kehamilan Multifetus
A. Klinis
- TFU lebih besar dari usia kehamilan
- Gerak janin multipel (tidak spesifik)
B. USG (Gold Standard)
- Jumlah janin
- Korionisitas & amnionisitas
- Presentasi janin
- Pertumbuhan janin serial
6. Tatalaksana Antenatal
A. Prinsip Umum
- ANC lebih sering dibanding kehamilan tunggal
- Penilaian pertumbuhan janin serial
- Nutrisi adekuat (kalori, protein, Fe, Ca)
B. Follow-up USG (rekomendasi umum):
- DCDA: tiap 4 minggu mulai 20 minggu
- MCDA: tiap 2 minggu mulai 16 minggu
- MCMA: rawat inap trimester III
7. Waktu Persalinan (Timing of Delivery)
| Tipe Kehamilan | Usia Kehamilan Dianjurkan |
|---|---|
| DCDA | 37–38 minggu |
| MCDA | 36–37 minggu |
| MCMA | 32–34 minggu (SC elektif) |
| Triplet | 32–34 minggu |
8. Mode of Delivery pada Kehamilan Multifetus
Prinsip Umum
Mode persalinan ditentukan oleh:
- Presentasi janin pertama
- Usia kehamilan
- Kondisi maternal–janin
- Pengalaman operator
A. Persalinan Pervaginam
Dapat dilakukan bila:
- Janin pertama presentasi kepala
- Tidak ada kontraindikasi obstetri
- Usia kehamilan ≥32–34 minggu
- Estimasi berat janin adekuat
- Fasilitas emergensi tersedia
➡️ Janin kedua:
- Dapat lahir spontan
- Versi internal atau ekstraksi bokong bila perlu
B. Seksio Sesarea
Indikasi:
- Janin pertama bukan presentasi kepala
- MCMA
- Triplet atau lebih
- Perbedaan berat janin ekstrem
- Gawat janin salah satu janin
9. Menyusui pada Kehamilan Multifetus
Prinsip:
Menyusui tetap dianjurkan, termasuk pada kehamilan kembar.
Syarat:
- Kondisi ibu stabil
- Bayi stabil (tidak kontraindikasi neonatologi)
- Dukungan nutrisi ibu adekuat
➡️ Produksi ASI mampu mencukupi >1 bayi dengan stimulasi yang baik.
10. Prognosis
- Prognosis terbaik pada DCDA
- Risiko meningkat signifikan pada monokorionik
- Faktor penentu utama:
- Prematuritas
- Komplikasi vaskular plasenta
- Kualitas pemantauan antenatal
11. Kesimpulan Klinis
- Kehamilan multifetus adalah kehamilan risiko tinggi
- Penentuan korionisitas dini adalah kunci
- Komplikasi utama: prematuritas dan preeklamsia
- Mode dan waktu persalinan harus direncanakan individual
- Follow-up ketat menurunkan mortalitas perinatal
Daftar Pustaka (Vancouver)
- Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
- Cunningham FG, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
- Oxford Handbook of Obstetrics and Gynaecology. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2020.
- Hack KEA, et al. Perinatal outcome of monoamniotic twin pregnancies. Obstet Gynecol. 2009;113(2):353–360.
- Khalil A, et al. Twin pregnancy: complications and management. BMJ. 2020;371:m2823.
Komentar