Langsung ke konten utama

Triple Test vs Quad Test pada kehamilan

 1. Definisi Triple Test

Triple test adalah tes skrining biokimia maternal serum pada trimester II kehamilan yang bertujuan menilai risiko kelainan kromosom janin dan defek tabung saraf terbuka.

Triple test mengukur tiga penanda biokimia dalam serum ibu:

  1. Alpha-fetoprotein (AFP)
  2. Human chorionic gonadotropin (hCG)
  3. Unconjugated estriol (uE3)

2. Waktu Pemeriksaan

  • Optimal dilakukan pada usia kehamilan 15–18 minggu
  • Masih dapat dilakukan hingga 20 minggu
  • Ketepatan usia kehamilan sangat menentukan akurasi hasil

3. Komponen Triple Test dan Sumbernya

1. Alpha-fetoprotein (AFP)

  • Diproduksi oleh yolk sac dan hepar janin
  • Masuk ke sirkulasi maternal melalui plasenta

Kadar abnormal:

  • ↑ AFP:
    • Defek tabung saraf terbuka (anensefali, spina bifida terbuka)
    • Gastroschisis
    • Kehamilan ganda
  • ↓ AFP:
    • Trisomi 21
    • Trisomi 18

2. Human Chorionic Gonadotropin (hCG)

  • Diproduksi oleh syncytiotrophoblast
  • Mencerminkan fungsi trofoblas

Kadar abnormal:

  • ↑ hCG → Trisomi 21
  • ↓ hCG → Trisomi 18

3. Unconjugated Estriol (uE3)

  • Diproduksi melalui kerja sama hepar janin dan plasenta
  • Mencerminkan fungsi fetoplasenta

Kadar abnormal:

  • ↓ uE3:
    • Trisomi 21
    • Trisomi 18
    • Anencephaly
    • Fetal demise
    • Defisiensi steroid sulfatase

4. Interpretasi Pola Triple Test

Kelainan Janin AFP hCG uE3
Trisomi 21 (Down syndrome)
Trisomi 18 (Edwards syndrome)
Defek tabung saraf terbuka Normal Normal

Nilai dinyatakan dalam MoM (Multiple of Median) yang disesuaikan dengan:

  • Usia kehamilan
  • Berat badan ibu
  • Etnis
  • Diabetes maternal
  • Kehamilan ganda

5. Nilai Klinis Triple Test

Kelebihan

  • Non-invasif
  • Biaya relatif terjangkau
  • Dapat mendeteksi:
    • ±65–70% Trisomi 21
    • 80% defek tabung saraf terbuka

Keterbatasan

  • Bukan tes diagnostik
  • False positive relatif tinggi
  • Akurasi lebih rendah dibanding:
    • Combined test trimester I
    • Quadruple test
    • NIPT (cfDNA)

6. Tindak Lanjut Hasil Abnormal

  1. Konfirmasi usia kehamilan dengan USG
  2. Konseling genetik
  3. Pemeriksaan lanjutan:
    • USG anatomi detail
    • Amniosentesis (kariotipe atau microarray)
  4. Triple test tidak diulang bila hasil abnormal

7. Posisi Triple Test dalam Skrining Prenatal Modern

Menurut Williams Obstetrics:

  • Triple test digunakan bila:
    • Pasien datang terlambat (trimester II)
    • Skrining trimester I tidak dilakukan
  • Saat ini mulai digantikan oleh:
    • Quad test (AFP + hCG + uE3 + inhibin A)
    • NIPT (cell-free fetal DNA)

8. Kesimpulan

Triple test merupakan metode skrining trimester II yang berguna untuk menilai risiko aneuploidy dan defek tabung saraf, namun memiliki keterbatasan sensitivitas dan spesifisitas. Interpretasi harus selalu mempertimbangkan usia kehamilan yang akurat dan faktor maternal, serta diikuti pemeriksaan diagnostik bila hasil positif.


Quadruple Test (Quad Test) pada kehamilan 


1. Definisi Quadruple Test

Quadruple test adalah tes skrining biokimia maternal serum pada trimester II kehamilan yang bertujuan menilai risiko aneuploidi janin, khususnya Trisomi 21, Trisomi 18, serta defek tabung saraf terbuka.

Quad test merupakan pengembangan dari triple test dengan penambahan Inhibin A, sehingga meningkatkan sensitivitas skrining.


