Langsung ke konten utama

Kehamilan Dengan Kista Ovarium

 


1. Latar Belakang dan Definisi

Kista ovarium pada kehamilan merupakan temuan yang relatif sering, dengan prevalensi ±1–5% kehamilan. Sebagian besar bersifat fungsional dan regresi spontan, terutama kista korpus luteum. Namun, sebagian kecil menetap atau menunjukkan karakteristik patologis sehingga memerlukan intervensi bedah.

Laparotomi kistektomi adalah tindakan pembedahan terbuka untuk mengangkat kista ovarium dengan mempertahankan jaringan ovarium sebanyak mungkin, yang dilakukan pada ibu hamil dengan indikasi tertentu.


2. Jenis Kista Ovarium pada Kehamilan (Relevan Klinis)

Kista yang sering ditemukan:

  • Kista korpus luteum
  • Dermoid cyst (mature cystic teratoma) → tersering membutuhkan operasi
  • Serous/mucinous cystadenoma
  • Endometrioma (jarang progresif saat hamil)
  • Kista ovarium ganas (jarang, <1%)

Sebagian besar kista jinak, namun risiko komplikasi tetap ada.


3. Indikasi Laparotomi Kistektomi pada Kehamilan

Operasi tidak dilakukan rutin, hanya bila terdapat indikasi jelas:

A. Indikasi Elektif

  1. Ukuran kista ≥5–6 cm dan persisten >16 minggu
  2. Gambaran USG mencurigakan keganasan:
    • Solid component
    • Septa tebal
    • Papillary projection
    • Ascites
  3. Pertumbuhan progresif selama observasi
  4. Kista bilateral besar

B. Indikasi Emergensi

  1. Torsio ovarium (indikasi tersering)
  2. Ruptur kista dengan nyeri akut/perdarahan
  3. Perdarahan intraabdomen
  4. Kecurigaan keganasan dengan komplikasi

➡️ Indikasi emergensi: usia kehamilan bukan kontraindikasi operasi


4. Waktu Operasi Optimal

Trimester Kedua (14–20 minggu) → WAKTU TERBAIK

Alasan:

  • Risiko abortus lebih rendah dibanding trimester I
  • Uterus belum terlalu besar
  • Risiko persalinan prematur lebih rendah dibanding trimester III
  • Korpus luteum sudah tidak dominan → progesteron dari plasenta

📌 Trimester I: hanya jika emergensi
📌 Trimester III: dihindari, kecuali emergensi berat


5. Pilihan Pendekatan Bedah

A. Laparoskopi

  • Dianjurkan bila:
    • Kista <10 cm
    • Fasilitas dan operator berpengalaman
  • Keuntungan: nyeri lebih ringan, pemulihan cepat

B. Laparotomi (lebih klasik dan aman pada kasus tertentu)

Dipilih bila:

  • Kista besar (>10–12 cm)
  • Kecurigaan keganasan
  • Adhesi berat
  • Kondisi emergensi (torsio/ruptur)
  • Keterbatasan fasilitas laparoskopi

6. Prinsip Teknik Laparotomi Kistektomi pada Kehamilan

  1. Insisi abdomen:
    • Midline infraumbilikal (fleksibel bila uterus membesar)
  2. Minimal manipulasi uterus
  3. Kistektomi konservatif:
    • Enukleasi kista
    • Ovarium dipertahankan
  4. Hindari ruptur kista (terutama dermoid)
  5. Hemostasis adekuat
  6. Peritoneal lavage bila perlu

📌 Ooforektomi hanya bila:

  • Ovarium tidak dapat diselamatkan
  • Kecurigaan kuat keganasan

7. Tatalaksana Perioperatif Spesifik Kehamilan

A. Praoperatif

  • USG obstetri dan adnexa detail
  • Evaluasi viabilitas janin
  • Profil darah lengkap
  • Konseling risiko ibu & janin

B. Intraoperatif

  • Posisi miring kiri (hindari supine hypotensive syndrome)
  • Anestesi umum aman
  • Monitoring maternal ketat

C. Pascaoperatif

  • Tocolytic bila ada kontraksi uterus
  • Progesteron tambahan (bila operasi <12–14 minggu)
  • Monitoring denyut jantung janin
  • Profilaksis tromboemboli sesuai risiko

8. Risiko dan Komplikasi

A. Maternal

  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Adhesi
  • Torsio residu

B. Fetal

  • Abortus (terutama trimester I)
  • Persalinan prematur
  • Distres janin (jarang bila teknik baik)

➡️ Dengan waktu dan teknik yang tepat, keberhasilan maternal–fetal sangat tinggi


9. Prognosis

  • 90% kehamilan berlanjut normal

  • Tidak meningkatkan risiko kelainan kongenital
  • Fertilitas ovarium tetap baik bila kistektomi konservatif

10. Kesimpulan Klinis

  • Laparotomi kistektomi pada kehamilan aman dan rasional bila indikasi jelas
  • Trimester kedua adalah waktu optimal
  • Pendekatan konservatif ovarium adalah prinsip utama
  • Keputusan harus individual, berbasis klinis, USG, dan pengalaman operator

Daftar Pustaka (Vancouver)

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Hoffman BL, Schorge JO, Schaffer JI, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  3. Oxford Handbook of Obstetrics and Gynaecology. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2020.
  4. American College of Obstetricians and Gynecologists. Management of Adnexal Masses in Pregnancy. ACOG Practice Bulletin.
  5. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Ovarian Cysts in Pregnancy. Green-top Guideline.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...