Langsung ke konten utama

Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN)

 

Definisi

Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN) adalah lesi prekursor kanker serviks yang ditandai oleh perubahan displastik sel epitel skuamosa serviks, terbatas pada epitel, tanpa menembus membran basalis. CIN merupakan manifestasi infeksi Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi, terutama HPV 16 dan 18.


Patogenesis (Berbasis Ilmiah)

  1. Infeksi HPV risiko tinggi pada zona transformasi
  2. Integrasi DNA HPV ke genom sel host
  3. Ekspresi onkoprotein:
    • E6 → inaktivasi p53
    • E7 → inaktivasi Rb
  4. Gangguan kontrol siklus sel → displasia epitel
  5. Progresi bertahap dari CIN ringan ke berat

Mayoritas CIN regresi spontan, terutama derajat rendah.


Klasifikasi CIN (Histopatologi Klasik)

CIN 1 (Displasia Ringan)

  • Perubahan terbatas pada ⅓ basal epitel
  • Koilositosis khas HPV

➡️ Setara dengan LSIL


CIN 2 (Displasia Sedang)

  • Perubahan hingga ⅔ ketebalan epitel
  • Aktivitas mitosis meningkat

➡️ Termasuk HSIL


CIN 3 (Displasia Berat / Karsinoma in situ)

  • Kelainan mencakup >⅔ hingga seluruh ketebalan epitel
  • Belum ada invasi stroma

➡️ Termasuk HSIL


Klasifikasi Modern (WHO / LAST)

Terminologi Lama Terminologi Baru
CIN 1 LSIL
CIN 2–3 HSIL

Klasifikasi modern menekankan biologi HPV dan implikasi klinis.


Risiko Progresi & Regresi

Derajat Regresi Persisten Progresi ke Kanker
CIN 1 60–70% 20–30% <1%
CIN 2 40–50% 30–40% 5–10%
CIN 3 <30% Tinggi 20–30%

Manifestasi Klinis

  • Umumnya asimtomatik
  • Terdeteksi melalui skrining Pap smear / HPV test
  • Gejala muncul bila sudah invasif

Diagnosis

1. Skrining

  • Pap smear (sitologi serviks)
  • HPV DNA test

2. Kolposkopi

  • Zona transformasi
  • Lesi asetowhite
  • Punctation / mosaic
  • Pembuluh atipikal

3. Biopsi Serviks

  • Gold standard diagnosis
  • Menentukan derajat CIN

Penatalaksanaan CIN (Prinsip Umum)

Berdasarkan:

  • Derajat CIN
  • Usia
  • Status imun
  • Keinginan fertilitas

CIN 1 (LSIL)

  • Observasi (Pap smear / HPV ulang 12 bulan)
  • Terapi bila persisten >2 tahun

CIN 2

  • Usia <25 th → observasi selektif
  • Usia ≥25 th → terapi eksisi

CIN 3 (HSIL)

  • Terapi eksisi wajib
    • LEEP / LLETZ
    • Cold knife conization

Metode Terapi

  • Ablatif: krioterapi (kasus terbatas)
  • Eksisional (pilihan utama HSIL):
    • LEEP
    • Konisasi

Follow-Up

  • HPV test atau sitologi 6–12 bulan
  • Follow-up jangka panjang (≥20 tahun) karena risiko residif

CIN dan Fertilitas

  • LEEP/konisasi:
    • ↑ risiko preterm birth
    • ↑ risiko PPROM
  • Prinsip: tindakan seminimal mungkin

Perbedaan CIN vs Kanker Serviks Invasif

Aspek CIN Kanker Serviks
Invasi Tidak Ada
Gejala Tidak ada Perdarahan
Terapi Konservatif/eksisi Onkologi
Prognosis Sangat baik Stadium dependent

Kesimpulan Klinis

  • CIN adalah lesi prekursor yang dapat disembuhkan
  • Mayoritas CIN 1 regresi
  • CIN 3 harus ditangani aktif
  • Skrining & follow-up adalah kunci eliminasi kanker serviks

Daftar Pustaka (Vancouver Style)

  1. Berek JS. Berek & Novak’s Gynecology. 16th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2020.
  2. Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  3. Kurman RJ, et al. WHO classification of tumours of female reproductive organs. IARC; 2014.
  4. Massad LS, et al. 2019 ASCCP risk-based management guidelines. J Low Genit Tract Dis. 2020;24(2):102–31.
  5. Arbyn M, et al. Evidence regarding HPV-related cervical disease. Lancet. 2011;377(9764):1670–82.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...