2. Waktu Pemeriksaan

  • Optimal pada usia kehamilan 15–18 minggu
  • Masih dapat dilakukan hingga 20 minggu
  • Akurasi sangat bergantung pada penentuan usia kehamilan yang tepat

3. Komponen Quadruple Test

Quad test mengukur empat marker biokimia dalam serum maternal:

  1. Alpha-fetoprotein (AFP)
  2. Human chorionic gonadotropin (hCG)
  3. Unconjugated estriol (uE3)
  4. Inhibin A

4. Sumber dan Makna Klinis Marker

1. Alpha-fetoprotein (AFP)

  • Diproduksi oleh hepar janin
  • ↑ AFP:
    • Defek tabung saraf terbuka
    • Gastroschisis
    • Kehamilan ganda
  • ↓ AFP:
    • Trisomi 21
    • Trisomi 18

2. Human Chorionic Gonadotropin (hCG)

  • Diproduksi oleh syncytiotrophoblast
  • ↑ hCG → Trisomi 21
  • ↓ hCG → Trisomi 18

3. Unconjugated Estriol (uE3)

  • Dihasilkan oleh unit fetoplasenta
  • ↓ uE3:
    • Trisomi 21
    • Trisomi 18
    • Fetal demise
    • Defisiensi steroid sulfatase

4. Inhibin A

  • Diproduksi oleh plasenta
  • ↑ Inhibin A → khas Trisomi 21
  • Nilai normal atau ↓ → Trisomi 18

5. Pola Interpretasi Quad Test

Kelainan Janin AFP hCG uE3 Inhibin A
Trisomi 21
Trisomi 18 Normal / ↓
NTD terbuka Normal Normal Normal

Nilai dilaporkan dalam MoM (Multiple of Median) dan dikoreksi terhadap:

  • Usia kehamilan
  • Berat badan ibu
  • Ras/etnis
  • Diabetes maternal
  • Kehamilan ganda

6. Akurasi dan Nilai Prediktif

  • Deteksi Trisomi 21: ±80–85%
  • False positive rate: ±5%
  • Lebih akurat dibanding triple test
  • Masih lebih rendah dibanding NIPT

7. Indikasi Quad Test

  • Ibu hamil yang tidak menjalani skrining trimester I
  • Fasilitas tanpa akses NIPT
  • Alternatif skrining populasi risiko rendah–menengah
  • Kunjungan ANC pertama di trimester II

8. Tindak Lanjut Hasil Abnormal

  1. Konfirmasi usia kehamilan dengan USG
  2. Konseling genetik
  3. Pemeriksaan lanjutan:
    • USG anatomi detail
    • Amniosentesis (kariotipe / microarray)
  4. Quad test tidak diulang bila hasil positif

9. Posisi Quad Test dalam Praktik Obstetri

Menurut Williams Obstetrics dan ACOG:

  • Quad test tetap relevan sebagai skrining trimester II
  • Digunakan bila:
    • Skrining trimester I tidak dilakukan
    • NIPT tidak tersedia atau tidak terjangkau
  • Tetap harus dikombinasikan dengan USG anatomi detail

10. Kesimpulan

Quadruple test merupakan metode skrining trimester II yang lebih unggul dibanding triple test untuk deteksi Trisomi 21, dengan sensitivitas yang lebih tinggi berkat penambahan inhibin A. Namun, pemeriksaan ini tetap bersifat skrining dan memerlukan konfirmasi diagnostik bila hasil positif.


Daftar Pustaka (Vancouver)

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  2. Hoffman BL, Schorge JO, Bradshaw KD, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  3. Wald NJ, Watt HC, Hackshaw AK. Integrated screening for Down syndrome based on tests performed during the first and second trimesters. N Engl J Med. 1999;341(7):461–7.
  4. ACOG Practice Bulletin No. 226. Screening for fetal chromosomal abnormalities. Obstet Gynecol. 2020;136:e48–69.
  5. Nicolaides KH. Screening for fetal aneuploidies at 11–13 weeks. Prenat Diagn. 2011;31(1):7–16
  6. Snijders RJ, Nicolaides KH. Maternal serum screening for fetal trisomies in the first trimester. Br J Obstet Gynaecol. 1996;103(7):618-24.
  7. Wald NJ, Hackshaw AK. Combining ultrasound and biochemistry in first-trimester screening for Down’s syndrome. Prenat Diagn. 1997;17(9):821-9.
  8. ACOG Practice Bulletin No. 226. Screening for fetal chromosomal abnormalities. Obstet Gynecol. 2020;136:e48-69.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Perbedaan Bad Obstetrical History (BOH) vs Recurrent Pregnancy Loss (RPL)

  BOH adalah istilah luas yang dipakai pada praktik kebidanan (terutama di Indonesia/daerah) untuk menyatakan riwayat obstetri sebelumnya yang buruk — tidak hanya keguguran berulang tetapi juga termasuk stillbirth, IUFD (intrauterine fetal death), IUGR, neonatal death, pre-eclampsia berat, malformasi kongenital, kelahiran prematur berulang, dsb. RPL lebih spesifik: merujuk pada kejadian kehamilan yang hilang (miscarriage/pregnancy loss) berulang menurut definisi pedoman internasional (≥2 atau ≥3 kehilangan kehamilan, tergantung pedoman). Ini adalah perbedaan kunci: BOH = kategori riwayat buruk (multifaset); RPL = entitas klinis spesifik (keguguran berulang).  --- A. Bad Obstetrical History (BOH) 1. Definisi BOH (kadang disebut Bad Obstetric History) adalah istilah klinis yang menggambarkan riwayat obstetri sebelumnya yang tidak menguntungkan, misalnya: dua atau lebih keguguran beruntun, IUFD, kelahiran mati (stillbirth), kelahiran prematur berulang, IUGR berulang, bayi meningg...