Langsung ke konten utama

Antiphospholipid Syndrome (APS) pada Ibu Hamil



1. Definisi

Antiphospholipid Syndrome (APS) adalah penyakit autoimun protrombotik yang ditandai oleh:

  • Manifestasi klinis trombosis dan/atau morbiditas obstetri, serta
  • Autoantibodi antifosfolipid persisten

APS dapat:

  • Primer (tanpa penyakit autoimun lain), atau
  • Sekunder, tersering terkait Systemic Lupus Erythematosus (SLE).

2. Antibodi Antifosfolipid (aPL)

Tiga antibodi utama yang bermakna klinis:

  1. Lupus anticoagulant (LA)
  2. Anticardiolipin (aCL) IgG/IgM
  3. Anti-β2 glycoprotein I IgG/IgM

➡️ Antibodi harus positif persisten ≥12 minggu.


3. Kriteria Diagnosis APS (Kriteria Sydney 2006)

A. Kriteria Klinis

Salah satu dari berikut:

  1. Trombosis vaskular
    • Arteri, vena, atau pembuluh kecil
  2. Morbiditas obstetri:
    • ≥1 kematian janin ≥10 mg
    • ≥1 persalinan prematur <34 mg akibat preeklamsia berat / insufisiensi plasenta
    • ≥3 abortus spontan berturut-turut <10 mg

B. Kriteria Laboratorium

Salah satu antibodi positif (LA, aCL, anti-β2GPI)
dua kali pemeriksaan dengan jarak ≥12 minggu

➡️ Diagnosis APS = ≥1 kriteria klinis + ≥1 kriteria laboratorium


4. Patofisiologi APS pada Kehamilan

APS menyebabkan gangguan kehamilan melalui:

  1. Trombosis plasenta
  2. Disfungsi trofoblas
  3. Aktivasi komplemen
  4. Gangguan angiogenesis uteroplasenta

Akibatnya:

  • Insufisiensi plasenta
  • Hipoksia kronik janin
  • Kegagalan implantasi dan pertumbuhan

5. Dampak APS terhadap Kehamilan

A. Maternal

  • Tromboemboli vena / arteri
  • Preeklamsia onset dini
  • HELLP syndrome
  • Stroke (jarang, berat)

B. Janin

  • Abortus berulang
  • IUFD
  • IUGR
  • Prematuritas
  • Solusio plasenta

6. Skrining APS pada Ibu Hamil

Indikasi skrining:

  • Riwayat abortus berulang
  • IUFD tanpa sebab jelas
  • Preeklamsia berat <34 mg
  • IUGR berat
  • Riwayat trombosis usia muda
  • SLE dengan riwayat obstetri buruk

7. Tatalaksana APS pada Kehamilan

A. Prinsip Umum

➡️ APS obstetri dapat dicegah dengan terapi yang tepat


B. Regimen Terapi Standar

1. APS obstetri TANPA trombosis

  • Low-dose aspirin (LDA) 75–100 mg/hari
  • Low-molecular-weight heparin (LMWH) dosis profilaksis

➡️ Dimulai sejak tes kehamilan positif.


2. APS dengan riwayat trombosis

  • LMWH dosis terapeutik
    • Low-dose aspirin

C. Terapi Tambahan (Kasus Terpilih)

  • Hydroxychloroquine (terutama APS + SLE)
  • Steroid tidak rutin (tidak dianjurkan jangka panjang)

8. Monitoring Kehamilan

  • ANC ketat
  • Tekanan darah dan proteinuria
  • USG serial pertumbuhan janin
  • Doppler uteroplasenta
  • Monitoring trombosit (HIT)

9. Persalinan

Prinsip:

  • Mode persalinan berdasarkan indikasi obstetri
  • Tidak ada indikasi rutin seksio sesarea

Antikoagulasi Intrapartum:

  • Hentikan LMWH:
    • Profilaksis: ≥12 jam
    • Terapeutik: ≥24 jam sebelum persalinan / anestesi regional

10. Postpartum

  • Risiko trombosis tertinggi postpartum
  • Antikoagulasi dilanjutkan ≥6 minggu postpartum
  • Warfarin aman untuk menyusui

11. Prognosis

  • Tanpa terapi: keberhasilan kehamilan <20%
  • Dengan terapi LDA + heparin:
    • Live birth rate >70–80%

➡️ APS adalah salah satu penyebab keguguran yang paling dapat dicegah.


12. Kesimpulan Klinis

  1. APS adalah penyebab penting keguguran berulang dan komplikasi plasenta
  2. Diagnosis berbasis kriteria klinis + laboratorium
  3. Terapi aspirin + heparin sangat efektif
  4. Monitoring ketat maternal dan janin wajib
  5. Postpartum adalah fase risiko trombosis tertinggi

Daftar Pustaka (Vancouver)

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Cunningham FG, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  3. Oxford Handbook of Obstetrics and Gynaecology. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2020.
  4. Miyakis S, et al. International consensus statement on an update of the classification criteria for APS (Sydney criteria). J Thromb Haemost. 2006;4(2):295–306.
  5. Andreoli L, et al. EULAR recommendations for management of APS in pregnancy. Ann Rheum Dis. 2017;76(3):476–485.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...