Langsung ke konten utama

Mengaitkan Hasil Kolposkopi dengan Keputusan ASCCP (Risk-Based Management)

 

Pendekatan ASCCP 2019 (updated) tidak lagi berbasis “satu hasil → satu tindakan”, melainkan berbasis estimasi risiko CIN3+ dengan mengintegrasikan:

  1. Hasil skrining (sitologi & HPV)
  2. Hasil kolposkopi
  3. Histopatologi (bila ada)
  4. Riwayat sebelumnya

Kolposkopi berperan sebagai penentu risiko aktual dan penentu langkah selanjutnya (observasi vs eksisi).


1. Prinsip Kunci ASCCP (WAJIB DIPAHAMI)

Cut-off Risiko CIN3+

  • ≥4%Kolposkopi
  • ≥25%Eksisional treatment acceptable
  • ≥60%Eksisional treatment preferred (tanpa biopsi dulu)

➡️ Hasil kolposkopi memodifikasi risiko awal


2. Langkah Sistematis Mengaitkan Kolposkopi ke Keputusan ASCCP

STEP 1 – Tentukan Risiko Awal

Berdasarkan:

  • Sitologi (ASC-US, LSIL, HSIL, AGC)
  • HPV (positif/negatif, HPV 16/18)

STEP 2 – Interpretasi Hasil Kolposkopi (IFCPC)

Hasil Kolposkopi Makna Biologis
Normal / jinak Risiko turun
Minor changes Risiko rendah
Major changes Risiko tinggi
Curiga invasif Risiko sangat tinggi
TZ 3 / tidak adekuat Risiko tersembunyi ↑

STEP 3 – Integrasikan → Keputusan ASCCP


3. Skenario Klinis Paling Sering (High-Yield)


A. Kolposkopi Normal / Minor Changes

Contoh

  • Pap: ASC-US
  • HPV: positif non-16/18
  • Kolposkopi: acetowhite tipis, mosaic halus
  • Biopsi: CIN 1 / negatif

Keputusan ASCCP

➡️ NO treatment ➡️ Surveillance 1 tahun (HPV-based test)

📌 Rasional

  • Risiko CIN3+ <4%
  • CIN 1 ≠ target treatment

B. Kolposkopi Major Changes (HSIL Appearance)

Contoh

  • Pap: HSIL
  • HPV: positif
  • Kolposkopi: acetowhite tebal, mosaic kasar
  • Biopsi: CIN 2–3

Keputusan ASCCP

➡️ Eksisional treatment (LEEP / konisasi)

📌 Rasional

  • Risiko CIN3+ >25%
  • HSIL = target treatment

C. HSIL Sitologi + Kolposkopi Major Changes

(Situasi penting ujian & klinik)

Contoh

  • Pap: HSIL
  • HPV 16+
  • Kolposkopi: major changes jelas

Keputusan ASCCP

➡️ Immediate excisional treatment (see-and-treat) ➡️ Biopsi boleh dilewati

📌 Rasional

  • Risiko CIN3+ ≥60%
  • Menunda terapi tidak memberi manfaat

D. Kolposkopi Tidak Adekuat (TZ 3)

Contoh

  • Pap: HSIL
  • HPV positif
  • Kolposkopi: TZ 3, lesi tidak terlihat

Keputusan ASCCP

➡️ Eksisional diagnostic procedure

  • Cold knife conization / LEEP
  • ECC wajib

📌 Rasional

  • Risiko lesi tersembunyi tinggi
  • Observasi tidak boleh

E. Curiga Kanker Invasif

Kolposkopi

  • Pembuluh darah atipikal
  • Ulserasi
  • Mudah berdarah

Keputusan ASCCP

➡️ Biopsi target segera ➡️ JANGAN LEEP ➡️ Rujukan onkologi

📌 Prinsip LEEP pada kanker invasif = kesalahan fatal


F. AIS (Adenocarcinoma in situ)

Pap

  • AGC / AIS

Kolposkopi

  • Sering tampak normal

Keputusan ASCCP

➡️ Konisasi diagnostik WAJIB ➡️ Histerektomi bila fertilitas tidak diinginkan

📌 AIS ≠ CIN Kolposkopi normal tidak menyingkirkan AIS


4. Ringkasan Tabel Kolposkopi → Keputusan ASCCP

Hasil Kolposkopi Risiko Keputusan
Normal / minor <4% Follow-up
HSIL appearance ≥25% LEEP / konisasi
HSIL + HPV16 ≥60% Immediate excision
TZ 3 Tersembunyi Eksisi diagnostik
Curiga kanker Sangat tinggi Biopsi + rujukan
AIS Tinggi Konisasi

5. Kesalahan Klinis yang Sering

  • CIN 1 diobati → ❌
  • HSIL + kolposkopi jelas tapi masih observasi → ❌
  • AIS ditangani seperti CIN → ❌
  • Tidak melakukan ECC pada TZ 3 → ❌

6. Intisari Klinis (Untuk OSCE & Klinik)

  • Kolposkopi menurunkan atau menaikkan risiko ASCCP
  • Minor changes → observasi
  • Major changes → eksisi
  • HSIL + HPV16 → treat now
  • TZ 3 = jangan percaya kolposkopi saja
  • AIS selalu perlu konisasi

Kesimpulan

Kolposkopi dalam ASCCP bukan sekadar “lihat lesi”, tetapi alat stratifikasi risiko. Keputusan terapi ditentukan oleh kombinasi sitologi, HPV, dan temuan kolposkopi, bukan salah satunya saja.


Daftar Pustaka (Vancouver Style)

  1. Perkins RB, et al. 2019 ASCCP risk-based management consensus guidelines. J Low Genit Tract Dis. 2020;24(2):102–31.
  2. Bornstein J, et al. 2011 IFCPC terminology of colposcopy. Obstet Gynecol. 2012;120(1):166–72.
  3. Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  4. Berek JS. Berek & Novak’s Gynecology. 16th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2020.
  5. Massad LS, et al. ASCCP consensus guidelines update. J Low Genit Tract Dis. 2020;24(2):90–101.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...